<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938</id><updated>2012-01-04T02:27:23.803-08:00</updated><category term='essai'/><category term='opini'/><category term='Resensi'/><category term='Ide Tempo'/><category term='Opini Dibalik Buku'/><category term='Humaniora Teroka'/><title type='text'>Moh Yasin's Blog</title><subtitle type='html'>Every word and deed must be dedicated to the truth and God</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>72</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-342089572939235268</id><published>2010-12-14T09:26:00.002-08:00</published><updated>2010-12-14T09:35:06.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Menyingkap Fakta Sejarah Yang Terpendam</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; font-size: 12px; line-height: 15px; "&gt;&lt;h1 class="title" style="font-size: 22px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); font-weight: bold; line-height: 22px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(136, 136, 136); font-weight: normal; line-height: 15px; font-size: 12px; "&gt;Minggu, 12 Dec 2010 12:02 WIB &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(73, 110, 154); font-weight: normal; line-height: 15px; font-size: 12px; "&gt;&lt;a href="http://rimanews.com/read/20101212/8873/menyingkap-fakta-sejarah-yang-terpendam"&gt;http://rimanews.com/read/20101212/8873/menyingkap-fakta-sejarah-yang-terpendam&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;div class="content clearfix" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;div class="ilustrasi" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); float: right; width: 260px; "&gt;&lt;div class="gambar" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); text-align: center; float: right; "&gt;&lt;a href="http://rimanews.com/read/20101212/8873/menyingkap-fakta-sejarah-yang-terpendam" class="imagecache imagecache-250x175 imagecache-linked imagecache-250x175_linked active" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(73, 110, 154); text-decoration: none; "&gt;&lt;img src="http://rimanews.com/sites/default/files/imagecache/250x175/karnpo.jpg" alt="" title="" class="imagecache imagecache-250x175" width="250" height="175" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; float: right; margin-top: 0px; margin-right: 0.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 1em; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); float: left; width: 250px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: -5px; border-bottom-width: 2px; border-bottom-style: solid; border-bottom-color: rgb(230, 230, 230); "&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="field field-type-filefield field-field-gbr" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;div class="field-items" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;div class="field-item odd" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;a href="http://rimanews.com/read/20101212/8873/menyingkap-fakta-sejarah-yang-terpendam" class="imagecache imagecache-250x175 imagecache-linked imagecache-250x175_linked active" style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(73, 110, 154); text-decoration: none; "&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Judul Buku       : Mereka Menodong Bung Karno; Kesaksian Seorang Pengawal Presiden&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Penulis              : Soekardjo Wilardjito&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Penerbit            : Galang Press, Yogyakarta&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Cetakan           : Pertama, Agustus 2008&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Tebal                : 354 halamanSuharto bersama rezim Orde Baru mewariskan banyak masalah dan seribu misteri untuk negeri, bahkan hingga akhir hayatnya pun kebenaran-kebenaran misteri itu masih tetap terpendam. Orde Baru mewariskan tradisi kejahatan semacam korupsi, kolusi, nepotisme yang membudaya hingga sekarang, ia juga membawa negeri ini yang dulu mandiri menjadi negeri penghutang dan tunduk pada pihak asing. Pembantaian ribuan rakyat dan penahanan tanpa proses pengadilan atas tuduhan PKI, pemutarbalikkan fakta sejarah peristiwa G/30 S PKI dan serangan 1 Maret 1949 di Yogyakarta, serta misteri penggusuran kekuasaan dari Presiden Sukarno melalui penandatanganan Supersemar seakan mentasbihkan dirinya bahwa Suharto duduk sebagai presiden Indonesia bukan mengambil posisi sebagai pejabat yang berkewajiban menyejahterakan rakyatnya, melainkan memposisikan diri sebagai penguasa Indonesia yang menghalalkan segala cara demi ambisi-ambisinya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Soekardjo Wliardjito, sang pejuang kemerdekaan dan mantan pengawal pribadi Presiden Sukarno yang kemudian menjadi eks tapol Orde Baru, adalah satu dari jutaan pejuang kemerdekaan yang bernasib malang dan menjadi saksi kekejaman Orde Baru. Dipenjarakan selama 14 tahun atas tuduhan PKI tanpa proses pengadilan, mengalami penyiksaan yang luar biasa berat bersama eks tapol di LP Wirogunan (Yogyakarta), LP Kalisosok (surabaya), dan LP Ambon hingga akhirnya bebas tahun 1978. Pada tahun 1998 Wilardjito kembali disingkirkan dari lingkaran keadilan karena keberaniannya mengungkap fakta penodongan terhadap Sukarno dalam kasus Supersemar, Wilardjito 29 kali dipersidangkan dengan tuduhan menyebarkan berita bohong dan dengan sengaja membuat keonaran di kalangan rakyat. Meski akhirnya pada 8 April 2008 MA membebaskan dirinya dari berbagai tuduhan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Di tenga-tengah penantian panjangnya atas keputusan pengadilan selama sepuluh tahun sejak 1998-2008, hari-hari Wilardjito diisi dengan menuliskan memoar kehidupan yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Wilardjito berusaha merekam seluruh perjalanan hidupnya hingga menjadi penuturan sejarah penting Indonesia versi lain yang bersifat personal dan jauh dari rekayasa Orde Baru, ia bermaksud menyuarakan kembali kebenaran yang terpendam tentang fakta sejarah Indonesia, dengan merekam kisah hidupnya dan menuliskannya hingga menjadi jejak sejarah yang tak pernah kering.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Melalui memoarnya ini wilardjito seakan ingin mengajak rakyat Indonesia untuk kembali berpikir kritis bersama saksi pelaku sejarah Indonesia agar mendapatkan kebenaran yang seutuhnya tentang sejarah Indonesia di masa silam untuk bersama merajut masa kini dan masa depan yang lebih baik.   &lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Wilardjito lahir pada 22 Februari 1927 di Yogyakarta, bergabung menjadi tentara di Heiho tam tama pada masa penjajahan Jepang dengan menjabat sebagai Danton (intel), resmi mendaftar sebagai tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat), ia ikut berjasa mengusir Belanda pada serangan 1 Maret 1949 dan menyusup ke wilayah pertahanan Belanda hingga semarang demi mempertahankan kemerdekaan RI atas ancaman dari pihak asing. Ia kemudian mengabdikan dirinya untuk negeri dengan menjadi bagian dari Angkatan Darat hingga kemudian ia bertugas di istana kepresidenan di Dinas Security atau pengawal pribadi presiden, yang bertugas menjaga keamanan presiden Sukarno.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Melalui Memoarnya ini Wilardjito banyak sekali menyingkap kebenaran sejarah yang selama ini terpendam, mulai dari kontroversi pemaparan sejarah peristiwa serangan 1 Maret 1949 bersama kebohongan film &lt;em style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Janur Kuning &lt;/em&gt;rekayasa Orde Baru, tragedi G/30 S PKI dan Gerwani Suharto (narapidana kriminal) yang bertindak amoral dengan menari telanjang dan skriptis di depan tawanan (para Jenderal) memotong kelamin, mencongkel mata, menyilet Ahmad Yani. Dan yang menjadi sangat kontroversial adalah penuturan Wilardjito tentang seputar lahirnya surat perintah 11 maret 1966 yang dikenal dengan ‘Supersemar’, peristiwa penting yang menyimpan seribu misteri baik latar belakang kemunculannya hingga keberadaan naskah asli Supersemar hingga saat ini, jika naskah itu memang benar-benar ada.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Peristiwa penandatangan Supersemar yang kemudian mengantarkan Soeharto pada kekuasaan absolutnya hingga berkuasa selama 32 tahun menurut Wilardjito tak lebih dari penodongan terhadap Sukarno dan penggusuran pemerintahan Orde Lama, hasil konspirasi Suharto bersma Angkatan Darat dan CIA-Amerika yang sejak lama ingin menggulingkan pemerintahan Sukarno karena politik Trisakti Sukarno dan sikap ekstrimnya yang dekat dengan pemerintahan demokrasi-komunis-sosialis. Pada tanggal 11 Maret 1966 ia menyaksikan para jenderal Angkatan Darat M Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, M Panggabean dua kali mendatangi istana Bogor dini hari dan petang hari membawa Supersemar agar ditandatangani presiden Sukarno, wilardjito menyaksikan dengan matanya sendiri saat Sukarno kaget karena Supersemar menggunakan diktum militer  bukan yang seharusnya diktum kepresidenan, namun saat itu Sukarno tidak dapat mengelak karena salah satu jenderal mencabut pistol FN 46 dan memaksa Sukarno. Wilardjito sempat melawan para jenderal namun dicegah Sukarno, pasca tragedi itu ia tidak lagi bertemu dengan Sukarno dan menjadi tapol orde baru selama 14 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Terlepas dari keabsahan penuturan Wilrdjito, peristiwa ini sampai sekarang masih misterius dan membutuhkan banyak jawaban. Sebab kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan, sedangkan kebenaran di bidang sejarah lebih merupakan hasil usaha bersama. Sejarah bukanlah persoalan benar dan salah keterkaitan antara narasi dengan peristiwa di masa lalu melainkan pemahaman atas apa yang terjadi di masa silam untuk menentukan apa yang seharusnya dipikirkan dan dilakukan untuk masa sekarang dan masa mendatang.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-size: 12px; font-family: Arial, Verdana, Geneva, Helvetica, Sans; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;Peresensi          : Moh Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK)  Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-342089572939235268?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/342089572939235268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=342089572939235268' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/342089572939235268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/342089572939235268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2010/12/menyingkap-fakta-sejarah-yang-terpendam.html' title='Menyingkap Fakta Sejarah Yang Terpendam'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-2790725578571598740</id><published>2010-05-10T02:56:00.000-07:00</published><updated>2010-05-10T03:02:08.055-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Potret Carut-Marut Perusahaan Negara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/S-fY_O2ZtgI/AAAAAAAAAmE/nNdvr11lTy0/s1600/BUMN+expose.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 210px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/S-fY_O2ZtgI/AAAAAAAAAmE/nNdvr11lTy0/s320/BUMN+expose.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469578853294388738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Angsana New"; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-charset:222; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:16777219 0 0 0 65537 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Angsana New"; 	mso-bidi-language:TH;} p.NoSpacing, li.NoSpacing, div.NoSpacing 	{mso-style-name:"No Spacing"; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:15.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Angsana New"; 	mso-bidi-language:TH;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);" lang="FI"&gt;Resensi Buku Dimuat Di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Majalah Gatra&lt;/span&gt; 12 Mei 2010&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Oleh: &lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Moh Yasin*)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;: BUMN Expose&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: Ishak Rafick dan Baso Amir&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penerbit&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Ufuk Press, Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Cetakan&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Pertama, Maret, 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Tebal&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;: xxviii + 306 halaman &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kemerdekaan Indonesia rupanya tidak membawa serta kesejahteraan, kekayaan, dan kemakmuran rakyatnya. Bangsa Indonesia kaget saat harus menjadi tuan di negerinya sendiri. Perekonomian Indonesia mungkin sudah melebihi kejayaan Cina, Singapura dan Malaysia andai saja para petinggi bangsa ini bisa mengelola dengan baik kekayaan yang ada. Sejak masa awal kemerdekaan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan lamban dan berbiaya tinggi, bukan karena kekuarangan sumber daya alam atau keterbatasan aset negera, dari sejak era Bung Karno problemnya selalu sama yaitu faktor buruknya managerial dan faktor kepentingan politik yang selalu merong-rong upaya pembenahan pengelolaan aset negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Fenomena ini sebagaimana tergambar dalam pengelolaan BUMN sepanjang sejarah yang tidak profesional dan selalu terjadi politisasi. Kepentingan politik dan perilaku oknum dalam institusi negara, pemerintah, parlemen, dan birokrat menghambat upaya pembenahan dan perbaikan managemen pengelolaan BUMN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Carut marut dan salah urus pengelolaan BUMN ini sebagaimana dikupas habis oleh Ishak Rafick dan Baso Amir dalam karyanya yang berjudul &lt;i&gt;BUMN Expose; Menguak Pengelolaan Aset Negara Senilau 2000 triliun&lt;/i&gt;. Dengan menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti tanpa dimensi emosional, penulis menyajikan dengan rigit tentang gambaran menyeluruh perjalanan BUMN sepanjang sejarah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pembahasan tentang buruknya pengelolaan BUMN disajikan dalam tiga pembahasan, diawal bab disajikan pada penelusuran zaman kegelapan BUMN yaitu pengelolaan perusahaan ber-plat merah pada masa awal kemerdekaan hingga masa akhir Orde Baru, dimana BUMN hanya menjadi sapi perah dan menyedot uang negara tanpa melahirkan keuntungan karena keterlibatan para politisi dan penguasa. Pada masa ini BUMN berada antara bisnis dan politik. Bagian dua menyajikan tentang upaya perbaikan di BUMN dengan misi profesionalisme, restrukturisasi, profitisasi, dan privatisasi, dibawah kendali Tanri Abeng, hingga melahirkan era pencerahan di masa Kabinet Reformasi Pembangunan Habibie. Sebelum kemudian macet di era kepemimpinan Gus Dur-Megawati karena BUMN kembali dirong-rong oleh kepentingan politik. Juga pembahasan kritis pengelolaan BUMN masa SBY dan rekomendasi pengelolaan BUMN mendatang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Secara historis, Indonesia mewarisi sekitar 600 perusahaan asing hasil dari sitaan atau nasionalisasi kepemilikan dari penjajah (belanda) mencakup perusahaan di bidang pertambangan, bisnis perdagangan, perbankan, asuransi, komunikasi dan konstruksi, belum termasuk BUMN milik negeri sendiri seperti Bank BRI, PT Krakatau Steel. Bung Karno kemudian mengambil kebijakan dengan melibatkan para militer demi kepentingan loyalitas militer pada pemerintah Orla dalam mengelola BUMN, sehingga restrukturisasi pertama pada BUMN dilakukan dan menghasilkan 233 perusahaan BUMN dari sejumlah 600 perusahaan. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Sayangnya kebijakan restrukturisasi bukan karena alasan ekonomi melainkan alasan politik, agar para pperwira tetap loyal dengan pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Akibat pengelolaan yang tidak profesional pemerintah Orla terbebani biaya tinggi untuk membiayai 233 BUMN, dan berdampak pada krisis ekonomi pada tahun 1961. Orde Baru di bawah kendali Soeharto mengusung anti tesis Orla, dengan meletakkan kebijakan ekonomi sebagai sentra bukan kebijakan politik. Ekonomi bernuansa Neo Liberal kemudian menjadi corak kebijakan Orde Baru dengan membuka peluang sebesar-besarnya masuk modal asing, Pragmatism ekonomi merupakan gambaran yang tepat. Namun, BUMN tidak mengalami perkembangan dan berjalan di tempat, kalah dengan perusahaan swasta dan asing di negeri sendiri karena menegerial yang tidak professional, bahkan BUMN hanya menjadi lahan perampokan dan sumber dana &lt;i&gt;non-budgeter&lt;/i&gt; karena tidak ada transparansi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kebangkrutan pada perusahaan PDAM, PLN, Dirgantara, Perbankan, percetakan, pabrik kertas, sempat menjadi ancaman serius di masa Orba, sebelum kemudian diselamatkan oleh Tanri Abeng di masa akhir Orde Baru dan diteruskan pada masa Kabinet Reformasi Pembangunan Habibie. &lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di masa Tanri Abeng dari ratusan jumlah BUMN ada sedikit BUMN yang &lt;i&gt;profitable&lt;/i&gt; karena adanya reformasi internal managerial dan pengeloalaan yang profesional dan modern, sebut saja PT Telkom, Bank Mandiri, BNI, BRI yang mampu memberi pemasukan besar pada Negara. Tanri Abeng pun sempat disidang oleh IMF dan Bank dunia karena kebijaknnya menolak privatisasi, bahkan Malaysia, Singapura dan Cina belajar pada Tanri untuk mengelola BUMN mereka sebelum sukses seperti saat sekarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Namun, politisasi BUMN kembali bergulir di bawah kepemimpinan Gus Dur-Megawati, di bawah kendali Laksamana Sukardi agenda profitisasi tidak berjalan restrukturisasi dan privatisasi juga hanya mimpi belaka. Pun di tangan Rozy munir, BUMN macet tanpa ada perkembangan. dan berlanjut hingga era Medco Sugiharta, dan Sofyan Djalil di era SBY yang mencoba menghidupkan kembali reformasi yang dicanangkan Tanri Abeng, meski hasilnya masih nihil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="NoSpacing" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Untuk menyelematkan ekonomi bangsa, buku ini mengusulkan agar BUMN bebas dari politisasi dan dijalankan dengan profesionalisme, profitisasi, dan privatisasi. Didukung dengan penerapan sistem profesionalisme, depolitisasi dan debirokratisasi, sehingga ketidakefisenan di BUMN bisa berubah menjadi mesin lokomotif pembangunan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;*) Moh Yasin&lt;/b&gt;, Manager Direktur Lembaga Rumah Demokrasi, Mahasiswa tingkat akhir Pasca Sarjana IC-Paramadina Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-2790725578571598740?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/2790725578571598740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=2790725578571598740' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2790725578571598740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2790725578571598740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2010/05/potret-carut-marut-perusahaan-negara.html' title='Potret Carut-Marut Perusahaan Negara'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/S-fY_O2ZtgI/AAAAAAAAAmE/nNdvr11lTy0/s72-c/BUMN+expose.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8391374338942240572</id><published>2009-09-02T21:44:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T21:50:39.207-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Politik Kompromi Ala Indonesia</title><content type='html'>Resensi dimuat di &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-weight: bold;"&gt;Majalah Gatra&lt;/span&gt; edisi 2 september 2009&lt;br /&gt;Oleh :&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/Sp9K3WqoqoI/AAAAAAAAAl8/xCUznGaZvYw/s1600-h/presiden+ideal+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 181px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/Sp9K3WqoqoI/AAAAAAAAAl8/xCUznGaZvYw/s320/presiden+ideal+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377098794941328002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal&lt;br /&gt;Penulis : Maswadi Rauf dkk&lt;br /&gt;Penyunting : Moh Nur Hisyam &amp;amp; Ikrar Nusa Bakti&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Maret 2009&lt;br /&gt;Tebal : 342 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas tahun lalu, saat demokrasi di Indonesia baru menginjakkan kaki menuju demokrasi konstitusional, dengan runtuhnya sistem otoriter Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi,  dalam sebuah seminar nasional bertema “Crafting Indonesian Democracy” yang diselenggaran oleh PPW-LIPI Agustus 1998 muncul sebuah pertanyaan mendasar atas demokrasi di Indonesia. Ada yang mengemukakan bahwa dalam situasi yang ada sekarang di Indonesia presidensialisme tampaknya merupakan satu-satunya pilihan yang tepat, pertanyaannya adalah, bagaimana menghindari ekses paling buruk yang mungkin timbul dari pemerintahan presidensial.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula R William Liddle mengatakan hal yang sama bahwa dalam bentuk Indonesia yang baru tidaklah mudah memperkirakan batas-batas peluang dan memperjelas pilihan-pilihan yang paling mungkin diambil dalam batas-batas tersebut. Artinya memilih sistem pemerintahan yang ideal berikut sosok pemimpin ideal memang harus diakui bukanlah persoalan yang mudah untuk Indonesia saat ini. Buku kumpulan tulisan Maswadi Rauf dkk yang kemudian disunting oleh Moch Nur Hasyim dan Ikrar Nusa Bakti ini coba memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pemerintahan Indonesia sejak Indonesia merdeka memang selalu melahirkan perdebatan di tingkat elit penguasa, mulai sejak Orla hingga sekarang. Soekarno-Natsir saling berseteru dalam menentukan sistem pemerintahan. Soekarno mengkampanyekan pemerintahan berbasis liberal dan sekuler ala Ataturisme dan kemalisme, memisahkan agama dengan negara. sementara Natsir mengusung sistem pemerintahan berbasis konstitusional dengan corak keislaman yang kental sejenis The-demokrasi yang dipopulerkan oleh Abdul A’la al Maududi. Perseteruan terus berlanjut hingga berbentuk pemerintahan otoriter ala Orde baru, dan terakhir sistem pemerintahan yang masih prematur yang diusung oleh kaum reformis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal bahwa negara Republik Indonesia termasuk negara yang manganut sistem presidensial sebagaimana ketentuan dalam UUD 1945 dan juga uud 1945 pasca amandemen. Ketentuan ini tidak lepas dari keputusan para founding fathers yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang memutuskan memilih sistem presidensial untuk Indonesia bukan Parlementer setelah melakukan kajian dan diskusi yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hingga detik ini bangsa Indonesia masih belum menemukan formula yang tepat dalam bentuk pemerintahannya. Sistem multi Partai dalam Pemilu 2004 dengan disertai pemilihan presiden secara langsung terbukti melahirkan banyak masalah dan malah menghambat kinerja Presiden dan efektifitas pemerintahan. Kebijakan Presiden sering tidak berjalan dengan mulus karena hambatan di legeslatif. Hubungan Presiden dengan legeslatif (DPR) terhambat karena rivalitas, ego, dan kepentingan Parpol atau golongan, bahkan memungkinkan terjadinya kebuntuan dan instabilitas politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya Pemilu 2009 tetap menerapkan sistem yang sama dan memungkinkan hal yang sama terjadi pada pemerintahan di Indonesia periode 2009-2014. Buku ini mengusulkan jawaban yang menjanjikan, dimana dalam kondisi yang demikian, demi efektifitas pemerintahan maka solusi paling memungkinkan adalah “politik kompromi”, bahkan bisa menjadi salah satu kunci keberhasilan perpolitikan bangsa dan sistem presidensial di Indonesia. Oleh karenannya siapa pun presiden RI periode 2009-2014, dalam menjalankan sistem Pemerintahan presidensial mendatang harus ada upaya kompromi politik agar pemerintahan berjalan dengan efektif. Dengan jalan memanfaatkan dukungan politik dan menjaga keseimbangan politik sambil mencari jalan menuju tercapainya tujuan-tujuan pembangunan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sistem pemerintahan yang demikian, Lantas, siapakah Presiden yang pantas menjalankannya. KPU secara resmi mengumumkan bahwa hasil Pilpres 2009 dimenangkan SBY-Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi secara teoritis sosok Presiden ideal RI adalah Presiden yang tetap memiliki pijakan pada realitas kehidupan rakyat Indonesia pada standar moral yang dianut bangsa Indonesia dan mengacu pada misi bernegara dalam konstitusi. Presiden yang hanya mementingkan kemenangan politik dan menggalang dukungan tanpa adanya upaya menuju perubahan yang lebih baik jelas bukanlah presiden ideal, atau pemimpin sejati, ia hanya politisi sejati. Pun, Presiden yang memiliki cita-cita yang tidak membumi hanya akan menjadi Presiden mimpi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik politisi sejati dan pemimpi sejati bukanlah presiden ideal untuk RI. Presiden ideal Indonesia adalah presiden yang siap menjadi pemimpin sejati dan siap mentransformasikan dirinya untuk menjadi seorang negarawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Moh Yasin, Peneliti pada CSDS (Center for Strategic and Defence Studies) Pusat Kajian Stratejik dan Pertahanan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8391374338942240572?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8391374338942240572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8391374338942240572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8391374338942240572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8391374338942240572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2009/09/politik-kompromi-ala-indonesia_02.html' title='Politik Kompromi Ala Indonesia'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/Sp9K3WqoqoI/AAAAAAAAAl8/xCUznGaZvYw/s72-c/presiden+ideal+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8873049714024288594</id><published>2009-03-20T05:57:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T06:06:55.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Iran Melawan Arogansi AS-Israel</title><content type='html'>Resensi dimuat di &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Majalah Forum&lt;/span&gt; Keadilan edisi 15 Maret 2009.&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/ScOUlz0tFbI/AAAAAAAAAlc/oCDJI3U6QjQ/s1600-h/ahmadinejad2%5B1%5D.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 210px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/ScOUlz0tFbI/AAAAAAAAAlc/oCDJI3U6QjQ/s320/ahmadinejad2%5B1%5D.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315255362514654642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Ahmadinejad Menggugat; Republik Islam Iran Mematikan Arogansi Amerika-Israel&lt;br /&gt;Judul Asli : Hoviyar-e Iran dar New York &amp;amp; Goftar dar Ravesh Iranian&lt;br /&gt;Penulis  : Dr. Mahmud Ahmadinejad&lt;br /&gt;Penerbit : Zahra, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Agustus 2008&lt;br /&gt;Tebal  : 346 halaman&lt;br /&gt;Harga  : Rp. 49 900&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengemabalikan Iran kepada masa keemassan. Lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud Ahmadinejad, bukan sekedar Presiden Republik Islam Iran. Ia adalah orator yang tak segan-segan menyerang lawan-lawan politik di dalam negeri maupun musuh-musuh ideologis di luar negeri. Pria kurus berjenggot lebat itu juga menajdi corong yang popular bagi masyarakat Timur Tengah yang selama ini tertekan oleh dominasi politik dan militer Amewrika Serikat (AS) dan Israel terhadap pemerintah mereka. Padahal secara etnis Iran yang berasal dari Puak Aria Parsia sama seklai berbeda dnegan puak Arab di Negara-negara tentangganya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai target hujatan utama, Israel jelas sudah gatal membalas gertakan Ahmadinejad. Bahklan kalau tidak itahan Amerika Serikat, Tel Aviv sudah ingin menggempur Iran untuk menghentikan “gangguan stabilitas di Timur Tengah”. Namun, melawan kaum Hizbullah di Lebanon Selatan dan Hamas di Palestina yang sering dibantu oleh Iran saja, militer Israel ternyata tidak pernah benar-benar unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia tak bisa memandang sebelah mata terhadap posisi Iran di Timur Tengah. Sejak menjadi Presiden Iran, Dr. Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengembalikan Iran seperti di masa-masa keemasan awal revolusi Islam di bawah Ayatulloh Imam Khomeini.ia memadukan paham kerakyatan dan nasionalisme religius, sambil membangun kepercayaan diri di hati setiap warga Iran. Meskipun menjadi kelompok minoritas di Timur Tengah, kaum muslim Syi’ah Iran yakin akan mampu memimpin bangsa Arab yang berlairan muslim sunni dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna meredam pengaruh Iran ini, AS dan sekutu Eropa, plus Israel, terus melancarkan propaganda negative kepada Negara penerus bangsa Persia itu. Tuduhan diobral tentang Iran yang memotori teorisme di Timur Tengah, berambisi menjadi Negara bersenjata nuklir hingga tuduhan miring terhadap pribadi Presiden Ahmadinejad. Bahkan Presiden Israel, Shimon Peres, perlu menghiba kepada meneteri luar negeri Haillary Clinton agar AS tidak membiarkan Iran membuat bom nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alah-alih merasa takut atas propaganda-propaganda Barat dan Israel, Ahmadinejad justru meluaskan pengaruh Iran. Kunjungan ke Afghanistan, Arab Saudi, dan bahkan Indonesia, memoles peran Iran sebagai motor pemersatu Negara-negara berpenduduk muslim di dunia.&lt;br /&gt;Selain menghantam melalui jalur keras, AS dan sekutunya berusaha merendahkan intelektualitas Ahmadinejad dengan senagja “membantainya” dalam seminar di Universitas Columbia, AS, tahun 2007. Diawali dengan sambutan negatif dari Rektor Universitas Columbia, Bollinger, Ahmadinejad diserng berbagai pertanyaan sinis oleh akademisi dan wartawan. Mereka menuduh Iran mendukung teroris, memasung kebebasan pers, merendahkan hak pribadi perempuan di Iran serta menerapkan sistem pemerintahan yang otoriter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan cerdas, Ahmadinejad mampu membungkam semua kritik itu. Buku karya Presiden kesembilan Iran ini adalah rekaman debat dan naskah pidatonya dalam pernag wacana di Universitas Columbia, AS. Demikian pula kumpulan naskah-naskah pidatonya di PBB maupun ketika menghadapi para rahib Yahudi dan para pendeta Nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadinejad dengan fasih menegaskan, Iran yang dikekang sanksi ekonomi dan politik justru adalah korban terorisme Negara oleh AS dan sekutunya. kebebasan di Iran adalah kebebasan yang patuh pada hukum dengan berlandaskan hukum Islam yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini Barat tidak pernah mampu membuktikan pengembangan energi nuklir di Iran ditujukan lebih dari kepentingan industri dan perdamaian. Kalaupun Iran mengembangkan peluru kendali dan persenjataan lain, tujuannya untuk mempertahankan memeprtahankan kedaulatan negaranya—bukan untuk menjajah Negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Moh Yasin, Bergiat di lembaga ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies)-LIPI. Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8873049714024288594?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8873049714024288594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8873049714024288594' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8873049714024288594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8873049714024288594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2009/03/iran-melawan-arogansi-as-israel.html' title='Iran Melawan Arogansi AS-Israel'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/ScOUlz0tFbI/AAAAAAAAAlc/oCDJI3U6QjQ/s72-c/ahmadinejad2%5B1%5D.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-4747122853593118252</id><published>2009-03-08T07:16:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T07:34:53.945-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humaniora Teroka'/><title type='text'>Iman yang Kuat dalam Nalar yang Sehat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Humaniora Teroka&lt;/span&gt; dimuat di &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 0, 153);"&gt;KOMPAS&lt;/span&gt; edisi Sabtu, 7 Maret 2009&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Mohammad Yasin&lt;/span&gt;*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SbPUNdx7SkI/AAAAAAAAAlU/kpeGdDTUX5Y/s1600-h/iman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 84px; height: 111px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SbPUNdx7SkI/AAAAAAAAAlU/kpeGdDTUX5Y/s320/iman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310821713397369410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan sejarah keberketuhanan manusia pada galibnya melangkah menuju titik yang sama: pembebasan masalah ketuhanan dari mitologi. Sejak pertama kelahirannya di Yunani, filsafat mengawali jalan kebertuhanannya lewat upaya pembebasan manusia dari mitologi dengan berusaha mencari phusis (asas segala sesuatu). Walau untuk itu ia harus menentang keyakinan tradisional para leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan dunia Timur, India misalnya, agama pun menjelaskan dirinya dalam filsafat yang mempertanyakan dasar segala sesuatu. Di dunia Islam para Nabi mengawali penghancuran berhala. Maka perbincangan masalah ketuhanan mengarah ke persoalan metafisika. Manusia mulai mengembangkan pemikiran kritisnya dengan memasukkan masalah ketuhanan ke dalam masalah metafisika, atas dasar suatu telaah ontologis tertentu, Tuhan selanjutnya menjadi obyek kajian keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, filsafat ketuhanan pun kemudian menjadi bagian yang penting dalam diskursus keilmuan. Di mana di dalamnya manusia punya dua kegelisahan: pertama, mereka tidak mau lagi meyakini kebertuhanannya hanya atas dasar warisan keyakinan atau tradisi leluhurnya; dan kedua, manusia harus bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhannya secara rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bergeser ke Ateisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seiring perkembangan peradaban, pemikiran manusia dan filsafat, terutama sejak terjadinya pergeseran pemikiran dari teosentrime ke antroposentrisme, manusia tak lagi menjadikan Tuhan sebagai obyek pemikiran. Manusia lebih suka memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, masyarakat dan budayanya daripada memikirkan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren pemikiran semacam ini berkembang hingga ke arah ateisme-rasional, setidak-tidaknya pasca-Hegel, filsafat ketuhanan mulai mengalami keterputusan. Para filosof, seperti Marx, Nietzsche, Feurbach, Freud, dan Sartre, mengikuti garis ateisme. Para filosof ateis abad ke-19-20 ini mengikuti keyakinan Wittgenstein bahwa kejujuran intelektual menuntut bahwa ”tentang apa yang tidak dapat diperkatakan, orang harus diam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat kaum ateis bertolak dari paradigma ilmu alam bahwa rasionalitas bukan lagi spekulasi filosofis tanpa pendekatan empiris. Oleh karena itu, bagi para filosof ateis pembahasan tentang Tuhan dianggap sebagai bukan obyek ilmu alam dan masalah ketuhanan berada di luar batas-batas wacana rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nalar percaya Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, menalar Tuhan atau menggapai pengetahuan tentang Tuhan lewat nalar adalah hasrat tertinggi setiap manusia (terutama para filosof dan teolog). Mereka memiliki satu obsesi: nalar diharuskan dapat mengikuti keimanan dan keyakinan hati, apa yang diyakini harus didasarkan pada tidak adanya pertentangan dengan nalar. Dengan demikian, keimanan manusia dapat melibatkan keseluruhan dan menjadikan akal budi juga beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana perkembangan pemikiran di dunia Islam. Bagi para ilmuwan dan filosof Muslim, Tuhan dan diskursus pengkajian tentang-Nya adalah segala-galanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena perkembangan pemikiran di dunia Islam ini tentu saja berangkat dari prinsip tertinggi agama: iman kepada Tuhan. Perbedaan mendasar pandangan dunia ilahiah dengan dunia material terletak pada eksistensi keimanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengimankan nalar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengimankan akal budi setidak-tidaknya sejarah filsafat ketuhanan mewariskan tiga jalan: ontologis, kosmologis dan teleologis. Sementara dari kalangan filosof Muslim menawarkan berbagai jalan—yang hingga kini terus berevolusi— mulai dari Tuhan sebagai sebab pertama (al-Kindi), Tuhan sebagai wujud niscaya (Ibn Sina), Tuhan sebagai cahaya (Sughrawardi), Tuhan sebagai wujud murni (Mulla Shadra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga dua metode mengenal Tuhan yang berkembang di kalangan sarjana Muslim Syiah, yaitu melalui khudhuri (presentasi): mengenal Tuhan dengan jalur hati dan batin tanpa perantara pemahaman konseptual dan tidak membutuhkan argumen rasional. Lalu khusuli (representasi): mengenal Tuhan melalui perantara konsep ketuhanan yang universal yang kemudian dikaitkan dengan pengetahuan khudhuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Thomas Aquinas melalui teologi Kristen-nya menuturkan bahwa nalar atau rasio manusia dapat mengerti Tuhannya dengan jalan pembuktian via negasi, seperti Tuhan bukan manusia, Tuhan bukan alam, Tuhan bukan matahari, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A N Whitehead juga menawarkan metode yang menarik. Menurut Whitehead, meneliti konsep kefilsafatan tentang Tuhan adalah meneliti masalahnya secara organis dan integralis, yaitu melihat segala sesuatu secara tersusun, berproses dan tak terpisahkan dari keseluruhannya. Menurut Whitehead, studi tentang ketuhanan atau pemikiran metafisis justru dapat membantu mencapai pengetahuan tentang Tuhan sambil memperbaiki doktrin religiusitas (Leclerc, 1961).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuktikan bahwa keimanan terhadap Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bahkan, pengkajian tentang ketuhanan justru sangat relevan dalam kondisi masyarakat seperti sekarang yang penuh dengan krisis moral, kepercayaan, dan semakin sesak dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidak-tidaknya ada dua jalan yang keberadaannya begitu penting dalam upaya mengimankan nalar atau akal budi: secara teologis dan filosofis. Secara teologis berarti memupuk keimanan terhadap Tuhan dengan dibuktikan lewat wahyu. Karena wahyu adalah sumber kebenaran suatu agama. Sementara secara filosofis dengan menunjukkan kebenaran keimanan pada Tuhan lewat penalaran. Dalam nalar yang sehat terdapat iman yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;* Mohammad Yasin&lt;/span&gt;, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina, Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-4747122853593118252?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/4747122853593118252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=4747122853593118252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4747122853593118252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4747122853593118252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2009/03/iman-yang-kuat-dalam-nalar-yang-sehat.html' title='Iman yang Kuat dalam Nalar yang Sehat'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SbPUNdx7SkI/AAAAAAAAAlU/kpeGdDTUX5Y/s72-c/iman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-2895163068733160231</id><published>2009-02-17T05:28:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T05:39:26.134-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Benang Merah Perlawanan Iran</title><content type='html'>Resensi Buku dimuat di &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Majalah Gatra&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, edisi 12-18 Februari 2009 hlm. 58&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#333399;"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ahmadinejad menjawab seluruh masalah dan tudingan Amerika Serikat terhadap Iran. Buku ini mencerminkan secara kronologis gugatan Iran terhadap dominasi Barat.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SZq9UqSMAoI/AAAAAAAAAks/th8uMuu5FyQ/s1600-h/ahmadinejad2[1].JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303759673827787394" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 193px; CURSOR: hand; HEIGHT: 163px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SZq9UqSMAoI/AAAAAAAAAks/th8uMuu5FyQ/s320/ahmadinejad2%5B1%5D.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Ahmadinejad Menggugat; Republik Islam Iran Mematikan Arogansi Amerika-Israel&lt;br /&gt;Judul Asli : Hoviyar-e Iran dar Newe York &amp;amp; Goftar dar Ravesh Iranian&lt;br /&gt;Penulis : Dr. Mahmud Ahmadinejad&lt;br /&gt;Penerbit : Zahra, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Agustus 2008&lt;br /&gt;Tebal : 346 halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp. 49 900 &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;     Mahmud Ahmadinejad, Presiden Iran, tak henti-hentinya membuat pernyataan anti Israel dan Amerika. Akhir tahun lalu, ia menyampaikan pean Natal yang cukup menggigit. ”Seandainya Kristus hidup pada masa kini, Dia akan menentang kekuatan-kekuatan ekspansionis yang suka menggertak mereka yang lebih lemah, menentang para pembohong, menyerukan keadilan, mendorong kasih sesama manusia, dan menentang para pemicu perang dan terorisme’. Katanya, antara lain. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;     Dunia memang tak bisa memandang sebelah mata posisi Iran di Timur Tengah. Sejak menjadi Presiden Iran, Dr. Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengembalikan Iran seperti di masa-masa keemasan awal revolusi Islam yang dikawal Ayatulloh Imam Khomeini. Ia menerapkan perpaduan populisme dan nasionalisme religius, dengan membangun kepercayaan dan keyakinan masyarakat Iran. Ia menanamkan optimisme bahwa dengan religiusitas, persatuan, dan keteguhan bangsa, Iran akan berhasil merengkuh kemenangan.&lt;br /&gt;     Barat dan Amerika pun meluncurkan berbagai propaganda untuk melawan Iran, termasuk embargo ekonomi. Tapi, alah-alih menyurutkan langkah, Iran malah terus mengembangkan sayapnya. Di tengah embargo, misalnya, negeri itu justru sanggup mengembangkan tekhnologi roketnya, yang baru-baru ini berhasil meluncurkan satelit pertama berjuluk Omid atau Harapan.&lt;br /&gt;     Masih sebagai jawaban terhadap tekanan Barat, Ahmadinejad muhibah ke beberapa negara muslim seperti seperti Iraq, Afghanistan, Arab Saudi, termasuk Indonesia yang bertujuan mewujudkan persatuan negara-negara Islam. Tak mengherankan jika Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleeza Rice, mengatakan bahwa Iran adalah satu-satunya negara yang menjadi tantangan strategis terhadap kepentingan AS di Timur Tengah.&lt;br /&gt;     Buku ini boleh dibilang memuat benag merah ”perlawanan” Ahmadinejad selama ini. Isinya memang kumpulan naskah pidato lengkap Presiden kesembilan Iran itu di berbagai forum termasuk dalam sidang PBB dan di depan para Rahib Yahudi. Yang cukup menarik adalah perdebatannya ketika hadir di Columbia University, Amerika Serikat, akhir september 2007.&lt;br /&gt;     Perang wacana di Columbia University berlangsung tegang. Diawali dengan sambutan tidak hangat dari Rektor Universitas Columbia, Bollinger, hingga pertanyaan sinis berbagai kalangan. Ahmadinejad dihujani berbagai pertanyaan yang selama ini. Misalnya tudingan atas kebijakan Iran yang mendukung teroris, kebijakan nuklir, kebebasan yang terpasung, rendahnya kebebasan pers dan terhalanginya hak privasi perempuan hingga kepemimpinan yang dictator dan kasus lesbian di masyarakat Iran.&lt;br /&gt;     Buku ini menuturkan menuturkan secara lengkap seluruh wacana yang berkembang ketika itu. Ia menegaskan, Iran justru menjadi korban terorisme Barat. Nuklir Iran bertujuan damai. Lagi pula, Iran adalah anggota IAEA yang punya hak mengembangkan tekhnologi nuklir untuk tujuan damai. Iran bukan negeri imperialis sehingga mustahil Iran membuat nuklir. Iran selama ini berjuang untuk kebebasan, keagungan, dan kemerdekaan berlandaskan pada nilai-nilai Ilahiah dan keadilan.&lt;br /&gt;     Di samping menjawab berbagai pertanyaan atas tuduhan miring itu, di sela-sela acara, dia mengusulkan sekaligus menggugat berbagai kebohongan-kebohongan Amerika Serikat dan sekutunya. Seperti ditutupnya peluang melakukan research atas holocaust oleh Amerika dan Barat. Padahal, menurut dia, peristiwa sebenarnya harus diungkap karena nasib Palestina ditentukan oleh kebenaran itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Selain yakin bahwa holocaust membawa akibat penderitaan bangsa Palestina selama 60 tahun, dia juga menuntut penelitian lebih mendalam atas tragedi World Trade Center pada 11 september 2001. Ia menganggap tragedy yang sebab-musababnya masih kabur itu berdampak munculnya perang dan penderitaan rakyat Afghanistan dan Irak serta beberapa Negara lainnya.&lt;br /&gt;*) &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, Bergiat di Indonesian Society for Middle East Studies-LIPI. Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-2895163068733160231?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/2895163068733160231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=2895163068733160231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2895163068733160231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2895163068733160231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2009/02/benang-merah-perlawanan-iran.html' title='Benang Merah Perlawanan Iran'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SZq9UqSMAoI/AAAAAAAAAks/th8uMuu5FyQ/s72-c/ahmadinejad2%5B1%5D.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-5522246549129377327</id><published>2009-01-01T19:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T00:31:07.717-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Merajut Perdamaian Lewat Sufisme</title><content type='html'>Opini dimuat di koran &lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;&lt;strong&gt;Solopos&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, Edisi : Jum'at, 02 Januari 2009 , Hal.4&lt;br /&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SY2TujBnITI/AAAAAAAAAkk/4sIhoH_-D34/s1600-h/sufi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300054764370207026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 81px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 121px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SY2TujBnITI/AAAAAAAAAkk/4sIhoH_-D34/s320/sufi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;` Perilaku keberagamaan sebagian masyarakat muslim modern cenderung terjebak pada perilaku yang bersifat sesaat dan instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berkecenderungan memaksakan keyakinan atau paham tertentu untuk meletakkan bahwa doktrin dan ajaran yang diyakininya adalah satu-satunya yang bisa dijadikan landasan untuk menyelesaikan segala persoalan kehidupan.&lt;br /&gt;Dan hasilnya, alih-alih menyuarakan ajaran-ajaran Islam, yang ada malah pemaksaan keyakinan. Tak jarang upaya pemaksaan paham itu dilakukan dengan emosi dan kekerasan dengan membawa semangat jihad, sehingga memunculkan penyakit-penyakit fobia (ketakutan obsesif) di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Disorientasi dalam menjalankan kehidupan beragama mungkin menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan perilaku keberagamaan masyarakat modern yang demikian. Sebab, perilaku yang cenderung memaksakan keyakinan dan pahamnya terhadap orang lain, bahkan dengan kekerasan, adalah pemasungan terhadap esensi ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan pesan-pesan agama. Sejak kelahirannya sebagai agama Ibrahimi, baik Kristen, Yahudi dan Islam, mengusung hal yang sama yaitu pembebasan dan perdamaian untuk umatnya. Dalam Islam misalnya, tak sejengkal hadis dan sepenggal ayat Alquran pun yang mengajarkan pada kejahatan dan keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman kehidupan di mana pertikaian sering terjadi, kebencian dan kemurkaan dipelihara, kekerasan dan penindasan ditanamkan, serta kejujuran dan kebenaran selalu diabaikan, kata perdamaian menjadi sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Apalagi berkembang dunia disesaki dengan tindak kekerasan, intoleransi, hingga lunturnya rasa kesadaran hidup bersama karena sikap egoisme dan individualisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, keberhasilan perdamaian dan ketenteraman kehidupan dunia sangat ditentukan oleh para pelaku agama, sejauh mana perilaku keberagamaan mereka mewakili pesan-pesan agama yang hakiki, bukan atas dasar tafsir-tafsir agama yang bersifat parsial. Selain juga penyelesaian berbagai persoalan tanpa kekerasan harus dilakukan secara konsisten oleh para penggiat perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran sufisme mungkin bisa menjadi daya tawar yang menarik di tengah kehidupan masyarakat modern saat ini. Sufisme Islam mengusung satu kata kunci yaitu cinta, cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama manusia. Melalui ruh cinta dan keindahan, sufisme senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai universal dan sangat menghargai pruralitas. Oleh karenanya, melalui kampanye cinta, nilai-nilai sufisme Islam sangat tepat dijadikan sebagai pendorong tercipta dan terbentuknya perdamaian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufisme sebenarnya bukanlah doktrin baru setelah Alquran dan hadis. Sufisme adalah ajaran yang berupaya mencari hakikat kebenaran yang sejati lewat jalan sendiri. Ajaran sufisme senantiasa menempatkan setiap peristiwa dalam kerangka takdir Allah dan menempatkan setiap usaha yang dilakukan dalam kerangka untuk mencari rida Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog dengan Tuhan&lt;br /&gt;Puncak dari ajaran sufi adalah upaya mendekatkan diri pada Allah, intisarinya adalah munculnya kesadaran akan adanya hubungan atau komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhannya. Untuk sampai ke tahap puncak kesatuan dengan yang haq (benar), sufisme mengajarkan tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan jalan menuju ke kebenaran hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan tersebut yaitu takhalli, upaya untuk menjauhkan diri dari berbuat buruk dan kejahatan atau berbuat dosa, kemudian tahalli, upaya menghiasi kehidupan dengan perbuatan baik, terakhir tajalli, puncak dari kesucian hati dan jiwa sehingga menyatu dengan sifat-sifat Tuhan dalam bertindak dan berbuat dalam kehidupan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membersihkan hati adalah kata kunci untuk menanamkan cinta dan perdamaian bagi sufisme Islam. Toleransi, rasa saling menghargai, saling menghormati, tolong menolong dan bersikap inklusif atas sesama paham dan ajaran hanya bisa direngkuh dengan semangat cinta, yaitu cinta kepada Tuhan yang kemudian termanifestasi pada perilaku yang mengarah pada cinta akan kedamaian antarsesama dalam kehidupan dunia. Bagi sufi, ideologi kekerasan lahir dan muncul dari hati yang kotor, yang jauh dari kata cinta, sehingga membentuk psikologi dan pemikiran yang mengarah pada tindakan-tindakan buruk, keras dan jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sufi, upaya mencegah perbuatan jahat hanya boleh dilakukan dengan mulut dan tangan tanpa melibatkan hati. Sebab hati adalah faktor utama pengambil sikap perilaku dan tindakan manusia. Jika hati manusia bersih maka dengan sendirinya tindakan dalam bentuk kejahatan ucapan maupun tindakan akan terhindarkan. Oleh karenanya, sufisme mengajarkan bahwa hati seharusnya hanya melihat persoalan yang terjadi sebagai takdir Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelibatan hati dalam berbagai penyelesaian persoalan hanya akan membawa pada kemarahan dan kekerasan. Hal ini karena hati manusia masyarakat modern masih dipenuhi dengan kotoran, sehingga sangat jauh dari kesucian dan kelembutan sentuhan cinta dan kasih sayang. Sebab, hanya dengan cinta dan kasih sayanglah kedamaian untuk diri pribadi seseorang bisa didapatkan sekaligus kedamaian untuk alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebaiknya belajar pada bagaimana sikap dan kodrat laut. Laut adalah tempat berkumpulnya limbah dan sampah, namun ia tidak berubah, tetap tenang dan asin sebagaimana kodratnya. Hati yang suci adalah hati yang bersifat layaknya laut, tenang, toleran, terbuka dan menerima apa saja dengan hati yang lapang dengan penuh cinta dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moh. Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina, mahasiswa S2 ICAS-Universitas Paramadina, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-5522246549129377327?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/5522246549129377327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=5522246549129377327' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5522246549129377327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5522246549129377327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2009/01/merajut-perdamaian-lewat-sufisme.html' title='Merajut Perdamaian Lewat Sufisme'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SY2TujBnITI/AAAAAAAAAkk/4sIhoH_-D34/s72-c/sufi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-5262604292127046543</id><published>2008-11-12T05:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T05:53:28.706-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Warisan Natsir Untuk Indonesia</title><content type='html'>Opini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt;, 11 November 2008&lt;br /&gt;Oleh. &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-weight: bold;"&gt;Moh Yasin*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SRrcH03Y33I/AAAAAAAAAkQ/FL0Ywr1gltE/s1600-h/natsir.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SRrcH03Y33I/AAAAAAAAAkQ/FL0Ywr1gltE/s320/natsir.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267764741171371890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar kepahlawanan kepada Bung Tomo dan Mohammad Natsir atas jasa dan perjuangannya membangun Indonesia. Bung Tomo berjuang bersama arek-arek Surabaya melawan penjajahan Belanda, sementara Natsir diberi gelar pahlawan nasional tidak hanya karena ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi juga karena gagasan mosi integralnya yang membawa pada terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat bahwa pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, saat kemerdekaan Indonesia baru seumur jagung, bersama ancaman politik dan militer pihak asing, Natsir menjadi orang yang berjasa besar dalam menjaga eksistensi negara Indonesia. Di tengah gempuran militer dan upaya diplomasi Belanda membangun negara boneka yang diprakarsai oleh Van Mook, Natsir muncul dan hadir mengarsiteki mosi integral dan menggagalkan negara bentukan Van Mook. Melalui mosi integral, Natsir berhasil mempersatukan kembali Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menobatkan Soekarno-Hatta sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berkat jasanya tersebut, Natsir, yang memulai pendidikan formalnya di HIS (Holland Inlandse School) hingga AMS (Algemene Middlebare School), disegani dan dihormati oleh para politikus dan negarawan Indonesia, dan hal itu juga membawa dirinya begitu dekat dengan Bung Karno, meski secara ideologis pemikirannya berseberangan. Natsir pun sempat menjabat Menteri Penerangan dan Perdana Menteri di masa Orde Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan jika Daniel Lev (Indonesianis), Anwar Ibrahim, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, dan para sejarawan Indonesia mengatakan bahwa Natsir adalah negarawan yang berwawasan luas, bermoral jernih, intelektual, pemikir, berpenampilan sederhana, santun, kritis, dan berjiwa besar. Ia teladan yang langka warisan negeri ini di tengah kondisi Indonesia saat ini yang ibarat dalam lingkaran kesesatan dalam proses mencari identitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian Natsir terbentuk berkat perkenalannya dengan Ahmad Hassan--pria keturunan India asal Singapura yang kemudian menjadi ahli agama di Organisasi Persatuan Islam (Persis)--melalui diskusi dan percakapan seputar persoalan Islam, politik, dan kemerdekaan. Bersama Hassan, Natsir menyelami dan memahami Islam secara mendalam yang bercorak reformis dan moderat, jauh dari kecenderungan sikap eksklusif, seperti yang dikembangkan ulama tradisional. Selain itu, Natsir berguru pada Haji Agus Salim, dan Ahmad Sjoorkati, ulama asal Sudan, pendiri Al-Irsyad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang negarawan yang berpengetahuan keagamaan luas, Natsir sebenarnya mengimpikan negeri ini menjadi sebuah negara yang masyarakatnya hidup dengan rukun, taat beragama, bertoleransi (tasamuh), dan hidup dengan sejahtera. Demi mewujudkan impiannya tersebut, Natsir mengusung konsep sebuah negara yang berdasarkan sistem demokrasi konstitusional, yaitu sistem pemerintahan yang tunduk pada konstitusi, kekuasaan negara berada pada tangan rakyat, dan pemerintah selaku pemegang kekuasaan dibatasi oleh konstitusi dan tidak bisa bertindak sewenang-wenang sehingga tidak melanggar hak-hak asasi rakyat. Gagasan demokrasi konstitusionalnya Natsir ini merupakan gradasi dari pemikiran pokoknya, yaitu teo-demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir berupaya menawarkan teo-demokrasi untuk Indonesia karena kekhawatirannya terhadap perkembangan pengaruh sekularisme di Indonesia yang dikembangkan oleh Soekarno dkk. Di masa awal kemerdekaan, Soekarno ingin membangun Indonesia dengan menganut paham Ataturkisme dan Kemalisme dengan mengusung pemikiran yang liberal dan sekuler. Soekarno yakin bahwa harus ada pemisahan antara agama dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini ditolak Natsir. Sebab, secara teologis dan sosiologis, menurut Natsir, agama telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan hal ini berbeda dengan Barat, yang kemerdekaannya terbangun tanpa keterlibatan peran agama, sehingga tidak peduli akan peran agama dalam sebuah negara. Bagi Natsir, kemerdekaan Indonesia dibangun dan didapatkan dengan peran agama yang kental. Pembentukan negara Indonesia berada pada keterikatan terhadap agama. Agama merupakan realitas hidup yang menjadi bagian dari kehidupan sosial, dan budaya bahkan agama berperan penting serta menjadi inspirasi dan alat mobilisasi yang luar biasa dalam melawan penjajahan, dengan mengobarkan semangat jihad. Sehingga, bagi Natsir, mau tidak mau politik Indonesia harus memberi peran yang sesuai bagi agama dalam sebuah negara, dan konsep teo-demokrasi bisa menjadi gagasan yang tepat untuk membangun negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar ini, Natsir menganjurkan bahwa nasionalisme Indonesia mestinya bersifat kebangsaan muslimin, dan ajaran Islam menjadi sesuatu yang tepat untuk membentuk sebuah sistem negara untuk Indonesia. Sebab, Islam sebagai ideologi menurut Natsir adalah lengkap, merujuk pendapat Montgomery Watt bahwa Islam is more than a religion, it is a complete civilization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir, bersama Oemar Said, H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, dan Wahid Hasyim, mencoba menyikapi sekularisme yang diusung Soekarno secara arif dan inklusif dengan membangun sebuah negosiasi. Atas dasar pemikirannya tersebut, melalui mesin politik Masyumi, Natsir berupaya menawarkan konsep teo-demokrasi untuk Indonesia dan menghidupkan kembali tradisi Islam di Indonesia, sebagaimana yang dipopulerkan oleh Abdul A'la Al Maududi--pemimpin Jamaat al-Islamiyah Pakistan--melalui karyanya Al-Khilafah wa al-Mulk (Khilafah dan Kerajaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teo-demokrasi yang diusung Maududi merupakan perpaduan antara teori demokrasi dan teokrasi dan kemudian disintesiskan dengan prinsip-prinsip Islam. Secara esensial konsep teo-demokrasi adalah Islam memberikan kekuasaan kepada rakyat, tetapi kekuasaan itu dibatasi oleh norma-norma yang datangnya dari Tuhan. Dengan kata lain, teo-demokrasi adalah sebuah kedaulatan rakyat yang terbatas di bawah pengawasan Tuhan. Atau, seperti diistilahkan Al-Maududi, a limited popular sovereignty under suzerainty of God (Amien Rais, 1988:23-24). Dalam bukunya yang lain, Islamic Law and Constitution (1962:138-139), Al-Maududi menggunakan istilah divine democracy (demokrasi suci) atau popular vicegerency (kekuasaan suci yang bersifat kerakyatan) untuk menyebut konsep negara dalam Islam (Asshidiqie, 1995:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teo-demokrasi yang diusung Natsir tidaklah sedogmatis dan senormatif Maududi. Natsir mengusung pemahaman yang lebih longgar, yaitu dengan meletakkan Al-Quran bukan sebagai kitab hukum, melainkan sebagai sumber hukum abadi. Karena sebagai sumber hukum, Al-Quran bersifat abadi, selalu cocok untuk setiap zaman, di mana pun dan kapan pun manusia hidup. Prinsip hukum Islam menurut dia adalah segala sesuatu boleh dilakukan kecuali yang dilarang. Ijtihad suatu keharusan bagi umat Islam, yakni berijtihad sejauh-jauhnya tetapi harus selalu memperhatikan yang haq dan yang batil serta yang haram dan halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan prinsip ini, Natsir ingin mempertegas bahwa kebebasan harus ada batasnya, sementara demokrasi sekuler menurut Natsir dapat berujung pada berbagai musibah kemanusiaan. Tanpa intervensi wahyu, manusia bisa terperangkap pada dorongan nafsu hewani dan anarkistis. Tesis Natsir ini bukanlah pemahaman buta melainkan pemahamannya yang mendalam atas teori dan praktek demokrasi sekaligus melihat dengan jernih keterbatasannya. Teo-demokrasi adalah demokrasi yang dibimbing oleh wahyu (Amien Rais, 1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Natsir inilah yang kemudian membawa Natsir pada posisi bertentangan dengan Soekarno. Paham Natsir ini dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, Soekarno melawannya dengan mempopulerkan demokrasi terpimpin, kemudian Soeharto melawannya dengan demokrasi Pancasila. Dua rezim demokrasi tersebut mengerucut pada munculnya pemerintahan yang otoriter. Tak pelak, teo-demokrasi yang diusung Natsir tidak lagi berkembang. Keberadaannya dipasung oleh dua rezim Orde Lama dan Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Theo-demokrasi warisan Natsir mungkin bisa menjadi alternatif baru di tengah kegagalan Indonesia menemukan identitasnya dalam membangun dan menemukan identitas dirinya. Sebab, situasi dan kondisi negara Indonesia berpijak pada proses pembentukan dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan memang tidak bisa lepas dari agama. Dengan asumsi ini, sangat tepat jika konsep teo-demokrasi gagasan Natsir ini dijadikan rujukan untuk membangun demokrasi di Indonesia. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;*)Moh Yasin&lt;/span&gt;, mahasiswa Pascasarjana Islamic College for Advanced Studies-Paramadina, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-5262604292127046543?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/5262604292127046543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=5262604292127046543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5262604292127046543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5262604292127046543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/11/warisan-natsir-untuk-indonesia.html' title='Warisan Natsir Untuk Indonesia'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SRrcH03Y33I/AAAAAAAAAkQ/FL0Ywr1gltE/s72-c/natsir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-9204890441601313316</id><published>2008-09-06T02:03:00.000-07:00</published><updated>2009-02-09T00:32:48.810-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Terobosan Baru Mengirit BBM</title><content type='html'>Resensi Buku, dimuat di &lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt; edisi 06 September 2008&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Oleh: &lt;b style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;Moh Yasin*)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SMJNE44wzxI/AAAAAAAAAZk/IPwgGUH7GEg/s1600-h/Bahan_bkr_Air_Book_FLY.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242837662597959442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 174px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 221px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SMJNE44wzxI/AAAAAAAAAZk/IPwgGUH7GEg/s320/Bahan_bkr_Air_Book_FLY.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Judul Buku&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;: Rahasia Bahan Bakar Air&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Penulis&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: Poempida Hidayatullah &amp;amp; F. Mustari &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Penerbit&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: Ufuk Press, Jakarta&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Cetakan&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: Pertama, Juni 2008&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Tebal&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: 137 halaman&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Tidak dapat disangkal, kenaikan harga BBM, akibat pengurangan subsidi oleh pemerintah, memberikan dampak negatif yang begitu besar dalam keberlangsungan perekonomian dan kehidupan masyarakat. Mulai dari naiknya harga berbagai kebutuhan bahan pokok, transportasi, hingga seretnya pertumbuhan industri perdagangan, dan maraknya berbagai PHK di beberapa perusahaan. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Secara umum, setidak-tidaknya kenaikan harga BBM—yang secara esensial akibat dari keterbatasan kesediaan minyak mentah, dan melambungkan harga minyak mentah dunia—, memunculkan dua reaksi di masyarakat. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;muncul berbagai sikap penolakan atas kebijakan kenaikkan harga BBM, yang dalam konteks ini diwakili oleh para mahasiswa, akademisi, pemerhati sosial, melalui berbagai aksi demonstrasi di berbagai tempat dan daerah, hingga saat ini. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;kenaikan harga BBM justru memupuk daya kreatifitas dan memberi dampak positif bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat, demi menyiasati dampak kenaikan harga BBM. Terobosan-terobosan baru mengirit BBM pun marak diterapkan, mulai dari menyiasati mesin di karburasi, memberi campuran pada bahan bakar, hingga yang terbaru upaya pengiritan bahan bakar bensin dan solar dengan memanfaatkan energi air. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Dimana fenomena pengiritan bahan bakar dengan memanfaatkan air ini telah diterapkan oleh berbagai kalangan di beberapa daerah seperti di Jakarta, Semarang, dan Jawa Timur. Selain karena bahan yang mudah di cari, pembuatan yang sangat sederhana dan efisien, alat pengirit bahan bakar ini bisa mengurangi pengeluaran yang cukup efisien, dengan tidak memberi dampak negatif terhadap kendaraan. Tidak heran jika alat ini mulai dijual di beberapa bengkel di daerah-daerah di Indonesia. Alat pengirit bahan bakar bensin dan solar dengan memanfaatkan air ini di kenal dengan ‘elektrolisa air’, yaitu alat “bebas energi” yang terlihat praktis, evolusioner, sederhana dan efektif. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Buku karya dua anak bangsa, Poempida Hidayatullah, alumnus University of London, dan F. Mustari, lulusan Melbourne University ini, ingin berbagi dengan masyarakat tentang teori dan pembuatan tekhnologi ‘elektrolisa air’. Mereka mengawali karya ini dengan upaya memberikan teori, berbagai informasi penting, dan kontroversi sejarah penemuan pemanfaatan tekhnologi air. Kemudian penjelasan secara praktis mengenai bagaimana cara membuat alat penghemat BBM tekhnologi air, bahan-bahan dasar dan alat-alat yang dibutuhkan, cara pemasangan di kendaraan, perawatan, serta contoh praktek pembuatan, dan dilengkapi dengan audio visual praktik pembuatannya&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;dalam bentuk CD, yang dipaketkan bersama buku ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Secara teoritis ide pengiritan bensin dan solar dengan memanfaatan air ini bukanlah ide baru, sejak abad ke-19 tepatnya pada tahun 1884 ide ini telah diterapkan oleh beberapa ilmuwan di Eropa, diantaranya adalah seorang ilmuwan dari Swiss, &lt;i&gt;Isac De Rivas &lt;/i&gt;dimana ia merancang dan membuat mesin dengan pembakaran internal, dan ia menggunakan air sebagai bahan bakarnya. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Kemudian dikembangkan oleh Jules Gabriel Verne, penulis masa depan &lt;i&gt;The Mysterious Island&lt;/i&gt;, ia mengungkapkan bahwa air terdiri dari dua unsur sederhana, dan dapat diuraikan dengan menggunakan energi listrik, sehingga air bisa menghasilkan daya yang sangat besar dan mudah diatur (hal. 8). Teori pembuatan tekhnologi penghematan bahan bakar yang dikenal dengan ‘elektrolisa air’, sebagaimana diuraikan penulis, merupakan aplikasi dari teori yang dikemukakan oleh &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Jules Gabriel Verne tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Tekhnologi ‘elektrolisa air’ yang diperkenalkan dalam buku ini merupakan pengembangan atas teori air Jules Gabriel Verne. Poempida Hidayatullah dan F. Mustari berpijak pada teori bahwa air memiliki dua unsur, yaitu hidrogen dan oksigen. Dan untuk menghasilkan energi dari air dibutuhkan penguraian atas keduanya, dengan memanfaatkan daya listrik., yang kecil, air bisa mengeluarkan daya yang sangat besar. Proses teori &lt;i&gt;electrolyser &lt;/i&gt;HHO ini adalah memisahkan partikel atau molekul air dalam aturan tertentu menjadi 2H untuk hidrogen dan 1 O untuk oksigen sehingga melahirkan kombinasi gas yang dikenal dengan HHO atau &lt;i&gt;brown gas &lt;/i&gt;(hal. 29).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Penulis tidak berhenti pada penjelasan secara teoritis belaka, melalui research yang lama, mereka juga memberikan pelajaran berharga mengenai bagaimana secara praktis penerapan tekhnologi ini. Penulis bersama timnya telah mempraktekkan dan menguji secara langsung, bahkan mereka juga menjelaskan secara detail mengenai alat-alat yang dibutuhkan untuk perakitan, mulai dari nama alat, ukuran, jenis, dan alternatif yang dimungkinkan dengan berbagai penjelasan yang sangat baik. Selain itu penulis juga menjelaskan bagaimana cara perawatan, dan bagaimana cara pemasangannya di kendaraan.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Tekhnologi ‘elektrolisa’, selain tentunya memberikan manfaat secara finansial karena pengiritan bahan bakar, juga memberi manfaat besar untuk perawatan kendaraan. Di antaranya penghematan dan efisiensi bahan bakar hingga 90 persen—bergantung pada jenis kendaraan dan berat muatan—, dapat menyempurnakan pembakaran, sehingga memperlambat keausan komponen serta kerusakan mesin, suhu mesin menjadi dingin, serta menghilangkan karbon deposit, meningkatkan power kendaraan hingga 20 persen, dan mesin menjadi semakin awet karena terjadinya pembersihan karbon deposit yang ada dalam pembakaran, piston dan klep menjadi lebih awet.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sementara manfaat bagi dunia dan masyarakat umum, kendaraan yang dilengkapi dengan penghemat ‘elektrolisa air’ mengurangi kebisingan dan zat emisi karbon, sehingga bisa mengurangi polusi yang besar dan membantu menekan pemanasan global. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Buku ini tentunya sangat menarik untuk dipelajari bagi siapa pun, baik kalangan akademisi maupun masyarakat secara umum. Bahkan buku ini bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi anda yang memiliki insting bisnis yang bagus. Sebab alat pengirit BBM ini mungkin akan menjadi kebutuhan pokok kedua setelah bensin dan solar. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Namun, pemberian judul &lt;i&gt;Rahasia Bahan Bakar Air &lt;/i&gt;yang melekat dalam buku ini sedikit memberi pandangan yang tidak sedap dan cenderung melebih-lebihkan isi buku. Padahal yang dimaksudkan penulis buku ini bukanlah membuat bahan bakar dari air, sebagaimana kontroversi &lt;i&gt;blue energy &lt;/i&gt;yang dikembangkan oleh tim Joko Suprapto bersama Presiden SBY dan beberapa lembaga research di kampus, melainkan mengirit bahan bakar bensin dan solar dengan menggunakan tekhnologi ‘elektrolisa air’, yaitu sebuah usaha pengiritan BBM dengan memanfaatkan energi air. &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;*) &lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, Pustakawan, tinggal di Ciputat dan &lt;span lang="IN"&gt;Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina, Jakarta. a Branch of ICAS-London.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-9204890441601313316?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/9204890441601313316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=9204890441601313316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/9204890441601313316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/9204890441601313316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/09/terobosan-baru-mengirit-bbm.html' title='Terobosan Baru Mengirit BBM'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SMJNE44wzxI/AAAAAAAAAZk/IPwgGUH7GEg/s72-c/Bahan_bkr_Air_Book_FLY.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8025659306104311059</id><published>2008-09-01T19:41:00.001-07:00</published><updated>2009-02-09T00:34:24.628-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Memilih Pemimpin yang Ideal</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SLyqVBQ44PI/AAAAAAAAAZE/g_RjcBZf8uU/s1600-h/capres.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241251344445661426" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 185px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 228px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SLyqVBQ44PI/AAAAAAAAAZE/g_RjcBZf8uU/s320/capres.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0);font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Opini dimuat di &lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, edisi selasa 02 September 2008&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0);font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(0,0,102)font-size:100%;" &gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;!-- end title --&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0);font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0);font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Pasca kemerdekaan RI 1945, estafet kegagalan kepemimpinan negara Indonesia tidak pernah mengalami titik terang, mulai dari kegagalan politik dan ekonomi di era pemerintahan Sukarno, kegagalan tinggal-landas di era pemerintahan Suharto, serta kegagalan demokratisasi dan lunturnya ideologi di tangan para pemimpin Indonesia era reformasi hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali pesta demokrasi digelar di negeri ini, menghabiskan APBN terilyunan rupiyah, namun rakyat tak kunjung menemukan sosok pemimpin yang bisa membawa pada kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, dan sekaligus menjadi teladan atau panutan rakyat. Yang ada hanya ritual pergantian pemimpin yang diwarnai dengan kecurangan, kekerasan, suap menyuap, dan sikap ketidak dewasaan dalam berpolitik. Meminjam istilah Olle Tornquist, proses demokrasi di Indonesia sejauh ini, hanya menghasilkan Demokrasi Kaum Penjahat, dengan melahirkan para negarawan yang lebih menonjolkan kepentingan pribadi dan golongan ketimbang kepentingan rakyat sebagai pemilik kedaulatan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Proses demokrasi yang buruk tersebut tak lepas dari kecenderungan masyarakat Indonesia yang masih rendah akan pendidikan politik, sehingga tidak mau berpikir panjang dalam menjatuhkan pilihan sosok pemimpin dalam sebuah penyelenggaraan pesta demokrasi. Rakyat masih mudah tertipu dengan hal-hal yang bersifat iming-iming, janji-janji manis, dan pemberian imbalan materi yang bersifat sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah masyarakat lupa bahwa falsafah jawa telah memberi petunjuk yang jelas mengenai kriteria seorang pemimpin yang bisa membawa nusantara ini pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah jawa mengajarkan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin jika ia mendapatkan wahyu kedaton. Raja-raja kerajaan jawa mendapatkan wahyu kedaton berkah dari kekuatannya yang luar biasa, raja tidak lain adalah para “super jago” atau orang pilihan. Dalam konteks negara demokrasi, Raja tidak lain adalah Presiden. Sementara wahyu yang harus didapat dari Presiden adalah berupa dukungan rakyat mayoritas, untuk itu wahyu Presiden tidak lain adalah rakyat, karena dalam sistem demokrasi suara rakyat adalah suara Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas siapakah yang berhak menjadi seorang pemimpin? Siapakah yang berhak mendapatkan wahyu berupa dukungan rakyat mayoritas? Falsafah jawa mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan monopoli beberapa orang, sebab Tuhan memberi kesempatan kepada siapa saja. Untuk itu yang berhak menjadi seorang pemimpin adalah mereka yang selalu berupaya, berusaha, dan berjalan menuju kesempurnaan. Orang yang demikianlah nantinya yang berhak menjadi pemimpin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada tahun 2009, rakyat Indonesia akan dihadapkan pada persoalan menentukan pemimpin baru untuk periode lima tahun. Agar rakyat tidak lagi keliru dalam menentukan pemimpin, ada beberapa kriteria dan konsep dalam kepemimpinan jawa yang kiranya perlu diperhatikan oleh masyarakat Indonesia. Dimana kriteria dan konsep tersebut dapat ditafsirkan dan dirumuskan dalam konteks negara modern atau negara penganut demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Serat Wulang Reh dijelaskan bahwa seorang pemimpin apabila tidak memahami tanda-tanda kehidupan kepemimpinannya cenderung tidak punya arah. Pemimpin yang demikian cenderung cinta dan mengabdikan hidupnya hanya pada kekuasaan, harta, dan jabatan. Bahkan buta akan kesejahteraan, kedamaian, kemakmuran dan keadilan rakyatnya.&lt;br /&gt;Gadjah Mada, orang yang sukses membawa kemajuan Nusantara,--mengerti akan apa arti sebuah kepemimpinan, bagaimana cara membangunnya dan bagaimana cara menjalankan kepercayaan—, telah memberi peninggalan pada masyarakat jawa mengenai sosok pemimpin ideal dan kunci kerberhasilan sebuah negara. Menurutnya pemimpin besar harus memiliki enam kriteria, abhikamika simapatik, prajna arif dan bijaksana, ustada proaktif, atmasampat berkepribadian luhur, sakya samanta bisa mengontrol, aksuda parisakta akomodatif dan cerdik dalam berunding, dan “stabilitas” adalah kunci keberhasilan membangun sebuah negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadjah Mada juga mewariskan lima cara yang harus dimiliki seorang pemimpin besar dalam menjalankan roda kepemimpinan, handayani hanyakra purana senantiasa memberi motifasi pada bawahan, madya hanyakrabawa dekat dengan rakyat dan selalu terlibat dalam pelaksanaan pengambilan keputusan, ngarsa hanyakrabawa menjadi teladan bagi rakyatnya, ngarsa bala wicara menggunakan cara yang cerdas, kreatif dan inofatif dalam menjalankan kepemimpinan, ngarsa dana upaya memiliki pengabdian dan pengorbanan yang besar demi rakyat dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain peninggalan ajaran Gadjah Mada, seorang pemimpin yang baik, menurut falsafah jawa adalah mereka yang mau meneladani perwatakan alam atau ajaran hasta brata. Yaitu ajaran yang dipetik dari serat rama jarwa yaitu ajaran keteladanan kepemimpinan delapan Dewa yakni, Dewa Endra, Dewa Surya, Dewa Bayu, Dewa Kumara, Dewa Baruna, Dewa Yama, Dewa Candra, dan Dewa Brama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran hasta brata terdiri dari delapan perwatakan alam, seorang pemimpin harus; (1) berwatak bumi, seorang pemimpin harus suka berderma, memberi dan menerima sebagaimana watak bumi (2) berwatak air, seorang pemimpin harus punya sikap rendah hati, tenang, dan lemah lembut (3) berwatak angin, seorang pemimpin harus mengerti persoalan masyarakat, karena ia akan menghadapi berbagai persoalan dan kebijakan penting (4) berwatak lautan, pemimpin harus luas hati, siap menerima keluhan dan siap menerima beban yang berat tanpa keluh kesah (5) berwatak rembulan, pemimpin harus selalu memberi penerangan pada siapa pun dengan keindahan religiusitas dan spiritualitas (6) berwatak matahari, pemimpin harus memberi daya, energi, kekuatan atau power terhadap rakyatnya (7) berwatak api, pemimpin harus selalu bisa menyelesaikan masalah dengan adil dan tidak pilih kasih dan (8) berwatak binatang, seorang pemimpin harus mempunyai kepribadian luhur dan cita-cita yang tinggi (Arwan Tuti Artha, Satria Pinili, hlm. 12-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana ajaran hasta brata ini merupakan ajaran yang diberikan oleh Prabu Rama Wijaya kepada Prabu Wibisana sebelum naik takhta ke kerajaan Alengka. Dan delapan ajaran hasta brata tersebut dijadikan sebagai pedoman bagi perilaku raja-raja besar agar seorang pemimpin menjadi sosok pemimpin yang adil, berwibawa, arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran falsafah jawa tentang kriteria pemimpin ini mungkin bisa menjadi solusi baru untuk memberikan pendidikan politik bagi rakyat agar rakyat tidak lagi sembrono dan bisa menimbang secara matang dalam menetapkan sosok pemimpin yang sempurna, terutama pada Pilpres 2009 nanti, yang sejauh ini masih tarik ulur wacana antara sosok pemimpin muda dan pemimpin tua dalam kepemimpinan Indonesia mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;*) Moh Yasin&lt;/span&gt;, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan PSIK-Paramadina, Mahasiswa Pasca Sarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8025659306104311059?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8025659306104311059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8025659306104311059' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8025659306104311059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8025659306104311059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/09/memilih-pemimpin-yang-ideal.html' title='Memilih Pemimpin yang Ideal'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SLyqVBQ44PI/AAAAAAAAAZE/g_RjcBZf8uU/s72-c/capres.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-1568986831238915074</id><published>2008-08-28T20:46:00.000-07:00</published><updated>2009-02-09T00:40:48.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Pseudo-Mujtahid dan Menjamurnya Aliran Sesat</title><content type='html'>Opini di muat di Koran &lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt; edisi jumat, 29 Agustus 2008&lt;br /&gt;Oleh: &lt;b style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;Moh Yasin*)&lt;/b&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SLdxzFPIhyI/AAAAAAAAAYU/3NzoI6DNMNY/s1600-h/sesat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239781813861779234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 182px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 190px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SLdxzFPIhyI/AAAAAAAAAYU/3NzoI6DNMNY/s320/sesat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Fenomena kehidupan keberagamaan bangsa Indonesia mengalami kehebohan yang luar biasa. Paham atau aliran menyimpang (sesat) merebak dimana-mana. PBNU mencatat, sejak tahun 2001 hingga 2008 sedikitnya ada sekitar 250 paham atau aliran yang menyimpang berkembang di Indonesia. Mulai dari aliran kerajaan Lia Eden, pemimpin agama Salamullah yang mengaku dirinya sebagai perwakilan Jibril, pengikut al-Qiyadah yang mengimani Ahmad Musaddeq sebagai Rasulnya, Ahmadiyah yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Isa- al-Masih, Darul Arqam, pemimpinnya mengaku bertemu dengan Nabi, Gereja setan yang mencari pengantin wanita bagi Lucifer, &lt;i&gt;Children of God &lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;melalui seks bebas, komunitas yang menjalankan shalat dengan dua bahasa dan beberapa aliran lainnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Keberadaan aliran sesat tersebut menimbulkan keresahan masyarakat, dan memicu lahirnya tindakan main hakim sendiri melalui tindakan kekerasan dan penyerangan sepihak terhadap pengikut paham atau aliran yang dianggap menyimpang (sesat). Mulai dari penyerbuan gabungan massa ORMAS Islam terhadap pusat al-Qiyadah al-Islamiyah di Padang, penyerbuan sepihak oleh masyarakat terhadap pusat-pusat kegiatan Ahmadiyah, hingga tragedi Monas, 1 Juni 2008, bentrok antara FPI dengan AKKBB, yang disebabkan dari emosi memuncak dan tidak terkontrol atas keresahan-keresahan sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dengan menggunakan berbagai pendekatan dan perspektif, beberapa kalangan mengklaim bahwa membanjirnya aliran sesat di Indonesia merupakan reaksi dari kekeringan hati masyarakat atau krisis spiritualitas, akibat perasaan bosan dan bahkan muak terhadap ajaran agama yang ada. Sehingga seseorang menempuh jalan spiritual baru yang menawarkan ritual-ritual dan cara yang baru.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Menurut para sejarawan Indonesia, fenomena yang sama, secara historis pernah terjadi di Nusantara, dimana pada akhir periode Indonesia kuno (masa masuknya agama Hindu dan Buda hingga masuknya agama Islam) sekitar abad ke-12 hingga abad ke-16 muncul sekte-sekte aneh yang menyimpang akibat dari kekecewaan masyarakat Indonesia kuno terhadap kondisi kekacauan negeri Nusantara. Oleh karenanya mereka menilai bahwa kemunculan aliran sesat merupakan bentuk dari kekecewaan masyarakat terhadap keadaan negara yang kacau dan pengaruh kondisi sosial yang tidak setabil serta semakin mengaburnya peran para tokoh agama. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;Sementara para tokoh agama secara spekulatif menyatakan bahwa menjamurnya aliran sesat di Indonesia akibat dari adanya keterlibatan pihak ketiga yang dalam hal ini adalah intelijen asing, demi memecah belah persatuan dari dalam umat Muslim di Indonesia, atas kepentingan tertentu. Hal ini seperti yang telah diungkapkan oleh K.H. Hasyim Muzadi (Ketua PB NU), Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR), Prof. Dr. Achmad Satori Ismail (Keua IKADI), Ichwan Sam, (Sek.MUI).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Terlepas dari berbagai pandangan yang cenderung spekulatif atas fenomena menjamurnya aliran sesat di Indonesia, dalam konteks ini penulis ingin mendedahkan secara teologis terhadap fenomena menjamurnya aliran sesat di Indonesia. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Secara teologis kemunculan aliran sesat di Indonesia merupakan rentetan dari tradisi ijtihad yang tereduksi dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran agama dalam Islam. Sebagaimana pernyataan M. Iqbal, bahwa ada dua sumber perkembangan pemikiran agama dalam Islam. Pertama, sumber baku (sumber statika), yaitu al Qur’an dan sunnah. Yang kedua, sumber dinamika (sumber pengembangan), yaitu Ijtihad (M. Iqbal, dalam &lt;i&gt;The Recontruction of Religious Thought In Islam&lt;/i&gt;, 1983). Dimana ijtihad, bersama kejayaan Baghdad dan Cordova telah membawa kemajuan tradisi dan perkembangan ajaran Islam.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Secara historis pasca runtuhnya Baghdad sesudah Abad ke-13 M. Ijtihad sebagai sumber pengembangan ajaran Islam mengalami stagnasi yang berkepanjangan hingga sekarang. Fenomena ini berjalan sebanding dengan lunturnya tradisi kritis dalam penerapan ijtihad oleh para ulama’. Dimana hasil ijtihad yang dalam tradisi fiqih disebut madzhab diyakini bahwa kebenarannya tidak lagi bersifat relatif dan sementara, para mujtahid cenderung berusaha untuk memutlakkan &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;hasil ijtihadnya. Mujtahid yang cenderung kehilangan dimensi kekritisan, filosofi, dan normativitasnya ini lebih dikenal dengan sebutan &lt;i&gt;pseudo mujtahid. &lt;/i&gt;Yaitu seorang mujtahid atau penegak sekte yang berusaha dengan bermacam dalih untuk memutlakkan hasil ijtihad mereka. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Fenomena penerapan&lt;i&gt; pseudo-mujtahid&lt;/i&gt; ini sebenarnya sudah ada dalam Islam sejak masa shahabat, dan ditandai dengan munculnya lairan-aliran teologi Islam yang bersifat eksklusif dan fanatisme yang sangat berlebihan seperti Khawarij, Syi’ah, Sunni, Asy’ariyah, Mirza Ghulam Ahmad. Dan berkembang hingga sekarang di Indonesia, melahirkan sekte-sekte yang bersifat ekstrim seperti Islam Jama’ah, Darul Arqam, Al-Qiyadah al Islamiyah, LDII, dan para ustadz penegak ajaran usroh yang berwatak eksklusif (Dr.M. Amin. Abdullah; 1995) .&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Oleh karenanya keberadaan aliran sesat di Indonesia tidak lebih dari hasil penerapan pola ijtihad yang salah, ijtihad yang di masa dahulu telah membawa kemajuan peradaban Islam telah direduksi dan kehilangan dimensi kekritisan, filosofi, dan normativitasnya. Sehingga para mujtahid tidak memenuhi syarat sebagai mujtahid dan tidak mengakui bahwa tafsir agamanya hasil ijtihadnya sebagai kebenaran yang relatif, sebagaimana para mujtahid dahulu. Mereka cenderung bersifat ekstrim, eksklusif dan memiliki kecenderungan untuk menjadi sang &lt;i&gt;pseudo-mujtahid &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan tradisi ijtihad pada masa Islam dahulu. Dimana para mujtahid Islam terdahulu berijtihad dengan penggunaan penalaran kritis dan mendalam menggunakan ketajaman pemikiran filsafat dan ilmu mantik dengan tanpa meninggalkan normativitas al Qur’an dan hadist. Mereka meletakkan hasil ijtihadnya sebagai pemikiran yang bersifat relatif tidak mutlak seperti wahyu. Dan merupakan pegangan sementara sebelum ditemukannya yang lebih shahih.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Perilaku &lt;i&gt;pseudo-mujtahid&lt;/i&gt; ini sangat menyimpang dengan prinsip-prinsip Islam, sebab para mujtahid terdahulu meletakkan hasil ijtihadnya sebagai pegangan sementara, sebelum ditemukannya pendapat yang lebih shahih. Hal ini parallel dengan apa yang diungkapkan oleh Nurcholish Majid tentang pemahaman terhadap perkembangan ajaran agama, Cak Nur berpendapat bahwa penafsiran kita terhadap agama tidak mutlak benar, penafsiran itu dipengaruhi oleh iklim pemikiran yang terkait oleh ruang dan waktu dan tingkat pemahaman masing-masing individu karena itu diperlukan penyegaran setiap saat. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Mengenai sikap umat terhadap perilaku &lt;i&gt;pseudo-mujtahid &lt;/i&gt;ini seharusnya menerapkan sebagaimana dijelaskan dalam ayat al Qur’an surah Al An-Am ayat 159. yang menjelaskan bahwa “sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”.&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;*) Moh Yasin&lt;/b&gt;, Peneliti, PSIK Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Paramadina Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mahasiswa Program Pasca Sarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-1568986831238915074?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/1568986831238915074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=1568986831238915074' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/1568986831238915074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/1568986831238915074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/08/pseudo-mujtahid-dan-menjamurnya-aliran.html' title='Pseudo-Mujtahid dan Menjamurnya Aliran Sesat'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_I-lWCj7pfbo/SLdxzFPIhyI/AAAAAAAAAYU/3NzoI6DNMNY/s72-c/sesat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8160632427986816584</id><published>2008-07-23T07:53:00.000-07:00</published><updated>2009-02-09T01:15:14.790-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Mengantisipasi Terjadinya Sengketa Pilgub</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;Opini ini dimuat di koran &lt;span style="COLOR: rgb(51,0,153)"&gt;&lt;strong&gt;Surya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; edisi, 22 Juli 2008&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt; &lt;/td&gt;&lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;&lt;a title="Buat halaman ini dalam format PDF" onclick="window.open('http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=50832','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" href="http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=50832" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Buat halaman ini dalam format PDF" src="http://www.surya.co.id/web/templates/ja_teline/images/pdf_button.png" align="middle" border="0" name="Buat halaman ini dalam format PDF" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;&lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;&lt;a title="Cetak halaman ini" onclick="window.open('http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=50832&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=40','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no'); return false;" href="http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=50832&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0&amp;amp;Itemid=40" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Cetak halaman ini" src="http://www.surya.co.id/web/templates/ja_teline/images/printButton.png" align="middle" border="0" name="Cetak halaman ini" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;&lt;td class="buttonheading" align="right" width="100%"&gt;&lt;a title="Kirim halaman ini melalui E-mail" onclick="window.open('http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=50832&amp;amp;itemid=40','win2','status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no'); return false;" href="http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=emailform&amp;amp;id=50832&amp;amp;itemid=40" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Kirim halaman ini melalui E-mail" src="http://www.surya.co.id/web/templates/ja_teline/images/emailButton.png" align="middle" border="0" name="Kirim halaman ini melalui E-mail" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="createdate" valign="top" colspan="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;&lt;td valign="top" colspan="2"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SIdId1jQtcI/AAAAAAAAAYM/WJzeEzMb8jY/s1600-h/pilg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226225570015131074" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 158px" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SIdId1jQtcI/AAAAAAAAAYM/WJzeEzMb8jY/s320/pilg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berkaca dari sejarah penyelenggaraan kedaulatan rakyat di negeri ini, bahwa hampir selama 63 tahun, pelaksanaan kedaulatan rakyat, senantiasa dinodai dengan tindakan kekerasan, ketidakjujuran, dan praktek politik uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat, Pemilu legislatif 2004 lalu melahirkan 273 sengketa atau kecurangan yang masuk ke MK (mahkamah konstitusi), dan berlanjut pada kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan Pilkada di berbagai daerah hampir merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini tercatat ada 169 kasus sengketa pilkada di Indonesia, mulai kasus penghitungan ulang dan penyelenggaraan pilkada ulang di Sulsel, pencopotan Bupati Banggai kepulauan Bengkap oleh KPUD Sulteng akibat politik uang, dan kasus penghitungan ulang hasil pilkada di beberapa daerah lain seperti di Depok, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini diperkuat dengan fakta selama penyelenggaraan pesta demokrasi, negeri ini belum pernah menghasilkan sosok pemimpin yang berkualitas, yang mampu membawa perubahan yang nyata, baik tingkat pemimpin lokal maupun nasional. Sehingga demokratisasi di Indonesia belum bisa mencerminkan hakikat kedaulatan rakyat itu sendiri, dengan prinsipnya &lt;em&gt;from the people, by the people and for the people&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menandakan ada permasalahan serius dalam proses penyelenggaraan pilkada dan lemahnya sistem demokrasi yang sedang berjalan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, sengketa pilkada dapat dikategorikan menjadi dua yaitu sengketa dalam proses penyelenggaraan pilkada dan sengketa hasil pilkada. Kasus kecurangan dalam proses penyelenggaraan pilkada yang selalu muncul adalah pencurian start kampanye, serangan fajar dan money politic, sementara sengketa hasil pilkada berbentuk kecurangan penghitungan suara, seperti mark-up suara atau penggelembungan suara dan penyuapan dalam proses penghitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya sudah sepantasnya pelaksanaan Pilgub Jatim, yang akan dilaksanakan pada 23 Juli 2008, dijadikan momen penting dalam mewujudkan pelaksanaan pesta demokrasi dalam nuansa kejujuran, kedamaian dan tanpa praktik money politics. Sehingga tercipta proses demokratisasi di tingkat daerah, dengan harapan berpengaruh positif terhadap dinamika politik di tingkat lokal atau daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan harapan pada tahap berikutnya, stabilitas politik tingkat nasional dapat terjaga.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan penyelenggaraan pesta demokrasi, khususnya Pilgub Jawa Timur, yang berkualitas, dan bebas dari sengketa, menurut penulis, ada dua poin penting--secara teoritis dan praktis--yang harus diperhatikan oleh KPUD Jatim, para pasangan Cagub, dan rakyat secara umum sebagai pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pelaksanaan Pilgub berlangsung dengan damai, jujur dan tanpa politik uang.&lt;br /&gt;Secara teoritis, salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak adalah masyarakat harus mulai memahami dan mengerti mengenai filosofi dari pilkada. Filosofi penyelenggaraan pilkada adalah sebagai bentuk pelaksanaan kedaulatan rakyat pilkada seyogyanya menempatkan rakyat (pemilih) sebagai variabel paling strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka agar Pilgub Jatim berjalan bersih dan terhindar dari mencuatnya potensi-potensi konflik yang ada dan mungkin ada, kelima calon pasangan Cagub Jatim--Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono, Sutjipto-Ridwan Hisjam, Soenarjo-Ali Maschan Moesa, Achmady-Suhartono, Soekarwo-Saifullah Yusuf--yang sedang bersaing memperebutkan kursi terhormat Gubernur Jatim, harus memosisikan pemilih (rakyat) sebagai subyek. Bukan sebaliknya, mengeksploitasi rakyat dengan janji-janji manis lewat kampanye, atau bahkan menyuapnya saat menjelang pencoblosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman terhadap filosofi pilkada tersebut akan memberi kesadaran yang mendalam terhadap masyarakat akan arti dan tujuan dari pilgub. Dengan harapan dapat meminimalisir munculnya berbagai konflik, dan sengketa, yang berpotensi muncul dalam proses dan pasca pelaksanaan Pilgub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dengan berpijak pada filosofi pilkada ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan demi meminimalisir atau mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya konflik dan sengketa dalam Pilgub Jatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, harus kita sadari, dalam praktek pelaksanaan pilgub di beberapa daerah sebelumnya, politik uang masih sangat sering dijadikan pelicin jalan menuju takhta kekuasaan. Maka tugas berat KPUD Jatim dalam pelaksanaan pilgub kali ini adalah bagaimana menghadirkan jajarannya mulai dari TPS sampai KPUD dengan bersih dan tidak mudah menerima suap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan KPUD harus bertindak tegas dengan mencopot atau memberhentikan jajarannya apabila benar-benar terbukti melakukan pelanggaran. Sebab, terjadinya kecurangan dan penggelembungan suara pada pilkada-pilkada sebelumnya sebagian besar karena praktek money politic. Mustahil kiranya Pilgub Jatim akan berlangsung dengan baik jika politik uang masih diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, KPU sebaiknya mengimbau terhadap para saksi dan panitia penyelenggara Pilgub baik di TPS, PPS dan PPK agar semuanya menyimpan dengan baik dokumen hasil penghitungan suara dan mempublikasikan di tempat-tempat umum serta panitia penyelenggara, pengawas, saksi harus memiliki copy-an data tersebut, agar ketika ada sengketa hasil pilgub, KPUD dapat membuka langsung dokumen tersebut. Karena peran saksi dan pemantau / pengawas masih sedikit dalam upaya menentukan kualitas pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, para cagub dan cawagub sebaiknya serius dalam menyiapkan saksi yang ditempatkan di TPS dan tingkat selanjutnya. Karena peran saksi sangatlah sentral dalam menentukan kualitas pilgub dan adanya pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan pilgub. Dan yang tidak dapat dilupakan juga adalah peran aktif rakyat untuk bagaimana mewujudkan Pilgub agar terselenggara dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, para pasangan Cagub harus bersikap lebih dewasa dalam berpolitik dengan mengikuti rambu-rambu yang ada dan menjauhkan dari egoisme dan tindakan-tindakan provokasi yang bisa menyulut konflik. Dengan lebih mengutamakan pada pemaparan visi, misi, strategi, kebijakan dan program kerja yang sederhana dan menyentuh kepentingan masyarakat "akar rumput".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun potensi-potensi kecurangan dan konflik dalam penyelenggaraan pilgub tidak bisa kita garansi tidak ada. Beberapa langkah praktis tersebut setidak-tidaknya membantu memberi masukan mengenai proses pesta demokrasi di tingkat daerah dengan baik dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan harapan tercipta pilkada langsung secara damai dan demokratis dan meminimalisir kemungkinan timbulnya perselisihan, sengketa, dan konflik dalam penyelenggaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(51,0,153)"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Pasca Sarjana ICAS-Paramadina Jakarta, a Branch of ICAS London &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8160632427986816584?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8160632427986816584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8160632427986816584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8160632427986816584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8160632427986816584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/07/mengantisipasi-terjadinya-sengketa.html' title='Mengantisipasi Terjadinya Sengketa Pilgub'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SIdId1jQtcI/AAAAAAAAAYM/WJzeEzMb8jY/s72-c/pilg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-669508713116332584</id><published>2008-07-21T05:12:00.000-07:00</published><updated>2009-02-11T18:55:06.966-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Diplomasi Soekarno Hadapi AS</title><content type='html'>Resensi ini dimuat di &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt; edisi, 21 Juli 2008&lt;br /&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SIR-qeOZL3I/AAAAAAAAAYE/z2NJCskPK8k/s1600-h/indonesia%20vs%20amrik[1].jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225440735789657970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SIR-qeOZL3I/AAAAAAAAAYE/z2NJCskPK8k/s320/indonesia%252520vs%252520amrik%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Judul Buku : Indonesia Melawan Amerika&lt;br /&gt;Penulis : Baskara T Wardaya&lt;br /&gt;Penerbit : Galang Press, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Mei, 2008&lt;br /&gt;Tebal : xvi + 448 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika perpolitikan Indonesia di era perang dingin kurun waktu 1953-1963 pernah ditandai dengan aroma diplomasi cantik dan elegan, disertai dengan kebijakan para pemimpin yang tidak mau didikte dan tunduk pada Amerika. Meski saat itu negeri Indonesia baru merdeka dalam hitungan belasan tahun, semangat nasionalisme dan kecerdikan para pemimpinnya menjadikan negara Indonesia disegani oleh Amerika, Uni Soviet dan negara-negara Sekutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, di tengah persetruan perang dingin antara Amerika dan Unisoviet, Indonesia, yang baru merdeka dalam hitungan belasan tahun, lewat kunjungan Soekarno ke Washington berhasil mendinginkan keadaan. Di sisi lain, melalui semangat nasionalisme yang tinggi dan kecerdikan diplomasinya, pemerintah Indonesia lewat diplomasi cantik dan ciamik Soekarno juga berhasil mempermainkan Amerika dan Uni Soviet dalam kasus pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan kartu Uni soviet, Soekarno menerapkan kebijakan luar negeri dengan metode gertak sambal, yaitu menakut-nakuti Amerika bahwa militer Uni Soviet akan membantu Indonesia dan akan memporak-porandakan Belanda, negara sekutu Abadi Amerika, di tanah penjajahan Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat diplomasi Bung karno, Amerika tak berkutik, John F Kennedy dengan sangat terpaksa memerintahkan Belanda untuk hengkang dari dan tanah Irian Barat. Papua kemudian bebas dari penjajahan dengan tanpa jatuh korban dan peperangan. Sebuah permainan diplomasi cantik diperagakan oleh pemimpin Indonesia, dengan spirit nasionalisme yang tinggi dan sikap pemerintahan yang independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Baskara Tulus Wardaya yang merupakan disertasi di universitas Marquette, Milwaukee, Wisconsin Amerika ini ingin menuturkan dinamika politik Indonesia di masa perang dingin 1953-1963, serta model kepemimpinan pemerintahan Indonesia yang anti terhadap hegemoni Amerika dan bagaimana kecerdikan Bung Karno mengambil kebijakan-kebijakan luar negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikisahkan oleh Baskara, landasan kepemimpinan Soekarno dibangun atas dasar nasionalisme, Islam dan Marxisme. Nasionalisme yang tumbuh dalam dirinya telah menanamkan rasa persatuan dan cinta tanah air sekaligus menjadikan dirinya menjadi proklamator dan presiden pertama Indonesia, sementara ideologi Marxisme yang dikembangkannya membuat dirinya memiliki hubungan dekat dengan Uni Soviet, dan menanamkan jiwa anti hegemoni dan imperialisme Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama pemerintahan Soekarno, kebijakan luar negeri Indonesia sangat disegani asing. Salah satu kebijakan luar negeri yang indah dan luar biasa dalam dinamika politik Indonesia di era pemerintahan Soekarno adalah peristiwa pembebasan tanah Papua dari penjajahan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, Soekarno memanfaatkan Uni Soviet yang saat itu sedang berseteru dengan Amerika, pada saat bersamaan posisi negara Belanda menjadi bagian dari Sekutu bersama Amerika dan Eropa. Soekarno melalui kekutan diplomasinya membujuk Uni Soviet untuk membantu secara militer mengusir Belanda dari tanah Papua, dan keberhasilan diplomasi Soekarno ini disampaikan ke Pihak Amerika. Amerika yang saat itu tidak tega melihat sekutu abadinya luluh lantak oleh militer Uni Soviet memerintahkan Belanda untuk mundur dari pendudukannya di tanah Irian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses diplomasi yang membuat Amerika gigit jari tersebut berlangsung demikian, Subandrio wakil perdana menteri yang pernah menjabat duta besar Moskow, diperintah olah Soekarno untuk meminta bantuan militer kepada pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushehev, agar mengusir Belanda dari tanah Papua. Keberhasilan Subandrio melobi Nikita Khrushehev kemudian disampaikan oleh Soekarno kepada Howard P Jones, duta besar Amerika di Indonesia. Informasi tersebut membuat john F Kennedy yang saat itu sedang menjabat sebagai presiden Amerika kalang kabut, karena Kennedy tidak mau melihat Belanda porak-poranda dan babak belur, akibat serangan militer Uni Soviet, memaksa belanda untuk kabur dan hengkang dari tanah Papua. Tanah Papua pun bebas dari penjajahan Belanda dengan tanpa korban dan biaya pengeluaran untuk militer, dan militer Uni Soviet pulang tanpa menembakkan sebutir peluru pun karena Belanda sudah hengkang saat kapal perang Uni Soviet sampai di perairan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Soekarno mempecundangi Amerika tidak hanya dalam kasus pembebasan tanah Irian, pemerintahan di masa Soekarno juga berhasil menangkap basah penyusupan CIA di Maluku pada tahun 1958, yang menyamar sebagai pilot, dan kemudian diadili secara tertutup. Padahal Amerika saat itu mendanai pemberontakan pemerintahan revolusioner republik Indonesia dan perjuangan Semesta di Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian negara Indonesia di era Soekarno ini seakan menunujukkan bahwa negara Indonesia pernah menjadi negara yang memiliki kekuatan diplomasi yang cantik, dengan jiwa nasionalisme yang tinggi dan tidak pernah mau tunduk dan didikte oleh negara super power Amerika. Salah satu bukti nyata lain adalah dinamika politik Indonesia pada tahun 1948 ditandai dengan deklarasi politik bebas aktif, melawan Malaysia pada tahun 1963, dan keluar dari keanggotaan PBB pada tahun 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat buku ini rasanya Baskara ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu pernah memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan dengan gagah berani menentang hegemoni pihak asing. Sayangnya ruh kepemimpinan ala Soekarno ini tidak lagi kelihatan di masa sekarang, dan hanya tinggal kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dibuktikan bahwa praktis, pasca presiden Soekarno, Indonesia berada dalam cengkeraman asing (Amerika), pemerintahan Orde Baru berada di bawah kendali Amerika, melalui lembaga-lembaga internasionalnya seperti IMF, Bank Dunia, USAID. Orde Baru mewarisi kebijakan buruk dan berlanjut hingga sekarang, tak heran jika Indonesia di masa Orde Baru pernah dijuluki sebagai negara gagal atau failed state akibat strategi kebijakannya yang selalu tunduk pada Mafia Berkeley dan Indonesia hanya menjadi negara kepanjangan tangan dari kepentingan global Mafia Berkeley lewat “Washington konsensus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;span style="color:#000066;"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;, Mahasiswa Pasca Sarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-669508713116332584?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/669508713116332584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=669508713116332584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/669508713116332584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/669508713116332584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/07/diplomasi-soekarno-hadapi-as.html' title='Diplomasi Soekarno Hadapi AS'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SIR-qeOZL3I/AAAAAAAAAYE/z2NJCskPK8k/s72-c/indonesia%252520vs%252520amrik%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-6921107693751690475</id><published>2008-07-12T21:05:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T21:15:20.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>9 Langkah Menjadi Reallionaire Di Usia Muda</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="font-family: arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Naskah Ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Surabaya Post &lt;/span&gt;edisi 06 Juli 2008&lt;br /&gt;Oleh&lt;b&gt;: &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:arial;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SHmADMerAdI/AAAAAAAAAX0/ZHtsvolfnas/s1600-h/Reallionaire%5B1%5D.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SHmADMerAdI/AAAAAAAAAX0/ZHtsvolfnas/s320/Reallionaire%5B1%5D.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222346035290636754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Judul Buku &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Reallionaire; Sembilan Langkah Menjadi Kaya Raya&lt;br /&gt;Judul Asli&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Reallionaire&lt;br /&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: Farrah Gray dan Fran Harris&lt;br /&gt;Penerjemah&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Priambodo dan Feba Sukmana&lt;br /&gt;Penerbit &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Daras Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Pertama, November 2007&lt;br /&gt;Tebal &lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;: 296&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pandangan hidup manusia modern cenderung meletakkan hubungan sesama manusia lebih bersifat biologis, ekonomis dan mekanis sebagaimana yang diusung oleh Modernisme dan Liberalisme. Tolok ukur kesuksesan sering kali didentikkan dengan hal-hal yang melulu bersifat materi, dengan menghitung seberapa banyak tumpukan harta kekayaanya dan cenderung mereduksi sebegitu rupa makna sebuah kesuksesan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lantas, apa sebenarnya arti sebuah kesuksesan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;benarkah para Miliarder yang setiap tahun namanya dipublikasikan oleh media dan lembaga-lembaga suvei pembuat rangking kekayaan benar-benar merasa bahwa dirinya adalah orang yang kaya raya dan terhormat?. Atau bahkan telah sampai pada puncak kebahagiaan dan kekayaan yang seutuhnya..?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Farrah Gray-- sang penyandang miliarder di usia 14 tahun, pemuda kulit hitam keturunan Amerika-Afrika, memiliki pandangan yang unik dan berbeda &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengenai arti sebuah kesuksesan. Bagi Farrah, kesuksesan tidak selalu identik dengan kepemlikan atas harta yang melimpah, tumpukan rekening di bank, rumah yang mewah, mobil bermerek, memiliki villa di berbagai tempat hingga memiliki pesawat jet pribadi. Melainkan pencapaian seseorang pada pemahaman dan kesadaran bahwa dirinya telah menemukan kekayaan dan nilai-nilai yang dimilikinya secara alamiah, tanpa memasukkan unsur-unsur kakayaan material. Artinya seseorang telah menyadari dan menemukan bakat yang melekat pada dirinya dan dimanfaatkannya untuk menggapai apa yang diimpikan atau diinginkannya. Sehingga akan membawa diri seseorang ke tahap pencapaian dan kemakmuran berikutnya, oleh karenanya seseorang akan dibilang benar-benar sukses tatkala telah mencapai pada pucak &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt; yaitu seseorang yang mengejar keinginannya dengan kesejatian, ketulusan dan kejujuran.(hlm. 12) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Farrah adalah sang &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt; muda Amerika kulit hitam, di usia 19 tahunnya ia sudah harus sibuk membagi waktunya untuk New York City, Las Vegas dan Nevada, terlibat di berbagai perusahaan besar di AS sperti kartu prabayar Kidztel,Faar-Out Foods, NE2W Venture Capital Fund, Majalah Innercity, talkshow Teenscope, dan kerjasama bisnis lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kesuksesan Farrah menjadi &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt; muda tidaklah dengan proses mudah, Farrah adalah lelaki kelahiran Chicago dari keluarga miskin, lingkungan miskin, dan latar belakang lingkungan yang sama sekali tidak menunjukkan ada potensi kesuksesan yang bisa diambil dari dalamnya. Tapi keadaan buruk ini justru menjadikan sumber inspirasi melimpah bagi Farrah, yang justru menanamkan sifat pantang menyerah yaitu prinsip yang dipenuhi dengan kekuatan diri, keyakinan, fokus, dan hasrat kuat untuk keluar dari situasi sulit. Dan membuatnya menjadi orang yang memiliki impian yang mulia yaitu mnjadi kaya raya dan terhormat atau &lt;i&gt;reallionaire.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lewat buku ini, Farah ingin berbagi ilmu mengenai pengalaman, prinsip, dan langkah-langkah penting dalam perjalanan meraih kesuksesannya menjadi seorang &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt;. Dengan gaya tutur curhat dan bahasa yang sangat sederhana, Farrah ingin berbagi tentang kesuluruhan pengalaman dan perjalanan hidupnya secara utuh melalui cerita-cerita tentang proses perjalanan menjalankan bisnisnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari awal merintis, saat berjuang untuk bangkit dari keterpurukan bisnisnya hingga metode-metode khas bisnis ala farrah yang telah diterapkan dalam menjalankan bisnisnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain cerita dan metode, Farrah juga akan memberikan roda-roda ampuh yang bisa mempercepat perjalanan anda menuju sang &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt;. Yaitu prinsip-prinsip yang disebutnya dengan ‘keyakinan-keyakinan reallionaire’ beserta &lt;i&gt;real-real point, &lt;/i&gt;konsep-konsep penting dan pengingat yang bisa menjadi pijakan untuk memupuk semangat saat sedang dalam masa pasang surut, keraguan, kebimbangan. Serta latihan-latihan &lt;i&gt;reallionaire &lt;/i&gt;beserta contoh-contoh yang dulu dilakukan oleh Farrah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Langkah awal menuju kesuksesan diri menurut farrah adalah seseorang harus melakukan emapat hal untuk memperkuat “sisi dalamnya”, sehingga bisa memberikan dan menjaga semangatnya, tahu siapa dirinya dan tujuan hidupnya, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dimana proses ini dikenal dengan proses mengenal diri pibadi. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, memahami kekuatan sebuah nama, &lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;, mengubah penolakan menjadi kesempatan, &lt;i&gt;ketiga&lt;/i&gt;, membangun hubungan sesama manusia dengan baik demi mempelajari pengalaman dan pengetahuan orang lain, &lt;i&gt;keempat&lt;/i&gt;, bagaimana meraih setiap kesempatan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada empat sasaran yang harus ditentukan dalam memetakan jalan menuju kesuksesan, agar benar-benar menjadi seorang reallionaire sejati yaitu. (1) mennetukan sasaran rohani, meluangkan waktu 5 menit tiap hari untuk bedoa misalnya, (2) sasaran emosional, (3) sasaran fisik (4) sasaran mental. (Hlm 113)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahap &lt;i&gt;kelima&lt;/i&gt; adalah setelah menetapkan tujuan, janganlah menentang sistem dan melawan arus kehidupan meskipun terkadang jauh dari kenyamanan, mulailah mencintai kehidupan dan ikutilah arus akan tetapi tetap pada tujuan yang dibuatnya. Tahap keenam, menyiapkan diri secara emosional untuk menerima kegagalan, bagaimana menyikapi atas rasa kecewa dari kegagalan dengan positive thinking bisa menjadikan sebuah kekecewaan menjadi sebuah kesempatan yang mengubah hidup dan melangkah lebih maju. Tahap ketujuh, harus senantiasa focus pada apa yang dikuasai, sebab banyak kesempatan yang kadangkala datang secara bersamaan. Tahap kedelapan, cintai, hormati, peduli, dan sayangilah pelanggan dengan setulus-tulusnya, apapun sikap,perilaku dan tindakan pelanggan harus dibalas dengan senyum dan rasa trima kasih yang tulus. Dan tahap kesembilan, jangan pernah mengabaikan network atau jaringan, sebab yang datang pasti akan pergi oleh karenanya manfaatkan setiap pertemuan dengan seseorang, dan jangan pernah mengabaikan dan meremehkan, siap pun orang yang anda temui.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Termasuk langkah menjadi &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt; yang paling utama menurut Farrah adalah seseorang harus memiliki keyakinan pada dirinya dan Tuhannya, manusia harus mengakui bahwa dirinya lemah di hadapan tuhannya yang bisa dilakukan hanyalah berjuang tanpa pamrih untuk memenuhi panggilan di dunianya. Jika panggilan itu adalah menulis maka menulislah, jika paggilan itu memasak maka memasaklah, yang pasti jangan melakukan segalanya hanya demi uang uang akan datang jika seseorang melakukan segalanya dengan maksud, alasan, dan tujuan yang tepat, mulia, dan terhormat. Dan yakinlah apa yang dilakukan akan membuat dunia menjadi lebih baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebab puncak dari Kesuksesan seorang &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt; adalah telah bisa memahami dirinya dan bahagia dengan dirinya, dan bisa berbagi kebahagiaan dengan keluarga, lingkungan, masyarakat dan dunia. Sebab bagian terbesar dari persamaan &lt;i&gt;reallionaire&lt;/i&gt; adalah kedermawanan, yaitu sejauh mana kontribusi kita terhadap keluarga, lingkungan, masyarakat dan dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ditengah-tengah era globalisasi, kehadiran buku ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda bangsa Indonesia, terutama dalam berkarir di dunia bisnis dan menanmkan jiwa kedermawanan dan rasa tanggung jawab sosial dalam dirinya.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;*)Moh Yasin&lt;/b&gt;, Pustakawan kelahiran Bojonegoro, mahasiswa Master Program of ICAS-Paramadina Jakarta, A Branch of ICAS-London. Pimpinan redaksi The Indonesian Famous Institute Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-6921107693751690475?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/6921107693751690475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=6921107693751690475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/6921107693751690475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/6921107693751690475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/07/9-langkah-menjadi-reallionaire-di-usia.html' title='9 Langkah Menjadi Reallionaire Di Usia Muda'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SHmADMerAdI/AAAAAAAAAX0/ZHtsvolfnas/s72-c/Reallionaire%5B1%5D.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-6292630999425661096</id><published>2008-06-14T05:23:00.000-07:00</published><updated>2008-06-14T06:10:00.317-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Beragama Dengan Kearifan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SFO_UEyVO_I/AAAAAAAAAXs/2NzgafA2rLQ/s1600-h/religions.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211719545400933362" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 151px; CURSOR: hand; HEIGHT: 165px" height="214" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SFO_UEyVO_I/AAAAAAAAAXs/2NzgafA2rLQ/s320/religions.jpg" width="165" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Naskah opini ini dimuat di &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt; edisi, Jum'at 13 juni 2008&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;*)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sebagai sistem kepercayaan dan peribadatan, agama memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan tatanan kehidupan yang menjadi dambaan manusia, yaitu: kehidupan yang harmonis, sejahtera,berkeadilan dan diridhoi Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Agama, sejauh menjadi pahamkepercayaan dan peribadatan senantiasa menjadi sumber motifasi dan inspirasi yang tidak pernah kering dan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Namun, ketika paham kepercayaan sudah diinstitusikan atau dilembagakanmenjadi sebuah nama formal (Islam, Kristen, Hindu, Budha dll). &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Agama mulai melahirkan perdebatan, perselisihan, konflik dan pertikaian, yang muncul akibat adanya paham yang berbeda-beda dalam proses hidup beragama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Oleh karenanya, salah satu persoalan penting dalam proses perilakukehidupan keberagaman manusia adalah adanya pluralisme penafsiran terhadap agama dan apa yang menjadi lawan pluralisme, yaitu klaim-klaim kebenaran tunggal terhadap agama formal tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Dimana perilaku keberagaman manusia yang tidak pluralis dan menggunakan klaim-klaim tunggal cenderung melahirkan sifat-sifat keangkuhan dan kesombongan oleh sebagian agamawan. Bahwa agama formal yang dipeluknyaadalah agama yang paling selamat, yang paling orisinil, paling benar, dan orang lain harus diagamakan dengan agama formalnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Jika agama sudah ditafsirkan demikian, yang terjadi adalah beragama dengan eksklusif, komunal dan kental dengan kebenaran yang subyektif. Sehingga esensi makna sebuah agama tereduksi sebegitu rupa. Dimana cara beragama ini selalu membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, bukan membenarkan diri sendiri dan menghargai kebenaran diluar dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Hal ini bisa dilihat pada fenomena sejarah panjang keberagamaan manusia, seperti klaim kebenaran agama semit oleh sebagian pemeluknya. Dimana mereka mengklaim bahwa agama semit adalah agama yang orisinil,paling benar, paling selamat dan menganggap agama bumi hanya kreasi manusia belaka.Fenomena ini tidak berhenti pada klaim kebenaran antar agama, konflik-konflik yang muncul saat ini malah permusuhan antar kelompokaliran yang masih berada dalam satu institusi agama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, banyak organisasi keagamaan yang mengklaim bahwa aliran yang dianutnya adalah yang paling orisinil dan paling benar, bahkan tak jarang mereka menganggap orang di luar garis kepercayaannya sebagai kafir dan dihalalkan darahnya, dan satu-satunyajalan kebenaran adalah dengan membubarkan atau memerangi mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Cara kehidupan keberagamaan manusia yang demikian, sepertinya sudah menjadi pemandangan umum di kehidupan ini, terutama di negeri ini.Kasus perlawanan dengan kekerasan terhadap beberapa aliran "sesat"seperti al-Qiyadah, Ahmadiyah, Lia Eiden, hingga mereka yang membela kebebasan beragama oleh aliran tertentu akhir-akhir ini, barang kali menjadi salah satu bukti bahwa ada yang salah dalam proses keberagamaan manusia dan pemahaman akan makna sebuah agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Oleh karenanya harus ditemukan sebuah horizon-horizon baru dalam memaknai sebuah agama. Sehingga akan tercipta perilaku keberagaman yang tidak komunal dan eksklusif serta mengakui kebebasan dalam beragama tentunya, demi terciptanya sebuah keberlangsungan hidup yangdamai dan sejahtera, sebagaimana yang diajarkan oleh setiap agama dan apa yang telah menjadi cita-cita agama yaitu menciptakan tatanan kehidupan yang penuh dengan kemaslahatan dan kedamaian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Dalam konteks ini penulis melalui pendekatan historis kemunculan agama, ingin mendedahkan mengenai esensi sebuah agama, sehingga terlihat apa yang menjadi visi dan cita-cita setiap agama, baik agama semit maupun agama bumi. Dengan harapan akan tersingkap makna esensi sebuah agama, yang selama ini tereduksi dan memunculkan berbagai konflik antar agama dan pertikaian antar aliran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sehingga akan tercipta sebuah tatanan kehidupan kerberagamaan yang penuh dengan kearifan yaitu kehidupan beragama yang lebih toleran, mengutamakan kebajikan, keadilan, kemaslahatan dan kesejahteraan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Jika dilihat dari sudut pandang teologi, dan sejarah kemunculan setiap agama --agama semit maupun agama bumi—sebenarnya memiliki visi besar yang sama, yaitu memperjuangkan kebajikan dan keadilan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut. Secara historis, sejak masih menjadi paham kepercayaan atau &lt;em&gt;Abrahamic Religion&lt;/em&gt;, hingga menjadi sebuah institusi-institusi agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi. Agama, sebenarnya memiliki visi dan cita-cita yang sama yaitu pendambaan akan keadilan, kebajikan dan kehidupan yang penuh dengan kedamaian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Hal ini dapat dilihat sejarah kemunculan agam-agama formal, dimana melalui tokoh-tokoh pembawa agamanya, setiap agama melakukan revolusi di massanya dengan tujuan untuk melawan ketidak adilan, penindasan,membela yang lemah dan melawan kaum tiran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Sebagaimana ketika Ibrahim harus berjuang melawan penindasan, dan memperjuangkan keadilan untukumatnya, kemudian Islam dengan revolusi yang dibawa oleh Muhammad demimelawan ketidakadilan masa jahiliyah, serta Kristen lewat Isa, danBudha dengan Sidarta Gautama dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Dimana para pembawa agama ini memiliki kegelisahan yang sama, yaitu: memperjuangkan keadilan dan pembebasan di era-nya masing-masing. Selain itu, secara teologis agama melalui kitab suci, hasil-hasil ijtihad para ulama, tidak ada yang mengajarkan terhadap tindak kejahatan dan keburukan, entah itu agama semit atau pun agama bumi. Oleh karenanya tatkala muncul konflik antar agama pasti tidak akanlepas dari adanya pereduksian esensi agama, yaitu cara beragama yang mengabaikan visi dan cita-cita agama itu sendiri, yaitu sikap dengan tidak memperjuangkan kebajikan dan tidak anti ketidakadilan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Individu-individu atau kelompok yang melakukan tindakan kekerasan,ketidakadilan lewat jalan agama dengan mentasbihkan dirinya sebagaiserdadu Tuhan tidak pernah dibenarkan dalam tata cara, perilaku, danpola hidup keagamaan setiap agama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Dan mereka, para pelaku tindakan kekerasan, beragama secara eksklusif dan komunal ini lebih layak dikenal sebagai pendusta agama. Sebab tindakan, perilaku, dan cara keberagamaannya sebenarnya menyimpang dari apa yang menjadi visi besar dan cita-cita agama. Yang mana perilaku menyimpang ini muncul akibat minimnya pemahaman akan esensi sebuah agama, dan akibat taklid buta,sehingga keberimanannya tidak murni atas kesadaran dan pemahaman keagamaan yang mendalam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;*) &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS- Paramadina,Jakarta. A Branch of ICAS-London. Aktif di The Indonesian FamousInstitute.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-6292630999425661096?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/6292630999425661096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=6292630999425661096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/6292630999425661096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/6292630999425661096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/06/beragama-dengan-kearifan.html' title='Beragama Dengan Kearifan'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SFO_UEyVO_I/AAAAAAAAAXs/2NzgafA2rLQ/s72-c/religions.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-4317712647129722863</id><published>2008-05-30T19:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T23:41:24.458-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Belajar Dari Kecerdikan Iran</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Naskah Ini dimuat di&lt;/span&gt; &lt;strong style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Koran Jakarta&lt;/strong&gt; edisi, 31 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Oleh: &lt;strong&gt;Moh Yasin*)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SEC4zFNYXsI/AAAAAAAAAXk/lJgPIrvTBkQ/s1600-h/Supremasi+Iran1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206364356951432898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 175px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 178px" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SEC4zFNYXsI/AAAAAAAAAXk/lJgPIrvTBkQ/s320/Supremasi+Iran1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Judul Buku : Supremasi Iran; Poros Setan atau Superpower Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Judul Asli : Confronting Iran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Penulis : Ali M Ansari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Penerbit : Zahra, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Cetakan : Pertama, April 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Tebal : 308, halaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Selama satu dekade terakhir, lewat kekuatan sistem diplomasi, kekayaan minyak, keberanian, dan semangat nasionalisme religiusnya, Iran merasa tidak pernah butuh dan tertarik terhadap bantuan Amerika. Sebaliknya, Iran semakin bangga dengan kecaman-kecaman Amerika. Bahkan, Ahmadinejad, Presiden Iran saat ini, dengan lantang menyatakan bahwa tidak ada gunanya penyelesain konflik AS-Iran lewat diplomasi, yang berguna adalah konfrontasi, dan sikap anti imperealisme dan hegemoni terhadap Barat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Sikap anti arogansi dan hegemoni Iran ini sebenarnya didasarkan pada satu fakta sejarah hubungan politik yang buruk dan tidak resiprokal antara AS-Iran. Yaitu peristiwa kudeta atas perdana mentri Iran Dr. Mohammad Mosaddeq pada tahun1953, yang dilakukan oleh Amerika lewat CIA bekerjasama dengan Britania SIS. Britania dan Amerika meruntuhkan pemerintahan Front Nasioinal Musaddeq demi tujuan menentang kebijakan nasionalisasi minyak Iran dan kebijakan diplomasi terusan Suez.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Peristiwa kudeta terhadap Musaddeq ini memunculkan sikap anti Barat di masyarakat Iran, rakyat Iran merasa dikhianati dan didhalimi oleh AS. Dimana perasaan tertindas dan rasa ketidakadilan ini pada akhirnya memuncak dan melahirkan Revolusi Islam Iran yang dikomandoi oleh Imam Khomeini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Lewat revolusi Islam, Negara Republik Islam Iran (RRI) menjadi Negara anti Amerika, memutus hubungan diplomatik dengan Amerika, mengambil alih kedutaan AS, membakar bendera AS, menyandera kedutaan, menolak keberadaan Israel, dan kembali kepada pentingnya religiusitas dan etika. Iran juga anti terhadap liberalisme, materialisme ala Amerika&lt;br /&gt;Buku karya Ali M Ansari --seorang Professor kajian Timur Tengah di University of St Andrews dan peneliti di program Timur Tengah Chatham House London—yang semula berjudul Confronting Iran ini ingin mendedahkan secara historis fakta hubungan Iran-AS dalam konteks&lt;br /&gt;kemerosotan kerajaan Iran dan kebangkitan nasionalisme religius, juga sikap Iran atas berbagai kebijakan-kebijakan Amerika yang berujung pada konfrontasi yang berevolusi hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historis, hubungan Iran-AS tidaklah berjalan se-ekstrim sepuluh tahun terakhir, sejarah hubungan Iran-AS juga pernah berlangsung mesra dalam berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan militer. Sebelum berujung pada hubungan yang konfrontatif yang berlangsung hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendekatan historis kronologis, Ali M. Ansari menunjukkan fakta bahwa hubungan Iran-AS diawali dengan sebuah hubungan diplomatik yang mesra, demi menyelamatkan keuangan kerajaan Iran yang kacau. Amerika pada tahun 1911 mengirimkan Morgan Shuster--seorang&lt;br /&gt;Bankir Niaga Amerika-- ke Iran, dan seorang penasehat ekonomi, Arthur Chester Millspaugh, demi memimpin keuangan kerajaan di Iran. Di bawah tangan Shuster dan Millspaugh keuangan Iran berkembang dengan pesat, ekonomi Iran mulai terbangun dan Iran mulai menjalin hubungan perdagangan dengan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika, bersama Rezim Reza Shah, telah membawa kebangkitan perekonomian Iran, akibat dukungan dana yang besar dari Amerika dan sikap Rezim Reza Shah yang pro-Israel. Bahkan, Reza Shah sempat menjadi Kaisar minyak dunia, melakukan banyak infestasi di luar negeri. Shah bahkan berambisi ingin meletakkan Iran dalam posisi yang sejajar dengan Britania dan Amerika. Di masa ini pula Amerika dan sekutu mendukung program nuklir Iran, dengan asumsi agar tenaga listrik Iran tercukupi dan agar minyak bisa tereksploitasi lebih besar. Amerika menandatangani perjanjian memasok uranium selama 10 tahun dengan Iran, sementara Prancis memberi bantuan SDM dan Britania berupa pendanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Iran-AS kembali mencuat pada pergantian Abad ke-20. Saat itu Iran merasa tidak nyaman dengan cara perdagangan Barat, yang cenderung menggunakan kekuatan-kekuatannya untuk berebut minyak di Iran. Iran pun ingin melepaskan diri dari manipulasi politik dari Rusia dan Britania Raya, yang saat itu berebut kekayaan di Iran. Iran memandang bahwa posisi Amerika sebagai sebuah peluang untuk melepaskan diri dari manipulasi politik Rusia dan Britania Raya. Hubungan Iran-AS kembali berlangsung mesra, dengan berbagai program pengembangan ekonomi, pendidikan, budaya dan politik Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kudeta 1953 terhadap Mosaddeq benar-benar menjadi momentum buruk hubungan Iran-AS. Bantuan AS yang memajukan perekonomian Iran dengan dibarengi penjajahan kapitalisme dan materialisme dianggap oleh rakyat Iran sebagai godaan setan. Kebencian rakyat Iran tidak dapat dicegah akibat benturan peradaban ini. Dan lahirlah Revolusi Iran dengan ditandai berdirinya Negara Republik Islam Iran. Sebuah segara dengan semangat keberanian tinggi yang diikuti dengan nasionalisme religius yang tinggi. Sumbangan AS lewat Shuster, Millspaugh dan kemajuan-kemajuan ekonomi yang diraih Rezim Reza Shah tidak ada nilainya di mata rakyat Iran. Rakyat Iran tidak percaya lagi pada sistem hukum yang dibangun oleh Barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Pasca wafatnya Imam Khomeini pada tahun 1989, beberapa upaya pemimpin baru Iran untuk mencoba membangun kembali hubungan AS-Iran selalu gagal. Rafsanjani, berusaha mereda konfrontasi AS-Iran lewat jalan nasionalisme, realisme dan visi ekonomi. Begitu juga Mohammad&lt;br /&gt;Khatami, lewat gerakan reformasi, dialog komunikasi internasional dengan prinsip kebebasan dan demokrasi Islam. Namun, semua upaya tersebut gagal sebab sikap Iran yang anti Israel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Meski hanya menyajikan secara historis kronologis dengan analisis yang kurang tajam, dan hanya bersifat informatif. Kehadiran buku ini menjadi sangat penting dalam kaitannya menyajikan bagaimana proses berjalannya pembangunan sebuah negara dari titik nol menuju&lt;br /&gt;kemajuan, bahkan menjadi negara superpower. Juga menggambarkan bahwa pemimpin-pemimpin Iran selalu tepat membuat kebijakan di era-nya masing-masing. Mereka pro-Amerika saat mengalami kehancuran, dan anti Amerika saat Amerika mulai ingin mengeksploitasi dan mencuri kekayaan&lt;br /&gt;Iran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;*) Moh Yasin&lt;/span&gt;, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina, Jakarta. a Branch of&lt;br /&gt;ICAS-London. aktif di The Indonesian famous Institute. Pengelola blog &lt;a href="http://muhammad-yasin.blogspot.com./" s_oidt="0" s_oid="http://muhammad-yasin.blogspot.com./"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(36,124,212)"&gt;http://muhammad-yasin.blogspot.com.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-4317712647129722863?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/4317712647129722863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=4317712647129722863' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4317712647129722863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4317712647129722863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/05/belajar-dari-kecerdikan-iran.html' title='Belajar Dari Kecerdikan Iran'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SEC4zFNYXsI/AAAAAAAAAXk/lJgPIrvTBkQ/s72-c/Supremasi+Iran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-7674577951165189775</id><published>2008-05-24T05:04:00.000-07:00</published><updated>2008-05-24T05:13:03.700-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Ensiklopedi Kekejaman Penguasa Tiran Dunia</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Resensi Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Naskah Ini dimuat di koran Media Indonesia, 24 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SDgFuVNYXrI/AAAAAAAAAXc/ofMW283V5Ko/s1600-h/tangan+besi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203915662951997106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SDgFuVNYXrI/AAAAAAAAAXc/ofMW283V5Ko/s320/tangan+besi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Judul Buku : Tangan Besi-100 Tiran Penguasa Dunia&lt;br /&gt;Penulis : Monsanto Loka&lt;br /&gt;Terbitan : Galang Press, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2008&lt;br /&gt;Tebal : 291 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, perilaku manusia senantiasa didominasi oleh sense hewani. Yaitu, tingginya nafsu menjadi penguasa, menjadi yang terhebat, memburu kenikmatan dan kepuasan yang bersifat fisik. Bahkan, Manusia menjadi buta akan religiusitas dan moralitas akibat dominasi nafsu hewaninya. Demi kekuasaan, dan memenuhi ambisi individunya, manusia rela melakukan apa saja. Tak jarang, kecenderungan untuk berkuasa, membuat perilaku manusia tak terkendali, seakan-akan tindakan pembantaian, pembunuhan, kekerasan, pemerasan, dianggap sebagai suatu keharusan demi menuruti kepuasan sense hewani manusia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nampaknya kecenderungan perilaku manusia ini sudah mengakar sejak zaman sebelum masehi hingga era modern sekarang. Hanya bentuk dan cara kekerasan yang digunakan oleh sosok tiran yang berbeda. Sosok tiran klasik cenderung menggunakan cara imperialisme dan kolonialisme dengan jalan berperang memperebutkan wilayah kekuasaan dan perampasan harta kekayaan penduduk yang berlanjut pada penarikan pajak. Sementara kaum tiran modern cenderung menggunakan kekuatan diplomasi, penyerangan lewat budaya, doktrin pemikiran, dan penekanan dalam menentukan berbagai kebijakan-kebijakan penting sebuah negara. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap negara melahirkan para pemimpin tiran, baik negara yang berbasis Muslim, Kristen, Yahudi, Kunghucu, Hindu, dan lain-lain. Bahkan sistem pemerintahan sebuah negara pun tidak bisa menjamin lepas dari kemunculan tokoh-tokoh tiran, baik negara yang menganut sistem demokrasi, komunis, teknokrasi, dan kerajaan. Yang pasti, pemimpin-pemimpin tiran hanya akan patuh pada ambisi-ambisinya, dan senantiasa menghalalkan segala cara demi memenuhi kepuasan sense hewaninya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Monsanto Luka ini, bermaksud mencatat sejarah singkat biografi tokoh tiran dunia, dengan penyajian yang sangat sederhana, singkat, padat, sangat informatif. Setiap tokoh dikupas berdasarkan latar belakang kelahiran dan sejarah yang membentuk dan mempengaruhi kehidupannya sehingga menjadikan sosok tiran dalam dirinya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan sosok pemimpin tiran tidak pernah dibatasi ruang dan waktu, oleh suku, ras, agama dan wilayah. Tak perduli ia laki-laki atau perempuan, gagah perkasa ataupun kerdil, beragama maupun tidak beragama, kulit hitam maupun kulit putih, entah orang miskin desa ataupun orang kaya kota, dari negeri daratan Asia, Afrika, Amerika, Australia ataupun Eropa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari Alexander Agung dari Yunani yang ekspansi kekuasaannya membunuh hampir 10 % penduduk dunia, Adolf Hitler dengan kekuatan Nazi membantai ribuan kaum Yahudi, Genghis Khan ekspansinya ke daratan Cina melayangkan jutaan nyawa, Attila, disetiap perjalanannya meninggalakan tragedi pemerkosaan, pembunuhan dan pembantaian. Saddam Hussein membantai ribuan kaum oposisi, Imam Khomeini, menghukum bagi mereka yang menentang sistem negara revolusi Islam Iran. Hingga Soekarno, yang mempekerjakan pribumi dan merencanakan budak seks ke Jepang. Dan Soeharto, melalui kekuatan politik dan militernya memberhanguskan lawan politik dan membantai jutaan manusia dengan tuduhan komunis. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejarah juga mencatat, meski para tokoh tiran telah berhasil memenuhi hasrat dan nafsu hewaninya, hampir semuanya berakhir dengan ketidak bahagian. Hitler harus rela mati bunuh diri, para raja di Yunani dan Roma banyak yang meninggal karena dibunuh oleh keluarganya sendiri, tokoh-tokoh komunis banyak yang meninggal dipertempuran, Bungkarno harus meninggal tengah-tengah hukuman dipengasingannya dan Soeharto meninggal dengan dihantui berbagai kasus korupsi, kudeta, dan meninggalkan berbagai kasus besar lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku ini dengan penyajian yang lebih bersifat ensiklopedis, tentunya sangat menarik untuk dibaca, terkait dengan sejarah perilaku kekejaman para tokoh besar dunia. Namun, sangat disayangkan dalam buku ini penulis tidak memberikan analisis mengenai pemikiran tokoh, dan tidak disajikan dalam bentuk kronologi waktu, sehingga terkesan hanya resume dari beberapa data tentang tokoh. Ditambah lagi dengan tidak adanya kata pengantar dan penutup layaknya sebuah buku, yang membuat buku ini terasa kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;strong&gt;  Moh. Yasin&lt;/strong&gt;, Pimpinan Redaksi The Indonesian Famous Institute, Mahasiswa Pasca Sarjana ICAS-Indonesia. A Branch of ICAS-London. Pengelola blog &lt;a href="http://muhammad-yasin.blogspot.com/"&gt;http://muhammad-yasin.blogspot.com/&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-7674577951165189775?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/7674577951165189775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=7674577951165189775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7674577951165189775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7674577951165189775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/05/ensiklopedi-kekejaman-penguasa-tiran.html' title='Ensiklopedi Kekejaman Penguasa Tiran Dunia'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SDgFuVNYXrI/AAAAAAAAAXc/ofMW283V5Ko/s72-c/tangan+besi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-2228992612363399652</id><published>2008-05-15T08:23:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T08:32:32.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Mewacanakan Sains dan Agama Secara Konstruktif</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resensi Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Moh. Yasin*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxWpKp7pbI/AAAAAAAAAXU/JiA6lxvuxzA/s1600-h/melacak+jejak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 143px; height: 204px;" src="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxWpKp7pbI/AAAAAAAAAXU/JiA6lxvuxzA/s320/melacak+jejak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200626934940935602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Judul Buku     : Melacak Jejak Tuhan dalam Sains; Tafsir Islami Atas Sains&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Judul Asli    : Issues in Islam and Science&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Penulis        : Mehdi Golshani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Penerbit     : Mizan, Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Cetakan     : Pertama, 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tebal         : xxiii + 149 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sejak dua Abad silam perkembangan dunia sains berikut turunannya tekhnologi cenderung berwatak ateistik-materialistik, hasilnyapun kerapkali mengancam agama. Teori-teori ilmiah yang dimunculkan sains dilandaskan pada metafisika yang bertentangan dan menyudutkan keyakinan kaum beragama, seperti teori penciptaan alam semesta, manusia, hubungan alam dengan Tuhan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Puncaknya ketika Darwin mempopulerkan teori evolusinya lewat karyanya "The Origin of Species" pada 1859.M dengan teori evolusi Darwin telah melawan apa yang menjadi doktrin dan keyakinan kuat kaum beragama terutama mengenai misteri kemunculan manusia. para Darwinisme meyakini bahwa nenek moyang kita bukanlah Adam (nabi) sebagaimana yang diceritakan oleh agama, melainkan kera. Begitu juga dengan alam keberadaannya hanya faktor kebetulan belaka, tidak ada agen yang menciptakannya, termasuk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Keradikalan sains modern dengan memunculkan teori-teori atau temuan-temuan baru yang cenderung bersifat ateistik-materialistik ini terlihat semakin membahayakan kaum agamawan. Kaum agamawan dalam menanggapi atau merespon paradigma sains modern yang bersifat ateistik-materialistik tersebut paling tidak melahirkan tiga corak. (1) berusaha memepertahankan doktrin tradisionalnya, (2) meninggalkan tradisi, dan (3) berusaha merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Di Barat perdebatan atau perjumpaan anatara sains dan agama menghasilkan gagasan "sains teistik", yaitu: sains yang sensitive terhadap keyakinan dan ajaran agama. Sementara dalam Islam hubungan antara sains dan agama telah menjadi topik menarik selama lima puluh tahun terakhir ini. Gagasan mengenai "sains Islami" atau "Islamisasi sains" merupakan reaksi atas sains modern yang ateistik-materialistik tersebut. "Sains Islami" ini pada mulanya dipopulerkan oleh para pemikir muslim seperti Sayyed Hossein Nasr, Ziauddun Sardar lewat karya-karya ilmiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Buku yang ditulis oleh Golshani guru besar di bidang fisika Universitas Tekhnologi Sayrif Iran ini mencoba menawarkan wacana tentang agama dan sains secara konstruktif, terbuka dan tetap menjunjung tinggi sikap kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sebagai bukti konkrit Golshani dalam mengusung wacana tentang sains dan agama secara konstruktif dapat dilihat bagaimana ia meletakkan peran Al-Qur'an dalam kaitannya dengan sains. Meskipun Golshani menganggap Al-Qur'an merupakan salah satu sumber ilmu, ia tidak menganggap ayat-ayat Al-Qur'an sebagai sumber langsung teori-teori ilmiah dalam sains, yang dapat digunakan untuk mendukung atau mengkritik teori-teori  ilmiah secara langsung (hal. Xiv).&lt;br /&gt;   Akan tetapi Golshani meletakkan Al-Qur'an sebagai sember ilmu berada pada dataran filosofis/metafisi. Al-Qur'an memberikan prinsip-prinsip umum dalam kajian ilmiah dan motivasi yang kuat bagi umat Islam untuk memahami semesta dan isinya demi mendekatkan diri pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Gagasan yang diusung oleh Golshani ini merupakan jawaban atas kecenderungan popular dikalangan umat Islam dalam menanggapi sains modern, yang sering terjebak pada upaya-upaya tidak produktif. Yaitu pandangan yang hanya sekedar mencocok-cocokkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan teori-teori ilmiah muthakhir saja, bahkan pandangan ini melahirkan "sains Islami" yang tidak berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam. Seakan-akan "sains Islami" menghendaki adanya laboratorium yang Islami, hukum gerak versi Islam, teori relativitas versi Islam, atau dengan hanya memahami ayat-ayat Al-Qur'an saja orang kemudian secara serta merta bisa memahami sifat-sifat dan kandungan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan kritis Golshani melebur pandangan tersebut dengan mengusung wacana mengenai agama dan sains secara konstruktif dan tak superficial. Dengan memberikan kerangka metafisis yang Islami terhadap sains dan menjelaskan bagaimana seharusnya sikap kita sebagai umat Islam terhadap perkembangan sains modern?, kalim-klaim kebenaran yang diajuakan oleh sains modern?, serta bagaimana seharusnya kita meletakkan Al-Qur'an (kitab suci) dalam menghadapi sains modern yang berwatak ateistik-materealistik tersebut?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan demikian Golshani bermaksud menawarkan sains Islami sebagai sains yang berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam, dan gagasannya jauh berbeda dengan para pemikir muslim sebelumnya yang menggunakan label serupa. Lewat buku ini Golshani ingin menjelaskan kerangka metafisis yang Islami terhadap perkembangan sains dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Gagasan Golshani ini lebih tepat disebut sebagai "penafsiran Islami atas sains" bukan "sains Islami" karena kecenderungannya yang hanya berusaha memberi tafsir secara Islami terhadap sains bukan memunculkan teori yang khas Islam. "Sains Islami" sendiri bagi Golshani adalah upaya para ilmuawan muslim untuk bergerak lebih jauh dari kolega-kolega ilmuwan mereka, dengan melakukan upaya penafsiran demi memposisikannya dalam kerangka metafisis Islami (hal. Xix).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan demikian sains Islami tidak lagi hanya sekedar berapologi untuk membela keimanan/keyakinan kaum beragama saja dengan merubah prosedur yang baku dalam sebuah teori atau menghendaki riset-riset ilmiah yang harus merujuk pada kitab suci, sebagaimana yang digagas oleh para pemikir muslim sebelumnya. Namun lebih pada memberikan tafsiran terhadap sains secara Islami, yaitu dengan menggunakan kerangka metafisis yang tepat agar sains dapat mengantarkan manusia pada pemahaman akan semesta dan mengenal Tuhan secara lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bagi Golshani pandangan dunia religius sangat relevan terhadap sains, terutama dalam tataran penafsiran teori-teori ilmiah. Di samping juga memberikan motivasi yang kuat untuk membaca dan memahami alam semesta beserta isinya dan Tuhan sang pencipta semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Beberapa tema yang dikaji oleh Golshani dalam buku ini masih tidak jauh berbeda dengan buku sebelumnya yang berjudul "The Holy Qur'an and the Science of Nature" yang penuh dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis serta disertai dengan kesimpulan-kesimpulan yang sangat straight forward, tanpa  ada perdebatan yang seharusnya itu terjadi. Namun, dalam buku ini sudah ada pengembangan daripada buku sebelumnya karena Golshani juga membahas mengenai nilai-nilai etika dalam penerapan sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;        *) Moh. Yasin, &lt;/span&gt;Pimpinan Redaksi The famous Institute, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-2228992612363399652?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/2228992612363399652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=2228992612363399652' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2228992612363399652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2228992612363399652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/05/mewacanakan-sains-dan-agama-secara.html' title='Mewacanakan Sains dan Agama Secara Konstruktif'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxWpKp7pbI/AAAAAAAAAXU/JiA6lxvuxzA/s72-c/melacak+jejak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-5070952810316349925</id><published>2008-05-15T08:12:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T08:21:00.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Menggapai Spiritualitas Lewat 40 Hadis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resensi Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Moh. Yasin*)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxT4ap7paI/AAAAAAAAAXM/prI1Cwwx5JE/s1600-h/IMAM+KHUMAINI1+%282%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 188px;" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxT4ap7paI/AAAAAAAAAXM/prI1Cwwx5JE/s320/IMAM+KHUMAINI1+%282%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200623898399057314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;J&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;udul Buku     : 40 Hadis, Telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Judul Asli    : Syarh al-Arbain Haditsan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Penulis        : Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomeini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Penerbit     : Mizan, Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Cetakan     : Pertama, 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tebal         : xxii + 860 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    "Barang siapa menjaga umatku dengan empat puluh hadis sehingga umatku beroleh manfaat darinya, kelak pada hari kiamat ia akan dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan sebagai seorang faqih lagi alim"(Al-Hadis).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Hadis itulah yang dijadikan landasan oleh Imam Khomeini untuk menulis buku ini, dimana dengan penguasaan ilmu yang tinggi dan penghayatan irfan yang mendalam, Khomeini merenung untuk memilih empat puluh hadis diantara hadis-hadis Ahl Al-Bait Saw dan kitab-kitab autentik para sahabat dan alim. Serta berupaya untuk mengupas tiap-tiap hadis dengan membentangkan makna dzohir dan batin kandungan hadis, dengan bobot yang sesuai untuk semua kalangan, baik awam maupun tingkat yang lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karya Iamam Khomeini yang edisi Indonesianya berjudul "40 Hadis, Telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak" ini semula berasal dari bahasa Persia yang berjudul "Syarh-i Chihil Hadis" yang ditulis pada tahun 1939 disaat ia berusia 37 tahun. Dimana karya ini merupakan rangkaian karya-karya lainnya yang semuanya konsen pada masalah hikmah, akhlak dan irfan seperti "Kasyf Al-Asra, dan "Mi'raj Al-Salikin Wa Shalah Al-Arifin" dan sebagainya, dengan merujuk kepada para ahli hikmah dan irfan sekelas Ibn Shina, Suhrawardi, Mulla Shadra dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Imam Khomeini yang lebih dikenal oleh khalayak sebagai pemimpin Revolusi Islam Iran ini dikenal juga sebagai orang yang memiliki penghayatan irfan yang mendalam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa karyanya yang memang benar-benar konsen dalam masalah irfan dan hikmah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Hal ini tidak lepas dari latar belakang keluarganya dimana ia lahir dari keturunan keluarga yang sangat religius, yaitu Sayyed Mustafa (seorang ulama' terpandang di lingkungannya) dengan silsilah bersambung kepada Imam Musa Al-Kazhim. Pada umur tujuh tahun Khomeini sudah hafal Al-Qur'an dan sudah menguasai berbagai disiplin keilmuan di bawah bimbingan kakaknya Sayyed Murtadha dan kakak iparnya Mirza Riza Najafi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Tepatnya di kota Qum Iran yang pada saat itu menjadi kota pusat kajian keagamaan di Iran, Ruhullah Khomeini menerima pendidikan lebih lanjut di bidang intelektual dan spiritual di bawah bimbingan Ayatullah Hairi. Dan dikota inilah kemudian Khomeini benar-benar tercetak menjadi seorang faqih bahkan marja' al-taqlid. Saat itulah Khomeini kemudian mengembangkan minatnya terhadap irfan, akhlak dan filsafat (baca, Biografi Penulis).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Di bidang irfan Khomeini berguru pada Mirza ali Akbar yazdi (penulis "Syarh Al-Manzhumah" dan Sayyid Abu Al-Hasan Rafi'i Qazwaini sebelum kemudian ia menemukan guru utamanya di bidang ini yaitu Ayatullah Muhammad Al-Syahabadi. Dimana ia sangat menghormati Syahabadi bahkan ia menganggap sebagai guru terbaiknya di bidang "hikmah" karena lewat syahabadi ia dikenalkan dengan beberapa karya monumental dan pemikiran para filosuf/pemikir muslimter kemuka seperti "Fushus Al-Hikam" karya Ibn 'Arabi, Manazil Al-Sa'irin Karya Khawajah 'Abdullah Anshari, Nashr Al-Din Al-Thusi dan seterusnya (baca, tentang pengarang).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Tidak heran jika kemudian ia menjadi sosok pemikir muslim yang memiliki penguasaan ilmu yang mumpuni dan penghayatan irfan yang mendalam, bahkan pada usia 27 tahun ia sudah menjadi guru di bidang hikmah dan irfan dan sejak itulah ia dikenal sebagai pemikir muslim yang memiliki kefasihan di bidang hikmah, irfan, akhlak dan filsafat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Dan lewat karya pertamanya dalam bahasa Persia ini (40 Hadis) Khomeini membahas masalah irfan secara mendalam dan panjang lebar. Sebagaimana yang dituangkannya lewat penjelasan hadis tentang "mema'rifati Allah dengan Allah dan memakrifati rosul dengan risalah", ia mengungkapkan bahwa yang dimaksudkan dengan "makrifattilah Allah dengan Allah"  adalah ketahuilah Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan kehebatan ilmu-Nya yang merupakan bukti ketuhanan-Nya, sebagaimana mengetahui Nabi dengan risalah dan bukti-bukti yang memperkuat ajarannya(Hal. 772). Pertemuan dengan Allah bukanlah bagian dari pengetahuan rasional tentang esensi Ilahi, melainkan suatu penyaksian (syuhud) irfani yang menyeluruh yang dicapai lewat penglihatan batin (bashiroh). Bukan mengetahui Allah lewat Alam atau ciptaannya karena hal ini akan menjebak pada pemehaman yang panteistik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Dalam buku ini di samping menjelaskan hadis-hadis tentang irfan dan hikmah ia juga menguraikan beberapa hadis yang berkaitan tentang akhlak yang bersifat parkatis dan bagaimana menanamkan akhlak-akhlak yang terpuji dalam diri serta bagaimana cara mengobati sifat-sifat tercela dalam diri kita agar sampai pada pemahaman akan diri atau ma'rifat al-nafs.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Karena ma'rifat al-nafs merupakan langkah awal untuk mencapai pada makrifat Allah sebagaimana yang terkonsep dalam Islam "man Arafa nafsahu faqod arafa Robbahu" (barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya). Seperti uaraian hadis tentang sifat Riya', Ujub, Kibr, (takabbur), Hasad, ghadhab, 'asyabiyyah, nifaq (kemunafikan) dan sebagainya.  Yang mana sifat-sifat tersebut dijelaskan dengan rijid mulai dari definisi, sebab-sebab, akibat, dan bagaimana cara mencegah dan mengobati sifat-sifat buruk (akhlak al madmumah) tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Serta hadis yang menganjurkan untuk menanamkan akhlak terpuji seperti, hadis tentang sabar, ikhlas, syukur, tobat, konsentrasi dan perhatian hati dan sebagainya. Yang semuanya menunjukkan pelajaran hikmah dan tasawuf positif bagi kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Secara umum dapat digambarkan ada tiga pokok pembahasan dalam buku 40 hadis ini yang semuanya berkisar pada inti spiritualitas Islam. (1) ma'rifat Allah (mengenal Allah), (2) ma'rifat al rasul (mengenal rasul), (3) ma'rifat al-nafs (mengenal diri sendiri). Yang semuanya tidak hanya diuraikan secara reflektif belaka tetapi juga dijlaskan dengan praksis dan kontekstual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Maka buku ini menjadi buku yang penting dalam pembahasan inti spiritualitas Islam, karena dalam buku ini dijelaskan secara gamblang makna dzohir dan batin mengenai kandungan hadis-hadis irfan, hikmah dan akhlak. Dan akan memberi kuliah ruhani bagi siapa saja yang ingin menyalakan kalbu dan pikirannya dalam mendekatkan diri dengan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Dengan menelaah 40 hadis yang membahas inti spiritualitas ini Khomeini seakan memberikan petunjuk bagi kita untuk menggapai spiritualitas di tengah krisis moral yang menghantam kita. Dan menjadi buku yang memberikan panduan ruhani bagi siapa saja yang hendak mengenal kedalaman dan keluasan pandangan spiritual ajaran Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;        *) Moh. Yasin, &lt;/span&gt;Pimpinan&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;Redaksi The Famous Institute, Mahasiswa S-2 Icas Paramadina Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-5070952810316349925?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/5070952810316349925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=5070952810316349925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5070952810316349925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5070952810316349925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/05/menggapai-spiritualitas-lewat-40-hadis.html' title='Menggapai Spiritualitas Lewat 40 Hadis'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxT4ap7paI/AAAAAAAAAXM/prI1Cwwx5JE/s72-c/IMAM+KHUMAINI1+%282%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-9065318575318313182</id><published>2008-05-15T07:50:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T08:12:30.332-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Membincangkan hubungan sains dan agama</title><content type='html'>Oleh. &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;          &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxSf6p7pZI/AAAAAAAAAXE/Z48in7BcEpw/s1600-h/book-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 115px; height: 163px;" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxSf6p7pZI/AAAAAAAAAXE/Z48in7BcEpw/s320/book-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200622377980634514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul            : Perjumpaan Sains dan Agama; dari konflik ke dialog&lt;br /&gt;Penulis        : John F Haught&lt;br /&gt;Penerbit     : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan     : 2004&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxvii + 382 halaman.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Sains dan agama, merupakan dua entitas yang sama-sama telah mewarnai sejarah kehidupan umat manusia. Sebab, keduanya telah berperan penting dalam membangun peradaban. Dengan lahirnya agama, tidak saja telah menjadikan umat manusia memiliki iman, tapi hal lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah terbangunnya manusia yang beretika, bermoral dan beradab yang menjadi pandangan hidup bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Sementara sains dengan puncak perkembangan yang telah dicapai, juga telah menjadikan kemajuan dunia dengan berbagai penemuan yang gemilang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Tetapi, sepanjang sejarah kehidupan umat manusia itu pula, hubungan sains dan agama tidak bisa dikatakan selalu harmonis. Sejarah mencatat, bagaimana klaim sepihak lembaga agama telah menjadikan Galileo (1564-1642) jadi korban setelah ia dengan lantang bersuara bahwa matahari adalah pusat alam semesta (sementara dalam kitab suci kristen justru sebaliknya), dan sikap “sentimen” agama dalam melihat teori evolusi Darwin. Meski kemudian, dari sengketa itu lambat laun bisa diterima oleh kaum agamawan, tapi berkat penemuan terbaru sains—setidaknya—telah menunjukkan pergeseran akan hubungan yang sebenarnya tidak melulu saling berseteru. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Dengan kata lain, dalam perdebatan mengenai hubungan sains dan agama, tidak selalu membangun simpul kesepakatan. Selalu ada ruang kosong yang itu merupakan ruang debat yang tak sekedar simpel sederhana, melainkan juga amat membingungkan dan bahkan membuat pusing kepala.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Memang, harus diakui bahwa “nasib” agama dikhawatirkan bisa terancam dengan kemunculan sains yang seolah menyerang agama habis-habisan. Kendati demikian, tetaplah muncul pula sebuah harapan akan peranan sains dalam menyingkirkan unsur-unsur “takhayul” dalam ajaran agama dan dengan itu bisa membantu agama tetap eksis “dipeluk” umat manusia karena bersifat rasional.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Perdebatan sengit seputar hubungan sains dan agama yang cukup rumit dan pelik sepanjang sejarah itulah yang dihadirkan oleh John F Haught dalam buku yang semula berjudul &lt;i&gt;Science and Religion: From Conflict and Conversation &lt;/i&gt;ini. Dengan menampilkan tipologi yang dipetakan dengan jelas, penulis—guru Besar teologi pada Universitas Georgetown, AS—ini, selain telah menyajikan perdebatan seru, juga telah memajang sebuah kaca spektrum luas akan hubungan sains dan agama, mulai dari sikap yang menunjukkan konflik antar keduanya hingga saling melebur dalam bentuk peneguhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Empat kubu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Mungkin saja tidaklah salah, jika hubungan sains dan agama itu telah menorehkan dilema. Itu bisa dimaklumi sebab dari perbedaan pandangan itu tak saja telah mewarnai perdebatan dengan berbagai argumen yang kuat, tapi telah membangun tipologi yang kemudian mengerucut menjadi kubu yang saling berlawanan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Dalam kaca mata penulis ini, dalam perdebatan itu terbangun empat tipologi: konflik, kontras, kontak dan konfirmasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Bagi kubu konflik, hubungan antara sains dan agama selain berlawanan, juga dianggap bertolak belakang dan tidak bisa dipertemukan. Sebab antara agama dan sains, dilihat saling bertarung untuk membenarkan dirinya sendiri. Tidak hanya itu keduanya juga saling menyudutkan dan karena itu tak mungkin bisa diselaraskan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Bagi kubu kontras, baik agama dan sains sama-sama memiliki ruang dan wilayah kerja sendiri-sendiri. Meskipun, tidak perlu diselaraskan, keduanya harus saling menghormati otonomi masing-masing. Adapun bagi kubu kontak, justru menyarankan, kalau agama dan sains sebaiknya saling dipertemukan untuk didialogkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Maksud dialog itu tidak lain karena dengan bertukar pandangan –setidaknya—antara yang satu dengan yang lain akan saling memperkaya “perspektif” dalam melihat realitas. Meski demikian, bagi kubu ini, tidak harus ada kata mufakat, apalagi (antara keduanya) harus dileburkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan kubu konflik, kubu kontras dan kubu kontak, bagi kubu konfirmasi, justru menyarankan antara agama dan sains saling “mengukuhkan” terlebih lagi, untuk satu upaya bertukar pikiran tentang “anggapan-anggapan” dasar tentang realitas sebab dengan cara itu, keduanya bukan sekedar saling diuntungkan, melainkan juga tak akan kehilangan jati diri masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Setidaknya, wacana perdebatan seputar sains dan agama itu, telah mencuat dan menggoreskan polemik sepanjang sejarah dan hampir-hampir tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Sebab selama dunia ini masih tetap eksis dan agama masih diyakini oleh pemeluk umat sebagai kebenaran yang harus diterima tanpa perlu diselidiki, dan sains selalu mengembangkan penelitian, perdebatan itu pun masih selalu diperbincangkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pendekatan Taksonomi &lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dalam buku ini, Haught lebih memilih dengan pendekatan taksonomi dan tak banyak hal yang dibicarakan sehingga tak menampilkan wacana komprehensif seperti Ian Barbour dalam buku (Juru Bicara Tuhan), dengan menampilkan semua lanskap persoalan. Meski begitu, hasil kerja Haught dengan menulis buku ini tetaplah perlu diacungi jempol. Sebab ia telah mampu menambahkan tipologi terakhir, konfirmasi, dengan melampaui tipologi yang telah dipetakan Barbour.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain itu pemetaan Haugt juga cukup mewakili perdebatan seputar sains dan agama dengan tanpa ada kubu yang terlewatkan. Terlebih lagi, buku-buku yang bertema serupa biasanya ditulis dengan bahasa yang rumit, oleh Haugt (dalam buku ini) ditulis dengan gaya bahasa yang sangat mudah dipahami.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Meski tak dipungkiri dalam setiap bab-nya Haugt tetap memberikan pelatuk pembahasan yang menantang pembaca, sehingga memeras pikiran berpikir lebih jauh dalam memberikan tanggapan dalam persoalan yang membingungkan n ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Semua itu tidak lain karena sebagaimana diakui Barbour, buku ini harus diakui sebagai buku pengantar yang jernih, mudah dibaca dan sarat informasi tentang dialog terkini antara komunitas pemilih ilmiah dengan kaum religius.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;        Moh. Yasin.&lt;/span&gt; Pimpinan Redaksi The Famous Institute, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-9065318575318313182?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/9065318575318313182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=9065318575318313182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/9065318575318313182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/9065318575318313182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/05/membincangkan-hubungan-sains-dan-agama.html' title='Membincangkan hubungan sains dan agama'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SCxSf6p7pZI/AAAAAAAAAXE/Z48in7BcEpw/s72-c/book-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-4350506862102876709</id><published>2008-05-10T14:00:00.000-07:00</published><updated>2008-05-10T14:02:34.715-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essai'/><title type='text'>Berjumpa Tuhan Lewat Puasa</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;Oleh: &lt;b style=""&gt;Moh. Yasin*)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;‘Hidup yang tidak direfleksikan bukanlah hidup manusiawi’ kata Plato. Akan tetapi, realitas kehidupan sangatlah berbeda dengan impian Plato. Kehidupan manusia tidak lebih dari sekedar aktivitas yang bergerak atas naluri-naluri tak sadar dari kebutuhan sehari-hari, semisal tidur, makan, kerja, basa-basi sosial bahkan praktek ibadah dan doa. Mempersoalkan tentang makna dibalik aktivitas dan merenungi perjalanan diri pribadi sama sekali tidak terlintas dalam kesadaran diri manusia zaman sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Begitu halnya dengan aktivitas yang bersifat religius, dalam menjalankan ibadah puasa misalnya, tidak jarang umat manusia yang melaksanakannya dengan tanpa kesadaran dan perenungan. Pola ibadahnya tidak lebih dari sekedar rutinitas yang bersifat tahunan. Tidak heran jika Nabi Muhammad pernah berpesan pada umatnya bahwa ‘banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga’. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pesan itu terasa benar-benar representatif dengan pola pelaksanaan ibadah umat manusia sejak dulu hingga saat ini. Maka sudah seharusnya ibadah puasa dijadikan momen untuk melakukan pendakian spiritual dan refleksi diri pribadi. Maka dengan menjadikan iman dan taqwa sebagai sebuah epistemologi, bukan kepercayaan &lt;i style=""&gt;an-sich&lt;/i&gt;, bisa menjadi kendaraan yang tepat untuk melakukan pendakian spiritual agar mendapatkan kematangan diri secara intelektual, spiritual dan sosial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Lewat puasa sebenarnya manusia diharapkan untuk merenungkan akan dirinya dengan mempertanyakan siapa, apa dan bagaimana seharusnya?. Karena dengan merefleksikan kehidupan dan diri akan membantu memberikan kesadaran diri dan sosial seseorang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sehingga pendakian spiritual yang diupayakan lewat kegiatan-kegiatan yang bersifat religius di bulan ramadhan benar-benar memberikan kematangan individu secara moral, spiritual dan sosial.Sehingga dalam kehidupan sehari-hari manusia benar-benar mampu menerapkan internalisasi dan eksternalisasi dari ibadah puasa. Dan mampu menjadi manusia yang memiliki kesadaran tinggi atas diri &lt;i style=""&gt;how to be human&lt;/i&gt; (bagaimana menjadi manusia) dengan makna &lt;i style=""&gt;arafa nafsahu&lt;/i&gt; (kenal dan tahu diri) untuk sampai pada tingkat &lt;i style=""&gt;arafa rabbahu&lt;/i&gt; (kenal Tuhan). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Pola Ibadah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Terlepas dari itu, Pola ibadah masyarakat zaman sekarang bagi penulis menarik untuk disoroti. Bagi penulis ada dua gambaran terhadap pola ibadah puasa masyarakat modern. &lt;i style=""&gt;Pertama,&lt;/i&gt; dalam menjalankan praktik ibadah &lt;i style=""&gt;mahdhah &lt;/i&gt;manusia masih cenderung menggunakan teologi untung-untungan, terutama puasa. Keutamaan dan pahala yang melimpah selalu saja menjadi landasan utama dalam menjalankan ibadah. Tidak heran jika nilai internalisasi dan eksternalisasi ibadah sama sekali tidak terwujud, dan religiusitas itu tidak lebih dari sekedar aktivitas yang bersifat musiman belaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Secara teologis pola pikir itu terbentuk dari pemahaman manusia akan kemuliaan dan keberkahan bulan suci ramadhan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al Qur’an &lt;i style=""&gt;syahru ramadhaana alladii unzila fiihi alqur-aanu hudaan linnaasi wa bayyinati min alhuda wa alfurqaani&lt;/i&gt; ... (Bulan Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas petunjuk itu dan pembeda (antara haq dan batil), Al-Baqarah: 185).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Juga didasarkan pada hadis nabi yang berbunyi…&lt;i style=""&gt;syahrun awwaluhu rahmah wa washotuhu maghfiroh wa akhiruhu itqun minan nar&lt;/i&gt; yang bisa diuraikan bahwa sepuluh hari pertama ramadhan penuh dengan rahmat Allah terhadap manusia dan sepuluh hari kedua adalah&lt;i style=""&gt; maghfiroh&lt;/i&gt; yaitu hari dimaafkannya atau diampuninya dosa-dosa manusia kemudian setelah melalui dua tahap tersebut manusia akan dibebaskan dari api neraka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka mencoba untuk merefleksikan dan memahami secara lebih mendalam atas keutamaan dan kesucian bulan ramadhan dan ibadah puasa menjadi suatu keharusan. Artinya keimanan dan ketaqwaan benar-benar menjadi dasar utama dalam beribadah bukan atas tendensi impian surga dan pahala yang melimpah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Kedua,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; egosentrisme manusia terasa masih sangat kental dalam menjalankan ibadah puasa, seakan ibadah puasanya hanya menjaga dari makan dan minum saja, keimanan dan ketaqwaan yang menjadi pondasinya tidak tersentuh sama sekali. Sehingga nilai internalisasi dan eksternalisasi dalam menjalankan puasa bukanlah menjadi perhatiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Padahal sudah seharusnya ibadah puasa dijadikan wahana untuk melakukan pendakian spiritual dan sebuah proses memupuk religiusitas, kesadaran diri dan sosial. Sehingga bulan puasa benar-benar menjadi wahana untuk berefleksi secara transendental yang diharapkan mampu merubah diri sesorang untuk selalu bersikap damai, ramah, pengampun, dan lain-lain yaitu dengan menghadirkan Tuhan dalam realitas sosial lewat tindakan-tindakan yang sesuai dengan sifat Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Berjumpa Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan kedalaman iman dan ketaqwaan serta menjadikan iman sebagai sebuah epistemologi (bukan kepercayaan &lt;i style=""&gt;an-sich&lt;/i&gt;) maka akan membentuk &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kematangan daya nalar manusia untuk sampai pada pemahaman pada sang Khalik, sehingga mampu menghadirkan Tuhan dalam diri dan berjumpa lewat tindakan-tindakan yang sesuai dengan sifat Tuhan. Orang semacam ini, menurut bapak filsafat modern, Rene Descartes, tidak hanya akan mampu melihat jiwa di dalam dirinya, tetapi juga hakikat Tuhannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Maka lewat ibadah puasa manusia diharapkan mampu mentransformasikan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Agar menjadi manusia yang berkesadaran tinggi yaitu &lt;i style=""&gt;how to be human&lt;/i&gt; (bagaimana menjadi manusia) dengan makna &lt;i style=""&gt;arafa nafsahu&lt;/i&gt; (kenal dan tahu diri) untuk sampai pada tingkat &lt;i style=""&gt;arafa rabbahu&lt;/i&gt; (kenal Tuhan). Sebagaimana gagasan seorang filosof Yunani Socrates "&lt;i style=""&gt;angry with him self gentle to the others&lt;/i&gt;" berarti mengenali ego diri adalah akar pengorbanan ego sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Moh. Yasin. Pimpinan Redaksi The Famous Institute, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-4350506862102876709?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/4350506862102876709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=4350506862102876709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4350506862102876709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4350506862102876709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/05/berjumpa-tuhan-lewat-puasa.html' title='Berjumpa Tuhan Lewat Puasa'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-7617278002556820940</id><published>2008-04-21T09:57:00.001-07:00</published><updated>2008-04-22T00:34:02.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Bertamasya di Belantara Filsafat Kontemporer</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: &lt;span style="color:#000099;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt; *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzIMVkjjQI/AAAAAAAAAU0/5J7h39ZJ_e8/s1600-h/pilar+filsafat.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191744584725794050" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzIMVkjjQI/AAAAAAAAAU0/5J7h39ZJ_e8/s200/pilar+filsafat.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Judul Buku : Pilar-pilar Filsafat Kontemporer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Penulis : Donny Gahral Adian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Cetakan : Pertama, 2002 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tebal : 177 halaman (termasuk indeks)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SERINGKALI orang mempersepsikan filsafat sebagai disiplin ilmu yang cukup ruwet dan membingungkan atau bahkan tidak menjanjikan. Banyak orang dibuat stress bahkan lebih parah lagi sampai menjadi gila, salah satu contohnya adalah Nietzsche (filosof eksistensialis). Bahkan, mungkin juga karena saking ruwetnya filsafat, Heidegger pun baru merasa paham filsafat justru saat mau meninggal. Namun filsafat yang kira-kira berusia 27 Abad lebih, telah memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan peradaban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas pertanyaannya, ada apa sebenarnya dengan filsafat? Meski cukup jelimet, ternyata telah melahirkan apresiasi dan respon yang besar dalam sejarah pemikiran. Tidak saja bagi filsuf atau pemikir dunia yang sejak mula memang telah menekuni, taruh saja bagi artis semacam Dian Sastro pun rela meluangkan waktu demi menggeluti buku-buku "berat filsafat". Filsafat yang bisa didefinisakan cinta kebijaksanaan dengan menelusuri "segala sesuatu" sampai ke akar-akarnya memang tidak lepas dari obyek material, yang mana itu membentang dari persoalan etika sampai pengetahuan, dan memiliki ranah yang begitu luas. Bahkan saking luasnya, sampai menyebar ke isu konkrit, seperti; politik, ekonomi dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan di atas itulah yang mungkin menjadi gairah penulis untuk kemudian menyusun buku Pilar-pilar Filsafat Kontemporer ini dan menggrayangi beberapa tema yang dikaji selama bertahun-tahun, dan kemudian tema-tema itu disebutnya sebagai "pilar-pilar filsafat". Pilar yang pertama adalah etika, di mana merupakan hasil dari refleksi moralitas yang kemudian melahirkan aliran-aliran filsafat yang dikembangkan oleh para filosof (hal. 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami etika sebagai suatu ajaran tentang seni hidup, atau menempatkan sebagai kebahagiaan ke pusat etika (Aristoteles), dan kemudian pemikiran ini direligiuskan oleh Thomas Aquinas. Dan Imanuel Kant menjadikan etika yang semula seni kehidupan menjadi etika kewajiban, dan ini melahirkan konsep sentral etika modern, yaitu konsep otonomi moral. Pemikiran ini lebih lanjut, kemudian dikembangkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel dan dipadukan dengan teori dialektikanya. Pilar yang kedua adalah fenomenologi, dengan tokoh sentralnya Edmund Hussel (1859-1938) fenomenologi merupakan salah satu dari arus pemikiran yang paling berpengaruh pada Abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para filosof yang terpengaruh oleh fenomenologi adalah Derrida, Kierkegard, Cascirer dan lain sebagainya. Secara umum fenomenologi lahir dari persoalan fenomena yang dibawa ke ruang publik --pertama kali-- oleh Hegel dengan ruh absolutnya. Husserl lalu mendefinisikan fenomenologi sebagai ilmu tentang penampakan (fenomena), dan bagi Husserl berbicara tentang esensi di luar eksistensi adalah kerja sia-sia, dan hal inilah yang membedakan fenomenologi Husserl dengan fenomenologinya Hegel dan Kant. Pilar yang ketiga adalah eksisitensialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensialisme tidak lagi membahas pertanyaan-pertanyaan esensi dan kodrat, akan tetapi lebih menekankan masalah seputar eksistensi. Seorang filosof eksistensialis, semisal Sartre, bekerja keras dalam permasalahan esensi dan eksistensi, yang kemudian memunculkan sebuah tesis bahwa "eksistensi mendahului esensi". Dan ini membalik tradisi pemikiran filsafat Barat sejak Plato, yang selalu mengatakan bahwa esensi mendahului eksistensi (hal. 76). Pilar yang ke empat adalah filsafat budaya. Jika dilihat dari sudut pandang filosofis akan melahirkan dimensi subyektif dan obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana dimensi subyektif adalah daya yang menjadikan produk (alam) menjadi produk yang lebih baik, sedangkan dimensi obyektif adalah hasil dari kegiatan daya tadi. Adapun pilar yang terakhir adalah Hermeneutika dan kemudian menjadi kajian kontemporer terutama dalam studi penafsiran terhadap teks dan dalam studi keislaman, hermeneutika mendapatkan perhatian yang sangat besar. Kelima pilar inilah yang mungkin akan mengantarkan pada studi filsafat kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, buku Pilar-pilar Filsafat Kontemporer ini bisalah disebut sebagai proyek kelanjutan dari buku Arus Pemikiran Kontemporer, yang ditulis oleh penulis buku ini pula dan telah diterbitkan setahun sebelumnya. Dalam fenomena publik yang menganggap bahwa filsafat dirangkai dengan bahasanya yang sangat abstrak dan sulit dimengerti, dalam buku ini telah diurai oleh penulisnya dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, sehingga kesan angker akan hilang setelah membaca buku ini. Lebih jauh lagi, dalam buku ini penulis mengajak pembaca untuk bertamasya intelektual mengunjungi kuil-kuil gagasan para filosof yang pada akhirnya pembaca tentunya akan membaca semacam oleh-oleh intelektual yang mencerahkan.***&lt;br /&gt;*) Moh. Yasin, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-7617278002556820940?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/7617278002556820940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=7617278002556820940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7617278002556820940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7617278002556820940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/04/bertamasya-di-belantara-filsafat.html' title='Bertamasya di Belantara Filsafat Kontemporer'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzIMVkjjQI/AAAAAAAAAU0/5J7h39ZJ_e8/s72-c/pilar+filsafat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-1028650221311200182</id><published>2008-04-21T09:50:00.001-07:00</published><updated>2008-04-22T00:29:31.338-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Peta Pemikiran Hermeneutik Paul Ricoeur</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Resensi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Buku&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: &lt;span style="color:#000099;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt; *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzGaVkjjPI/AAAAAAAAAUs/JEX-X_COQI0/s1600-h/filsafat+wacana+(2).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191742626220707058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 186px; CURSOR: hand; HEIGHT: 252px" height="295" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzGaVkjjPI/AAAAAAAAAUs/JEX-X_COQI0/s320/filsafat+wacana+(2).jpg" width="206" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Filsafat Wacana (Membelah Makna Dalam Anatomi Bahasa) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Judul Asli : The Interpretation Theory (Discourse And The Surplus Of Meaning) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Penulis : Paul Ricoeur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Penerjemah : Masnur Hery&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Penerbit : IRCiSod, Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Cetakan : Pertama, September 2002 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Tebal : 251 halaman (termasuk indeks) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAHASA, di samping sebagai alat komunikasi juga sebagai proses berfikir manusia atau bahkan dapat melahirkan problem yang krusial, karena di dalam bahasa terdapat dua unsur yang tidak dapat dilepaskan yaitu: unsur kebenaran dan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Haidegger mengutip, bahasa adalah tempat tinggal manusia (the house of being), karena dengan bahasa kita dapat mengungkap apa yang kita inginkan, dengan bahasa makna hadir dengan bebas ke dalam atmosfer kesadaran kita, bahasa juga satu-satunya pilihan kita untuk menampakkan realitas yang kita tidak mampu memendamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan, simiotik, smantik, teks dan sebagainya adalah beberapa bentuk dari bahasa yang semuanya memiliki sebuah makna atau bahkan memunculkan interpretasi-interpretasi yang kadang kala kontradiktif. Karena interpretasi yang membabibuta tidak menutup kemungkinan terhadap timbulnya kesalahan dan permasalahan. Maka teori interpretasi adalah salah satu dari imbalance terhadap kebebasan interpretasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan adalah yang menjadi fokus dalam sebuah komunikasi, karena kegiatan komunikasi dalam bentuk apapun pesan adalah sebagai tujuannya. Namun tidak menjadi persoalan ketika pesan berbentuk dialektika, karena adanya pembelaan dari subyek itu sendiri. Yang jadi persoalan adalah ketika pesan dalam bentuk tulisan, Karen dalam sebuah tulisan penafsiran atau interpretasi menjadi wajib keberadaannya. Paul Ricoeur mengutip bahwa "menulis menjadi sebuah problem hermeneutik", dan tentunya ketika tulisan di arahkan pada komplemennya, yakni bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana yang kemudian melahirkan dialektika apropriasi (yang membebaskan teks dari pengarangnya ) dan distansiasi (hal. 96). Ia juga memberikan jawaban yang sangat radikal terhadap kritik-kritik para Filsuf terdahulu tentang sebuah tulisan, seperti Plato dan Sokrates. Dimana Plato menganggap bahwa "apa yang dihasilkan dalam tulisan bukan sebuah realitas namun penyerupaan saja ", dan Sokrates yang mengatakan bahwa "tulisan bagaikan sebuah lukisan, keberadaannya tidak hidup dan berdiam diri ketika ditanya untuk dijawab ". Sehingga kemudian Sokrates tidak meninggalkan tulisan sedikitpun. Poul Ricoeur memberikan jawaban yang radikal terhadap kritik pedas sokrates dan Plato, bahwa tulisan berbeda dengan lukisan, yang terkesan lemah, kurang riil dibanding dengan keberadaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat dibuktikan ketika kita melontarkan pertanyaan dalam teori eikon. Dapat diperlihatkan bahwa lukisan adalah reduplikasi dari bayangan realitas itu sesndiri, dapat dikembalikan dalam problem penulisan sebagai sebuah topek dari sebuah teori umum ikonotas(hal. 89). Ricoeur mengatakan bahwa tulisan adalah"any discourse fixed by writing" dan sebuah teks memiliki kemandirian totalitas yang yang bercirikan tidak terikat dengan audensial, tidak terikat dengan sistim dialog, makna teks tidak terikat pada pembicara dan terlepas dari pengungkapan (what is said) (hal.219).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari kupasan Ricoeur tentang teks diatas melahirkan definisi interpretasi dan explanasi, dimana explanasi adalah cara kerja yang menghubungkan metafor ke teks dan interpretasi adalah cara kerja dari teks ke metafor. Antara interpretasi dan eksplanasi tidak dapat dipisahkan karena eksplanasi adalah sebagai tahap awal untuk mengkaji statis teks, sementara interpretasi digunakan untuk menangkap makna kontekstual dari teks tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyeksi yang ditawarkan Ricoeur dalam buku ini dimana ia merangkum antara sains dan filsafat, menjadi sebuah konsep yang menjanjikan di dunia keilmuan, Sehingga Hasan hanafi dalam studi keislamannyapun merujuk terhadap Ricoeur dan ia telah memberikan gebrakan dalam pemikiran kontemporer. Maka buku ini mungkin menjadi salah satu buku yang harus dibaca bagi siapapun juga terutama oleh saintis yang intens di dunia hermeneutik.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Moh. Yasin. Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-1028650221311200182?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/1028650221311200182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=1028650221311200182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/1028650221311200182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/1028650221311200182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/04/peta-pemikiran-hermeneutik-paul-ricoeur.html' title='Peta Pemikiran Hermeneutik Paul Ricoeur'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzGaVkjjPI/AAAAAAAAAUs/JEX-X_COQI0/s72-c/filsafat+wacana+(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-5079140739687466961</id><published>2008-04-21T09:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-21T10:09:09.113-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Petualangan Filosofis Menuju Pemahaman Tuhan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Resensi Buku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="color:#000099;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzFDlkjjOI/AAAAAAAAAUk/lDvlF9uTQgM/s1600-h/Resize+of+Buku1b.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191741135867055330" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzFDlkjjOI/AAAAAAAAAUk/lDvlF9uTQgM/s320/Resize+of+Buku1b.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Tuhan di Mata Para Filosof&lt;br /&gt;Judul Asli : God and Philosophy&lt;br /&gt;Penulis : Etienne Gilson&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2004&lt;br /&gt;Tebal : 237 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Dalam perjalanan panjang iman dan manusia, Tuhan senantiasa dipuja, disembah dan diperdebatkan, dengan posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Karena manusia dalam memahami Tuhannya menggunakan premis, dasar pijakan dan cara pandang yang berbeda-beda, sehingga pemahaman manusia mengenai Tuhan-pun digambarkan secara beraneka ragam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Kaum teolog misalnya lebih memandang Tuhannya sebagai sang Khaliq (pencipta) dan realitas selainNya sebagai Makhluq (ciptaannya), sementara kaum fuqoha' menghayati Tuhannya sebagai sang Hakim dan relasi yang ada bersifat keadilan dalam bentuk printah, larangan dan hukuman. Di dunia tasawuf Tuhan lebih dihayati sebagai sang kekasih yang hanya kepadaNyalah puncak dari rindu, cinta dan perbutan manusia diarahkan. Sementara kaum filosof menganggap Tuhan sebagai kebenaran tertinggi Being qua Being atau realitas wujud tertinggi, dan untuk sampai pada pemahaman itu dibutuhkan penalaran yang sistematis dan serius. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Berbagai konsep dan pandangan manusia tentang Tuhan yang beraneka ragam tersebut menggambarkan bahwa tema ketuhanan selalu menjadi objek pembahasan yang serius dan menjadi kajian yang fundamental. Namun yang jadi persoalan adalah apakah AdaNya Tuhan benar-benar sebagai realitas yang absolut dan independent? Ataukah hanya sekedar proyeksi dan spekulasi mental manusia saja? Karena ketidakmampuan manusia dalam mengatasi persoalan dunia dan kehidupannya!. Sehingga keyakinan adanya Tuhan tidak lebih dari sekedar pelarian ketidakmampuan manusia saja, sebagaimana yang diungkapkan oleh para filosof sekelas Karl Marx, Emile Durkhaim, Nietzsche, Sigmund Freud, Charles Darwin dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Etienne Gilson (1884-1978) seorang filosof dan sejarahwan dari Prancis, lewat buku ini seakan ingin memandu kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut dengan berpetualangan dan menjelajahi gagasan para filosof sepanjang Abad tentang pemahaman ketuhanannya. Diawali dengan pandangan para filosof Yunani kuno, filsafat Kristen, filsafat modern hingga pemikiran para filosof kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan historis dan sejarah filsafat sebagai alat bantunya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Gilson yang lebih dikenal sebagai sang pelopor gerakan neo thomisme ini ingin berdialog dengan para filosof sepanjang Abad dengan menulusuri jejak-jejak mereka dalam memecahkan teka-teki yang bersifat metafisis yaitu Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Berawal dari filsafat Yunani, yaitu tempat awal mula berdirinya filsafat dan asal mula gagasan filosofis tentang Tuhan itu muncul. Dalam pandangan Gilson Mitologi Yunani dengan kepercayaan pada banyak dewa menjadi paham para filosof Yunani, dimana Filsafat yang diusung mereka seperti Thales, Anaximandros, anaximenes, Herakleitos, dan sebagainya bersifat "kosmosentris" yaitu dengan meletakkan alam semesta sebagai pusat kajiannya.&lt;br /&gt;Thales misalnya sang filosof asal meletus yang meyakini bahwa "segala sesuatu pada hakekatnya penuh dengan unsur-unsur dewa". Maka ketika ia meyakini bahwa awal dan sekaligus akhir dari segala sesuatu adalah air, kemudian bagi Thales air adalah dewa tertinggi di antara para dewa-dewa lainnya. Begitu juga dengan para filosof Yunani lainnya yang menganggap api, udara, dan sebagainya sebagai dewa tertinggi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Berbeda dengan para filosof Yunani, para filosof Abad pertengahan memandang apa yang diyakini oleh para filosof Yunani itu tidak lebih dari khayalan dongengan saja. Konstruksi filsafat Abad ini tidak lagi "kosmosentris" tapi "teosentris", dan pandangan ketuhanannya bersifat "monoteis" dengan meyakini adanya Tuhan yang Esa. Yaitu Tuhan yang mewahyukan dirinya dan memperkenalkan diri lewat wahyuNya. Dimana filsafat Kristen yang mewarnai bangunan filsafat di Abad ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Para filosof Abad pertengahan ini hamper semuanya dari kalangan religius para rahib, pendeta, imam, atau setidaknya anggota biasa dari golongan klerus (rohaniawan) di biara-biara. Yang diwakili oleh St Agustinus dan Thomas Aquinas yang punya jasa besar atas pemikiran filsafat Kristen Abad pertengahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Pada era modern pemikiran filsafat tidak lagi didominasi oleh para kaum gereja, tapi dari kaum awam. Dimana perubahan kondisi para filosof itu mempunyai pengaruh besar dalam pandangan ketuhanannya. Rene Descartes misalnya lewat karyanya Discourse Upon Method mengatakan bahwa pengetahuan pada hakekatnya dapat ditemukan dalam diri, dengan ungkapan terkenalnya co gito ergo sum. Ungkapan Descartes ini tidak bermaksud untuk menyingkirkan Tuhan, agama, atau teologi, namun menurut Descartes persoalan-persolan semacam itu bukan merupakan objek-objek yang tepat bagi spekulasi filosofis. Hal ini muncul karena filsafat yang diusung Descartes tidak lagi diusung dari teologi sebagaimana para filosof abad pertengahan sehingga pemikiran Descartes murni sebagai suatu ikhtiar intelektual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Pemikiran Descartes ini dalam perkembangannya memunculkan teologi "natural Cartesian" yang berupaya memisahkan sosok Tuhan sebagai sebuah objek pemujaan religius dari sosok Tuhan sebagai sebuah prinsip pertama intelegibelitas filosofis (hal. 147).&lt;br /&gt;Di masa kontemporer pesoalan ketuhanan banyak didominasi oleh pemikiran Immanuel Kant dan Agus Comte, dengan kritisisme dan positivismenya. walaupun keduanya sebagai ajaran filsafat yang berbeda namun pada dasarnya memiliki kesamaan dalam hal tertentu, terutama tentang bagaimana memeproleh pengetahuan ilmiah dan syarat-syaratnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Kant dan Comte meyakini Karena Tuhan bukan objek kajian pengetahuan empiris maka konsep tentang Tuhan tidaklah ada dan apa yang disebut dengan teologi natural adalah omong kosong. Kant sendiri meyakini bahwa gagasan mengenai Tuhan hanyalah ide murni akal sehat saja, tanpa ada bukti-bukti empirisnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;Dari ke-empat pokok bahasan yang disajikan Gilson ini tidak lain merupkan tema yang membicarakan aspek yang paling hakiki dari permasalahan metafisika. Yaitu masalah metafisis tentang Tuhan. Maka dengan membaca buku ini kita diajak untuk berpetualangan dengan para filosof untuk melukiskan ide-ide tentang Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-5079140739687466961?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/5079140739687466961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=5079140739687466961' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5079140739687466961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/5079140739687466961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/04/petualangan-filosofis-menuju-pemahaman.html' title='Petualangan Filosofis Menuju Pemahaman Tuhan'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/SAzFDlkjjOI/AAAAAAAAAUk/lDvlF9uTQgM/s72-c/Resize+of+Buku1b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-4239128280517230497</id><published>2008-04-07T23:53:00.001-07:00</published><updated>2008-04-22T00:38:46.753-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Ushul Fiqih Madzhab Aristoteles</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Resensi Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 102);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sW1edlbGI/AAAAAAAAATg/2MydkbvPNGw/s1600-h/ARISTOTELES1+%282%29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186764503813287010" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sW1edlbGI/AAAAAAAAATg/2MydkbvPNGw/s200/ARISTOTELES1+%282%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Ushul Fiqih Madzhab Aristoteles "Pelacakan logika Aristoteles dalam Qiyas Ushul Fiqih"&lt;br /&gt;Penulis : Muhammad Roy&lt;br /&gt;Penerbit : Safiria Insani Press, Jogjakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, September 2004&lt;br /&gt;Tebal : xviii + 263 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam khazanah kefilsafatan Islam imperealisme doktrin (silogisme) Aristoteles dan plotinus terhadap dunia intelektual muslim telah mampu menggerakkan pemikiran dan bangunan keilmuan Islam. Sehingga pada masa itu dikenal dengan zaman keemasan dan kedinamisan. Munculnya para pemikir/filosof muslim sekelas Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd telah mampu mengalirkan khazanah keilmuan dan peradaban Yunani ke dalam masyarakat muslim. Dimana para pemikir dan filosof muslim ini adalah pengikut dan pengagum Aristoteles, logika Aristoteles telah mempengaruhi dan menggerakkan pola pikir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam khazanah keilmuan ushul fiqih doktrin Aristoteles dengan silogismenya setelah teradopsi dalam pemikiran hukum Islam, justru menjadikan pemikiran hukum Islam tidak produktif, tidak liberal dan statis. Terutama konsep qiyasnya Al-Syafi'i dan ulama ushul setelahnya, dimana qiyas yang semula bersifat ra'y atau penalaran bebas dan liberal, pada masa pasca Al-Syafi'i berubah menjadi penalaran yang tunduk pada teks dan menjadikan pemikiran hukum Islam tidak produktif karena tidak ada penemuan-penemuan hukum baru yang ada hanyalah justifikasi dan justifikasi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi pertanyaan kemudian adalah mengapa logika Aristoteles yang dalam khazanah kefilsafatan telah mampu menggerakkan pemikiran dan bangunan keilmuan Islam, dengan para pemikir/filosof muslimnya yang telah mampu mendobrak dunia intelektual dan peradaban Islam pada saat itu. justru setelah masuk dalam keilmuan hukum Islam menjadikan hukum Islam tidak produktif, tidak liberal dan statis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan inilah yang menjadikan geram Muhammad Roy (penulis buku ini), untuk menelusuri dan melacak lebih dalam akan persoalan tersebut lewat karyanya yang berjudul "Ushul Fiqih Madzhab Aristoteles; Pelacakan Logika Aristoteles Dalam Qiyas Ushul Fiqih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah teoritis pernyataan bahwa silogisme logika Aristoteles telah mempengaruhi kemunduran khazanah keilmuan hukum Islam atau ushul fiqih terutama qiyasnya syafi'i, pada dasarnya masih penuh dengan perdebatan. Sami al-nasysyar misalnya lewat karyanya "Manahij al-Bahts 'Ind Mufakkiri al-Islam" mengatakan bahwa tidak ada pengaruh logika Aristoteles dalam Ushul Fiqih, dimana ia mengatakan bahwa logika dalam ushul fiqih berdiri sendiri dan sama sekali tidak terpengaruh dengan logika aristo. Sementara Taha Jabir Al-Alwani lewat karyanya yang berjudul "Source Methodology in Islamic Jurisprudence" mengatakan bahwa perkembangan ushul fiqih erat kaitannya disiplin ilmu-ilmu lain, salah satunya adalah logika Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Roy sendiri meyakini bahwa ada pengaruh yang sangat kental logika aristoteles dalam ushul fiqih terutama qiyas yang dikembangkan oleh syafi'i, dengan pendekatan sejarah dan perkembangan ushul fiqih dan data-data yang dikumpulkannya ia mampu mengungkapkan dengan tuntas akan pengaruh logika Aristo terhadap ushul fiqih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Muhammad Roy logika Aristoteles teradopsi dalam hukum islam sejak masa Al-Syafi'i (yang dikenal sebagai bapak ushul fiqih), dimana syafi'i lewat masterpiece al-Risalahnya dalam memaparkan qiyas dan konsep hukum Islamnya kental dengan penggunaan unsur-unsur logika Aristoteles. Seperti penggunaan term-term yang melibatkan genus, spesies, dan deferensia dan unsur-unsur logika dengan premis-premis silogisme serta penyerapan konsep premis mayor, premis minor, argument of sorites.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh logika Aristoteles semakin terlihat pada masa ulama' ushul pasca Al-Syafi'i terutama dalam mengembangkan konsep qiyas. Munculnya konsep dawran, al-shabr wa al-taqsim, thard, dan aks dimasa ulama' ushul pasca Syafi'i adalah karena pengaruh logika Aristoteles, yang mana konsep tersebut pada dasarnya mengandung unsur-unsur logika Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pengaruh logika Aristo ini mencapai puncaknya dimasa Al-Ghazali yaitu ketika ditetapkannya qiyas menjadi sebuah metode ijtihad dengan syarat-syarat tertentu. Al-ghazali dengan lantang mengatakan bahwa logika Aristoteles sebagai salah satu syarat ijtihad dan alat untuk mengetahui ilmu-ilmu agama dan umum (hal.227).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melacak pengaruh logika Aristoteles terhadap khazanah hukum Islam atau ushul foqih terutama qiyas, Muhammad Roy lebih condong menyoroti pemikiran sang bapak ushul fiqih yaitu Al-Syafi'i dan ulama' ushul setelahnya. Dalam dinamika perkembangan ushul fiqih mulai dari awal (dimasa Nabi-Shabat) hingga mengalami kodifikasi sistematis di masa Syafi'i dan perkembangannya setelah Syafi'i jelas tidak lepas dari unsur intern dan ekstern yang mempengaruhinya. Dan penggunaaan logika Aristoteles merupakan salah satu dari pengaruh eksternnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga alasan bagi Roy untuk emmebuktikan bahwa logika Aristoteles telah mempengaruhi ushul fiqih, pertama Syafi'i sebagai pendiri ushul fiqih adalah seorang teolog, sementara imperealisme logika Aristoteles masuk ke dunia Islam lewat ilmu kalam. Dimana pada saat itu logika aristoteles menjadi senjata ampuh kaum kutakallimin dalam memeperkuat argument perdebatannya dengan kaum Yahudi dan Kresten. Maka jika syafi'i adalah seeorang teolog jelas pola piker dan bangunan teorinya tidak bias lepas dari pengaruh logika Aristoteles.&lt;br /&gt;Kedua, pada saat itu Syafi'i menguasai ilmu bahasa Yunani dan khazanah filsafat Yunani yang telah teradopsi ke dunia Islam. Ketiga, ada persamaan anatara qiyasnya Al-Syafi'i dengan silogisme Aristoteles, seperti penggunaan term-term premis mayor, premis minor, konklusi, genus, defferensia, dan fungsi masing-masing premis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjalanan hukum Islam qiyas dimasa Rasulullah sampai pada masa Abu Hanifah masih bersifat penalaran yang bebas dan liberal dalam menentukan suatu hukum, dimana penalaran bebas ini di kenal dengan ra'y. hal itu menjdikan hukum Islam di masa itu menjadi dinamis, liberal, produktif, dan akomodatif. Namun semenjak disistematisasikannya qiyas menjadi sebuah metode penetapan hukum oleh Al-Syafi'i qiyas menjadi suatu penalaran yang tidak produktif, kaku, ketat dan tunduk sehingga tidak berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka secara kontekstual untuk keluar dari stagnasi ini perlu kiranya pembacaan ulang terhadap qiyas syafi'i, agar hukum Islam tidak stagnan dan selalu berkembang. Ada suatu anggapan bahwa logika yang di adopsi oleh Syafi'i dari Aristo diadopsi secara tidak keseluruhan, dimana ia melupakan bangunan filsafat Aristo sehingga mengakibatkan hukum Islam mengalami stgnan dan tidak berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;*) Moh. Yasin,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta. A Branch of ICAS &lt;a href="mailto:London@plasa.com"&gt;London&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-4239128280517230497?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/4239128280517230497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=4239128280517230497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4239128280517230497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4239128280517230497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/04/ushul-fiqih-madzhab-aristoteles.html' title='Ushul Fiqih Madzhab Aristoteles'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sW1edlbGI/AAAAAAAAATg/2MydkbvPNGw/s72-c/ARISTOTELES1+%282%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-6910607436192367690</id><published>2008-04-07T23:44:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T21:58:37.814-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Melanggengkan Cita-Cita Agama Yang Terlupakan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Resensi Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Moh. Yasin*)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sVJudlbFI/AAAAAAAAATY/B6Qx2_gPEbQ/s1600-h/detik2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186762652682382418" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sVJudlbFI/AAAAAAAAATY/B6Qx2_gPEbQ/s200/detik2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Detik-Detik Pembongkaran Agama," Mempopulerkan Agama Kebajikan, Menggagas Pluralisme Pembebasan" &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penulis : Nur Khalik Ridwan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penerbit : Ar-Ruzz, Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cetakan : Pertama, April 2003&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tebal : 310 halaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;SEBAGAI sistem kepercayaan dan peribadatan, agama memiliki peran yang sangat besar dalam menciptakan tatanan kehidupan yang menjadi dambaan manusia yaitu: tatanan kahidupan yang harmonis, sejahtera, berkeadilan dan diridhoi Tuhan. Dalam perjalanan umat manusia agama menjadi sumber motifasi dan inspirasi yang tidak pernah kering dan akan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun, disatu sisi agama menjadi basis munculnya beberapa konflik yang tidak kalah krusial, Seperti: Terorisme, konflik antar agama dan sebagainya. yang disebabkan oleh beberapa hal, disamping karena adanya pemahaman yang berbeda-beda dalam agama, juga karena adanya pendusta-pendusta agama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Klaim-klaim kebenaran tunggal terhadap agama formal tertentu yang kemudian melahirkan keangkuhan dan kesombongan oleh sebagian agamawan, bahwa agama formal yang dipeluknya adalah agama yang paling selamat, paling orisinil, paling benar, dan orang lain harus diagamakan dengan agama formalnya adalah salah satu faktor terkecil yang mempengaruhi munculnya konflik dalam beragama. dan sekaligus menghilangkan kebebasan dalam beragama. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa dilihat pada fenomena menonjol sekarang yaitu klaim-klaim kebenaran agama semit oleh sebagian pemeluknya, yang mana agama semit adalah agama yang orisinil, paling benar, paling selamat dan menganggap agama bumi hanya kreasi manusia belaka. Jika agama ditafsirkan seperti ini yang terjadi adalah beragama dengan eksklusif, komunal dan kental dengan subyektifitas, yang mana beragama seperti ini selalu membenarkan diri dan menyalahkan orang lain, bukan membenarkan diri sekaligus mengakui kebenaran di luarnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fenomena seperti ini menggugah Nur Khalik Ridwan untuk mencari horizon-horizon baru dalam memaknai agama sebagai hal yang bukan komunal dan tidak eksklusif serta kebebasan dalam beragama tentunya, lewat konsep yang ditawarkannya yaitu "agama kebajikan" dengan bukunya yang berjudul "detik-detik pembongkaran agama, mempopulerkan agama kebajikan menggagas pluralisme pembebasan". Agama kebajikan yang dimaksudkan oleh penulis disini bukanlah organisasi agama seperti hal-nya agama-agama langit ataupun agama-agama bumi, akan tetapi agama kebajikan adalah sebagai titik tolak beragama, menggagas pluralisme pembebasan dalam beragama, dan dengan sendirinya agama kebajikan disini adalah teologi menggagagas pluralisme dan pembebasan. Dimana pluralisme menegaskan perlunya memberikan toleransi terhadap pemeluk agama apapun atau komunitas lain. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara pembebasan menegaskan perlunya menggagas solidaritas umat beragama dengan tanpa batasan komunitas apapun. Yang didasarkan pada kebajikan, dengan ketiga konteks bertioliginya. Pada dasarnya agama kebajikan bukanlah agama yang dimiliki oleh komunitas agama tertentu tapi agama kebajikan yang memperjuangkan pluralisme pembebasan adalah esensi dari seluruh agama, baik agama semit maupun agama bumi. Karena setiap agama jika dilihat dari konteks berteologinya agama kebajikan, memiliki visi besar yang sama yaitu kebajikan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa dilihat dalam sejarah munculnya agama, dimana agama saat kemunculannya adalah untuk melawan ketidak adilan, penindasan, membela yang lemah dan melawan kaum tiran. Sebagaimana yamng terjadi pada Ibrahim, Muhammad, Isa, Sidarta Gautama dan sebagainya. Dimana mereka memiliki-sebuah kegelisahan yang sama yaitu memperjuangkan ketidak adilan dan pembebasan. Dari sini dapat dikatakan bahwa inti dari agama adalah melakukan pembebasan dan melawan ketidakadilan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam menggagas agama kebajikan penulis menggunakan tiga konteks teologi, yang pertama, berkaitan dengan pemeluk agama, dimana dalam setiap agama baik agama semit maupun agama bumi tidak sedikit pula yang berdusta dan begitu juga yang berbuat baik. Konteks seperti ini memunculkan pandangan bahwa orang berbuat baik maupun orang yang berbuat jahat, bukan karena seseorang telah masuk dalam satu komunitas agama tertentu. Akan tetapi tumbuh dari kesadaran manusia itu sendiri. Kedua, asal-usul lahirnya agama, dimana agama secara historis muncul karena memperjuangkan ketidakadilan, melawan penindasan dan sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana agama-agama formal besar seperti Islam dengan revolusionernya Muhammad, Kristen dengan Isanya dan Budha dengan Sidharta Gautamanya. Dan yang ketiga adalah lebih di spesifikkan lagi pada sejarah munculnya abrahamic relegion dimana agama-agama formal atau agama semit Kristen, Islam, Yahudi mengklaim bahwa agamanya adalah agama keturunan ibrahim begitu juga dengan agama-agama bumi. Dari ketiga konteks teologi di atas tampak bahwa penulis mencoba mengawinkan antara pluralisme dan pembebasan, dimana dalam konteks teologi pertama menunjukkan bahwa kebajikan tidaklah semata-mata didasarkan pada suatu komunitas atau pada sebuah agama formal tertentu. Akan tetapi orang berbuat kebajikan hanya karena kesadaran individu mereka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam konteks teologi kedua lebih menjelaskan pada cita cita agama itu sendiri dimana dalam hal ini meneguhkan bahwa kaum agama tidak boleh melupakan cita-cita terdalam dari agamanya yaitu: memperjuangkan kebajikan, melawan penindasan dan membebaskan yang miskin. Sebagaimana yang diperjuangkan oleh agama Ibrahim, yang kemudian diteruskan oleh para tokoh sentral agama seperti Muhammad, Isa, Sidharta Gautama dan lain sebagainya. Barangkali cia-cita agama inilah yang sering dilupakan oleh kaum agamawan, sehingga para pemeluk agama ketika haknya dirampas dan selalu ditindas oleh para penguasa dan kaum penindas dengan dalih agama, merekapun tidak mampu melawannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah barangkali penulis merasa penting untuk mengangkat wacana ini dengan basis agama kebajikannya. Lewat konsep agama kebajikan ia mencoba untuk memberikan suatu pencerahan atau sebuah pemahaman terhadap agama yang sebenarnya, yang mana selama ini agama ditafsirkan secara sakral, komunal dan eksklusif. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam teologi yang ketiga menunjukkan bahwa komunitas apapun atau agama apapun adalah agama keturunan Ibrahim, dengan catatan agama Ibrahim sebagai sebuah paradigma. Karena agama apapun atau komunitas apapun pada dasarnya memiliki visi besar yang sama dengan agama Ibrahim yaitu memperjuangkan kebajikan. Lebih lanjut buku ini barangkali sangat tepat jika dalam konteks keIndonesia-an, sebab kita memiliki sebuah keprihatinan yang sama yaitu: masih di diskriminasikannya agama-agama lokal serta masih digandrunginya pluralisme dan pembebasan yang netral nilai serta keprihatinan terhadap kaum moderat yang terjebak dalam korupsi yang makin membabibuta. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan berbagai persoalan tersebut pada dasarnya hanya bisa dijawab dengan kesadaran individu itu sendiri terhadap sebuah kebajikan. Dan disinilah agama kebajikan mencoba memberikan suatu trobosan penafsiran terhadap agama, yang selama ini dijadikan oleh kaum birokrat sebagai dalihnya dalam melakukan penindasan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;*) Moh. Yasin, mahasiswa S2-ICAS Paramadina Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-6910607436192367690?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/6910607436192367690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=6910607436192367690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/6910607436192367690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/6910607436192367690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/04/melanggengkan-cita-cita-agama-yang.html' title='Melanggengkan Cita-Cita Agama Yang Terlupakan'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sVJudlbFI/AAAAAAAAATY/B6Qx2_gPEbQ/s72-c/detik2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-4589060235503313276</id><published>2008-04-07T23:37:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T22:02:23.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Epistemologi Islam-Barat; Sebuah Epistemologi Alternatif</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Resensi Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;*)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sTnudlbEI/AAAAAAAAATQ/ytK7AO5ImWY/s1600-h/epis+islam+%282%29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186760969055202370" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sTnudlbEI/AAAAAAAAATQ/ytK7AO5ImWY/s200/epis+islam+%282%29.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Penulis : Dr. Mulyadhi Kartanegara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Cetakan : Pertama, 2003&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Tebal : xxxvi + 188 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI kajian filosofis, epistemologi (teori pengetahuan) secara umum belum mencapai tingkat kajian yang memadai di negeri ini. Beberapa buku tentang epistemologi yang ditulis oleh sarjana Indonesia masih belum betul-betul menyentuh atau mewakili intisari epistemologi, karya Prof. Juhaya S. Praja misalnya, tidak berbicara tentang epistemologi Islam yang lebih komprehensif sebgaimana yang disajikan oleh para Filosuf muslim. Dan beberapa buku lain yang pembahasannya masih bersifat deskriptif tanpa adanya analisis perbandingan atau kritik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meskipun demikian, harus diakui bahwa kajian epistemologi dan filsafat ilmu (epistemologi Barat) secara umum sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kajian epstemoligi Islam. Sehingga tidak mengherankan jika wacana ilmiah begitu didomonasi oleh Barat, dan kebanyakan sarjana kita hanya mengerti teori ilmu pengetahuan Barat jarang sekali yang dengan serius mendalami teori-teori ilmu pengetahuan Islam. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah jika kemudian di dunia keilmuan muncul Distorsi oleh epistimologi Barat terhadap epistemologi Islam, dalam penggunaan kata science yang dibedakan dengan knowledge mislanya, telah melahirkan perbedaan yang fundamental antara teori pengetahuan Barat dengan teori pengetahuan Islam. Sehingga diperlukan suatu kejelasan dalam perbedaan yang fundamen tersebut karena jika tidak bisa menimbulkan kekaburan dan kesalahpahaman yang mendalam terhadap keduanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lewat karyanya yang berjudul "Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam" yang berpijak pada karya sebelumnya "Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam" Mulyadhi mencoba mendedahkan perbedaan fundamen dalam teori pengetahuan tersebut dan mendialogkan diantara keduanya secara kreatif dan kritis yang diharapkan mampu melahirkan epistemologi alternatif. Dalam mengawali karyanya Mulyadhi ingin menjelaskan tentang konsep-konsep kunci dalam wacana epistemologi, seperti sains, ilmu, opini, filsafat, agama, indra, akal dan hati. Definisi "sains"yang biasanya disamakan dengan pengetahuan (knowledge) bagi Mulyadhi tidak pernah memiliki suatu kejelasan, seperti peletakan science dengan ilmu, istilah ilmu terkadang dipandang sama dengan sains, tapi kadang justru disamakan dengan knowledge atau "pengetahuan". &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Istilah ilmu pengetahuan terkadang juga dipakai untuk merujuk sains yang dibedakan dengan pengetahuan (knowledge). Menurut Mulyadhi istilah ilmu dalam epistemologi Islam memiliki kemiripan dengan istilah science dalam epistemologi Barat. Sebagaimana sains dalam epistemologi Barat dibedakan dengan knowledge, ilmu dalam epistemologi Islam dibedakan dengan opini (ra'y) sementara sains dipandang sebagai any organized knowledge, ilmu didefinisikan sebagai "pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya"(hal. 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan demikian istilah ilmu bukan sembarang pengetahuan atau opini melainkan pengatahuan yang sudah teruji kebenarannya, dan Mulyadhi mendefinisikan ilmu sebagai "pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya". Ilmu dalam kajian epistemologi Barat penerapannya dibatasi pada bidang-bidang ilmu fisik atau empiris, sedangkan dalam epistemologi Islam ia dapat diterapkan dengan sama validnya baik ilmu-ilmu yang yang fisik-empiris maupun nonfisik atau metafisik. Perbedaan yang fundamen inilah barangkali yang perlu dijelaskan dalam kajian epistemologi menurut Mulyadhi, karena jika tidak akan membawa pada kekaburan dan kesalahpahaman dalam kajian teori pengetahuan (epistemologi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Paling tidak ada dua pertanyaan yang tidak bisa ditinggalkan dalam setiap sistem epistemologi manapun: pertama, apa yang dapat kita ketahui? Kedua, bagaimana mengetahuinya? Dimana yang pertama mengacu pada teori dan isi ilmu, sementara yang kedua pada metodologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pertanyaan apa yang dapat kita ketahui? Epistemologi Barat memberikan jawaban bahwa yang dapat kita ketahui adalah segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi secara indrawi. Hal-hal lain yang bersifat nonindrawi, nonfisik dan metafisik tidak termasuk ke dalam objek yang dapat diketahui secara ilmiah. Sedanngkan dalam epistemologi Islam kita bisa mengetahui tidak sebatas pada obyek-obyek fisik namun juga nonfisik. Sehingga dalam menentukan keberadaan sesuatu atau status ontologis sesuatu Barat hanya percaya pada benda-benda yang dapat dicerap oleh indra dan cenderung menolak status ontologis dari entitas-entitas nonfisik seperti ide-ide matematika, konsep-konsep mental dan entitas-entitas imajinal dan spiritual. Berbeda dengan Barat, Islam mengakui status ontologis tidak terbatas pada obyek-obyek indrawi melainkan juga obyek-obyek nonindrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk pertanyaan kedua, berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan yang pertama metode ilmiah yang dikembangkan oleh para pemikir dan filosuf Barat hanya menggunakan satu metode yaitu metode observasi. Sementara Islam menggunakan tiga macam metode sesuai dengan tingkat atau hierarki obyek-obyeknya, yaitu (1)metode observasi, (2)metode logis atau demonstratif (burhani) (3)metode intuitif ('irfan) yang masing-masing bersumber pada indra akal dan hati. Setiap cabang ilmu yang dihasilkan oleh epistemologi tidak akan pernah mencapai status ilmiah yang pas kecuali status ontologis obyeknya jelas dan dapat diakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berdasarkan uraian di atas jelas klasisfikasi ilmu yang ada di Barat akan selalu didasarkan pada satu hal yaitu empiris-observatif ditambah dengan bidang ilmu matematika, tapi secara tegas menolak bidang metafisika yang obyek-obyeknya sering dipandang tidak riil dan ilusif. Sedangkan dalam Islam yang mengakui adanya status ontologis yang tidak terbatas pada fisik-empiris melainkan juga yang nonempiris atau metafisis, dalam teori pengetahuan Islam ilmu dibagi menjadi tiga klasifikasi yaitu: ilmu-ilmu metafisika, ilmu-ilmu matematika, dan ilmu-ilmu alam atau fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain beberapa hal yang telah dijelaskan diatas tentang sumber pengetahuan dalam epistemologi Islam, pengalaman mistik, penalaran rasional dan filsafat kenabian dalam teori pengetahuan Islam juga termasuk sumber pengetahuan. Bukan bermaksud membenci atau anti sains Barat, begitulah pembelaan yang diungkapkan Mulyadhi dalam kajian buku pengantar epistemologi ini, dan baginya tidak lain hanya mencoba bersikap kritis dan apresiatifnya terhadap sains Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan jalan membandingkannya dengan epistemologi lain yang dalam hal ini adalah epistemologi Islam yang diharapkan mampu melahirkan teori pengetahuan yang lebih baik atau sering kita harapkan yaitu munculnya epistemologi alternatif. Buku pengantar yang ditulis atas hasil perkuliahan penulis bersama para mahasiswanya di Pasca Sarjana IAIN SU-KA ini paling tidak menjadi terobosan awal dalam kajian epistemologi (teori pengetahuan) yang di negeri ini masih sangat minim dan belum mapan. Dimana dengan mengkaji teori pengetahuan secara kritis dan komprehensif serta komparatif nantinya diharapkan mampu melahirkan teori pengetahuan alternatif yang lebih baik. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Moh. Yasin, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta. A branch of ICAS-London&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-4589060235503313276?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/4589060235503313276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=4589060235503313276' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4589060235503313276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/4589060235503313276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/04/epistemologi-islam-barat-sebuah.html' title='Epistemologi Islam-Barat; Sebuah Epistemologi Alternatif'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sTnudlbEI/AAAAAAAAATQ/ytK7AO5ImWY/s72-c/epis+islam+%282%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8638750945797727513</id><published>2008-03-29T06:02:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T22:08:23.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Runtuhnya interpretasi teori materealisme ateistik</title><content type='html'>Oleh :&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-4-dedlbCI/AAAAAAAAAS4/Nmntl-rt5oQ/s1600-h/tuhan-dadu+%282%29.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183148897264299042" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 178px; height: 239px;" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-4-dedlbCI/AAAAAAAAAS4/Nmntl-rt5oQ/s400/tuhan-dadu+%282%29.jpg" border="0" height="341" width="260" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu&lt;br /&gt;Judul Asli : God, Chance And Necessity&lt;br /&gt;Penulis : Keith Ward&lt;br /&gt;Penerjemah : Larasmoyo&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2002&lt;br /&gt;Tebal : 287 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMPAKNYA sebagian besar para pengkaji asal muasal kosmos sepakat bahwa alam semesta bersumber dari sesuatu di luar dirinya, yang nonfisik, memiliki inteligensi dan kekuasaan yang tinggi. Bahkan, hampir seluruh filosof klasik ternama dari Plato, Aristoteles, Leibniz, sampai Barkeley, melihat bahwa alam semesta berasal dari suatu realitas yang transenden. Walaupun mereka memiliki gagasan yang berbeda dan teori yang berbeda, namun bahwa alam semesta tidak dapat dijelaskan pada dirinya sendiri dan harus dijelaskan oleh sesuatu yang di luar dirinya bagi mereka adalah gagasan yang wajar diterima. Dan para teolog-pun sepakat bahwa obyek yang disembahnya (Tuhan) adalah sebagai pencipta alam semesta beserta isinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, seiring dengan perkembangan pemikiran sains. Terjadi sebuah pergeseran paradigma yang tidak dapat dihindari, sehingga pada awal abad modern hingga sekarang pemikiran seperti itu sering diklaim sebagai suatu pemikiran yang sudah kedaluarsa. Teori tentang penciptaan tidak dibutuhkan lagi, serta kebenaran ilmiah sangat bertentangan dengan agama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diwarnai dengan munculnya tradisi pemikiran ateis yang berpuncak pada seorang Filsuf eksistensialis Jerman yaitu Nietsczhe, dengan khutbahnya yang populer tentang kematian Tuhan. Sementara dibidang humaniora muncul sosok Karl Marx yang menafsirkan roh absolut Hegel menjadi semata-mata bersifat materialis dan mendiskualifikasikan Tuhan dalam kehidupan manusia, ia menganggap bahwa agama sebagai candu belaka. Dan dibidang psikologi muncul Sigmund Freud yang berkeyakinan bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan tidak ubahnya hanya sebuah pelarian manusia dari ketidak berdayaannya dalam memahami realitas yang ada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Serta munculnya aliran materialisme dan naturalisme evolusioner semakin memperkuat pandangan kaum ateistik, dengan tokoh sentralnya Darwin dengan teori evolusinya dan Werner Heisenberg dengan teori kuantumnya. Charles R. Darwin dengan teori evolusinya mengatakan, manusia hanyalah hasil evolusi yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan alam. Secara eksplisit teori Darwin menjelaskan bahwa manusia terlahir dari induk yang sama yaitu: "kera", yang mana mampu menghilangkan istilah roh sebagai esensi dalam diri manusia. Begitu juga dengan alam semesta ia ada karena sebuah proses evolusi. Dan teori kuantum menggambarkan bahwa pada sekala terkecil benda-benda, termasuk jagat raya di awal hidupnya, peristiwa-peristiwa fisik merupakan kebetulan tanpa sebab(hal. 17). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jacques Monod lewat bukunya yang berjudul, Le hasard et La Necessity, mengatakan bahwa manusia dan makhluk hidup yang lainnya merupakan produk dari rangkaian kebetulan belaka. Sebelum munculnya teori kuantum satu-satunya hal yang membedakan manusia dengan yang lainnya adalah kebebasan manusia, dan teori kuantum meruntuhkan pandangan ini. Pandangan ini semakin lemah dengan teori Jacques Monod dimana ia meletakkan kebebasan manusia dalam rangkaian kebetulan-kebetulan teori evolusi. maka kemudian materialime dan ateisme mendapatkan dukungan ilmiah yang begitu kuat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teori kuantum yang di gagas pertama kali oleh Werner semakin berkembang dan semakin radikal ketika berada dalam pemikiran Stephen Hawking dan James Hartle. mereka menganggap bahwa jagad raya tidaklah berawal dari sebuah singularitas awal melainkan sebuah lengkungan waktu. Dimana kemudian muncul seorang ahli kimia dari Inggris Atkins, lewat bukunya yang berjudul "Creation Revisited"mengatakan bahwa alam semesta muncul secara kebetulan dari ketiadaan, dan bukan hasil dari ciptaan yang berencana. Oleh karenanya Tuhan tidak dibutuhkan lagi sebagai perancangnya(hal. 20). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tentunya pandangan ini sangat bertentangan dengan ajaran agama dan pandangan para pengkaji serius alam semesta terdahulu, serta menafikan doktrin agama yang selama ini diyakini. Dan sejak itulah agama sering diramalkan tidak akan bisa mempertahankan eksistensinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dr. Keith ward seorang profesor dan pendeta gereja terkemuka di Inggris, lewat bukunya yang semula berjudul "God, chance and necessity" dengan keluasan wawasannya yang mengagumkan. Ia menghayati serta memahami pemikiran para saintis yang ateistik dan kemudian menjawab serta menguji kelogisan argumentasi mereka lewat tafsiran organisme holistiknya berdasarkan filsafat mendiang Alfred North Whitehead. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ward sebenarnya tidaklah melawan sains, interpretasi ideologis yang dibungkusnya atau paradigma filosofis yang mendasarinya serta kesalahan penafsiran para saintislah yang coba ia luruskan. Karena penafsiran teori kosmologi kuantum dan teori evolusi biologis, oleh para ilmuan sering dianggap sebagai kebenaran ilmiah. Padahal itu hanya pandangan beberapa gelintir saintis saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;dalam teori kosmologi kuantum dimana alam ada dari ketiadaan sebagaimana yang ditelorkan oleh Heisenberg. Di sini justru Ward bertanya, jika memang teori kosmologi kuantum itu benar, pertanyaannya kemudian adalah di manakah hukum-hukum alam yang dinyatakan oleh persamaan matematik teori tersebut berada sebelum alam semesta muncul? tentunya tidak mungkin dalam ketiadaan karena hal ini kontradiksi logis. Dan tidak mungkin sesuatu itu ada dalam ketiadaan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pandangan kaum materialis yang menyatakan bahwa hukum alam tidak lain dari sifat-sifat materi di alam semesta justru meruntuhkan teori kosmologi kuantum dan memperkuat pandangan teisme yang berkeyakinan bahwa alam semesta ada berkat ciptaan Tuhan.&lt;br /&gt;Interpretasi materealistik atas teori evolusi mengatakan bahwa seleksi alam adalah kekuatan yang mengarahkan pada perkembangan evolusioner dengan menyeleksi fariasi hasil mutasi dan rekombinasi acak yang sesuai dengan lingkungan pada akhirnya memilih manusia dengan kesadaran moralnya yang bebas sebagai suatu kebetulan. Dan tentu hal ini bertentangan dengan agama yang berkayakinan bahwa manusia diciptakn sebagai kholifah di bumi dan memiliki suatu tujuan(hal. 22). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Interpretasi seperti ini justru menurut Ward adalah sangat kontradiktif. Dan kemaun bebas serta manusia yang berpikir tidak mungkin di hasilkan dari evolusi acak. Kesadaran bebaslah sebenarnya yang menjadi tujuan evolusi semesta sementara evolusi biologis hanyalah merupakan perantara bagi evolusi semesta sebagai manifestasi kreatifitas Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Ward sebenarnya tidaklah meruntuhkan teori kosmologi kuantum maupun teori evolusi, karena yang dilawan Ward adalah interpretasi materealistiknya sementara secara ilmiah teori bisa runtuh jika bertentangan dengan kenyataan empiris dan realitas yang baru.&lt;br /&gt;Dan Ward dalam hal ini mencoba menepis terhadap dikotomi antara sains dan agama dimana agama dipandang berseberangan dengan sains sebagaimana tafsiran yang dilakuan oleh kaum materealisme ateistik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis munculnya ateistik dan materialistik tidak lepasa dari kerangka kerja ilmiah yang mereka gunakan sebagaimana dikatakan oleh Holmes Roltson III. Pemikiran mereka telah mengalami "sekularisasi" yang mana ini di awali oleh para ilmuan modern. Dahulu penjelasan ilmiah harus meliputi empat sebab sebagaimana yang diungkapkan Aristoteles yaitu: efisien, materil, formal dan final. Sementara para ilmuan modern melepas sebab formal dan final karena dianggap berkenaan dengan makna, padahal kajian ilmiah harus hanya berkaitan dengan fakta dan realitas. Yang mana menurut mereka dimensi makna berkaitan dengan kepercayaan atau agama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak para ilmuan brilian yang masih mengakui eksistensi Tuhan. salah satunya adalah Albert Einstein dengan ungkapan metaforiknya yang terkenal tentang ciptaan alam semesta"Tuhan tidak bermain dadu". Yang kemudian menjadi judul buku yang ada di tangan pembaca ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bisa di katakan buku ini adalah sebagai buku tandingan dari bukunya seorang saintis yang pernah meraih Nobel 1965 pada bidang fisiologi dan kedokteran, yang berjudul Chance and Necessity yaitu Jacques Monod, dalam bukunya ia menjelaskan bahwa"hanya kebetulanlah yang merupakan sumber setiap inovasi dan setiap kreasi di dalam biosfera. Kebetulan murni, yang mutlak bebas tetapi buta, itulah yang berada pada akar bangunan besar bernama evolusi". Dimana pada saat itu mampu menggesar paradigma pemikiran dan mementahkan teori-teori yang berkembang pada saat itu.****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;strong&gt;Moh. Yasin&lt;/strong&gt;, mahasiswa Master Program of Islamic Philosophy of ICAS-Paramadina Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8638750945797727513?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8638750945797727513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8638750945797727513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8638750945797727513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8638750945797727513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/03/runtuhnya-interpretasi-teori.html' title='Runtuhnya interpretasi teori materealisme ateistik'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-4-dedlbCI/AAAAAAAAAS4/Nmntl-rt5oQ/s72-c/tuhan-dadu+%282%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-7960325417768055716</id><published>2008-03-29T05:51:00.000-07:00</published><updated>2008-04-22T06:14:46.696-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essai'/><title type='text'>Visi Spiritualitas Postmodern</title><content type='html'>Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-49O-dlbBI/AAAAAAAAASw/29eul-BUMic/s1600-h/rumi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183147548644568082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-49O-dlbBI/AAAAAAAAASw/29eul-BUMic/s400/rumi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Krisis spiritual modern berakar dari pandangan dunia modern bahwa suatu sistem sosial diharuskan bebas dari masalah-masalah spiritual, keterikatan sistem-sistem sosial dianggap bersifat biologis, ekonomis dan mekanis. Perubahan sosial yang dilandaskan pada prinsip-prinsip spiritual dianggap hanya sikap reaksioner belaka. Bagi modernisme perubahan sosial yang bermakna meaning fulI hanya bisa diwujudkan dengan cara-cara yang bersifat eksternal, dengan berlandaskan sikap liberal dan sekuler. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;br /&gt;Hal itu karena worldview modern cenderung bersifat dualistik, mekanistik, individualistik, dan deistik, dengan mengagung-agungkan ilmu-ilmu yang bersifat empiris, pragmatis dan positivis, yang diusung lewat marxisme dan liberalisme. Sehingga spiritualitas dan agama dalam dunia modern tidak lagi menjadi pusat perhatian, bahkan modernisme menganggap agama dan spiritualitas sebagai "ilusi" atau "candu" dan menjadi penghambat bagi kemajuan zaman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini worldview postmodern dengan paradigma barunya ingin menelaah secara mendalam worldview modernisme dan kemudian mengkritisinya, lantas memberikan sebuah tawaran worldview baru yang koheren dan integral, dengan berusaha memadukan keyakinan religius tradisional dengan rasionalitas. Worldview yang diusung para pemikir postmodern Whiteheadian bersifat rekonstruktif atau refisionis dan berusaha keluar dari perangkap postmodern yang dekonstruktif-nihilistik ala Jacques Derrida.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Worldview potmodern mengusung kesadaran baru bahwa spiritualitas menjadi satu-satunya harapan untuk merubah suatu sistem sosial menuju yang lebih postif atau kehidupan yang lebih bermakna. Kesadaran baru ini tidaklah bersifat ekstrim atau tidak netral, akan tetapi menjadikan spiritualitas dan sistem sosial sebagai dua hal yang memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Tulisan ini ingin memaparkan dan mengkaji visi spiritualitas postmodern dengan bertitik tolak pada pandangan postmo terhadap sifat-sifat (nature) dan makna kehidupan dalam pandangan postmodern, dengan menitikberatkan pada permasalahan spiritualitas dan masyarakat. Selanjutnya dari titik tolak tersebut penulis berusaha memetakan spiritualitas postmodern.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Pemetaan visi spiritualitas postmodern tersebut merujuk pada hasil sebuah konferensi "toward a postmodern world" di Santa Barbara pada tahun 1987. Yaitu, merujuk pada para pemikir postmodern yang bercorak Whiteheadian seperti David Ray Griffin, Joe Holland, Charlen Spretnak, Richard A. Falk, Frederick Ferre, dan sebagainya. Pemikiran mereka ini telah dibekukan dalam sebuah buku yang berjudul Spirituality and Society: Postmodern Visions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Spiritualitas Modern&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Para pemikir postmodern Whiteheadian menggambarkan bahwa spiritualitas modern pada dasarnya di awali dengan spiritualitas yang bersifat dualistik dan supernaturalistik, kemudian di akhiri dengan spiritual semu (pseudospiritual) atau bahkan anti spiritual. Sementara spiritualitas postmodern mencoba menelaah dan mengkritisi spiritualitas modern, kemudian berusaha kembali pada spiritualitas murni sambil menengok unsur-unsur spiritualitas pramodern.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Individualisme radikal merupakan tahapan awal spiritualitas modern dan menjadi ciri paling menonjol dari pemikiran modernisme. Secara filosofis individualisme radikal menolak bahwa diri pribadi manusia secara internal berhubungan dengan hal-hal lain, dengan sesama manusia, alam, bahkan dengan Sang Pencipta sekalipun. Sehingga manusia untuk menjadi dirinya tidak memerlukan apapun selain dirinya sendiri. Dengan individulisme radikal modernisme mengartikan masyarakat sebagai sebuah kumpulan antar individu yang bebas demi tujuan-tujuan tertentu. Begitu juga dengan moralitas dan waktu, modernisme menyikapinya dengan individulisme radikal. Sehingga sikap yang bebas dan individulistis menjadi coraknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Pada dasarnya individualisme radikal berakar dari dualisme yang digagas oleh Rene Descartes, bahwa ada perbedaan mutlak antara jiwa dengan badan, materi dan spiritual. Sementara deisme sebagai jembatan paham teisme dengan ateisme merupakan tahapan kedua spiritualitas modern setelah dualisme dan individualisme. Dalam perkembangannya deisme melahirkan paham supernaturalisme dan sekularisme. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Spiritualitas modern yang individualistik, dualistik dan deistik tersebut berimplikasi pada pola, perilaku dan pandangan masyarakat modern. Para pemikir postmodern menilai bahwa spiritualitas modern yang individualistik, dualistik dan deistik menjadikan pola hubungan antar individu yang semula bersifat face-to-face menjadi semakin terbatas, struktur-struktur yang menjadi pengantar hubungan antar masyarakat musnah, akibat adanya sentralisasi dan dikotomisasi. Dari sudut pandang materialisme, modernisme menganggap manusia sebagai homo oeconomicus, sehingga hubungan sesama manusia dan lainnya atas dasar materi dan menjadi yang paling utama, sementara hubungan antara manusia dengan sesama, alam, Tuhan adalah yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Spiritualitas Postmodern&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan spiritualitas modern, spiritualitas postmodern bersifat monistik, organistik, relasionalistik dan pananteistik. Jika dengan individualisme radikal dunia modern menganggap hubungan manusia dengan lainnya bersifat eksternal, kebetulan, dan turunan. Spiritualitas postmodern menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia atau dengan lainnya bersifat internal, esensial dan konstitutif. Pola ini menjadi tahapan awal spiritualitas postmodern.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Tahap spiritualitas postmodern yang kedua adalah organisisme, dengan organisisme, para pemikir postmodern mentransendensikan materialisme dan dualisme modern. Sehingga pandangan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan lainnya tidak lagi atas tendensi ingin menguasai dan mengeksploitasi, melainkan sebagai kesatuan dan kebersamaan yang egaliter.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Sementara jantung dari spiritualitas postmodern adalah pembahasan mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Spiritualitas postmodern menolak pandangan modernisme dalam hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang bersifat dualistik, materialistik, supernaturalisme ateistik. Spiritualitas postmodern berpandangan bahwa hubungan manusia dengan Tuhannya bersifat pananteisme naturalistik (keilahian ada dalam dunia dan dunia ada dalam keilahian). Pananteisme naturalistik ini diyakini oleh para pemikir postmodern akan mampu mengatasi nihilisme dalam modernisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Meskipun demikian, dengan spiritualitas baru yang diusungnya, secara teoritis para pemikir postmodern belum bisa menggambarkan masyarakat yang ideal versi posmo. Mereka baru mampu memberi respon terhadap masalah-masalah realitas sosial di masyarakat dalam bentuk sikap kritik dan terkesan reaksioner. postmodern belum bisa memberikan tawaran baru mengenai masalah-masalah sosial saat ini, Seperti politik, ekonomi, teknologi, pertanian, terorisme dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;br /&gt;Postmodernisme dengan teori dan visi yang dikonstruknya baru mampu meraba-raba masalah-masalah yang kompleks tersebut.Pada dasarnya yang menjadi persoalan pandangan postmodern adalah penjabaran ke arah yang lebih jelas konsep spiritualitas, teologi dan worldview baru yang ditawarkannya. Para pemikir postmodern Whiteheadian belum mampu menjelaskan kerangka teologisnya ke dalam mainstream baru yang dibangunnya. Namun, di tangan para pemikir, pandangan postmodern ini bisa menjadi diskursus yang menarik, segar, dan menantang di tengah fenomena yang begitu kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,102)"&gt;Moh Yasin. Mahasiswa master program of ICAS-Paramadina Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-7960325417768055716?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/7960325417768055716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=7960325417768055716' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7960325417768055716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7960325417768055716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/03/visi-spiritualitas-postmodern.html' title='Visi Spiritualitas Postmodern'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-49O-dlbBI/AAAAAAAAASw/29eul-BUMic/s72-c/rumi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8818528400435663253</id><published>2008-03-29T05:40:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T22:15:35.034-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essai'/><title type='text'>Membaca Peta Filsafat Politik Islam</title><content type='html'>Oleh: &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-47EOdlbAI/AAAAAAAAASo/NPOlw54vUY4/s1600-h/al-farabi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183145164937718786" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 148px; height: 182px;" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-47EOdlbAI/AAAAAAAAASo/NPOlw54vUY4/s320/al-farabi.jpg" border="0" height="173" width="116" /&gt;&lt;/a&gt;Pemikiran politik Al Farabi tidak hanya berpengaruh pada filosof-filosof Islam klasik yang datang setelahnya. Tapi khazanah pemikiran politik Al Farabi menjadi sangat penting kaitannya dengan pemikiran politik Islam kontemporer. Pemikiran Ayatullah Khomeini (seorang tokoh revolusi Iran) misalnya, tidak beranjak jauh dari konsep-konsep yang dikembangkan oleh Al Farabi. Filsafat politiknya beranjak dari latar belakang yang sama, yaitu mengapresiasi pemikiran Plato dan teori kepemimpinan (Imamah) Syi'ah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Tidak hanya Khomeini para pemikir Islam lain seperti Jawad Mughniyyah, Muhammad Baqir Shadr, Kahzhim Hairi juga mengembangkan pemikiran politik Al Farabi. Mereka memunculkan konsep pemerintahan yang Islami, dengan dua bentuk spektrum, mulai dari yang paling populist (berorientasi pada rakyat) sampai yang paling statist (berorientasi pada negara).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Para filosof klasik setelah Al Farbi seperti Ibn Shina, Al Razi, Al Thusi, Ibn Gabirol, dan Maimonides mengakui Al Farabi sebagai filosof politik Islam par excellence. Kualitas filsafat politik Al Farabi bagi mereka sulit untuk dilampaui. Sebagai filosof Islam klasik pertama ia mendapat julukan "guru kedua" setelah Aristoteles "guru pertama". Hal itu karena kemampuan Al Farabi mempertalikan, menghadapkan dan menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam dan membuatnya bisa di mengerti dalam konteks agama-agama wahyu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Tulisan ini bermaksud mengupas petra pemikiran politik Islam, dengan merujuk dari pemikiran politik Al Farabi, yaitu merujuk pada karya monumental al Farabi yang berjudul Ara Ahlu al Madinah al Fadhilah. Di mana karyanya ini merupakan ikhtisar dari seluruh pemikirannya yang mencakup epistemologi, filsafat wujud, etika, filsafat kenabian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Al Farabi juga membahas tentang pencapaian kebahagiaan melalui kehidupan politik dengan mensitesakan pemahaman Plato dan hukum ilahiah Islam. Jika kebahagiaan menurut Plato puncaknya hanya dapat diraih dalam negara (politeia), bagi Al Farabi kesempurnaan dan kebahagiaan puncaknya hanya dapat diperoleh dalam negara ideal yang sempurna pemerintahannya, yang dipimpin oleh raja-filosof yang identik dengan pemberi hukum dan imam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Pemimpin yang ideal atau orang yang berhak mendapat wewenang tertinggi dalam pemerintahan, yang disebutnya dengan al rais al awal li al madinah al fadhilah wa rais al ma'murah min al ardh kulliha, harus memiliki syarat-syarat tertentu. Di antara ciri-ciri sifatnya adalah bijak, berbadan kuat, bercita-cita tinggi, baik daya pemahamannya, hafalannya kuat, cerdas, fasih bicara, cinta ilmu, sanggup menghadapi kesulitan dan beban yang ditanggung, tidak rakus, jujur, adil, mulia dan teladan bagi umatnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dan menurut Al Farabi sangatlah tidak mungkin orang akan memiliki seluruh sifat atau kriteria ini sehingga yang harus jadi pemimpin adalah mereka yang lebih banyak memiliki sifat-sifat atau kriteria itu. Paling tidak ada tiga kelompok orang dari segi kapasitas untuk memimpin yaitu untuk memandu dan menasehati: kuasa tertinggi atau kuasa sepenuhnya (unqualified ruler atau penguasa tanpa kualifikasi), penguasa subordinat (tingkat kedua), yang berkuasa dan sekaligus dikuasai, dan yang dikuasai sepenuhnya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Dengan kriteria inilah akan tercipta kota utama (negara utama) yaitu kota yang bekerjasama sesama penduduknya untuk dapat meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan tugas pemimpin dalam kota utama itu adalah bagaimana memberikan penjelasan dan membimbing dengan baik umatnya untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Maka bagi al Farabi mencerdaskan dan memberikan pengetahuan pada penduduk adalah tujuan utama dari terbentuknya kota utama (negara utama). Dan untuk membedakan kota utama dengan kota lainnya Al Farabi mengelompokkan menjadi tiga yaitu kota jahiliyah, kota fasiq, kota sesat,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Sementara kota utama atau negara utama lebih mudah diwujudkan di kota demokratis dari pada ke tiga kota tersebut. Di mana kota demokratis yang dimaksudkan Al Farabi adalah kota yang tujuan penduduknya adalah kebebasan, yang setiap penduduk melakukan apa yang dikehendaki tanpa ada kekangan. Kareana dengan kebebasan, egaliter, lama kelamaan akan bermunculan orang-orang bajik, meskipun selanjutnya memiliki kelemahan. Karena penduduk dalam kota ini cenderung menginginkan pemimpin yang memudahkan keinginannya dan memberikan kebebasan pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Secara spesifik Al Farabi mengungkapkan bahwa kota demokrasi adalah kota terbaik kedua setelah kota utama, meskipun kota tersebut menampung kecenderungan apapun, yang buruk ataupun yang baik. Tapi memberikan peluang yang besar akan munculnya orang-orang bajik. Pemikirannya ini didasarkan pada apresiasinya atas kota utama Al Farabi yang bersifat aristokratis dan otokratis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Filsafat politik Al Farabi mengawali teorinya dengan menentukan kriteria pemimpin yang ideal, selanjutnya bagaimana terbentuknya kota utama dengan pemimpin ideal sesuai kriteria. Satu hal lagi yang menjadi penting dalam kaitannya penyelenggaraan pemerintahan kota utama adalah administrasi pemerintahan. Dan ada lima kriteria orang yang dianggap berhak memegang kendali administrasi pemerintahan yaitu bijak, penerjemah, juru nilai, pejuang, dan orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Moh Yasin&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(51, 102, 102);"&gt;mahasiswa master program of islamic philosophy of ICAS-Paramadina Jakarta. a branch of ICAS-London&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8818528400435663253?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8818528400435663253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8818528400435663253' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8818528400435663253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8818528400435663253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/03/membaca-peta-filsafat-politik-islam.html' title='Membaca Peta Filsafat Politik Islam'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R-47EOdlbAI/AAAAAAAAASo/NPOlw54vUY4/s72-c/al-farabi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-3786987358112100588</id><published>2008-02-24T02:34:00.000-08:00</published><updated>2008-04-20T22:20:26.464-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Fakta Diplomasi Munafik Yahudi-AS</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Naskah Resensi ini di muat di Jawa Pos edisis: Minggu, 28 Feb 2008,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R8FIsbvysRI/AAAAAAAAAQY/JWZIy3LtgWE/s1600-h/usa+yahudi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170493775397695762" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R8FIsbvysRI/AAAAAAAAAQY/JWZIy3LtgWE/s400/usa+yahudi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;.............................................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Judul Buku : The Power of Israel in USA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Penulis : James Petras&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Penerbit : Zahra, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Cetakan : Pertama, Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Tebal : 335 Halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;.............................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Satu setengah abad lalu, Alexis De Toqueville, pengamat politik Amerika, menyatakan kekhawatirannya bahwa ancaman terhadap demokrasi yang mengerikan berada pada "tirani mayoritas". Melalui kekuatannya, mayoritas akan bertindak semena-mena dan menindas kaum minoritas demi upaya mendapatkan kepentingan-kepentingan piciknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Namun, di era abad 21 ancaman terhadap demokrasi bukan di tangan mayoritas yang sulit dikendalikan sebagaimana analisis Toqueville, melainkan berada di tangan para penyokong dan penggalang dana dalam sebuah pesta demokrasi. Sebab sopir kendaraan politik adalah para penyokong dana, mereka memiliki pengaruh dan kekuatan yang luar biasa dalam menentukan kebijakan-kebijakan penting dalam sektor politik, ekonomi, dan hukum dalam sebuah negara. Hal ini sebagaimana terjadi di negara adikuasa Amerika Serikat. Sudah setengah abad lebih negara imperial pengusung demokrasi dan penjunjung tinggi perdamaian ini berada dalam cengkeraman orang-orang Yahudi pro-Israel. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Fenomena ini tidak lepas dari peran PACs (Political Action Committess) atau Badan Dana Yahudi pro-Israel yang menjadi mesin politik utama di Amerika melalui organisasi-organisasi zionis seperti AIPAC, ADL, yang memilki akses langsung maupun tidak langsung pada pusat-pusat kekuatan dan propaganda di AS, baik melalui kongres maupun kepresidenan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Fakta menunjukkan bahwa sejak 1990-an PACs adalah penyumbang dana untuk Partai Demokrat sebesar 45 persen dan 25 persen untuk Partai Republik. Bahkan survei terbaru Richard Cohen dari Washington Post menunjukkan angka 60 persen untuk Demokrat dan 35 persen untuk Republik. Selain itu, Di Amerika proporsi keluarga Yahudi sangat besar di antara keluarga-keluarga terkaya di AS, 25-30 persen miliarder di AS adalah orang Yahudi. Bahkan sumbangan pada pihak firsters oleh miliarder Yahudi-Kanada bernilai lebih dari 30 persen pasar modal Kanada (hlm. 21-22). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Saat ini Partai Demokrat lewat senator Hillary Clinton dan Barrak Obama, lalu Partai Republik lewat John McCain dan Romney boleh saja saling berseteru dan mengobral janji politik. Siapa pun yang menduduki Gedung Putih nanti tidak akan ada pengaruhnya dalam membangun demokrasi dan perdamaian dunia. Sebab hubungan Israel-AS bukan hubungan orang per orang atau konfigurasi pembuatan kebijakan yang bersifat sementara, melainkan hubungan struktural yang bersejarah. Hal ini telah terbukti di mana posisi hegemoni Israel telah bertahan di bawah kepresidenan dari Partai Demokrat maupun Partai Republik selama setengah abad lebih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Secara historis proyek-proyek diplomasi ala Yahudi dengan Amerika berjalan sejak era Presiden Jimmy Carter, kemudian kekuatan lobi Yahudi dikukuhkan dan mendapat dukungan penuh di era Presiden Reagen, berlanjut pada masa Clinton dan Bush hingga sekarang, di mana kebijakan-kebijakan AS senantiasa berada di bawah kendali kaum firsters (orang Yahudi yang hidup di Amerika) baik dalam bidang politik, ekonomi, militer hingga perang dan perdamaian di Timur Tengah. Saat ini posisi Yahudi dan Israel telah menjelma menjadi The Great Super Power Colony atau sang Super Power dan koloni sejati, Amerika telah menjadi penyambung tangan dalam menggapai misi-misi kolonialisme Yahudi-Israel. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Saat ini hubungan Yahudi Pro-Israel dengan AS bukanlah proyek minyak, bukan pula proyek memerangi terorisme atau memusnahkan senjata pengancam perdamaian dunia, sebagaimana isu-isu di publik. Melainkan memuluskan proyek-proyek kolonialisme zionis Israel untuk menjadikan Timur Tengah menjadi lingkungan kesejahteraan bersama AS-Israel. Fakta inilah yang menggugah James Petras, profesor sosiologi di Binghamton University, New York, untuk menganalisis secara kritis dan mendalam berdasarkan dokumentasi yang akurat tentang fakta hubungan Israel-AS. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sebagai warga Amerika Petras merasa memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan secara transparan kekayaan, kekuatan, tindakan, dan pengaruh lobi Pro-Israel, agar para intelektual dan masyarakat AS memiliki kesadaran akan gagasan membentuk gerakan kontra hegemoni yang bertujuan merekonstruksi sebuah republik demokrasi dengan merenggut kebebasan yang seutuhnya dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan dan kesejahteraan.Dua hal yang membuat buku Petras ini dikagumi banyak pihak adalah, pertama, analisisnya yang tajam tentang hubungan Israel-AS yang didukung data-data akurat yang jarang diungkap intelektual Barat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Secara gamblang Petras mengungkap fakta tentang bagaimana kekuatan zionis di Amerika, peran pejabat pro-Israel dalam pemerintahan dan peran pihak lobi Yahudi dalam mempengaruhi kebijakan Timur Tengah AS, dan juga memberikan analisis dan dokumentasi atas kekuatan yang dikerahkan Israel melalui pihak lobi terhadap kebijakan AS untuk Timur Tengah.Kedua, melanjutkan apa yang dikatakan Edward Said bahwa mengkritisi Israel berarti membiasakan diri untuk berpikir tentang proyek kolonialisme zionis terhadap masyarakat dan wilayah Timur Tengah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Karya Petras ini menegaskan bahwa Israel tidak berhenti di situ, Israel selama puluhan tahun juga telah menjajah pemerintah dan penduduk Amerika. Salah satu bukti penjajahan Israel terhadap rakyat Amerika adalah rakyat Amerika harus merelakan pajak jutaan miliar dolarnya untuk Israel, seperti dalam catatan taklimat CRS, yaitu kebijakan AS memberikan perlakuan istimewa terhadap Israel, seperti pembebasan utang Israel, penghapusan beacukai perdagangan Israel-AS, bantuan proyek militer, hingga bantuan tahunan yang bernilai miliaran dolar AS.Cengkeraman kaum Yahudi yang terstruktur dan sangat kuat secara politik dan ekonomi ini membuat Israel selalu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak di AS. mulai para profesor terhormat, banker investasi, jurnalis, penasihat politik, organisasi-organisasi besar di AS, militer, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Petras tidak berhenti pada eksplorasi tentang kekuatan dan pengaruh zionis di Amerika lewat diplomasi-diplomasi monumental dan kemunafikan Yahudi pro-Israel yang menjadikan Amerika mendukung Israel hingga tidak mempedulikan pelanggaran-pelanggaran HAM Israel di Timur Tengah. Dia juga mengungkap pelanggaran spionase yang dilakukan Israel terhadap Amerika, yang menjadikan Israel mengendalikan Amerika, bahkan membentuk citra negatif Amerika sebagai negara teroris yang dibenci umat se-dunia. Kasus invasi ke Irak, rekayasa kartun Denmark, hingga isu-isu ancaman nuklir Iran adalah rentetan dari hasil pendektean Israel terhadap Amerika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Di akhir bab, secara intelektual Petras mengulas tentang debat politik yang sedang berlangsung tentang pentingnya pihak lobi pro-Israel dalam membentuk kebijakan imperealis AS. Secara khusus ia menampilkan satu per satu usaha penolakan Noam Chomsky untuk memperkecil peran pihak lobi dalam kebijakan AS. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Menurut Petras, Amerika harus merekonstitusi sebuah republik demokrasi baru, dengan jalan membebaskan diri dari jeratan lobi Yahudi pro-Israel, memberikan serangan ideologis terhadap zionis, dan menyatukan kesadaran publik rakyat Amerika dan dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Moh Yasin&lt;/strong&gt;, pustakawan, tinggal di Ciputat, alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-3786987358112100588?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/3786987358112100588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=3786987358112100588' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/3786987358112100588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/3786987358112100588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/fakta-diplomasi-munafik-yahudi-as.html' title='Fakta Diplomasi Munafik Yahudi-AS'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R8FIsbvysRI/AAAAAAAAAQY/JWZIy3LtgWE/s72-c/usa+yahudi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-2946881139303328976</id><published>2008-02-11T04:34:00.000-08:00</published><updated>2008-04-20T22:23:25.498-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Mencari Tuhan Lewat Nalar</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oleh: &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;...............................................................................&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7BBYLvysHI/AAAAAAAAAPE/YEsaR3OaLcs/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165700656319869042" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 86px; height: 117px;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7BBYLvysHI/AAAAAAAAAPE/YEsaR3OaLcs/s400/images.jpg" border="0" height="98" width="79" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Menalar Tuhan&lt;br /&gt;Penulis : Franz Magnis Suseno&lt;br /&gt;Penerbit : Kanisius, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2006&lt;br /&gt;Tebal : 245 halaman&lt;br /&gt;Harga : 42. 000, 00 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;................................................................................&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sejarah keberketuhanan manusia pada saat yang bersamaan melangkah menuju pada satu titik, yaitu pembebasan masalah ketuhanan dari mitologi. Sejak pertama kelahirannya di Yunani, filsafat melangkah dengan upaya pembebasan manusia dari mitologi dengan menentang keyakinan tradisional para leluhurnya, sementara di belahan dunia Timur filsafat India mulai mempertanyakan tentang dasar segala sesuatu, Budha Gautama menghapuskan kasta-kasta sosial di India dan di dunia Islam para Nabi mengawali penghancuran berhala.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berawal dari pembebasan ketuhanan dari mitologi, perbincangan masalah ketuhanan mengarah ke persoalan metafisika, manusia mulai mengembangkan pemikiran kritisnya dengan memasukkan masalah ketuhanan ke dalam masalah metafisika khusus atas dasar suatu telaah ontologis tertentu, Tuhan selanjutnya menjadi obyek kajian keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Filsafat ketuhanan kemudian menjadi bagian penting dalam diskursus filsafat, paling tidak manusia punya dua kegelisahan pertama, mereka tidak mau lagi meyakini kebertuhananya hanya atas dasar warisan keyakinan atau tradisi leluhurnya kedua, manusia harus bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhannya secara rasional.&lt;br /&gt;Menalar Tuhan atau menggapai pengetahuan tentang Tuhan lewat nalar adalah hasrat tertinggi manusia (terutama para filosof dan teolog) dan mereka memiliki satu obsesi yaitu nalar diharuskan dapat mengikuti keimanan dan keyakinan hati, apa yang diyakini harus didasarkan pada tidak adanya pertentangan dengan nalar, sehingga keimanan manusia dapat melibatkan keseluruhan dan menjadikan akal budi juga beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan inilah yang mendasari Franz Magnez Suseno untuk menulis buku Menalar Tuhan. Secara tegas Romo Franz menjelaskan bahwa buku ini dipersembahkan untuk mereka yang percaya kepada Tuhan dan yang ingin menjawab pertanyaan apakah masih masuk akal percaya kepada Tuhan? Serta bagi mereka yang tidak lagi percaya pada Tuhan tetapi tetap dalam garis kejujuran intelektual dan masih ingin mendalami pertanyaan tentang dasar-dasar rasionalitas kepercayaan akan Tuhan (hal. 13).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melalui telaah historis filosofis, Franz Magnis ingin menunjukkan dasar-dasar rasionalitas akan bukti adanya Tuhan yaitu diawali dengan pemaparan mengenai untuk apa dan bagaimana Tuhan bisa di nalar, membicarakan tentang tiga jalan menuju Tuhan melalui argumen ontologis, kosmologis dan teleologis serta jalan lain menuju Tuhan dengan bertolak pada manusia seperti hati nurani, kebebasan, pencarian makna terakhir dam moralitas manusia sendiri. Kemudian pembahas diteruskan pada pembicaraan secara kritis tentang tantangan terbesar bagi penalaran terhadap Tuhan yaitu pemikiran para filosof ateis dan paham filsafat agnostisisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pemaparan Franz Magnis mengenai argumen jalan menuju Tuhan melalui tiga jalan ontologis, kosmologis dan teleologis bukanlah hal baru melainkan argumen klasik. Namun, yang menarik dari analisis Frans magniz tentang dasar-dasar rasionalitas Tuhan adalah keimanan manusia kepada Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, melalui dua jalan yaitu secara teologis dan filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teologis pembuktian tuhan dibuktikan lewat wahyu karena wahyu sebagai sumber kebenaran suatu agama, sementara secara filosofis menunjukkan kebenaran keimanan pada Tuhan lewat penalaran, yaitu, nalar digunakan untuk memeriksa suatu keyakinan melalui beberapa sudut seperti dari sudut konsistensi logis, sudut pengalaman batin, pengetahuan tentang alam dan masyarakat dan seterusnya dengan membatasi diri pada satu pertanyaan mendasar bahwa bagaimana kepercayaan bahwa ada Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri kehadiran buku Menalar Tuhan ini menjadi sangat menarik sekaligus bisa menjadi alat untuk menjawab tantangan kaum agamawan untuk membuktikan secara rasional akan keyakinan kebertuhanannya. Hal ini mengingat perkembangan sejarah pemikiran manusia dan filsafat yang tidak menjadikan Tuhan sebagai obyek pemikiran, sejak Abad ke-20 sejarah pemikiran manusia mengalami pergeseran dari teosentris ke antroposentris, manusia lebih suka memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, masyarakat dan budayanya dari pada memikirkan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pemikiran manusia tentang ketuhanan tidaklah berjalan lurus, setidak-tidaknya pasca Hegel filsafat ketuhanan mulai mengalami keterputusan, para filosof seperti Marx, Nietzsche, Feurbach, Freud dan Sartre mengikuti garis ateisme. Para filosof ateis abad ke-19-20 ini mengikuti keyakinan Wittgenstein bahwa kejujuran intelektual menuntut bahwa “tentang apa yang tidak dapat diperkatakan, orang harus diam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat kaum ateis bertolak dari paradigma ilmu alam bahwa rasionalitas bukan lagi spekulasi filosofis dengan tanpa pendekatan empiris, oleh karenanya bagi para filosof ateis pembahasan tentang Tuhan dianggap sebagai bukan obyek ilmu alam dan masalah ketuhanan berada di luar batas-batas wacana rasional. Tidak heran jika di zaman kontemporer banyak ilmuwan muncul justru dari kaum yang tidak beragama, kita tengok saja dari para peraih Nobel selama tiga&lt;br /&gt;dekade terakhir hampir semua dari kalangan kaum tidak beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak semua filosof mengikuti dekrit Wittgenstein tersebut A. N. Whitehead misalnya mampu menawarkan metode yang menarik mengenai filsafat ketuhanan. Bagi Whitehead Meneliti konsep kefilsafatan tentang Tuhan adalah meneliti masalahnya secara organis dan integralis, yaitu melihat segala sesuatu secara tersusun, berproses dan tak terpisahkan dari keseluruhannya. Menurut Whitehead studi tentang ketuhanan atau pemikiran metafisis justru dapat membantu mencapai pengetahuan tentang Tuhan sambil memperbaiki doktrin religiusitas. (Leclerec, 1961).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat buku ini Franz Magnis juga mendeskripsikan pemikiran kaum filosof ateis secara apik sekaligus menganilisisnya dengan penuh kekritisan. Selain itu dia juga membuktikan bahwa tema pengkajian tentang filsafat ketuhanan justru sangat relevan dalam kondisi masyarakat seperti sekarang yang penuh dengan krisis moral, kepercayaan, dan semakin sesak dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-2946881139303328976?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/2946881139303328976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=2946881139303328976' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2946881139303328976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/2946881139303328976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/mencari-tuhan-lewat-nalar.html' title='Mencari Tuhan Lewat Nalar'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7BBYLvysHI/AAAAAAAAAPE/YEsaR3OaLcs/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8569198955447114750</id><published>2008-02-11T04:23:00.000-08:00</published><updated>2008-04-20T22:25:21.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Mengubah Impian Menjadi Nyata</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Resensi Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Oleh: Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;..............................................................................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7BAE7vysGI/AAAAAAAAAO8/3YPD46BYzFc/s1600-h/viewimage.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165699226095759458" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7BAE7vysGI/AAAAAAAAAO8/3YPD46BYzFc/s400/viewimage.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Judul Buku : Make Your Dreams Come true!&lt;br /&gt;Judul Asli : What Do You Really Want?:How to Set a Goal and Go for It!&lt;br /&gt;Penulis : Beverly K. Bachel&lt;br /&gt;Penerjemah : Rosalinda&lt;br /&gt;Penerbit : Kaifa, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, April 2005&lt;br /&gt;Tebal : 200 halaman &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;...............................................................................................&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, selalu merasa senang tatkala berkhayal dan mengimpikan hal-hal luar biasa tentang dirinya, sambil berandai-andai. Seandainya saya jadi…, saya ingin jadi…, aku memimpikan jadi…dan seterusnya, bahkan dengan nada bergurau!. Ironisnya, khayalan dan impian seseorang sering benar-benar hanya menjadi khayalan dan impian belaka, tidak ada keinginan untuk mewujudkan khayalan dan impian menjadi kenyataan. Seakan orang tidak menyadari bahwa impian dan khayalan sebenarnya bisa diwujudkan. Tentunya dengan syarat, strategi dan langkah-langkah tertentu!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Jika Paul Levesque dan Art Mc. Neil lewat bukunya yang berjudul Metode Mewujudkan Mimpi: 5 Keterampilan Utama Untuk Mewujudkan Cita-Cita (terj. Indonesia) menawarkan lima syarat untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Yaitu melalui aspirasi, motivasi, proyeksi, sikap inklusif dan aplikasi. Maka, Beverly K. Bachel, lewat buku ini ingin menawarkan metode mewujudkan mimpi secara lebih ringkas, spesifik dan realistik. Menurut Beverly K. Bachel impian, khayalan dan cita-cita setiap orang dapat diwujudkan cukup dengan satu syarat saja yaitu melalui penetapan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman, pengamatan dan perenungannya, Bachel meyakini melalui penetapan tujuan seseorang bisa mewujudkan impiannya dan menjadi sang peraih impiannya. Karena tujuan seseorang adalah "proses" untuk mencapai impian-impiannya, selain itu tujuan menjadi satu-satunya batu loncatan yang paling representatif dalam menggapai impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang memiliki impian, khayalan dan cita-cita, namun tidak banyak orang yang memiliki tujuan, bahkan banyak orang yang tidak bisa membuat tujuan hidupnya. Nah, lewat buku ini Beverly K. Bachel tidak hanya ingin mengantarkan anda menjelajahi dan mewujudkan impian-impian anda, namun juga memberikan penjelasan mengenai kenapa, apa dan bagaimana cara menetapkan tujuan dalam hidup?. Selain itu juga menjelaskan akan pentingnya suatu tujuan dan bagaimana menjadikan tujuan bagian dari kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meraih Impian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi sang "peraih" impian menurut Beverly K. Bachel setiap orang harus bisa menentukan atau menetapkan tujuannya. Dalam buku Make Your Dreams Come True! ini, Bachel menuliskan beberapa argumen mengenai pentingnya menetapkan tujuan. Pertama, jika seseorang bisa dan tahu cara menetapkan tujuannya berarti ia sedang membawa serangkaian aksi tahap demi tahap menuju impiannya. Kedua, bisa menetapkan tujuan bahkan mewujudkannya akan meningkatkan rasa percaya diri dalam mewujudkan impian. Ketiga dengan menetapkan tujuan akan mengubah impian diri yang impossible menjadi possible. Menetapkan tujuan adalah sesuatu yang bisa dibuat dan dipelajari sendiri oleh setiap orang.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui argumen pentingnya tujuan, untuk mewujudkan mimpi langkah selanjutnya adalah membuat "buku impian" yaitu mencatat semua impian, khayalan dan cita-cita diri. Karena salah satu kunci terpenting dalam membuat tujuan adalah melalui kata-kata tertulis. Menurut pengamatan Bachel pada para penduduk Amrik, kata-kata tertulis menjadi metode yang paling ampuh dalam membantu menetapkan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ciri dan syarat tujuan harus mengandung "tiga P", yaitu Positif, personal dan possible. Positif berarti setiap tujuan harus sesuatu yang positif, sehingga akan membuat nyaman diri dalam menjalankan tujuan. Personal, setiap tujuan harus representatif dengan nilai-nilai yang diyakini dan benar-benar hasil refleksi diri atas impian yang ingin diraih. Sehingga akan tumbuh motivasi yang tinggi untuk meraihnya. Tujuan juga harus possible (memungkinkan), yaitu sesuatu yang benar-benar bisa diraih dan dikontrol. Kemudian Bachel membagi tujuan menjadi dua yaitu tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka pendek menjadi penopang dan penunjang tujuan jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan juga harus bersifat SMART, yaitu savvy, measurable, active, reachable, timed. Tujuan yang Savvy, artinya mudah dimengerti dan dipahami, tujuan yang measurable, artinya adalah tujuan dapat didefinisikan dan bisa diukur hasil akhirnya. Tujuan active, artinya tujuan harus menjelaskan tindakan spesifik apa yang mesti dilakukan. Tujuan reachable, artinya tujuan harus memiliki waktu rentang yang berada dalam jangkauan. Tujuan timed, tujuan harus memiliki waktu atau deadline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai cara mewujudkan tujuan ada beraneka ragam, dan tidak ada cara yang paling ampuh dalam menggapai tujuan. Karena cara yang terbukti berhasil diterapkan seseorang tidak menjamin akan berhasil ketika diterapkan oleh orang lain. Maka Bachel mengajukan cara yang paling mudah dan sederhana untuk membuat proses penentuan tujuan, yaitu dengan menetapkan proses secara step by step.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Step by step digambarkan dengan sebuah tangga yang memiliki beberapa anak tangga, yang disebutnya dengan "tangga tujuan". yaitu tangga yang memiliki anak tangga yang digunakan untuk melangkah satu persatu menuju pada impian yang diinginkan. Dan setiap anak tangga diisi dengan beberapa tujuan yang mengarah pada impian, dengan deadline waktu tertentu yang ditetapkan. Setelah menentukan tangga tujuan maka seseorang dapat segera memulai melangkah satu persatu dari anak tangga tujuan menuju impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan seseorang menuju impian melalui tangga tujuan tidak selamanya berjalan mulus, rintangan hambatan dan rasa bosan pasti selalu muncul. Untuk mengatasi hambatan ini Bachel menawarkan beberapa hal, di antaranya kontrol diri, senantiasa menggali inspirasi diri, mengelilingi diri dengan para motivator, belajar dari panutan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang dikemas dengan bahasa yang mudah dicerna dan diselingi dengan karikatur-karikatur, lembar isian "pikiran dan tulisan" dan cerita-cerita inspiratif dari para peraih impian ini, terasa lebih nyaman dan mudah untuk dibaca dan dipahami bagi semua kalangan. Dan beberapa sisipan kutipan kata-kata bijak dari orang-orang besar seperti Einstein, Michael Jordan, Walt Disney semakin menambah menarik buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka baca buku ini dan mulailah menentukan tujuan hidupmu. Hiasilah hidupmu kepuasan dan kebahagiaan dengan mewujudkan impian-impianmu. "Jangan pernah berkata "tidak" dalam perjalananmu menggapai impian. Percaya diri, agar kamu bisa mendapatkan apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidupmu", (kutipan dari catatan Ann Bancroft, wanita sang penjelajah kutub).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8569198955447114750?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8569198955447114750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8569198955447114750' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8569198955447114750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8569198955447114750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/mengubah-impian-menjadi-nyata.html' title='Mengubah Impian Menjadi Nyata'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7BAE7vysGI/AAAAAAAAAO8/3YPD46BYzFc/s72-c/viewimage.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8869924714881277478</id><published>2008-02-11T04:10:00.000-08:00</published><updated>2008-04-20T22:27:10.374-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Upaya Mensejajarkan Ilmu dan Agama di PTAI</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oleh: &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt; *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A94LvysFI/AAAAAAAAAO0/CM3RJWVjyaE/s1600-h/viewimage.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165696808029171794" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 98px; height: 139px;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A94LvysFI/AAAAAAAAAO0/CM3RJWVjyaE/s400/viewimage.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Judul Buku : Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi&lt;br /&gt;Editor : Zainal Abidin Bagir dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2005&lt;br /&gt;Tebal : 270 halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;KIRANYA sudah sejak dua Abad silam perkembangan dunia sains berikut turunannya tekhnologi cenderung berwatak ateistik-materialistik, hasilnya pun kerap kali mengancam eksistensi agama. Dengan berlandaskan pada metafisika yang bertentangan dengan agama, teori-teori ilmiah sains cenderung menyudutkan agama, seperti teori penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, hubungan alam dengan Tuhan dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Fenomena ini mencapai titik puncaknya tatkala Charles Darwin mempopulerkan teori evolusi, lewat karyanya "The Origin of Species". Sebuah penemuan baru yang banyak mendapatkan cekaman dan penuh kontroversial, namun mampu meruntuhkan doktrin dan keyakinan kuat kaum beragama mengenai misteri kemunculan manusia. Gagasan ini kemudian diikuti oleh pandangan para Darwinisme mengenai fenomena alam, yang keberadaannya dianggap hanya faktor kebetulan belaka, dan tidak ada agen atau kreator yang menciptakannya (termasuk Tuhan).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Keradikalan sains modern dengan coraknya yang ateistik-materialistik itu dianggap oleh kaum agamawan sebagai sesuatu yang membahayakan. Dari kaum agamawan, paling tidak ada tiga corak dalam merespon atau menanggapi keradikalan paradigma sains modern yang ateistik-materialistik ini. Pertama, kelompok agamawan yang berusaha mempertahankan doktrin dan kepercayaannya dengan tidak memperdulikan penemuan sains modern (mereka mengisolasi diri dari dunia sains modern), kedua, meninggalkan tradisi dan mencoba mencari titik temunya dengan sains modern, dan ketiga berusaha merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah dan kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Selanjutnya isu tentang perdebatan atau perjumpaan antara sains dan agama adalah turunan dari permasalahan ini, dan menjadi genre tersendiri di dunia keilmuan. Di tangan para teolog/agamawan dari Barat, perdebatan antara sains dan agama menghasilkan gagasan "sains teistik", yaitu: sains yang sensitive terhadap keyakinan dan ajaran agama. Sementara dalam konteks Kristen kontemporer, Ian Barbour mendasarkan pendekatan “integrasi” (integrasi teologis) dalam upayanya mempertemukan sains dan agama dengan empat tipologinya yaitu; konflik, independensi, dialog dan integrasi. Juga John F. Haught yang menggunakan pendekatan konflik, kontras, kontak, dan konfirmasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Sementara dalam Islam hubungan antara sains dan agama telah menjadi topik menarik selama lima puluh tahun terakhir ini. Gagasan mengenai "sains Islami" atau "Islamisasi sains" merupakan reaksi atas sains modern yang ateistik-materialistik tersebut. "Sains Islami" ini pada mulanya dipopulerkan oleh para pemikir muslim seperti Sayyed Hossein Nasr, Ziauddun Sardar, Ismail al-Faruqi, al-Attas dan akhir-akhir ini Mehdi Golshani. Di mana pemikiran mereka kerap kali dilabeli dengan “islamisasi ilmu”. Meskipun gagasan mereka berebeda, semuanya bergerak pada lapangan dan tingkat yang sama yaitu tingkat epistemologi dan sedikit menyentuh aspek metafisika.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Di tengah terjadinya tarik ulur antara kelompok yang mengusung “islamisasi lmu” dengan kelompok yang membiarkan ilmu pengetahuan untuk memenuhi kodratnya sendiri. Di Indonesia perbincangan mengenai pertemuan antara sains dan agama kembali mencuat, seiring dengan terjadinya metamorfosis atau konversi PTAI menjadi UIN, yang diikuti dengan berbagai perombakan struktural menyangkut penambahan ranah keilmuan baru yang semula dianggap tidak Islami dan sekular, yaitu membuka prodi-prodi baru yang selama ini tidak menjadi bagian struktur-struktur baku ilmu-ilmu keislaman seperti ekonomi, sosiologi, politik, psikologi, sains tekh, MIPA dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Ringkasnya, dalam konteks Indonesia, upaya memberikan suatu warna keagamaan dalam pendidikan perguruan tinggi, saat ini telah menjadi perhatian perguruan-perguruan tinggi yang berbasiskan keagamaan. Dan buku ini bermaksud mengulas masalah ini dengan menspesifikasikan pada permasalahan mengenai konversi atau transformasi PTAI menjadi UIN sebagai konteks terdekatnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Pada bab pertama, buku ini mengulas tentang latar belakang isu “integrasi ilmu dan agama di perguruan tinggi”, yaitu menjawab mengenai persoalan mengapa ilmu dan agama perlu dipertemukan, terkhusus dalam konteks perguruan tinggi. Dua bab berikutnya mengungkap tentang bagaimana cara pandang terhadap ilmu dan agama dalam perspektif kontemporer, yaitu melihat cara pandang ilmu dan agama melalui gagasan pergeseran paradigmanya Thomas Kuhn dan gagasan perubahan paradigma dalam teologinya Hans Kung serta melihat ilmu dan agama lewat kaca mata perspektif kritis Jurgen Habermas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Dan pada bab terakhir membahas tentang landasan teoritis dan dasar konseptual mengenai transformasi PTAI/IAIN menjadi UIN serta model pengembangan UIN di masa mendatang. Tema ini ditulis oleh ketiga Rektor UIN di Indonesia yaitu: Amin Abdullah (UIN Yogyakarta), Azyumardi Azra (UIN Jakarta) dan Imam Suprayogo (UIN Malang).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Meski lebih menitik beratkan pada permasalahan tentang konversi PTAI menuju UIN dengan melihat dari tingkat ontologis, epistemologis dan aksiloginya, perbincangan mengenai integrasi ilmu dan agama dari berbagai sudut pandang baik yang bercorak filosofis maupun wacana yang diusung dari sudut pandang berbagai agama dan multi disiplin keilmuan menjadikan perbincangan mengenai sans dan agama dalam kontek konversi PTAI menuju UIN dalam buku ini menjadi semakin kaya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Penggunaan istilah “integrasi ilmu dan agama” yang secara aksinya (di dunia pendidikan) dimanifestasikan dalam konversi PTAI menuju UIN, dengan meletakkan al-Qur'an dan hadis sebagai sember utama. Bagi penulis, bukanlah istilah yang tepat, dalam bentuk ini, dan upaya mempertemukan ilmu dan agama dalam bentuk ini hanya sebatas upaya mensejajarkan ilmu dan agama saja. Karena landasan teoritis dari wacana konversi PTAI menuju UIN hanya mencoba memberikan porsi yang sama antara sains atau ilmu dengan agama dengan berlandaskan nilai-nilai universalitas Islam, yaitu bersumber pada al-Qur’an dan hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga mirip dengan wacana yang diusung oleh Mehdi Golshani dalam upayanya mensejajarkan sains Islam dengan sains teistik yang didasarkan pada al-Qur’an dan hadis. Dan hal ini jelas berbeda dengan integrasi, karena mengintegrasikan ilmu dan agama berarti membangun kemitraan yang lebih sistematis dan ekstensif antara ilmu dan agama dan mencoba mencari titik temu diantara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8869924714881277478?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8869924714881277478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8869924714881277478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8869924714881277478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8869924714881277478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/upaya-mensejajarkan-ilmu-dan-agama-di.html' title='Upaya Mensejajarkan Ilmu dan Agama di PTAI'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A94LvysFI/AAAAAAAAAO0/CM3RJWVjyaE/s72-c/viewimage.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8555420179554856773</id><published>2008-02-11T04:02:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T04:08:16.776-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Muslihat Pendebar Jantung</title><content type='html'>Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Oleh: Moh. Yasin*) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;....................................................................................................................................&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A6E7vysEI/AAAAAAAAAOs/7TzHVeTbOVY/s1600-h/CA0DTQZY.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165692629025992770" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A6E7vysEI/AAAAAAAAAOs/7TzHVeTbOVY/s400/CA0DTQZY.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Judul Buku : Deception Point (Titik Muslihat)&lt;br /&gt;Judul Asli : Deception Point&lt;br /&gt;Penulis : Dan Brown&lt;br /&gt;Penerjemah : Isma B. Koesalamwardi dan Hendry M Tanaja&lt;br /&gt;Penerbit : Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2006&lt;br /&gt;Tebal : 631 halaman &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;......................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Pada&lt;/span&gt; pertengahan awal dekade abad ke-21, Dan Brown adalah novelis Amerika yang mendapat banyak pujian dari publik dunia. Berkat keahliannya menyajikan thriller yang mengkombinasikan ilmu pengetahuan dan sejarah dalam Malaikat dan Iblis, kecerdikannya memunculkan kode-kode yang begitu sulit dipecahkan dalam Digital Fortress serta kejeniusannya meramu seni dan teologi dalam karyanya The Da Vinci Code.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama dan Brown menjadi semakin terkenal dan menyita perhatian setiap pasang mata di seluruh dunia lantaran karyanya The Da Vinci Code yang dinilai oleh berbagai pihak sebagai novel yang kontroversial. Tak heran jika pada tahun 2005 The Da Vinci Code dinobatkan sebagai buku terlaris di dunia, terjual sebanyak 36 juta eksemplar dan telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa termasuk Indonesia, tahun 2006 The Da Vinci Code telah difilmkan dengan disutradarai oleh Ron Howard, dan di bintangi oleh artis terkenal Tom Hanks. Di buka dengan lembaran pengakuan Dan Brown bahwa "Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia di dalam The D Vinci Code adalah akurat," karya keempat Brown tersebut diangap bertentangan dan melahirkan banyak perdebatan di kalangan akademisi, ahli sejarah dan teolog bahkan melahirkan banyak buku yang ditulis untuk menentangnya.&lt;br /&gt;Dan Brawn, semula mengawali karir hidupnya dengan menjadi guru bahasa Inggris, sebelum kemudian memilih profesi menjadi seorang penulis. Dia lahir di New Hapshire Amerika pada tanggal 22 Februari 1964 dan lulusan dari Universitas Amherst dan Akademi Philips Exeter. Rentan kurun waktu 1997 hingga 2003 Dan Brown berhasil melahirkan empat karya; Digital Fortress (1997), Angels and Demons (2000), Deception Point (2001) dan The Da Vinci Code (2003).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak jauh berbeda dengan karya-karya Brown lainnya, Brown membuka lembaran novel Deception Point ini dengan pernyataan bukti ilmiah bahwa “semua data dan tekhnologi yang digambarkan dalam novel ini adalah nyata”. Alur ceritanya pun tidak berbeda, dituturkan dengan alur cerita yang berdampingan dengan menyertakan tokoh-tokoh yang berbeda dan kemudian berjalan bersama-sama yang kemudian terpecahkan pada akhir cerita.&lt;br /&gt;Berdasarkan dari hasil riset ilmiah mengenai tekhnologi ruang angkasa Amerika Serikat (NASA), lewat Deception Point Brown ingin menggabungkan sebuah thriller politik dengan penyajian detail ilmiah yang apik, diramu dan dikemas dengan dunia perpolitikan khas Amerika dan disajikan dengan alur cerita yang cepat. Hasilnya sungguh luar biasa, jadilah Deception Point sebuah fiksi yang mankjubkan dan mendebarkan, di setiap jengkal peristiwa selalu memunculkan sebuah kejutan dan muslihat yang ditemukan akan membuat jantung berdebar, sehingga akan membuat setiap pembaca bertanya-tanya bagaimana keberlanjutan di setiap rangkaian ceritanya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan Brown membuka lembaran thriller politik Deception Point-nya dengan aksi kriminalitas atau upaya pembunuhan terhadap seorang ahli geologi Kanada, Charles Brophy, seorang peneliti di pulau Ellesmere, yang sedang melakukan pengujian es secara geologis di Milne Ice Shelf dan secara tidak sengaja ia menemukan apa yang tampak seperti sebuah meteorit besar di dalam es. Charles Borphy mengirim data lewat radionya namun secara kebetulan NASA, sebuah lembaga yang menjadi simbol kebanggaan Amerika, menangkap transmisinya.&lt;br /&gt;Pada saat yang sama di lorong kekuasaan gedung putih, di tengah gencarnya kampanye untuk pemilihan presiden Amerika Serikat, NASA dan Presiden Amerika (Zachary Herney) eksistensinya sedang terancam. Lawan Presiden Herney, Senator Sendgewick Sexton menjadikan NASA sebagai sasaran empuk untuk menjatuhkan nama presiden Herney pada publik sekaligus sebagai kampanye politik untuk memenangkan perolehan suara.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Senator Sexton mengkritik tajam mengenai pendanaan NASA, dia menganggap NASA sebagai lembaga ketidakefisiensian dan penghamburan uang negara, sebab serangkaian misi NASA yang selalu gagal seperti kegagalan peluncuran satelit, tidak berfungsinya komputer, konfrensi pers NASA yang muram dan proyek EOS (Earth Obsevation System) yaitu proyek peluncuran beberapa satelit untuk melihat bumi dari luar angkasa yang tujuannya memberikan data akurat tentang berbagai permasalahan bumi. Apalagi banyak indikasi yang menunjukkan adanya penyelewangan pendanaan yang begitu besar.&lt;br /&gt;NASA lembaga ruang angkasa Amerika yang kebetulan sedang mengalami kesulitan karena serangan bertubi-tubi dari senator sexton, secara kebetulan menemukan sebauh meteorit baru yang terkubur jauh di dalam lapisan es Arktika, yang sebetulnya penemuan Charles Brophy, penemuan meteorit itu diumumkan sebagai sebuah kemenangan NASA. Yaitu kemenangan atas kampanye negatif Senator Sexton yang menganggap NASA sebagai lembaga yang menghamburkan uang negara. Kemenangan yang seklaigus berimplikasi besar bagi eksistensi NASA kemudian dan pemilihan presiden mendatang. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Untuk memverifikasi kebenaran penemuan tersebut, Presiden Herney memanggil analis Intelijen Gedung Putih Rachel Sexton (anak kandung Senator Sexton) ke sebuah tempat yang sangat rahasia di Amerika yaitu NRO (National Reconnaissance Office) kemudian Rachel diinformasikan mengenai meteorit terbaru NASA yang di duga sebagai makhluk luar angkasa kemudian di utus oleh presiden ke Milne Ice Shelf dengan ditemani oleh Norah dan termasuk akademisi Michael Tolland untuk menyelidiki mengenai kebenaran metorit tersebut.&lt;br /&gt;Bersama Michael Tolland, Rachel menyelidiki hasil penemuan meteorit baru NASA, tanpa mereka duga mereka menemukan sebuah bukti penipuan ilmiah dari berbagai data yang dikumpulkan. Namun, sebelum Rachel Sexton membongkar penipuan ilmiah tersebut ia di serang oleh sekelompok pembunuh mematikan yang berupaya menyembunyikan kebenaran. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Rachel dan Tolland berjuang keras untuk menyelamatkan diri, dengan menyeberangi lingkungan yang begitu terpencil dan berbahaya. Mereka tercengang sekaligus ketakutan, hanya satu harapan mereka, menemukan tokoh di belakang aksi yang mengancam kehidupannya. Di benak mereka semuanya menjadi mungkin untuk dicurigai sebagai aktor yang mengancam kehidupannya, bisa NASA, Prsiden Herney, atau bahkan ayahnya sendiri Senator Sexton.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penemuan aktor di balik aksi penipuan dan pembunuhan adalah muslihat yang paling mencengangkan sekaligus mengancam dan mendorong dunia pada pertentangan yang tidak terbayangkan. Muslihat yang pengungkapan kebenarannya mengancam keberlangsungan kehidupan diri mereka, Presiden Herney dan teman-teman di sekitarnya. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8555420179554856773?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8555420179554856773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8555420179554856773' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8555420179554856773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8555420179554856773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/muslihat-pendebar-jantung.html' title='Muslihat Pendebar Jantung'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A6E7vysEI/AAAAAAAAAOs/7TzHVeTbOVY/s72-c/CA0DTQZY.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8298995908245537721</id><published>2008-02-11T03:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T04:02:49.615-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>“Si Laba-Laba” Segudang Dongeng</title><content type='html'>&lt;span style="color:#003300;"&gt;Resensi Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="color:#000066;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;...................................................................................................................&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A5MrvysDI/AAAAAAAAAOk/N3oUkCfYNKU/s1600-h/sirkus.jpg"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165691662658351154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A5MrvysDI/AAAAAAAAAOk/N3oUkCfYNKU/s400/sirkus.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Judul Buku : Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng&lt;br /&gt;Judul Asli : The Ringmaster’s Daughter&lt;br /&gt;Penulis : Jostein Gaarder&lt;br /&gt;Penerjemah : A. Rahartati Bambang&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Februari 2006&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;......................................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Masih ingat Hans Christian Andersen (1805-1875), sang raja dongeng dari Denmark Abad 19-an, lebih dari 150 dongeng mengalir dari mulutnya dan tertulis dari pena-nya, bahkan telah diterjemahkan ke dalam 80 bahasa. Kisah-kisah Andersen seperti The Ugly Duckling (1843), The Emperor's New Clothes (1837), The Snow Queen (1844), The Red Shoes (1845), dan The Little Mermaid (1837), membawanya menjadi salah satu figur besar dalam kesusastraan dunia dan menjadi sumber inspirasi para penulis, sastrawan, pelukis dan pekerja film.&lt;br /&gt;Sepeninggal Andersen Denmark tidak lagi melahirkan pendongeng. Namun, akhir Abad ke-20 hingga awal millennium ke-3 tepat di sebelah utara Denmark yaitu di negara Norwegia kembali berlimpah dongeng-dongeng fantasi yang menakjubkan, tepatnya di Skandinavia. Adalah lewat tangan Jostein Gaarder, novelis sekaligus pendongeng handal, tersajikan cerita-cerita menggiurkan bernuansa perpaduan antara fantasi dan realitas dengan dibumbui berbagai pemikiran filsafat.&lt;br /&gt;Tidak bermaksud membandingkan atau bahkan menyamakan Andersen dengan Garrder. Yang Pasti, keduanya sama-sama seorang pendongeng handal di era-nya masing-masing dengan karakternya yang berbeda. Hampir seluruh cerita Andersen ditujukan untuk anak-anak, sementara Gaarder mendongeng untuk kalangan remaja, sebagian juga untuk orang dewasa.&lt;br /&gt;Ciri khas karya-karya Jostein Gaarder adalah ‘selalu menyajikan cerita dalam sebuah cerita’ dengan memunculkan tokoh yang misterius atas liku-liku perjalanan kehidupannya. Singkatnya, Gaarder selalu membuat autobiografi kehidupan tokoh yang diciptakannya. Beberapa karya Garrder seperti The Solitaire Mystery, dengan tokoh Hans Thomas yang mengungkap filsafat lewat permainan kartu, kemudian Sophie's World yang berkisah tentang Sophie Amundsend, gadis umur 14 tahun yang dipaksa berfilsafat oleh Alberto Knox lewat kiriman surat-surat misteriusnya, serta Vita Brevis, Through a Glass, Darkly dan The Orange Girl adalah deretan novel Gaarder yang diciptakan dengan kaca mata yang sama, yakni menyajikan autobiografi dan misteri kehidupan tokoh ciptaannya.&lt;br /&gt;Tidak terkecuali novel yang semula berjudul The Ringmaster’s Daughter ini, lewat buku ini Gaarder ingin bercerita tentang autobiografi Petter, lelaki yang tinggal di Oslo pada tahun 1950-1990 dengan segudang dongeng dan imajinasi yang berlimpah.&lt;br /&gt;Petter adalah lelaki yang memilih hidup tidak berkawan dan menyendiri asyik bersama dunia yang diciptakan oleh keliaran imajinasinya. Setelah ibunya meninggal Petter merasa kesepian dan berpikir banyak hal tentang gadis, Petter sangat senang mencari berbagai perempuan sekedar untuk berkencan dan ditiduri tanpa ada rasa sedikit pun untuk menikah.&lt;br /&gt;Di mata teman-temannya Petter adalah sosok lelaki yang cerdas tapi membenci popularitas, saat masa sekolah Petter selalu menjual pemikirannya dengan mengerjakan PR teman-teman sekelasnya cukup dengan imbalan coklat atau es krim. Kebiasaan menjual ide-ide brilian ini membuat Petter dijuluki oleh teman-temannya sebagai ‘si laba-laba’.&lt;br /&gt;Kebisaan Petter berlanjut hingga dewasa, demi mencukupi kehidupannya Petter membuka bisnis pribadinya yang dinamai Writer’s Aid, sebuah usaha yang didesain untuk menjual imajinasi, naskah-naskah penting dan ide-ide luar biasa untuk menolong para penulis yang sedang mengalami kebuntuan.&lt;br /&gt;Petter menawarkan dagangannya dalam bentuk kerangka lengkap dari sebuah novel, synopsis film, puisi yang belum tuntas, serta cerpen yang belum selesai. Usaha Writer’s Aid Petter menjadikan banyak penulis menggantungkan hidup padanya.&lt;br /&gt;Usaha Petter berjalan lancar dan membuatnya menjadi kaya raya, Petter kemudian melebarkan usahanya lewat bekerja di sebuah penerbitan, di dunia penerbitan Petter banyak berhubungan dengan para penulis besar internasional. Tak pelak, ‘si laba-laba’ pun semakin melebarkan usaha Writer’s Aid-nya ditingkat internasional dan Petter semakin kaya raya.&lt;br /&gt;Usaha Writer’s Aid Petter memiliki tiga pelanggan, pertama, para penulis yang telah menerbitkan karya-karyanya tetapi setelah itu tak pernah menghasilkan sesuatu apa pun lagi, mereka mengalami kebuntuan dan frustasi. Kedua, penulis yang mampu menulis dengan baik dan memolesnya dengan gaya penulisan yang indah, tetapi sedang frustasi karena tidak tahu harus menulis apa. Ketiga, mereka yang belum pernah menerbitkan apa pun tetapi meyakini bahwa dirinya di takdirkan menjadi penulis, mereka tidak frustasi karena selalu melihat prospek ketenaran dan selalu gelisah karena harapan.&lt;br /&gt;Selang beberapa tahun usaha Petter terbongkar, dan Petter tidak bisa lagi hidup tenang karena ancaman dari berbagai penulis besar dunia, nyawa Petter menjadi taruhan atas bisnis Writer’s Aid-nya. ‘Si laba-laba’ telah terjerat dengan tenunan jejaring yang dibuatnya.&lt;br /&gt;Terungkapnya bisnis Petter disebabkan karena kebiasaan masa lalunya yang selalu memberi dongeng-dongeng mempesona pada setiap perempuan yang dikencaninya. Bahkan Petter pernah tak henti-hentinya mendongeng kepada Maria, satu-satunya perempuan yang mampu memikat hati Petter.&lt;br /&gt;Tanpa disadari oleh ‘si laba-laba’, Maria menyimpan seluruh cerita-cerita Petter dalam otaknya dan dalam beberapa tahun kemudian muncul karya-karya yang bersumber dari cerita-cerita yang diberikan oleh Petter kepada Maria. Bahkan cerita-cerita Maria memiliki kesamaan dengan cerita-cerita yang diberikan Petter kepada pelanggannya.&lt;br /&gt;Keseluruhan isi buku ini adalah biografi Petter serta dongeng-dongeng Petter yang begitu fantastis, mulai dari dongeng tentang Panina Manina (cerita tentang putri sirkus), hingga dongeng permainan caturnya.&lt;br /&gt;Meskipun buku ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, tampaknya masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan karya Gaarder, Sophi’s World yang pada tahun 1995 menjadi novel filsafat best-seller internasional. Yang samapai kini telah diterjemahkan ke dalam 53 bahasa dan terjual lebih dari 26 juta eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8298995908245537721?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8298995908245537721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8298995908245537721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8298995908245537721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8298995908245537721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/si-laba-laba-segudang-dongeng.html' title='“Si Laba-Laba” Segudang Dongeng'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A5MrvysDI/AAAAAAAAAOk/N3oUkCfYNKU/s72-c/sirkus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-44103134326033321</id><published>2008-02-11T03:52:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T03:58:51.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Memoirs of Dream Fighters</title><content type='html'>&lt;span style="color:#333300;"&gt;Book Review&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;By. Moh Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;.......................................................................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A4DLvysCI/AAAAAAAAAOc/llP6r1lqr4I/s1600-h/sang+pemimpi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165690399937966114" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 98px; CURSOR: hand; HEIGHT: 128px" height="129" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A4DLvysCI/AAAAAAAAAOc/llP6r1lqr4I/s400/sang+pemimpi.jpg" width="91" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;The title of book : Sang Pemimpi&lt;br /&gt;Writer : Andrea Hirata&lt;br /&gt;Publisher : Bentang, Yogyakarta&lt;br /&gt;Published : The First in 2006&lt;br /&gt;Thick : 289 Pages &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;........................................................................................&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Andrea Hirata who is an idealist and not surrender to appetite of market is one of a few word artist, with his writing-realist style, he always hold on to his learning-curve theory. According to him, a book should certain some quality that are science, spirit, integrity, bravery-desire, exclamation to always has positive attitude and not surrender to all interference.&lt;br /&gt;As a new comer in literature world, actually this man who was graduate from Shaffield Hallam University of England, hasn’t literature back round. However he has great obsession in his life that is making a great literature work like a thetralogy. Inspired from the fact story in his childhood, Andrea began his thetralogy work with a story about Andrea and childrens of Melayu Bangka-Belitung’s life irony memoirs. The result was very amazing, Laskar Pelangi, his first work which finished only as long as three weeks was sold out in public just five weeks after published. Sang Pemimpi that was released in 2006 is the second book of Laskar Pelangi Thetralogy.&lt;br /&gt;If in the Laskar Pelangi novel Andrea told about dedication of his two teachers (Mr. Harfan and Miss Muslimah) and Ikal Struggle with ten poor childrens who studied at Muhammadiyah Elementary school till they graduated from secondary school. Thus Sang Pemimpi is story of Ikal and his two friends’, are Arai, his cousin in law, Jimbron, his friend at school, life struggle at senior high school.&lt;br /&gt;Like the title, all of this book is talking about struggle memoirs of three sons who called them selves as escapist. They believe that without dream and spirit the man like them will die and don’t have hope, only with dream they fell have hope to fighted. Their dreams be come ember light optimism and spirit to facing their some life temptations.&lt;br /&gt;Not different with Laskar Pelangi, Andrea told story of actors escapists depend on treatise of actors’ every day life. Who is Arai.? Who is Jimbron.? Who is Ikal.? Talked with collected of their life mozaik which scattered around that than be firmly united and form of Ikal, Arai and Jimbron.&lt;br /&gt;Arai is wild, creative, responsible child. He called Simpai Keramat, Melayu man’s nick name whose all family died. Jimbron is amazing to horse, not clever and stammer child. But he is tough, patient, always keep friendly, even he never protest to everything was happened to him.&lt;br /&gt;The three of them studied at Senior High school of Belitung (the first state Senior High School in Belitung) as far as 30 km from their village. The three of them left in a bad boarding house, in order to could ate they taken job as diver in golf lake, office boy and the last they taken job as dock worker (kuli ngambat). every day in the middle night at 02.00 A.M. they arrived in limits pier wait fishermen’s boat arrived than they carry on the soulders some kinds of sea fish to the fish market before at 05.00 A.M. a manual labor and putrid, even they must study at school in the early morning although with body that smell fish.&lt;br /&gt;For three years they lived together with hard struggle to fighting the poor they didn’t care wit environment limitedness and full optimism. Only one which be come them always had power and never loosed the power that is they still had dream and hope.&lt;br /&gt;Every life treatises mozaik was told by Andrea it will bring reader fell brought and drifted to every life story that was written a man of letter Melayu of Belitung story style. Andrea’s storys can be reader smiled and than lough when Andrea talked about every naughty and foolishness actor. Reader will moved when read their bitterness life story and will be touched when read about touch story.&lt;br /&gt;More then it, with honest and return to earth talking story, Andrea could introduce how the culture and bitterness of life was tested by citizen of Belitung. Andrea told every even too detail and like a movie, red it feeled we are listening directly from Andrea’s mouth. Such as story when they watch blue movie in movie theatre, act when were punished by Mr. Mustar at front of school, Arai fighting to get Nurmala care, received result of final examination at school, Ikal’s father’s safari shirt, when Jimbron made his girl loved smiled and their life in Jakarta.&lt;br /&gt;Andrea also always tray messages of meaningfull morality and ember light optimism in every sentence was written. One of meaningfull morality messages from this novel is statement in this life not anybody who can know his fate, so that person who doesn’t want to trays and early to claims his fate in include as arrogant people. So dream more and more and hope to get light optimism always to face your future..!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-44103134326033321?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/44103134326033321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=44103134326033321' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/44103134326033321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/44103134326033321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/memoirs-of-dream-fighters.html' title='Memoirs of Dream Fighters'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A4DLvysCI/AAAAAAAAAOc/llP6r1lqr4I/s72-c/sang+pemimpi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-3410046805873237889</id><published>2008-02-11T03:45:00.000-08:00</published><updated>2008-04-20T22:35:46.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Genealogi Intelegensia Muslim dan Politik Indonesia</title><content type='html'>Oleh: &lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A18rvysBI/AAAAAAAAAOU/MbPwzQ_JtOI/s1600-h/intel.jpg"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165688089245560850" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A18rvysBI/AAAAAAAAAOU/MbPwzQ_JtOI/s400/intel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 51);"&gt;Judul Buku : Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad Ke-20&lt;br /&gt;Penulis : Yudi Latif&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2005&lt;br /&gt;Tebal : xx + 740 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sejarah manusia tidaklah berjalan mulus, dalam bentuk jalan lurus yang bisa dimanipulasi oleh superioritas pengetahuan dan kekuasaan. Hal ini sebagaimana terpotret dalam perjalanan sejarah Indonesia, lewat praktek hegemoni-kolonial, mitos zakelijkheid Belanda dan kekuatan Jepang terbukti tidak mampu mengontrol sejarah Indonesia. Juga kediktatoran ORLA dan ORBA yang akhirnya runtuh karena adanya kekuatan perlawanan atau konter-hegemonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Erat kaitannya dengan superioritas pengetahuan dan kekuasaan, gambaran mengenai intelegensia muslim Indonesia mengalami pasang surut, baik secara politis maupun intelektual. Transformasi intelegensia muslim Indonesia yang semula termarjinalkan, dari dunia intelektual, politik dan birokrasi Indonesia menuju posisi sentral, adalah gambaran dari perjalanan panjang intelegensia muslim Indonesia. Rentang waktu awal Abad ke-20 hingga penghujung Abad ke-20, perjalanan intelegensia muslim Indonesia memiliki dua corak relasi, yaitu bersifat sinkronik dan diakronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Buku dari hasil sebuah studi penelitian (disertasi) Yudi Latif yang berjudul Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad Ke-20 ini, bermaksud memahami dan memaparkan kesinambungan dan perubahan-perubahan yang berlangsung dalam gerak perkembangan intelegensia muslim Indonesia. Pemaparan relasi intelegensia muslim Indonesia dengan kuasa, yang bercorak sinkronik dan diakronik adalah fokus dari kajian buku ini. Sementara penggunaan pendekatan dinamis dalam penelitiannya dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman yang obyektif mengenai kesinambungan dan perubahan-perubahan dalam pembentukan genealogi intelegensia muslim dan pembentukan elit politik Indonesia (hal. 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Studi penelitian Yudi Latif ini diawali dengan bertitik tolak dari Abad ke-19, yaitu, memotret konteks kolonial yang di dalamnya kaum intelegensia muslim telah mendapatkan pendidikan dan mampu menciptakan ruang aktualisasi diri di tengah masyarakat kolonial.&lt;br /&gt;Dari studi itu menghasilkan pemahaman bahwa kemunculan intelegensia Indonesia pada akhir Abad ke-19 hingga dua dekade pertama Abad ke-20, termanifestasikan dalam beberapa nama yang senantiasa berevolusi, mulai dari lahirnya tokoh-tokoh kemadjoean kemudian mendekonstruksi menjadi bangsawan oesoel, kaoem muda hingga terciptanya kaoem terpeladjar atau pemuda terpelajar atau jong. Di mana kemunculan intelegensia ini dilatarbelakangi oleh terjadinya reformasi etis Hindia Belanda akibat krisis ekonomi liberal di Hindia Belanda. Selain itu juga ditandai dengan masuknya paham reformisme modernisme Islam yang berusaha mengimbangi pendalaman arus sekularisme Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada abad ke-20 perjalanan intelegensia muslim Indonesia ditandai dengan munculnya kaum intelegensia dan pelbagai pergulatannya dalam mencari pengakuan dan otoritas politik. Pada penghujung Abad ke-20 hingga fajar Abad ke-21 terjadi banyak perubahan rezim sistem baik ekonomi maupun politik dan kekuasaan yang silih berganti, masa ini juga diwarnai dengan krisis ekonomi dan terjadi era reformasi yang kedua setelah reformasi etis Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dapat dikatakan bahwa dunia perpolitikan Indonesia dari awal Abad-20 hingga akhir Abad-20 secara historis ditandai dengan keterlibatan secara aktif dan pertarungan memperebutkan kekuasaan kaum intelegensia muslim Indonesia. Oleh karenanya pembentukan elit-politik dan birokrasi Indonesia senantiasa tidak bisa lepas dari perkembangan dan perubahan peta intelegensia muslim Indonesia. Bahkan, intelegensia muslim Indoneisa menjadi inti dari elit-politik Indonesia, mulai sejak diterapkannya Politik Etis Belanda hingga rezim pasca reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Upaya Yudi Latif dalam menelaah genealogi intelegensia muslim Indonesia dan hubungannya dengan pertarungan “kuasa” (power) di Indonesia Abad ke-20 ini, menggunakan metode interaktif, interdisipliner dan intertekstual dengan pendekatan dinamis dan kerangka waktu longue duree. Sementara pisau analitis kritisnya mengadopsi dari pemikiran dan ide-ide para filosof kontemporer seperti Karl Mannheim, Antonio Gramschi, Michael Foucault, dan Jurgen Habermas. Di mana, dia tidak mau terjebak dengan kerangka teori mereka dalam menelaah genealogi intelegensia muslim Indonesia. Namun, pemikiran mereka hanya dijadikan sebagai sumber inspirasi, kemudian dia memodifikasi dan menyesuaikan pemikiran mereka menjadi sebuah kerangka analitis tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pendekatan dan metode yang digunakan dalam peneliti ini merupakan sikap kritis dan ketidakpuasanya atas fenomena bias Weberian dalam memahami masyarakat dan sejarah Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya seperti konsep intelektual Julien Benda, asal-usul dan formasi elit nasionalnya Robert Van Niel, konsep solidarity makers dan administrator elit Indonesianya Herbert Feith dan sebagainya. Kritik peneliti penggunaan pendekatan Weberian adalah tidak peka terhadap konteks sosio-historis dan formasi sosial dari masyarakat. Sehingga dalam kerangka waktunya tidak ada satupun penelitian mereka yang membahas dalam kerangka waktu longue duren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan pendekatan dinamis, Yudi Latif mampu menunjukkan bahwa sepanjang Abad ke-20 intelegensia muslim Indonesia terdapat jaringan diakronik intelektual muslim yang bersifat lintas generasi, yang memungkinkan terciptanya kontinuitas tradisi-tradisi politik dan intelektual muslim. Sementara, dari pendekatan interaktif, menunjukkan bahwa formulasi ideologis dan strategi-strategi kuasa dari sebuah generasi intelegensia muslim tidak bisa dilepaskan dari adanya pengaruh generasi sebelumnya, kelompok lain dan interplay antar-beragam medan relasi kuasa. Dan pendekatan intertekstual, menunjukkan adanya interdependensi dari teks-teks antar generasi intelegensia muslim Indoensia dan juga adanya kesalinghubungan antar teks-teks dan formasi diskursif dan nondiskursif (hal. 655).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kajian sosiologis yang fundamental, buku ini telah menghadirkan sebuah wacana kritis mengenai intelegensia muslim dan dunia elit-politik indonesia, serta telah mampu menguak sisi lain dengan sebuah persepsi baru mengenai sejarah Indonesia. Tentunya juga telah mampu menggambarkan peta genealogi intelegensia muslim Indonesia Abad Ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski menggunakan pendekatan dinamis dengan kerangka waktu longue duren. Sebagai sebuah kajian sejarah, buku ini masih belum mampu meneropong dari seluruh elemen yang berkaitan dengan intelegensia muslim Indonesia dan relasinya dengan kuasa, seperti aliran tarekat, gerakan Islam tradisional, intelegensia yang lahir dari Islam fundamental dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-3410046805873237889?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/3410046805873237889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=3410046805873237889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/3410046805873237889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/3410046805873237889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/genealogi-intelegensia-muslim-dan.html' title='Genealogi Intelegensia Muslim dan Politik Indonesia'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7A18rvysBI/AAAAAAAAAOU/MbPwzQ_JtOI/s72-c/intel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-1482473059971456333</id><published>2008-02-10T03:35:00.000-08:00</published><updated>2008-04-20T22:49:26.741-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Jalan Terjal Menuju Kesetaraan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;div style="text-align: left; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);"&gt;naskah ini di muat di koran Jawa Pos, edisi 03 Desember 2005&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh: &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Ria Resmita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R67h-rvyr3I/AAAAAAAAANA/Od19_43LA7I/s1600-h/gender.jpg"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165314289651855218" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 152px; height: 157px;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R67h-rvyr3I/AAAAAAAAANA/Od19_43LA7I/s320/gender.jpg" border="0" height="157" width="116" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Perbincangan seputar diskursus gender adalah masalah yang “membumi”, artinya, gender tidak saja menjadi wacana dan fenomena bagi kelompok atau golongan tertentu, yang dibatasi garis geografis maupun ideologis, namun lebih merupakan permasalahan global yang lintas ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Sebagai isu global, gerakan kesetaraan gender telah muncul di Barat pada awal abad ke-18 M, melalui revolusi yang dipelopori oleh Mary Wolstoe Craft yang dikenal dengan revolusi Amerika (1775 M.), dan Prancis (1789 M.), revolusi yang memperjuangkan dan mengembalikan hak-hak kaum perempuan, (meski kemerdekaan kaum perempuan belum sepenuhnya tercapai saat itu). Mary Wolstoe Craft selanjutnya dikenal sebagai seorang teoritisi awal dari Barat yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Deretan nama besar-pun muncul yang mengabdikan diri atas nama keadilan dan kesetaraan gender, Michiko di Jepang, Fatimma Mernissi Maroko, Amina Wadud Muhsin dari Malaysia, Ashgar Ali Engineer, Rifat Hassan dan Mahatma Gandhi dari India, Huda Sya’rawi, Zaenab Fawwaz, Nawwal Sa’dawi, May Ziyadah, Aisha Taymoriah dan Qasim Amin dari Mesir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Sementara di Indonesia dapat dirunut sejak periode pra-kemerdekaan, mulai dari RA. Kartini, Dewi Sartika, Wardah Hafid, Nurul Agustina, Ratna Megawangi, hingga mantan first lady Indonesia, Sinta Nuriyah Abd Rahman Wahid. Dan di Indonesia “Teologi Perempuan” selanjutnya menjadi “akidah-akidah” baru yang mengagendakan pembebasan dan pemberdayaan kaum Hawa.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Meski telah melahirkan banyak tokoh besar, bertumpuk-tumpuk teori dan berbagai lembaga, diskriminasi gender yang berbuntut pada ketidakadilan sosial masih saja menjadi problem klasik yang belum terpecahkan. Adalah kaum perempuan yang paling banyak merasakan ketimpangan sosial akibat diskriminasi gender yang berlaku sejak lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Dampak dari ketidaksetaraan gender tidak hanya mengakibatkan ketimpangan sosial di berbagai lini, persoalan HAM bagi kaum perempuan selanjutnya menjadi problem yang memprihatinkan. Masalah yang sering muncul di Indonesia adalah penindasan, eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan seperti perdagangan perempuan, pelacuran paksa dan sebagainya, yang umumnya timbul dari ketimpangan sosial, baik ekonomi, pendidikan dan bahkan kepentingan politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Tidak heran jika sampai saat ini ketidaksetaraan gender yang termanifestasikan dalam bentuk ketidakadilan semisal marginalisasi, subordinasi, stereotipe/pelabelan negatif, perlakuan diskriminatif dan kekerasan terhadap perempuan tingkatnya masih begitu tinggi di negeri ini.&lt;br /&gt;Ketidaksetaraan gender yang termanifestasikan dalam ketidakadilan sosial pada dasarnya berakar dari problem klasik, yaitu, tata nilai sosial budaya masyarakat yang menganut paham patriarki, sehingga banyak produk hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik formal maupun informal (hukum adat) yang bias gender. Hal ini karena masih kentalnya pemahaman agama yang parsial dan sikap para penguasa yang tidak responsif terhadap gender.&lt;br /&gt;Banyaknya jumlah peraturan perundang-undangan di Indonesia yang diskriminatif gender menjadi bukti betapa lemahnya sense of gender di tingkat elit politik. Sampai saat ini tercatat sekitar 32 buah undang-undang di Indonesia yang diskriminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Proses panjang pengesahan Rancangan Undang-Undang Anti-Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan aksi dari ICDHRE (Islamic Center for Democracy and Human Rights Empowerment) yang mendesak agar pemerintah menyosialisasikan UU-KDRT kepada masyarakat menjadi bukti bahwa di negeri ini untuk mewujudkan kesetaraan gender para pejuang keadilan harus menuai jalan panjang dan terjal serta banyak tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Tata nilai sosial yang termanifestasikan dalam ketidaksetaraan gender di atas berdampak pada persoalan mendasar dalam perjuangan menuju kesetaraan gender, yaitu terbentuknya mental kurang percaya diri dan inkonsistensi serta lemahnya komitmen kaum perempuan dalam memperjuangkan nasib kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Maka memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan, kaum aktivis yang seharusnya menjadi pejuang keadilan sudah sepantasnya melakukan upaya untuk mewujudkan sense of gender dikalangan khalayak umum, baik melalui wacana maupun aksi-aksi sosial.&lt;br /&gt;Salah satu langkah awal yang harus ditempuh menurut penulis adalah upaya semaksimal mungkin membangkitkan kesadaran pemikiran, terutama kaum perempuan, tentang kondisi yang menimpa mereka saat ini. Yang mana hal ini dapat diwujudkan lewat pendidikan, refleksi kehidupan, kondisi alamiah dan lain sebagainya, yang jelas komitmen kaum perempuanlah yang bisa melawan persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Meski harus melalui jalan panjang dan terjal dalam mewujudkan kesetaraan gender di negeri ini, paling tidak saat ini sudah saatnya masyarakat terutama kaum hawa menyadari dan tahu bahwa kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, serta keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Dengan demikian masyarakat benar-benar sadar bahwa melalui kesetaraan dan keadilan gender berarti tidak akan ada lagi pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi, diskriminasi, subordinasi, kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-1482473059971456333?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/1482473059971456333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=1482473059971456333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/1482473059971456333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/1482473059971456333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/jalan-terjal-menuju-kesetaraan.html' title='Jalan Terjal Menuju Kesetaraan'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R67h-rvyr3I/AAAAAAAAANA/Od19_43LA7I/s72-c/gender.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-7392999948238126481</id><published>2008-02-09T08:12:00.001-08:00</published><updated>2008-02-11T03:44:47.808-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ide Tempo'/><title type='text'>Percakapan Terorisme Habermas dan Derrida</title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Nakah ini dimuat di Kolom ide Tempo edisi 11 sept 2005&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63WErvyreI/AAAAAAAAAJ4/absIlsWIp6A/s1600-h/-JuergenHabermas.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Oleh: &lt;b&gt;Moh. Yasin&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63WErvyreI/AAAAAAAAAJ4/absIlsWIp6A/s1600-h/-JuergenHabermas.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165019723614825954" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63WErvyreI/AAAAAAAAAJ4/absIlsWIp6A/s320/-JuergenHabermas.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63XRLvyrgI/AAAAAAAAAKI/9ufnRwFuU-8/s1600-h/Derrida1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165021037874818562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 181px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 131px" height="133" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63XRLvyrgI/AAAAAAAAAKI/9ufnRwFuU-8/s320/Derrida1.jpg" width="146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: center"&gt;Beberapa hari setelah peristiwa &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:date st="on" year="2001" day="11" month="9"&gt;11 September 2001&lt;/st1:date&gt;, presiden Amerika George W Bush bersama negara-negara Eropa memaklumatkan perang terhadap terorisme. Sementara Jurgen Habermas dan Jacques Derrida Merasa Gundah dengan maklumat itu. Habermas menilai seruan perang terhadap terorisme salah, baik secara normatif maupun pragmatis. Derrida menilai harus ada upaya dekonstruktif terhadap istilah terorisme, bagi Derrida terasa latah ketika Amerika memaklumatkan perang terhadap terorisme. Seolah-olah terorisme menjadi konsep yang jelas dan gamblang dan mengandung entitas politis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Secara normatif perang terhadap torerisme salah karena pelaku kenjahatan teror dianggap sebagai penjahat perang. Sementara secara pragmatis salah karena perang terhadap terorisme adalah perang terhadap jaringan yang tidak jelas. Habermas menolak penggunaan kata perang, dengan tetap pada pendiriannya bahwa manusia harus menggunakan komunikasi untuk mengatasi berbagai permasalahan dunia. Karena dengan demikian akan tercipta masyarakat yang komunikatif&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;dan tercipta relasi antar manusia dengan rasa saling pengertian. &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Buku ini adalah hasil dialog Borradori bersama Jurgen Habermas dan Jacques Derrida mengenai masalah teror dan terorisme. Boraddori berupaya untuk berfilsafat bersama Habermas dan Derrida menuju pada analisis filosofis tentang peristiwa 11/9 dan terorisme global. Dengan menyoroti argumentasi filosofis yang dipaparkan Habermas dan Derrida yang diaktualisasikan dari jantung teori filsafatnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Borradori yang menyaksikan langsung peristiwa 11/9 meyakini bahwa mereka yang menyaksikan kekerasan 11/9 ini memiliki cerita dan pengalaman khas sendiri. Sebagai pengajar filsafat ia ingin menceritakan bencana global ini sesuai dengan disiplin yang digelutinya yaitu filsafat. Yaitu kisah dialognya mengenai terorisme bersama Habermas dan Derrida yang berfokus pada "filsafat dalam masa teror".&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Dengan tujuan apa? Mengapa penghancuran maha dahsyat itu dilakukan? Oleh siapa teror itu dilakukan? Situasi kebingungan ini adalah wacana yang tercipta setelah peristiwa &lt;st1:date st="on" year="2001" day="11" month="9"&gt;11 September 2001&lt;/st1:date&gt;. Penduduk dunia dibuat bertanya-tanya mengenai tragedi itu. Situasi ketidaktahuan ini membuat orang tidak bisa lagi meramalkan apa selanjutnya yang akan terjadi. Dengan filsafat Borradori menanyakan kiranya jawaban apa yang akan dilontarkan oleh filsafat mengenai tragedi 11/9 ini? Bagaimana reaksi para filosof terhadap peristiwa teror tersebut? Siapa yang bertanggung jawab atas teror tersebut?. Yang semua pertanyaan itu ia dialogkan dengan dua filosof yang menjadi kiblat filsafat Barat saat ini yaitu Jurgen Habermas dan Jacques Derrida.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Dengan sudut pandang yang berbeda Habermas dan Derrida memberikan jawaban atas permasalahan tersebut. Dengan optimisme teori komunikasi dan pembelaan terhadap warisan &lt;i&gt;aufklarung&lt;/i&gt; menjadi sudut pandang Habermas. Sementara bagi Derrida mendekonstruksi terhadap konsep terorisme menjadi satu-satunya jalan yang dapat dipertanggung jawabkan, dengan tidak menolak terhadap&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;pencerahan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Meskipun Habermas dan Derrida menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menanggapi permasalahan teror dan terorisme, namun keduanya memiliki kesetiaan terhadap pencerahan. Sehingga isu toleransi yang menjadi isu pokok pencerahan menjadi pembahasan dalam cahaya dialog dengan Borradori, termasuk juga isu-isu terkini seperti fundamentalisme dan demokrasi menjadi bagian dari pembahasan dalam dialog.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Dalam ranah filsafat Habermas dan Derrida bersepakat bahwa yang bertanggung jawab atas persoalan terorisme adalah bangunan filsafat warisan &lt;i&gt;aufklarung &lt;/i&gt;(filsafat pencerahan). Hal ini atas asumsi bahwa sistem peradilan dan politik yang menstrukturkan hukum internasional dan institusi-institusi multilateral berakar pada tradisi warisan filsafat Eropa yaitu pencerahan (hal. 3). Di mana pencerahan mencita-citakan terciptanya masyarakat yang bebas dan dewasa, sementara ideologi yang dibangun terorisme adalah melawan modernisme dan sekularisasi yang dalam tradisi filsafat diasosiasikan dengan konsep pencerahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Baik Habermas maupun Derrida berpendapat bahwa terorisme adalah istilah yang sulit dimaknai dan diterangkan. Bagi keduanya terasa latah ketika Barat mengkampanyekan perang terhadap terorisme. Seakan negara-negara Eropa memiliki konsep terorisme yang jelas, gamblang, dan dapat dipertanggung jawabkan. Istilah terorisme masih menjadi fenomena yang kompleks, atas dasar apa misalnya teririsme sianggap bermuatan politis? Apakah teorirsme sama dengan perang? Apakah terorisme tindakan kriminalitas murni? Yang semua itu masih butuh penjelasan dan konsep yang mendasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Habermas sendiri merekonstruksi muatan politis terorisme sebagai suatu fungsi realisme tujuan-tujuannya demikian sehingga hanya secara retrospektif terorisme memperoleh muatan politisnya (hal. 11). Maka tidak heran jika Habermas membenci dan merasa gundah ketika negar-negara Eropa mengkampanyekan perang terhadap terorisme, karena ini memberikan legitimasi politis terhadap terorisme dan secara sistematis akan terekspos pada tindakan perlawanan yang berlebihan terhadap musuh yang tidak jelas (teroris). Bagi Habermas dunia tidak boleh menggunakan kekerasan untuk memecahkan suatu masalah, dunia harus menggunakan komunikasi untuk mengatasi masalah tersebut. Karena dengan demikian akan tercipta masyarakat yang komunikatif &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;dan tercipta relasi antar manusia dengan rasa saling pengertian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Derrida meyakini bahwa harus ada langkah dekonstruktif terhadap konsep tororisme, karena bagi Derrida penggunaan istilah terorisme yang seolah-olah menjadi konsep yang jelas dan gamblang dengan sendirinya di mata publik, justru memiliki kerancuan. Derrida menyangkal bahwa terorisme memiliki arti, agenda, dan muatan politis, yaitu dengan menolak predikat apa-pun yang dianggap sebagai substansi terorisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Tesis dari dialog Derrida dengan Borradori bahwa jenis terorisme global dibalik serangan 11/9 bukanlah simtom pertama krisis otoimun, melainkan manifestasinya yang terkini (hal. 32). Derrida terorisme merupakan gejala elemen traumatis yang intrinsik terhadap pengalam modern. Sementara bagi Habermas terorisme merupakan efek trauma modernisasi yang telah menyebar ke seluruh dunia dengan suatu kecepatan patologis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Sementara itu globalisasi bagi Habermas maupun Derrida memainkan peran besar mengenai &lt;i&gt;vis a vis&lt;/i&gt; terorisme. Habermas menilai vis a vis itu akibat dari adanya ketidaksetaraan yang diakibatkan oleh akselerasi modernisasi, sementara Derrida menafsirkan bahwa globalisasi justru menjadi alat demokratisasi terhadap negara-negara eropa timur. Dan proses demokratisasi ini bagi Derrida menjadi hal yang baik bagi bangsa-bangsa lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-7392999948238126481?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/7392999948238126481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=7392999948238126481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7392999948238126481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7392999948238126481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/percakapan-terorisme-habermas-dan.html' title='Percakapan Terorisme Habermas dan Derrida'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63WErvyreI/AAAAAAAAAJ4/absIlsWIp6A/s72-c/-JuergenHabermas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-7767792655396914346</id><published>2008-02-09T08:10:00.001-08:00</published><updated>2008-02-11T02:58:50.746-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Michael Jordan Dan Wajah Kapitalisme Global</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Resensi ini dimuat di koran Wawasan edisi 02 Nov 2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style="color:#000099;"&gt;Moh.Yasin&lt;/span&gt; *&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;...............................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AqLLvyr9I/AAAAAAAAAN0/sdu_1us4ogQ/s1600-h/jordan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165675144214130642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 163px; CURSOR: hand; HEIGHT: 148px" height="128" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AqLLvyr9I/AAAAAAAAAN0/sdu_1us4ogQ/s400/jordan.jpg" width="110" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Michael Jordan Dan Neo-kapitalisme Global&lt;br /&gt;Judul Asli : Michael Jordan and the New Global Capitalism&lt;br /&gt;Penulis : Walter Lafeber&lt;br /&gt;Penerjemah : V. Didik Suryo Hartoko&lt;br /&gt;Penerbit : Jendela, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Februari 2003&lt;br /&gt;Tebal : XXXII + 223 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;..............................................................................................................&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;SEIRING dengan kemajuan peradaban dibidang science dan tekhnologi terutama dunia informasi, atau yang sering kita kenal dengan dunia kabel yang diwarnai dengan munculnya satelit, yang mana telah mampu menembus batas-batas informasi dunia, memberiakan dampak yang sangat besar mulai dari budaya, ekonomi bahkan politik sekalipun. Lebih lanjut ternyata di dunia olahraga pun terkena dampaknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Dunia olahraga yang idealnya bagaimana menciptakan tubuh dan jiwa yang sehat serta sebagai media relaksasi manusia dalam menghadapi hidup sehari-hari yang penuh dengan kelelahan, kejenuhan dan keras. Namun seiring dengan perkembangan zaman, industri olahraga di pelbagai belahan dunia mengalami perubahan besar. Dimana olahraga tidak lagi menciptakan jiwa yang sehat dan obat stres manusia dalam menjalani kehidupan. Tapi olahraga menjadi medan pertempuran yang melibatkan banyak kepentingan mulai dari persoalan sosial, ekonomi, budaya, gender, rasisme, nasionalisme dan yang terutama adalah perebutan kekuasaan dan dominasi modal. Bahkan lebih jauh olahragapun menjadi sebuah permainan yang menjadi mesin penghasil uang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Walter lafeber lewat karyanya yang semula berjudul "Michael Jordan and the new global capitalism" mencoba menelusuri sisik melik dunia olahraga tersebut dengan pelbagai bingkai analisis-sosial, politik, ekonomi, budaya dan seterusnya. Dimana ia menautkan serpihan wacana tersebut dalam permainan bola basket, yaitu olahraga yang paling populer di Amerika, yang kini menjadi trend anak-anak muda di seluruh dunia. Dengan sosok legendaris Michael Jordan bersama timnya Chicago Bulls, yang lahir di sebuah kampung kecil di Brooklyn, New York dari seorang ayah yang bernama James Jordan yaitu seorang petani di kampung tersebut.&lt;br /&gt;Lafeber, dalam mengungkap wacana kapitalisme dan globalisme berpijak pada peran media massa dan industri periklanan dalam menciptakan sang maha bintang Michael Jordan, yang kemudian digabungkan dengan cerita-cerita yang menyentuh tentang pertentangan ras, kehidupan pribadi seorang bintang serta suasana dramatis dalam pertandingan. Basket sebuah permainan yang ditemukan pertama kali olah Naismith, adalah satu-satunya olahraga yang memiliki popularitas yang sangat cepat dan mudah dijual.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Munculnya basket dengan sosok Jordannya telah memberikan pengaruh yang begitu besar dalam prosese kapitalisme global. Hal ini bisa dilihat munculnya ratusan perusahaan raksasa di dunia yang sekaligus beroprasi di beberapa negara, dan tentunya berpengaruh besar terhadap ekonomi internasional dan ekonomi nasional di sebuah negara yang dimasukinya. Dimana hal ini tidak lepas dari kontrak mereka terhadap Jordan di dunia pengiklanan, terutama perusahaan Nike di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Tercatat hingga awal 1990-an, setidaknya terdapat 37 TNCs yang mengontrol lebih dari 200 ribu perusahaan di seluruh dunia, dan secara umum mengelola lebih dari 4,8 trilyun dolar Amerika aset dunia. Dimana kemudian dalam sistem ekonomi global perusahaan-perusahaan raksasa tersebut melegitimasi kekuasaan untuk mengatur kebijakan-kebijakan negara, terutama negara-negara ketiga yang memiliki tawar yang lebih rendah (Hal. XV).&lt;br /&gt;Citra Jordan dengan menggunakan produk-pruduknya Nike menjadikan perusahaan yang berbasis di Amerika tersebut jadi sebuah perusahaan peralatan olahraga terbesar didunia, dengan modal iklannya perusahaan tersebut mampu menembus aktivitas perekonomian global baik di Eropa maupun di Asia. Lebih lanjut Nikepun mampu mengendalikan 36% dari pasar peralatan olahraga diseluruh dunia, dengan membeli peruasahaan-perusahaan asing. Yang kemudian melahirkan sebuah perusahaan yang mampu memegang pasar ekonomi global, sehingga Nikenisasi duniapun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Luasnya jangkauan Jordan dengan basketnya tidak hanya mempengaruhi perusahan-perusahaan di AS, Prancispun yang pada saat itu sedang membangun tembok besar agar bisnis dan kebudayaan Amerika tidak dapat masuk ke dalam masyarakat Prancis. Tidak mampu mencegah perkembangan Jordan dengan basketnya melalui beberapa pertandingan di negara tersebut, sehingga kebudayaan Amerikapun menembus tembok besar tersebut. Dan perusahaan-perusahaan di Prancis mulai mengiklankan produk-produknya lewat basket.&lt;br /&gt;Kemampuan basket, teknik pengiklanan Amerika serta media yang didominasi oleh Amerika yang mampu menembus ke dalam kebudayaan-kebudayaan lain menjadi simbol kebudayaan Amerika, globalisasi Amerika, kesejahteraan Amerika, pemasaran Amerika dan simbol ekonomi Amerika, setelah berakhirnya perang dingin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Sehingga arena pertempuran dunia tidak lagi berkisar pada imperealisme versus imperealisme semata, melainkan antara modal versusu kebudayaan. Dimana modal adalah taruhannya dalam pertempuran ini, modal adalah penghancur batas-batas politik, ekonomi, sosial dan geografis, siapa pemegang modal dialah seorang penguasa. Pertarungan didunia modal dan kebudayaan ini tidak akan pernah berakhir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Yang mana pertempuran di dunia modal ini telah melahirkan penindasan dan arogansi modal global, yang kali ini dipegang oleh negara Amerika. James Naismith dengan latar belakang agama yang kuat dan menciptakan basket dengan tujuan menjadikan anak-anak muda memiliki kepribadian dan menjadikan mereka yang over aktif tersalur energinya di musim dingin melalui penemuannya yaitu: basket. Barangkali merasa tidak senang jika ia melihat olahraga tersebut yang telah berkembang menjadi mesin penghasil uang, yang selaras dengan ambisi Knigh, Murdoch dan Turner satu abad kemudian setelah ia meninggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;&lt;br /&gt;Barangkali buku ini bisa menjadi penambah wawasan tentang kapitalisme dan globalisasi yang dilihat dari sisi olahraga dengan tiga jargonnya yaitu media massa yang berperan sebagai dunia informasi dan pengiklanan serta perusahaan-perusahaan peralatan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-7767792655396914346?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/7767792655396914346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=7767792655396914346' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7767792655396914346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7767792655396914346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/resensi-buku-michael-jordan-dan-wajah.html' title='Michael Jordan Dan Wajah Kapitalisme Global'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AqLLvyr9I/AAAAAAAAAN0/sdu_1us4ogQ/s72-c/jordan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-942947707455622667</id><published>2008-02-09T08:09:00.003-08:00</published><updated>2008-02-11T03:36:59.632-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Belajar Dari Kecerdikan Cina Menyikapi Arus Globalisasi</title><content type='html'>Oleh&lt;b&gt;: &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;naskah resensi ini dimuat di Koran Surabaya Post, 03 oktober 2004&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;..........................................................................&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AtZbvyr-I/AAAAAAAAAN8/Ur3uWjRfa58/s1600-h/77.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165678687562149858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AtZbvyr-I/AAAAAAAAAN8/Ur3uWjRfa58/s400/77.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku : Belajar Dari Cina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Penulis : I Wibowo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Penerbit : Buku Kompas, &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Cetakan : Pertama, Januari 2004&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Tebal : xii + 238 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;............................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;Negeri Cina yang dikenal sebagai negeri tirai bambu juga dikenal sebagai negeri yang kaya akan budaya dan peradaban tertua di dunia bersama Mesir, Babilonia, Aztec dan Yunani. Kebudayaan-kebudayaan yang lain hancur dan lenyap seiring denga zamannya, hanya Cinalah yang mampu menjaga dan mempertahankan kebudayaannya hingga sekarang. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;i&gt;Tak pelak&lt;/i&gt; sebagai salah satu negeri penyandang kebudayaan tertua, daratan Cina merupakan sebuah museum perjalanan "globalisasi", dan menjadi saksi arus deras perjalanan globalisasi. Karena semenjak masa awal masehi globalisasi telah meranah ke negeri Cina, yang pada saat itu dalam bentuk menjalin perdagangan sutra dengan kekaisaran Roma. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dan sampai sekarangpun Cina selalu bersikap responsip dan berperan aktif didalam menyikapi globalisasi yang sudah berkembang jauh bersama kemajuan sains dan tekhnologi. Tidak heran jika kemudian David Held (Peneliti Cina) meyakini bahwa Selama kurun waktu 2000 tahun lebih Cina dalam menghadapi arus globalisasi pasti mengalami pasang surut dalam meresponnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Hal inilah yang barangkali menarik dan menggugah I Wibowo (penulis) untuk menelusuri bagaimana sebuah bangsa kuno berhasil mengarungi zaman yang terus berubah dan mampu menyesuaikan diri dengan bangsa lain dengan sikap dan kebijakan-kebijakannya. Sampai sekarang Cina masih menjadi bangsa yang diperhitungkan di dunia, bahkan negeri ini sering dikenal sebagai &lt;i&gt;Super Power&lt;/i&gt; nya &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Lewat bukunya yang berjudul "&lt;i&gt;Balajar Dari Cina, Bagaimana Cina Merebut Peluang Dalam Era Globalisasi&lt;/i&gt;" I Wibowo sebagai seorang peneliti tentang Cina ingin mengungkapkan berbagai hal tentang Cina; bagaimana Cina menyikapi arus deras globalisasi, sikap Cina terhadap kapitalisme, Cina memberantas korupsi, serta sikap dan kebijakan yang diambil Cina di dunia politik dan perekonomian. Yang paling tidak bisa menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita yang semakin terpuruk karena krisis multidimensi terutama dibidang ekonomi. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dengan bahasanya yang lugas I Wibowo menggambarkan bahwa Cina memiliki empat peta globalisasi, &lt;i&gt;pertama &lt;/i&gt;pada masa awal abad masehi globalisasi telah meranjah ke negeri Cina dengan bentuk hubungan perdagangan sutra dengan kekaisaran Roma. Dimana Sutra yang dimiliki oleh Cina sangat berharga pada saat itu, hubungan ini kemudian melahirkan globalisasi yang berbentuk ekspedisi Agama seperti Budha, Kristen, Islam dan sebagainya yang diterima dengan antusias oleh masyarakat Cina yang kemudian menyebar keseluruh Asia.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Globalisasi &lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt; ditandai dengan masuknya misionaris yesuit ke daratan Cina, tujuan mereka adalah penyebaran agama namun mereka juga membawa berbagai macam tekhnologi. Dan dengan teknologi itulah kemudian Cina berkenalan dengan para filosuf dan ilmuan dan berkenalan dengan peta dunia yang disusul dengan disiplin ilmu-ilmu lain seperti Astronomi, Fisika, Matematika yang pada saat itu sudah mengalami kemajuan pesat di Eropa. Dan hal itu berpengaruh hingga sekarang dimana beberapa saat yang lalu cina berhasil meluncurkan satelit berawak ke ruang angkasa yang bernama &lt;i&gt;Shenzhou &lt;/i&gt;V dengan astronotnya Yang Liwei. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Globalisasi &lt;i&gt;ketiga &lt;/i&gt;ditandai dengan perang candu dengan Inggris yang didasari atas penolakan Cina melakukan hubungan dengan kekaisaran Inggris dan kekalahan Cina memaksa Cina harus menandatangani perjanjian hubungan perdagangan dengan Inggris.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Globalisasi &lt;i&gt;keempat&lt;/i&gt; adalah sejak partai komunis berkuasa bersama pimpinannya Mao Zedong, puncaknya adalah lahirnya "revolusi kebudayaan proletar" yang berusaha merevolusi ideologi menjadi ideologi sosialisme/komunisme sebagai anak kandung filsafat &lt;i&gt;Enlaightenment&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Globalisasi keempat ini dianggap oleh para ahli globalisasi sebagai globalisasi dalam arti sebenarnya karena sejak revolusi di bidang tekhnologi, transportasi dan informasi yang melanda Cina sejak tahun 1990 perdagangan internasional dan penanaman modal asing sedemikian maju sehingga produk-produk baik manufaktur muapun kebudayaan—menyebar keseluruh dunia (hal. 20).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dengan demikian jelas Cina dalam menghadapi globalisasi sejak zaman klasik hingga sekarang penuh antusias, semangat dan terbuka. Bahkan seorang pemimpin Cina Deng Xiaoping menciptakan slogan untuk rakyatnya yang sangat tepat yaitu " &lt;i&gt;Gaige, kaifang &lt;/i&gt;(reformasi dan membuka diri) dimana slogan ini telah membawa Cina masuk dalam arus globalisasi secara cepat, di berbagai bidang telah mengalami reformasi perubahan menuju ke yang lebih baik Cina membuka diri dengan mengetuk organisasi internasional, merayu pengusaha internasional. Dan hasilnya adalah jika AS dengan &lt;i&gt;MacDonalisasinya&lt;/i&gt; maka Cina dengan &lt;i&gt;Chines Food&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Motor Cyclenya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Keberadaan Cina pada masa 1990 sebenarnya sama dengan negara-negar di Asia yaitu dekade penuh krisis, namun Cina dengan berbagai kecerdikannya mampu menghipnotis para peramal bahwa Cina akan mengalami kemunduran. Hasilnya Cina malah mampu bertahan dengan cantik dan bahkan mampu menjadi ancaman dunia dalam bidang perekonomian dengan ekspornya yang semakin tinggi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sukses Cina dalam menghadapi arus globalisasi, dekade krisis dan ancaman Eropa tidak lepas dari kebijakan finansial yang ada dalam negeri Cina, mulai dari dunia ekonomi, politik, hukum, pemerintahan sampai pada pembasmian korupsi. Di bidang ekonomi misalnya Cina mampu mempertahankan angka pertumbuhan rata-rata sebesar 7% walaupun pada saat itu ada kendala modal, namun dengan kecerdikannya Cina mampu mensiasati kendala tersebut dengan kebijakan-kebijakan perekonomiannya. Begitu juga dibidang politik yang selalu mengambil kebijakan dengan mengedepankan kebebasan pada kebijakan perpolitikan demi kesejahteraan dan kemajuan negeri Cina.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Satu hal yang paling menarik dari Cina adalah mengawinkan dua idiologi yang berbeda yaitu ideologi komunisme, dan ekonominya kapitalisme. Yang tentunya tidak lepas dari kebijakan internasional pemerintahan Cina.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sikap tegas dan berani yang dilakukan Cina di berbagai bidang mulai di bidang ekonomi, politik, hukum dan sebagainya telah membawa Cina menjadi negeri yang layak dijadikan contoh dan menjadi pelajaran penting bagi negara berkembang. Terutama Indonesia yang semenjak masa Soekarno hingga sekarang masih belum mampu menemukan model yang pas untuk pembangunan, padahal berbagai bentuk telah dilakukan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Barangkali bangsa Indonesia tidak bisa kemudian lama-lama menunggu konsep yang pas untuk negeri ini beberapa kebijakan pemerintahan Cina perlu dicoba dan dilihat hasilnya. Kebijakan tentang pemberantasan korupsi misalnya Indonesia harus bersikap tegas sebagaimana yang diterapkan Cina dengan hukuman matinya. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-942947707455622667?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/942947707455622667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=942947707455622667' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/942947707455622667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/942947707455622667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/resensi-buku-belajar-dari-kecerdikan.html' title='Belajar Dari Kecerdikan Cina Menyikapi Arus Globalisasi'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AtZbvyr-I/AAAAAAAAAN8/Ur3uWjRfa58/s72-c/77.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8794943979829568434</id><published>2008-02-09T08:09:00.001-08:00</published><updated>2008-02-11T03:24:19.486-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Menuju Kajian Budaya Yang Komprehensif</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Resensi Buku ini dimuat di Surabaya Post, 13 Nov 2005&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;Oleh: &lt;b&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;.......................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AwD7vyr_I/AAAAAAAAAOE/OLby21ZZObQ/s1600-h/cultur.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165681616729845746" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 110px; CURSOR: hand; HEIGHT: 154px" height="130" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AwD7vyr_I/AAAAAAAAAOE/OLby21ZZObQ/s400/cultur.jpg" width="110" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Judul Buku &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: Cultural Studies Teori dan Praktik &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Judul Asli&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: Cultural Studies: Theory and Practice&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Penulis&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: Chris Barker&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Penerbit &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: Bentang, &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Cetakan &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: Pertama, Februari 2005&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#003333;"&gt;Tebal &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: xii + 568 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;..............................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;"Cultural Studies" atau kajian budaya adalah bidang yang majemuk dengan perspektif dan produksi teori yang kaya dan beraneka ragam. Dalam ranah keilmuan para pengkaji budaya meyakini bahwa tidaklah mudah untuk menentukan batas-batas dan wilayah-wilayah kajian budaya secara khas dan komprehensif. Karena wilayah kajian budaya bersifat multidisipliner/ interdisipliner atau pascadisipliner sehingga mengaburkan batas-batas antara dirinya dengan subyek-subyek lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Maka merupakan pekerjaan rumit dan butuh keseriusan yang mendalam untuk dapat menguraikan kajian budaya secara komprehensif, apalagi menentukan wilayah pokok penyelidikan intelektual dan argumen-argumen utamanya. Permasalahan inilah yang coba dipaparkan dan dijawab oleh Chris Barker, lewat bukunya yang semula berjudul "Cultural Studies: Theory and Practice" ia ingin menguraikan secara komprehensif tentang kajian budaya, termasuk ringkasan dan pembahasan mengenai argumen-argumen utama dan wilayah-wilayah pokok penyelidikan intelektualnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Bagi Barker menguraikan kajian budaya secara komprehensif berarti melakukan kontruksi terhadap kajian budaya. Melakukan konstruksi dalam hal ini dimaknai mereproduksi dan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan kajian budaya, baik berupa teks-teks tentang kajian budaya maupun teori-teori yang layak disebut sebagai kajian budaya atau yang mempengaruhi kajian budaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Dalam menguraikan dan membahas kajian budaya Barker menggunakan versi yang benar-benar berbeda dibanding dengan para pengkaji budaya lainnya. Ia konsen pada teori-teori pascastrukturalisme terutama tentang bahasa, representasi, makna, dan subyektivitas. Tidak seperti kajian budaya versi lainnya yang lebih banyak berkutat pada wilayah etnografi, peristiwa-peristiwa hidup atau kebijakan budaya. Dimana Barker menggunakan tiga kategori untuk menguraikan kajian budaya versinya yaitu menentukan dan mengkaji dasar-dasar kajian budaya, perubahan konteks kajian budaya dan situs-situs kajian budaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Kajian Budaya menurut Barker adalah mengkaji kebudayaan sebagai "praktik-praktik pemaknaan" dalam konteks kekuasaan sosial (hal.45). Dengan &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pemaknaan yaitu bagaimana peta-peta makna diciptakan dalam kebudayaan? yang kemudian menjadi sekumpulan praktik pemkanaan, melacak makna-makna apa saja yang disirkulasikan?, oleh siapa?, untuk siapa?, dengan tujuan apa?, dan atas kepentingan apa?. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Sementara dalam ranah praktiknya kajian budaya menggunakan beberapa metodologi (dengan pendekatan etnografi, tekstual, dan resepsi yang eklektis) dengan berkutat pada ide-ide kunci seperti budaya, praktik pemaknaan, representasi, wacana, kekuasaan, artikulasi, teks dan sebagainya. Dengan mengadopsi berbagai teori baik yang layak disebut sebagai kajian budaya maupun yang berpengaruh besar terhadap kajian budaya seperti marxisme, strukturalisme, pasca strukturalisme, kulturalisme, feminisme, psikoanalisis dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Menurut Barker kajian budaya memberi perhatian khusus terhadap budaya (sebagai bagian konsep kunci), dimana budaya sangatlah erat kaitannya dengan makna-makna sosial yang dimunculkan lewat tanda yang disebut "bahasa". Bahasa berperan memberi makna pada objek-objek material dan praktik sosial yang menjadi tampak bisa dipahami karena adanya bahasa, dan proses produksi makna ini kemudian disebut dengan "praktik-praktik pemaknaan" (hal. 10).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Sementara dalam representasi, kajian budaya meraih pertanyaan mengenai bagaimana dunia dikonstruksi dan disajikan secara sosial. Untuk mengetahui secara teoritis bagaimana hubungan antar komponen dalam sebuah formasi sosial kajian budaya menggunakan konsep artikulasi. Dan kekuasaan menjadi alat yang menentukan level sebuah hubungan sosial. Teks dan pembaca dalam kajian budaya tidak hanya dimaknai sebatas teks-teks tertulis, walaupun ini juga bagian kajian budaya namun pada seluruh praktik pemaknaan yang disebut dengan teks-teks kultural seperti citra, bunyi, benda, aktivitas dan sebgainya karena hal itu dianggap juga mengandung sistem-sistem yang sama dengan mekanisme bahasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Selain itu identitas juga menjadi konsep kunci dalam kajian budaya, dengan identitas kajian budaya berusaha mengeksplorasi diri kita kini, bagaimana diproduksi sebagai subjek, bagaimana subyek tersebut diidentifikasi dengan melakukan panilaian baik bersifat fisik maupun lainnya seperti melalui kelamin, ras, usia mapun warna kulit. Serta masih banyak konsep-konsep teoritis lainnya seperti permainan bahasa, politik, posisionalitas, formasi sosial dan sebagainya yang semua itu digunakan dalam kajian budaya untuk menjelajahi dan mengintervensi dunia sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;ide-ide yang bersifat filosofis juga menjadi sorotan Barker dalam kajian budaya, dalam ranah Marxisme misalnya kajian budaya telah tertarik dan belajar banyak dari isu-isu tentang struktur, praksis, determinisme, ekonomi dan ideologinya. Dimana kajian budaya memiliki kesamaan dengan marxisme dalam hal semangat melakukan perubahan dengan kendaraan manusia lewat teori dak aksi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Kajian budaya juga mengambil pelajaran dari kapitalisme pada &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;keberhasilan kapitalisme, transformasi, dan ekspansinya yang diraih atas kemenangannya dalam pertarungan kesadaran dalam ranah kebudayaan. Sementara strukturalisme dan kulturalisme dipakai dalam kajian budaya untuk meneropong pertanyaan-pertanyaan mengenai budaya, ideologi, dan hegemoni.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Pada Pasca strukturalisme kajian budaya menganut idenya mengenai &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;makna yang bersifat labil selalu berproses, bersifat intertekstualitas, tidak terbatas pada makna atau teks tertentu. Dan menentang adanya struktur dalam membentuk sebuah makna sebagaimana diyakini kaum strukturalisme. Selain ide-ide filosofis itu Barker juga memaparkan adanya perubahan dan perkembangan konteks dalam kajian budaya, terutama perkembangan pandangan manusia, masyarakat dan dunia sosial dari dunia modern menuju postmodern. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Secara eksplisit dapat dikatakan bahwa Barker berusaha memaparkan konsep-konsep kunci dan teori-teori dalam kajian budaya secara tuntas menuju kajian budaya yang lebih komprehensif. maka membaca buku ini kita akan diperkenalkan berbagai pengetahuan, teori, bahkan filsafat sekalipun yang semuanya berkaitan dengan kajian budaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Meskipun kajian budaya tidak menerima legitimasi secara institusional atau bahkan menolak adanya pendisiplinan. Kajian budaya merupakan kajian yang menarik dan menantang terutama dalam memahami dunia yang senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan akal budi manusia. Buku ini paling tidak bisa menjadi acuan atau pengantar yang komprehensif, argumentatif dan oetentik untuk memahami kajian budaya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8794943979829568434?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8794943979829568434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8794943979829568434' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8794943979829568434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8794943979829568434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/resensi-buku-menuju-kajian-budaya-yang.html' title='Menuju Kajian Budaya Yang Komprehensif'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AwD7vyr_I/AAAAAAAAAOE/OLby21ZZObQ/s72-c/cultur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-9073276057512543375</id><published>2008-02-09T08:08:00.003-08:00</published><updated>2008-02-11T03:50:57.653-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Pembongkaran Perilaku Seks Kaum Terpelajar</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc6600;"&gt;Naskah Resensi ini dimuat di Suara Merdeka, Minggu, 24 Agustus 2003&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh: &lt;span style="color:#003300;"&gt;Moh. Yasin &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;..................................................................................................................................&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AyOrvysAI/AAAAAAAAAOM/Jn7S8q1gyzM/s1600-h/sex.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165684000436695042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="192" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AyOrvysAI/AAAAAAAAAOM/Jn7S8q1gyzM/s400/sex.jpg" width="130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: Sex in the Kost, Realitas dan Moralitas Seks “Kaum Terpelajar”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Penulis&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: Iip Wijayanto&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Penerbit&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: Tinta, &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Cetakan&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: Pertama, Mei 2003 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Tebal&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;: xx + 152 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;..................................................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;KEHIDUPAN kost-kostan dengan mayoritas penghuni kaum mahasiswa, identik dengan kehidupan yang agak bebas, karena lepas dari pengawasan orang tua serta tradisi &lt;i&gt;ewuh&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;pakewuh&lt;/i&gt; sesama temen. Itulah justru yang menjadi penopang terjadinya “&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i&gt;asmara&lt;/i&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i&gt; liar”&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;premarrietal inter course &lt;/i&gt;(hubungan seks pra nikah) ditengah-tengah pergaulan bebas dan konstruksi masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; modern ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Usia muda adalah masa transisi, paling rawan dan identik dengan seks. Dan mahasiswa sebagai anak muda cenderung mengedepankan nafsu dan kehendak dari pada rasio. Tak pelak “&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;asmara&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;i&gt; liar” &lt;/i&gt;menjadi sesuatu yang sudah sangat lazim terjadi di tengah-tengah pergaulan bebas dan kampanye seks bebas besar-besaran pada era digital ini.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Sisik Pelik fenomena inilah yang menggugah Iip Wijayanto seorang penulis dan peneliti muda kontroversial yang dilahirkan di Bengkulu, untuk memahami, mengkaji, meneliti dan kemudian menganalisis terhadap fenomena tersebut. Dengan berpijak pada pembangunan etika dan moralitas manusia berdasarkan realitas kehidupan yang telah ia jalani dan pengetahuan agamanya yang tidak diragukan lagi. Terutama masalah pergaulan bebas atau yang sering kita kenal dengan istilah &lt;i&gt;premarrietal inter course (&lt;/i&gt;atau seks bebas) di dunia kaum intelektual&lt;i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Akhir-akhir ini ia sempat membuat geger di negeri ini dengan penilitian kontroversialnya tentang virginitas. Dan hasilnya fantastis: “97,05% mahasiswi disebuah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tertentu telah kehilangan keperawanannya”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Lewat karyanya yang berjudul&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;“&lt;i&gt;Sex in the Kost” &lt;/i&gt;inilah Iip wijayanto memaparkan kegelisahan dan pengalaman pribadinya dalam realitas kehidupan yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun di sebuah negeri yang ia sebut sebagai “&lt;i&gt;negeri antah berantah&lt;/i&gt;” yaitu negeri yang telah melahirkan para tokoh intelektual terkemuka. Mulai dari mereka yang bercorak fikir liberalis sampai pada mereka yang bercorak fikir fundamentalis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Dalam mengawali karyanya penulis memaparkan keadaan kost-kostan dan wilayah disekitarnya yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun lebih. Ia selalu berpindah-pindah kost karena ketidak cocokannya dengan suasana yang penuh dengan kemaksiatan, membuatnya geram, kesal dan tidak betah. Karena latar belakangnya berangkat dari keluarga yang memiliki ideologi yang sangat keras dan konservatif ia juga sebagai seseorang yang menyibukkan diri di dunia dakwah bersama komunitasnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Berpindah-pindah kos enam kali menjadi pengalamaman tersendiri bagi Iip dalam membaca realitas kehidupan di dunia kost-kostan. Dalam kehidupan itulah di mata Iip ada bermacam variasi kegiatan yang dijalani oleh penghuni kost yang 99% penghuninya adalah mahasiswa dan mahasiswi. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang hidup penuh dengan kedisiplinan, kelihatan alim, rajin ibadah, jamaah di masjid dan ada yang menjalani kehidupan secara biasa-biasa saja. Dan yang tak pernah luput adalah penghuni kos yang menjalani kehidupan “&lt;i&gt;premarrietal inter course” &lt;/i&gt;atau seks bebas, suka minum dan menggunakan obat-obat terlarang yang merugikan diri dan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Ketika mengupas tradisi seks bebas di kalangan mahasiswa Iip tidak sekedar memaparkan secara gamblang hasil observasi dan pengalaman pergaulannya. Ia juga berupaya memahami, mempelajari, mengevaluasi dan kemudian menganalisis fenomena seks bebas di dunia mahasiswa itu melalui aspek budaya dan moralitas seks.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Istilah pergaulan bebas atau bebas seks didunia mahasiswa sebenarnya sangat menarik jika kita telusuri lebih jauh. Karena kebebasan seks ini justru menjadi suatu pergaulan yang tidak bebas dimana para pelakunya selalu dibayang-bayangi dan dihantui oleh rasa dosa, rasa bersalah, rasa takut dengan orang tua, serta rasa takut terhadap masa depan dirinya dan sebagainya. Bisa dikatakan pergaulan bebas ini adalah pergaulan bebas yang justru menjadi pergaulan yang angker dan penuh dengan bayang-bayang ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Tak ayal, kehidupan mereka penuh dengan trik dan strategi khusus yang jitu untuk kemudian bagaimana mengatasi dan menghindari rasa takut dan bersalah tersebut serta bagaimana menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar, dengan penuh hati-hati dan kewaspadaan yang tinggi tentunya. &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Mereka memiliki berbagai strategi untuk melakukan seks bebas, yang secara umum bisa digambarkan sebagai seks “kucing-kucingan”. Ada yang dengan trik pura-pura ngobrol biasa di ruang tamu yang kemudian diteruskan ngobrolnya dikamar jika keadaan sudah sepi, pintu ditutup dengan pelan-pelan dan sandal sicewek dimasukkan kekamar, tembang kenangan diputar untuk menutupi erangan-erangan yang penuh dengan kenikmatan kemudian bobo bareng pun telah dimulai. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Ada yang melakukan di malam hari dengan jalan menyogok para penjaga kampung, untuk menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar. Dan mereka kaum elitis sering dengan jalan pergi nginap di sebuah penginapan atau hotel, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Itulah gambaran sepenggal realitas kehidupan &lt;i&gt;asmara liar&lt;/i&gt; yang dilakukan oleh para kaum intelektual muda kita di tengah-tengah kontruksi masyarakat indonesia modern dalam buku &lt;i&gt;Sex in the Kost &lt;/i&gt;ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Iip juga memaparkan fenomena &lt;i&gt;nikah sirri&lt;/i&gt; yang barangkali sudah menjadi budaya akhir-akhir ini di kalangan terpelajar. Dengan berdasarkan kitab suci dan pengetahuan keagamaan, ia sangat menentang tradisi itu jika hanya demi memenuhi “nafsu birahi”. Karena itu berkesan nilai sebuah pernikahan hanya untuk menuruti nafsu, bukan sebagai sunah rosul atau menciptakan sebuah kehidupan keluarga yang diridhoi Tukan.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Persoalan tentang keobyektifan dan keorisinalan deskripsi Iip brangkali bukan&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;masalah besar. Yang menjadi masalah, jika saja deskripsi itu sudah menjadi sebuah realitas dan tradisi di kalangan intelektual kita dan terus berlanjut. Mak tugas kita bersama untuk melawan tradisi itu. Yakni, dengan berpegang teguh pada pegangan hidup kita untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Barangkali tak salah jika para pembaca menilai judul buku ini hanya plesetan dari film &lt;i&gt;Sex in the City &lt;/i&gt;yang ditayangkan oleh Lativi atau &lt;i&gt;Jakarta under Cover. &lt;/i&gt;Namun bagi Iip istilah &lt;i&gt;Sex in the Kost &lt;/i&gt;ini tidak lebih hanya istilah untuk mendikripsikan fenomena global di tengah-tengah masyarakat kita. Karena jauh sebelum &lt;i&gt;Sex in the City &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Jakarta Under Cover &lt;/i&gt;muncul, sebenarnya sudah ada istilah “ML (&lt;i&gt;Making Love&lt;/i&gt;) atau akronim lainnya.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Barangkali inilah sebagian dari karya penulis yang kemudian akan disusul oleh karya-karya berikutnya yang lebih bombastis. Biar tidak menjadikan kaget masyarakat, seperti penelitian virginitas beberapa saat yang lalu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="TEXT-INDENT: 0.5in"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-9073276057512543375?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/9073276057512543375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=9073276057512543375' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/9073276057512543375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/9073276057512543375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/suara-merdeka-minggu-24-agustus-2003.html' title='Pembongkaran Perilaku Seks Kaum Terpelajar'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7AyOrvysAI/AAAAAAAAAOM/Jn7S8q1gyzM/s72-c/sex.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8101870699659859068</id><published>2008-02-09T08:08:00.001-08:00</published><updated>2008-02-15T07:52:41.422-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Misteri ‘Sang Pengadil’</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000066;"&gt; &lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Resensi Buku&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Oleh&lt;b&gt;: &lt;span style="color:#000066;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;strong&gt;.............................................................................................&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7WzxbvysKI/AAAAAAAAAPc/osbMQuPqaqI/s1600-h/the+judge.jpg"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167233809320685730" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7WzxbvysKI/AAAAAAAAAPc/osbMQuPqaqI/s400/the+judge.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Judul Buku &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: The Judges; Sang Hakim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Judul Asli&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: The Judges: A Novel&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penulis&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: Elie Wiesel&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"  style="color:#333300;"&gt;Penerjemah&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: Sofia Mansoor&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7W0yrvysMI/AAAAAAAAAPs/Fv5d53oYACk/s1600-h/thejud.jpg"&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167234930307150018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7W0yrvysMI/AAAAAAAAAPs/Fv5d53oYACk/s400/thejud.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;Penerbit &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: Bentang, Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"  style="color:#333300;"&gt;Cetakan &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: Pertama, 2005&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" dir="rtl"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"  style="color:#333300;"&gt;Tebal &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;: xiv + 365 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"  style="color:#663333;"&gt;Setelah hampir dua tahun menjadi saksi mata sekaligus saksi hidup kekejaman Nazi. Elie Wiesel tidak malah bungkam atau mengubur dalam-dalam kenangan buruk yang menimpanya. Wiesel tidak mau membohongi dirinya sebagaimana orang lain yang berpura-pura hidup normal seakan tidak pernah menghadapi peristiwa paling buruk dalam hidupnya itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Bakat dan keahliannya dalam menulis dia gunakan untuk membongkar dan mengkomunikasikan kekejaman Nazi kepada dunia. Wiesel berprinsip bahwa “...&lt;i&gt;the struggle against man’s inhumanity toward man”&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;dan menurutnya tidak mengkomunikasikan pengalaman buruknya pada dunia berarti mengkhianati kemanusiaan (hal. Viii). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Puluhan buku-pun&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;lahir dari tangan Wiesel, yang diilhami dari memoar dan kepedihan yang ditimpa kaum Yahudi di tangan Nazi. Trilogi &lt;i&gt;La Nuit, Dawn &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Accident &lt;/i&gt;menjadi karyanya yang monumental, menjadi hikmah luar biasa bagi setiap orang. Bukunya yang berjudul &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0553272535/theadirondack-20" target="_blank"&gt;&lt;span style="TEXT-DECORATION: none"&gt;Night&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0805210520/theadirondack-20" target="_blank"&gt;&lt;span style="TEXT-DECORATION: none"&gt;A Beggar in Jerusalem&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;telah menjadi &lt;/span&gt;international &lt;i&gt;best-sellers&lt;/i&gt; dan mengantarkannya meraih berbagai penghargaan, diantaranya memenangi Prix Medicis, the Presidential Medal of&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Freedom dan sebagainya. &lt;span lang="IN"&gt;Pada tahun 1986 Wiesel meraih peghargaan nobel perdamaian, ketika dia berusia lima puluh delapan tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perjuangan keras Elie Wiesel dalam mempertahankan hidup di kamp konsentarasi Buchenwald, membuatnya menjadi pahlawan dan manusia paling beruntung. Spiritualitas dan kemanusiaan selanjutnya menjadi tema yang tidak pernah lepas dalam kehidupan Wiesel. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;The Judges &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;adalah salah satu novelnya yang mengangkat tema-tema spiritualitas dan kemanusiaan. Pertanyaan-pertanyaan bernuansa filosofis, religius dan moral menjadi bagian penting dalam novel &lt;i&gt;The Judges&lt;/i&gt;.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Wiesel mengalirkan cerita fiksi &lt;i&gt;The Judges &lt;/i&gt;ini dimulai dengan pendaratan darurat sebuah pesawat terbang di desa yang terletak antara pegunungan New York dan Boston, akibat cuaca buruk dan badai salju. Pesawat bertujuan ke Israel itu mendarat dengan selamat di lapangan terbang kecil di Connecticut. Para penumpangnya diungsikan di desa terdekat bandara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Kisah lima penumpang yang mengungsi disebuah rumah mirip sel dan kelihatan sangat angker, diangkat oleh Wiesel dalam novel &lt;i&gt;The Judges&lt;/i&gt;. Kelima penumpang itu adalah Razziel, Claudia, Yoav, George dan Bruce. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Razziel adalah seorang guru agama yang pernah menjadi tahanan politik, Caludia seorang wanita yang baru saja meninggalkan suaminya dan telah menemukan cinta baru; Yoav, seorang tentara yang tengah sekarat; George, seorang ahli kearsipan dengan sebuah rahasia yang bisa menjatuhkan seorang politisi di tangannya;Bruce, seorang calon pendeta yang berubah menjadi perayu handal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Kelima orang musafir yang kemudian berubah menjadi pengungsi itu merasa sangat puas dan gembira ketika telah sampai rumah pengungsian. Tuan rumah telah menyambut Razziel dan teman-temannya dengan penuh hangat dan hormat, dia memperkenalkan diri dengan nama ‘&lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt;’.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Rasa lega, nyaman dan bahagia karena telah selamat dari pendaratan dan sampai dipengungsiaan ternyata tidak lama dirasakan oleh Razziel. Tuan rumah yang memperkenalkan dirinya &lt;i&gt;Sang hakim &lt;/i&gt;dengan arogansinya mengintrogasi mereka, lewat permainannya &lt;i&gt;sang hakim &lt;/i&gt;memaksa mereka mengungkap hal-hal yang bersifat privasi tentang dirinya. Tak pelak, Razziel dan teman-temannya merasa gundah dan berfikir bahwa &lt;i&gt;sang hakim &lt;/i&gt;telah memanfaatkan situasi untuk mengungkap kehidupan pribadi mereka. Bahkan mereka menganggap bahwa sumber malapetaka yang sebenarnya adalah tuan rumah yang memperkenalkan diri &lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt; itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"  style="color:#663333;"&gt;Permainan-permainan yang diberikan &lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt; telah melahirkan suasana panas dan gaduh serta prasangka buruk dalam diri mereka. Perasaan terancam, panik, rasa benci, perang urat saraf dan konflik kecil mulai menghiasi dalam diri mereka, baik sesama teman, dengan &lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt; ataupun penyesalan atas sikap dan keputusan diri mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Claudia dan George memandang sinis &lt;i&gt;sang hakim, &lt;/i&gt;bahkan ia sangat tidak senang dengan sikap dan prilaku &lt;i&gt;sang hakim, &lt;/i&gt;begitu juga dengan Razziel, Yoav dan Bruce. Di tengah obrolan Claudia memberanikan diri berbicara dan berkata kepada tuan rumah, &lt;i&gt;pak hakim&lt;/i&gt; tercinta, “segala sesuatu adalah sandiwara, sejak zaman Sophocles dan Bill Shakespeare orang selalu mengulang-ngulang kata itu! Lalu permainan apa yang sedang kau mainkan ini pak hakim?”. Dengan penuh kehangatan dan antusias &lt;i&gt;Sang hakim&lt;/i&gt; menjawabnya “ini hanyalah permainan, kehidupan dan kematian menjadi taruhannya, dan dalam permainan ini salah satu diantara kalian yang tidak berguna akan mati di saat fajar menyingsing”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"  style="color:#663333;"&gt;Mendengar ungkapan itu Razziel dan keempat temannya mulai menanggapi permainan itu dengan serius, membawa situasi dan keadaan dengan penuh ketegangan. Rasa gundah, marah, saling mencibir terjadi di antara mereka, akibat permainan &lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt;. Kemarahannya dengan &lt;i&gt;sang hakim &lt;/i&gt;telah menyatukan mereka, berbagai cara mulai mereka pikirkan untuk keluar dari tempat itu. Tuduhan buruk terhadap &lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt; menjadi perbincangan mereka, Bruce menilai &lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt; dengan orang gila, George menganggapnya seorang penjahat yang sedang menyandera mereka, bahkan menyebutnya teroris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; TEXT-INDENT: 0.5in; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Dalam permainan yang mempertaruhkan kehidupan dan kematian itu &lt;i&gt;sang hakim&lt;/i&gt; memaksa mereka untuk menceritakan suatu kejadian yang mengandung titik balik dalam eksistensi dirinya. Situasi ini membuat mereka tidak lagi menganggap permainan &lt;i&gt;sang pengadil &lt;/i&gt;yang misterius itu&lt;i&gt; &lt;/i&gt;benar-benar sebuah permainan, dan mereka mulai serius memikirkan hal ini. Perenungan tentang makna hidup, arti sebuah kematian, bagaimana mempertahankan hidup, bagaimana cara keluar dari cengkraman penjara, dan bahkan memikirkan akan masa depan keluarga dan pacar serta pekerjaannya menjadi perhiasan pemikiran dan hati mereka di ruangan yang mereka sebut penjara.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Wiesel menulis Novel ini diilhami dari pengakuan jujur teman-temannya dalam perjalanan penerbangan menuju Israel. Tokoh Razziel adalah Elie Wiesel sendiri, ia memadukan kisah ini dengan kesaksian teman-temannya yang semuanya selamat dan mendarat di Lod Israel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="DIRECTION: ltr; unicode-bidi: embed; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;Novel ini tidak hanya menggambarkan lima kepribadian dan sejarah kehidupannya. Lebih dari itu, pertanyaan-pertanyaan tentang makna kehidupan, arti kemanusiaan, religiusitas, menggambarkan sosok Wiesel. Yang secara langsung pernah merasakan tekanan hidup-mati di kamp konsentrasi di bawah kekejaman Nazi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8101870699659859068?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8101870699659859068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8101870699659859068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8101870699659859068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8101870699659859068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/resensi-buku-misteri-sang-pengadil-oleh.html' title='Misteri ‘Sang Pengadil’'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7WzxbvysKI/AAAAAAAAAPc/osbMQuPqaqI/s72-c/the+judge.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8114387482731820413</id><published>2008-02-09T08:07:00.001-08:00</published><updated>2008-02-22T05:34:48.193-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Kesejajaaran Gagasan Sains Islam Dengan Teistik</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;naskahResensi buku ini dimuat di Koran K.R. Minggu,16Februari 2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by: &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R77PPLvysQI/AAAAAAAAAQM/hdtTe5KBExM/s1600-h/sains.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R77PPLvysQI/AAAAAAAAAQM/hdtTe5KBExM/s400/sains.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169797282026139906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul Buku    : Filsafat Sains Menurut Al-Qur'an&lt;br /&gt;Judul Asli    : The Holy Qur'an and The Science Of Nature&lt;br /&gt;Penulis        : Dr. Mehdi Golshani     &lt;br /&gt;Penerjemah    : Agus Effendi&lt;br /&gt;Penerbit    : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Januari 2003&lt;br /&gt;Tebal        : XXIV + 163 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USAHA besar-besaran yang dilakukan oleh para kholifah dan ulama' klasik terdahulu dalam mengadopsi karya-karya filsafat, sains dan kedokteran Yunani --walaupun tidak di dapatkan secara utuh-- telah mengalirkan khazanah kebudayaan dan peradaban Yunani yang amat kaya ke dalam masyarakat muslim. Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Shina, barangkali hanya beberapa gelintir saja dari filosof dan pemikir muslim yang muncul pada saat itu, di mana mampu mendobrak dunia intelektual dan peradaban Islam. Dan hal ini mungkin menjadi kebanggaan tersendiri bagi umat Islam. Walaupun pada akhirnya didomonasi oleh Barat.&lt;br /&gt;Namun, di satu sisi banyak pula para pemikir di kalangan muslim yang menentang pemikiran Yunani. Al-Ghazali, seorang ulama' besar dan sangat berpengaruh di dunia Islam adalah salah satu penentang filsafat yang sangat gigih, hal ini diwarnai dengan perdebatan sengit tentang logika dalam khazanah kajian filsafat Islam. Anggapan bahwa filsafat telah melampaui wewenangnya adalah inti kritiknya terhadap filsafat, dengan karyanya yang berjudul Takhafudz Al-Falasifah. Dan pemikiran Al-Ghazali ini kemudian berpengaruh besar terhadap dunia intelektual dan peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di atas kemudian berkembang pada persoalan-persoalan tentang ilmu serta konsepnya. Al-Ghazali sendiri lewat karyanya Ihya' Ulum Al-Din mengklasifikasikan ilmu menjadi ilmu agama dan non-agama, bagi Al-Ghazali, ilmu yang harus banyak dipelajari adalah ilmu teologi, seperti pengetahuan tentang Tuhan, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan serta perintah-perintah Ilahi. Sedangkan ilmu selain itu dianggap ilmu yang mubah dan tercela mempelajarinya, secara umum bagi Al-Ghazali ilmu yang wajib dicari menurut agama adalah terbatas pada pelaksanaan kewajiban-kewajiban syari`at Islam yang harus diketahui dengan pasti.&lt;br /&gt;Dikotomi serta penafsiran ilmu seperti ini --yang pasti terjadi-- kemudian adalah miskonsepsi (kesalahan pemahaman) di kalangan umat Islam. Bahwa ilmu non-agama terlepas dari Islam dan mencarinya merupakan pekerjaan yang mubadzir belaka, dan ini berdampak sangat besar sekali di dunia intelektual Islam. Sehingga kemudian di dunia sains, umat Islam hanya menjadi penerima dan hanya bisa bergantung pada orang lain. sehingga kemudian sikap umat Islam sendiri terhadap sains tidak lagi netral, bebas nilai dan obyektif, dan sekaligus menepis ke-universal-an Islam terutama dalam memahami ilmu, bukan seperti apa yang telah dijelaskan dalam kitab suci Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Mehdi Golshani pakar al-Qur'an dan guru besar fisika Universitas Teknologi Syarif, Iran lewat bukunya yang berjudul Filafat Sains Menurut Al-Qur'an. Dengan pengalamannya yang tidak diragukan mencoba membaca dan kemudian dengan tegas menjelaskan konsepsi tentang ilmu dalam Islam sebagaimana yang diungkapkan dalam kitab sucinya (Al-Qur'an). Dengan kegigihan dan kepolosan serta keorsinilitasannya, ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kerap diajukan mengenai sikap muslim terhadap sains modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Golshani mencari ilmu tidaklah terbatas pada ajaran khusus syariah, akan tetapi juga berlaku untuk setiap pengetahuan yang dapat menjadi alat untuk megetahui serta mendekatkan diri pada Tuhan. Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dijadikan sebagai alat untuk mengetahui dan mendekatkan diri pada Tuhan, baik ilmu teologi, fisika, biologi dan sebagainya pada dasarnya adalah alat untuk mencapai pada kedekatan serta pemahaman terhadap Tuhan dan ciptaannya. Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam wahyu, di mana konsep ilmu dijelaskan sangat luas tidak terbatas pada ilmu-ilmu kalam ataupun teologi saja, banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang pentingnya mencari ilmu baik ilmu tentang alam maupun sosial yang semuanya dalam satu tujuan, yaitu sebagai alat untuk bertaqorrub kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Secara eksplisit ini berarti bahwa ilmu tidaklah terbatas pada belajar prinsip-prinsip dan hukum-hukum agama saja akan tetapi segala sesuatu yang bermanfaat. Namun, semua itu harus tetap berpegang teguh terhadap iman, karena tanpa iman ilmu tidaklah memiliki tujuan, dan hanya kejahilan dan kedzalimanlah kemudian yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya kerasnya untuk mengembalikan penguasaan muslim atas sains menurut Golshani ada beberapa hal yang harus dilakukan. Mungkin sebagai langkah awalnya adalah kita harus mempelajari seluruh ilmu yang berguna dari orang lain dan bersifat obyektif. Kita dapat memebebasakan pengetahuan ilmiah dari penafsiran-penafsiran materialistik Barat dan mengembangkannya ke dalam konteks pandangan dunia dan ideologi Islam.&lt;br /&gt;Buku ini bisa dibilang sangat sederhana karena di dalamnya setiap halaman ada kutipan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits serta disertai dengan kesimpulan-kesimpulan yang sangat straight forward, dan tidak ada perdebatan yang seharusnya itu terjadi. Namun sangatlah sulit mencari buku seperti ini, di mana sangat sistematis dalam membahas konsep Islam tentang ilmu dan secara langsung meletakkannya dalam konteks sains modern yang digeluti oleh penulis. Serta kecerdikannya dalam menarik kesejajaran antara gagasan sains Islam dengan gagasan sains teistiknya berdasarkan konseptual agama dan kitab sucinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin apa yang dilakuakan oleh penulis bisa menjadi pijakan awal serta merangsang bagi para ilmuan muslim untuk memberikan lebih banyak waktu dan tenaganya pada persoalan yang amat penting ini. Dalam upaya untuk membangkitkan serta mengembangkan pengetahuan keilmuan di dunia muslim.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8114387482731820413?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8114387482731820413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8114387482731820413' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8114387482731820413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8114387482731820413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/k.html' title='Kesejajaaran Gagasan Sains Islam Dengan Teistik'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R77PPLvysQI/AAAAAAAAAQM/hdtTe5KBExM/s72-c/sains.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-7141784939798379971</id><published>2008-02-09T08:06:00.002-08:00</published><updated>2008-02-16T04:22:48.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Humanisme Islam Di Abad Pertengahan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#990000;"&gt;Resensi Buku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Naskah Ini dimuat di Koran Surya, 23 Mei 2004&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Oleh: &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Moh. Yasin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#333300;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;..........................................................................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#663333;"&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7bVFrvysNI/AAAAAAAAAP0/Jy6BS9JaMvM/s1600-h/viewimage.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167551916073464018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7bVFrvysNI/AAAAAAAAAP0/Jy6BS9JaMvM/s400/viewimage.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Judul Buku : Renaisans Islam "Kebangkitan Intelektual Dan Budaya pada Abad pertengahan"&lt;br /&gt;Judul asli : Humanism in the Renaissance of Islam: The Cultural Revival During the Buyid Adge&lt;br /&gt;Penulis : Joel L. Kraemer&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, November 2003&lt;br /&gt;Tebal : 494 halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam sejarah peradaban dunia tercatat ada dua Renaisans, Pada abad ke-4 H/ke-10 M, telah dipandang oleh Adam Mez dan Joel. L. Kraemer sebagai Renaisans Islam dan pada abad ke-14 sampai ke-16 dianggap sebagai Renaisans Barat atau Eropa.&lt;br /&gt;Renaisans Eropa ditandai dengan gerakan yang mendalami sastra dan kebudayaan klasik dari Yunani dan Roma oleh para sastrawan Italia; Petrarca (1304-1374M), Boccaccio ( 1313-1375M), Michelangelo (1475-1565M). serta penerjemahan besar-besaran dari karya-karya ilmiah-filosofis Muslim (Arab) oleh para penerjemah Latin dan Yahudi seperti: Michael Scott, Ibnu Dawud di Toledo dan Sisilia.&lt;br /&gt;Sementara Renaisans Islam lahir dipelopori oleh para elit kebudayaan yang berjuang secara sadar untuk mengembalikan warisan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani kuno. Diawali dengan penerjemahan terhadap ratusan karya-ilmiah Yunani-Romawi ke bahasa Arab oleh Hunain Ibn Ishaq, penerjemah Kristen Nestorian, Yuhanna ibn Hailan dan sebagainya. Yang bertempat di Baghdad dan Iran sebagai pusat peradaban Islam dengan beragam istana, pejabat dan penguasa yang sangat peduli terhadap khasanah keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tak heran jika pada saat itu di dunia Islam muncul para filosuf Muslim terkemuka sekelas Al-Kindi, Ibn Rusyd, Ibn Shina, Al-Farabi, Al-Amiri, Sijistani, Miskawaih, Nadhim dan sebagainya. Yang muncul pada paruh terakhir Abad ke-4 H/ke-10 M dibawah kontrol dinasti Buwaihiyyah yang dipimpinan oleh 'Adhud Al-Daulah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada masa Dinasti Buwaihiyyah merupakan titik puncak dari apa yang disebut "humanisme", karena betapa kosmopolitannya atmosfer budaya pada saat itu. Percampuran pemikiran di antara orang-orang Islam, Kristen, Yahudi, Kaum Pagan, kelompok-kelompok aliran teologi dan kelompok religius sangat menghargai pluralitas. Titik tolak kesepakatan mereka adalah bahwa "ilmu-ilmu kuno" adalah milik seluruh umat manusia dan tidak ada satu kelompok religius atau kultural satu pun dapat mengklaim kepemilikan eksklusif ilmu-ilmu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dimana semangat pluralitas itu mereka kembangkan atas prinsip "shadaqah" yang diartikan "persahabatan" yaitu sebuah prinsip hubungan lintas budaya dan religius yang mendasarkan hubungannya pada kemanusiaan. Ini berarti hubungan mereka tidak didasarkan pada ras, suku atau agama, tetapi pada kenyataan bahwa mereka adalah manusia. Inilah barangkali yang menyebabkan Joel L. Kremer memilih bukunya ini berjudul "Humanism in the Renaissance of Islam"(hal. 18) yang edisi terjemahannya berjudul "Renaisans Islam: Kebangkitan Intelektual dan Budaya Pada Abad Pertengahan".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Joel L. Kraemer seorang Profesor sejarah dan pemikir sosial Universitas Chicago adalah seorang ahli sejarah kebudayaan Islam, buku "Renaisans Islam" adalah salah satu karya terbesarnya di dunia Islam abad pertengahan. Tidak jauh berbeda dengan buku sebelumnya yang berjudul "Philosophy in the Renaissance of Islam" yang berisikan tentang kehidupan dan pemikiran seorang filosuf Abu sulaiman al Sijistani. Dalam memaparkan idenya ia menggunakan metode yang sama yaitu mengumpulkan seluruh bio-bibliografi yang ia himpun dari berbagai sumber, mulai dari rujukan-rujukan klasik yang sangat langka hingga pengumpulan dari kitab, risalah, manuskrip-manuskrip dan sebaginya yang kemudian ia himpun secara deskriptif dan sistematis.&lt;br /&gt;Secara lebih luas lewat buku ini Kraemer mencoba memaparkan kebangkitan budaya dan khasanah keilmuan Abad pertengahan yang kita kenal dengan Renaisans Islam, ia juga memberikan gambaran yang jelas tentang ciri-ciri dan makna Renaisans serta bagaimana konsep humanisme dibentuk dan dijalankan oleh para pemikir di masa Renaisans Islam, yang kemudian para pemikir tersebut dikenal dengan para humanis muslim.&lt;br /&gt;Di samping mengungkapkan kemunculan dan kehancuran dinasti Buwaihiyyah ia juga mengungkapkan adanya kelompok-kelompok diskusi serta memperkenalkan para tokoh besar dimasa Renaisans Islam diantaranya: Abu hayyan Al Tauhidi, Abu Ali Miskawaih, Abu Al Hasan Al Amiri, Abu Al fadl Ibn Al Amid, 'Adhud Al Daulah (sebagai raja), Ibn Abbad serta yang tidak ketinggalan adalah Abu Sulaiman Al Sijistani (hal. 18).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para pemikir humanis ini memilki cita-cita dan tujuan yang sama yaitu mewujudkan dan menghidupkan kembali warisan filsafat Yunani-Romawi kuno sebagai pembentukan pikiran dan karakter. Dimana humanisme yang mereka kembangkan merupakan lanjutan dari masa helenisme dan Yunani-Romawi kuno dengan ciri (1) mengadopsi filsafat klasik (2) konsepsi persamaan dan persaudaraan sesama manusia (3) cinta kasih sesama umat manusia.&lt;br /&gt;Hal ini tidak jauh berbeda denngan humanisme yang dikembangkan pada masa Renaisans Eropa (Italia) dimana para sastrawan Italia itu mengembangkan humanisme yang ada pada masa Yunani Romawi terutama merujuk pada humanismenya plato, Aristoteles dan Madzhab Stoa.&lt;br /&gt;Dinasti Buwaihiyyah Sendiri muncul menjadi pemegang kekuasaan di Irak dan Iran Barat didahului oleh adanya perpecahan di dalam kerajaan 'Abbasiyyah tepatnya disaat terjadi perselisihan masyarakat Baghdad dan kendali kekuasaan khalifah pada tahun 324 H/935 M. yang pada saat itu terjadi disintegrasi di kerajaan-kerajaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karakteristik dinasti Buwaihiyyah dibawah kepemimpinan 'Adhud Al Daulah adalah kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, karena mengembangkan konsep humanisme yang sangat menghargai pluralisme dan bersifat sangat kosmopolitan,. Dimana penekanan atas nilai dan martabat manusia, penghargaan yang tinggi atas individu, sebagi ekspresi perasaan, pengalaman, pemikiran seseorang dan mengedepankan kosmopolitanisme menjadi ciri perilaku masyarakat Baghdad dan Iran pada saat itu. Yang tentnya memiliki implikasi filosofis yang besar dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Humanisme dalam Renaisans Islam ini juga diwarnai dengan munculnya kelompok-kelompok diskusi dikalangan masyarakat yang bukan dari kalangan sarjana muslim. Seperti "Philosophical Circle" yang dipimpin Abu Sulaiman Al Sijistani, "Royal Circlenya" Ibn sa'dan dan Ibn 'Amid serta Schoolnya Yahya Ibn 'Adi yang semua kelompok tersebut sangat menjunjung tinggi humanisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Harus kita akui bahwa kerja keras yang dilakukan Kraemer dengan mnguak panorama peradaban Abad pertengahan dengan Renaisans Islamnya telah memberikan sumbangan dan informasi yang sangat berharga dalam sejarah masa kejayaan Islam. Yang dapat dijadikan rujukan, pelajaran dan semangat serta inspirasi untuk mewujudkan Renaisans ketiga, sebagaimana yang diramalkan oleh Prof. Dr. Fazlurrahman bahwa kebangkitan Islam pada masa mendatang akan muncul bukan di dunia Arab melainkan Asia Tenggara, khusunya Indonesia dan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-7141784939798379971?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/7141784939798379971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=7141784939798379971' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7141784939798379971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/7141784939798379971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/resensi-buku-humanisme-islam-di-abad.html' title='Humanisme Islam Di Abad Pertengahan'/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7bVFrvysNI/AAAAAAAAAP0/Jy6BS9JaMvM/s72-c/viewimage.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-8565634270119488066</id><published>2008-02-09T08:06:00.001-08:00</published><updated>2008-02-09T08:06:44.106-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h1&gt;Resensi Buku&lt;/h1&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1&gt;Terbongkarnya Perilaku Seks Kaum Terpelajar&lt;/h1&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh: Moh. Yasin *)&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Judul Buku&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;: Sex in the Kost, Realitas dan Moralitas Seks “Kaum Terpelajar”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: Iip Wijayanto&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penerbit&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Tinta, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Cetakan&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Pertama, Mei 2003 &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tebal&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;: xx + 152 halaman&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;FENOMENA kehidupan kost-kostan yang mayoritas penghuninya adalah kaum mahasiswa dan identik dengan kehidupan yang agak bebas, karena lepas dari pengawasan orang tua serta tradisi “&lt;i&gt;pakewuh”&lt;/i&gt; sesama temen. Justru menjadi penopang terjadinya “&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i&gt;asmara&lt;/i&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i&gt; liar”&lt;/i&gt; atau “&lt;i&gt;premarrietal inter course &lt;/i&gt;(hubungan seks pra nikah)” ditengah-tengah pergaulan bebas dan konstruksi masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; modern ini.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Disamping karena usia dimasa mahasiswa adalah usia muda yaitu masa transisi, paling rawan dan identik dengan seks, anak muda juga cenderung mengedepankan nafsu dan kehendaknya dari pada rasionya. Sehingga “&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;asmara&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i&gt; liar” &lt;/i&gt;menjadi sesuatu yang sudah sangat lazim terjadi di tengah-tengah pergaulan bebas dan kampanye seks bebas besar-besaran di era digital ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Sisik Pelik fenomena inilah yang menggugah Iip Wijayanto seorang penulis dan peneliti muda kontroversial yang dilahirkan di Bengkulu ini untuk memahami, mengkaji, meneliti dan kemudian menganalisis terhadap fenomena tersebut. Dengan berpijak pada pembangunan etika dan moralitas manusia berdasarkan realitas kehidupan yang telah ia jalani dan pengetahuan agamanya yang tidak diragukan lagi. Terutama masalah pergaulan bebas atau yang sering kita kenal dengan istilah &lt;i&gt;premarrietal inter course (&lt;/i&gt;atau seks bebas) di dunia kaum intelektual&lt;i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Dimana akhir-akhir ini ia sempat membuat geger di negeri ini dengan penilitian kontroversialnya tentang virginitas. Dan hasilnya fantastis: “97,05% mahasiswi disebuah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tertentu telah kehilangan keperawanannya”.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Lewat karyanya yang berjudul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;i&gt;Sex in the Kost” &lt;/i&gt;inilah Iip wijayanto mencoba untuk memaparkan kegelisahan dan pengalaman pribadinya dalam realitas kehidupan yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun di sebuah negeri yang ia sebut sebagai “&lt;i&gt;negeri antah berantah&lt;/i&gt;” yaitu negeri yang telah melahirkan para tokoh intelektual terkemuka. Mulai dari mereka yang bercorak fikir liberalis sampai pada mereka yang bercorak fikir fundamentalis.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam mengawali karyanya penulis mencoba memaparkan keadaan kost-kostan dan wilayah disekitarnya yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun lebih. Dimana ia selalu berpindah-pindah kost karena ketidak cocokannya dengan suasana yang penuh dengan kemaksiatan, yang selalu membuatnya geram, kesal dan tidak betah. Karena latar belakangnya berangkat dari keluarga yang memiliki ideologi yang sangat keras dan konservatif ia juga sebagai seseorang yang menyibukkan diri di dunia dakwah bersama komunitasnya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Kehidupan kost-kostan Iip yang selalu berpindah-pindah kurang lebih sebanyak enam kali menjadi pengalamaman tersendiri bagi Iip dalam membaca realitas kehidupan di dunia kost-kostan. Dalam kehidupan kost-kostannya, mulai dari kost-kostan pertama hingga ke-enam di mata Iip ada bermacam-macam variasi kegiatan yang dijalani oleh penghuni kost yang 99% penghuninya adalah mahasiswa dan mahasiswi. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang hidup penuh dengan kedisiplinan, kelihatan alim, rajin ibadah, jamaah di masjid dan ada yang menjalani kehidupan secara biasa-biasa saja. Dan yang nggak pernah luput adalah mereka yang menjalani kehidupan “&lt;i&gt;premarrietal inter course” &lt;/i&gt;atau kehidupan seks bebas, suka minum dan menggunakan obat-obat terlarang yang merugikan diri dan masyarakat.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Lebih jauh dalam mengupas tentang tradisi seks bebas di kalangan mahasiswa Iip tidak hanya sekedar memaparkan secara gamblang hasil observasi dan pengalaman gaulnya. Namun, ia juga mencoba memahami, mempelajari, mengevaluasi dan kemudian menganalisis fenomena seks bebas didunia mahasiswa tersebut, melalui aspek budaya dan moralitas seks.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Istilah pergaulan bebas atau bebas seks didunia mahasiswa sebenarnya sangat menarik jika kita telusuri lebih jauh. Karena kebebasan seks ini justru menjadi suatu pergaulan yang tidak bebas dimana para pelakunya selalu dibayang-bayangi dan dihantui oleh rasa dosa, rasa bersalah, rasa takut dengan orang tua, serta rasa takut terhadap masa depan dirinya dan sebagainya. Sehingga bisa dikatakan pergaulan bebas ini adalah pergaulan bebas yang justru menjadi pergaulan yang angker dan penuh dengan bayang-bayang ketakutan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Sehingga dalam perjalanannya penuh dengan trik-trik dan strategi khusus yang jitu untuk kemudian bagaimana mengatasi dan menghindari rasa takut dan bersalah tersebut serta bagaimana menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar, dengan penuh hati-hati dan kewaspadaan yang tinggi tentunya. &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam pengalaman observasinya sebenarnya para pelaku seks bebas memiliki berbagai strategi dalam melakukan hubungan seks bebasnya, yang secara umum bisa digambarkan sebagai seks “kucing-kucingan”. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang dengan trik pura-pura ngobrol biasa di ruang tamu yang kemudian diteruskan ngobrolnya dikamar jika keadaan sudah sepi, pintu ditutup dengan pelan-pelan dan sandal sicewek dimasukkan kekamar, tembang kenangan diputar untuk menutupi erangan-erangan yang penuh dengan kenikmatan kemudian bobo bareng pun telah dimulai. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang melakukan di malam hari dengan jalan menyogok para penjaga kampung, untuk menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar. Dan mereka kaum elitis sering dengan jalan pergi nginap di sebuah penginapan atau hotel, dan seterusnya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Itulah gambaran sepenggal realitas kehidupan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i&gt;asmara&lt;/i&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i&gt; liar&lt;/i&gt; yang dilakukan oleh para kaum intelektual muda kita di tengah-tengah kontruksi masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; modern, yang tertera dalam buku &lt;i&gt;Sex in the Kost &lt;/i&gt;ini. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Lebih lanjut dalam buku ini Iip juga memaparkan fenomena &lt;i&gt;nikah sirri&lt;/i&gt; yang barangkali sudah menjadi budaya akhir-akhir ini di kalangan kaum terpelajar. Dengan berdasarkan kitab suci dan pengetahuan keagamaannya ia sangat menentang tradisi ini jika pelaksanaannya hanya demi memenuhi “nafsu birahi” saja. Sehingga terkesan bahwa nilai sebuah pernikahan hanyalah menuruti nafsu saja, bukan sebagai sunah rosul atau menciptakan sebuah kehidupan keluarga yang diridhoi Tukan.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Persoalan tentang keobyektifan dan keorisinalitasan apa yang di deskripsikan oleh Iip, brangkali tidaklah suatu masalah besar. Yang menjadi masalah adalah jika saja apa yang dideskripsikan oleh Iip itu sudah menjadi sebuah realitas dan tradisi di kalangan intelektual kita, dan tentunya ini sangat naif sekali jika terus berlanjut. Maka sudah menjadi tugas kita bersama untuk kemudian melakukan ittikad melawan terhadap tradisi tersebut. Dengan tetap berpegang teguh terhadap apa yang menjadi pegangan hidup kita untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Tentang judul buku “S&lt;i&gt;ex in the Kost”&lt;/i&gt; ini barangkali tidak salah jika para pembaca mengatakan ini hanyalah plesetan dari film &lt;i&gt;Sex in the City &lt;/i&gt;yang ditayangkan oleh Lativi atau &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;Jakarta&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;i&gt; under Cover.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Namun bagi Iip istilah &lt;i&gt;Sex in the Kost &lt;/i&gt;ini tidak lebih hanyalah istilah yang digunakan untuk mendikripsikan fenomena global di tengah-tengah masyarakat kita. Karena jauh sebelum &lt;i&gt;Sex in the City &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Jakarta Under Cover &lt;/i&gt;muncul sebenarnya sudah ada istilah “ML (&lt;i&gt;Making Love&lt;/i&gt;) ataupun akronim-akronim lainnya.&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Barangkali inilah sebagian dari karya penulis yang kemudian akan disusul oleh karya-karya berikutnya yang lebih bombastis. Biar tidak menjadikan kaget masyarakat, seperti disaat penelitian virginitasannya di ungkapkan beberapa saat yang lalu. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;*) &lt;b&gt;Moh. Yasin&lt;/b&gt;, mahasiswa Aqidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Alamat: Jl. Bima Sakti GK I/70 Sapen, Demangan, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; 55221&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;No. Rek. Bank LIPPO (Yogyakarta-K.Kas Kusumanegara): 974-10-04611-0 (a.n) Moh. Yasin&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1307272525771132938-8565634270119488066?l=muhammad-yasin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/feeds/8565634270119488066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1307272525771132938&amp;postID=8565634270119488066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8565634270119488066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1307272525771132938/posts/default/8565634270119488066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://muhammad-yasin.blogspot.com/2008/02/resensi-buku-terbongkarnya-perilaku.html' title=''/><author><name>Moh Yasin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R7Wnn7vysJI/AAAAAAAAAPU/C-B52SVHPFI/S220/tn.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1307272525771132938.post-5037672185468158338</id><published>2008-02-09T08:05:00.002-08:00</published><updated>2008-02-09T09:05:13.868-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63cervyrlI/AAAAAAAAAKw/LebTsnOKgjc/s1600-h/billy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R63cervyrlI/AAAAAAAAAKw/LebTsnOKgjc/s400/billy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165026767361191506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Resensi Buku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kisah Manusia dengan 24 Kepribadian &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh&lt;b&gt;: Moh. Yasin*)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Judul Buku &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: 24 Wajah Billy&lt;/span&gt;&lt;span style="" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Judul Asli&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: The Mind of&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Billy Milligan&lt;/span&gt;&lt;span style="" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penulis&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: Daniel Keyes&lt;/span&gt;&lt;span style="" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penerjemah&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Miriasti dan Meda Satrio&lt;/span&gt;&lt;span style="" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Penerbit &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Qanita, Bandung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cetakan &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Pertama, Juli 2005&lt;/span&gt;&lt;span style="" dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tebal &lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;: xiv + 365 halaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dibebaskannya Wlliam Stanley Milligan atau Billy pada tahun 1970-an oleh Pengadilan Amerika, atas berbagai tuduhan tindak kriminal serius, tidak hanya menjadi bahan kajian dan &lt;i style=""&gt;headline&lt;/i&gt; diberbagai media di seputar dunia. Billy menjadi orang pertama dalam sejarah Amerika yang dianggap tidak bersalah dan dibebaskan dari berbagai tuduhan kriminal berat dengan alasan kegilaan atau memiliki kepribadian majemuk, oleh pengadilan Amerika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Billy dianggap tidak memiliki kendali atas berbagai tindakan oleh pribadi-pribadi dalam dirinya. Kevin adalah pribadi dalam diri Billy yang menjadi otak sebuah perampokan di toko obat. Adalana adalah pribadi yang memakai tubuh Billy untuk melakukan penculikan dan pemerkosaan tiga wanita di kampus OSU (Ohio State University). Dua dari dua puluh empat kepribadian Billy inilah yang mengakibatkan Billy ditahan oleh kepolisian Amerika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada masa proses peradilan para psikeater dari Southwest Community Mental Health Center dan rumah sakit Harding, pengacara, serta pihak kepolisian yang ditugaskan menangani Billy telah menemukan sepuluh kepribadian dalam diri Billy. Berbagai temuan kepribadian itu kemudian dikukuhkan dalam kesaksian di pengadilan oleh empat orang psikiater dan satu orang psikolog di bawah sumpah, yaitu Dr. Harding, Dr. Turner, Dr. Karolin, Dr. Wilbur dan sang penuntut Yavitch. Sehingga Billy dibebaskan dari semua tuduhan tindak kriminal, karena dianggap tidak memiliki kendali diri saat melakukan tindak kejahatan. Billy kemudian dikirim ke berbagai rumah sakit jiwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagaimana proses terjadinya &lt;i style=""&gt;split of personality &lt;/i&gt;atau perpecahan kepribadian dalam tubuh Billy?, Bagaimana Billy menjalani kehidupan dengan 24 kepribadian yang meminjam tubuhnya?, Serta bagaimana dia keluar dari penderitaannya?. Adalah pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab dalam novel yang semula berjudul &lt;i style=""&gt;The Mind of Billy Milligan &lt;/i&gt;ini, yang ditulis oleh Daniel keyes, seorang penulis kelahiran New York, yang pada tahun 1998 telah memperoleh penghargaan “distinguished Alumnus Medal of Honor” dari Brooklyn College. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keyes menulis kisah nyata kehidupan Billy dengan dua puluh empat kepribadiannya ini atas tawaran Dr. David Caul, dan atas persetujuan dari Billy atau Milligan sendiri, setelah Billy membaca salah satu karyanya. Semua bahan novelnya ini dia dapat dari Milligan setelah Milligan &lt;i style=""&gt;terfusi&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keyes menggunakan tiga bagian untuk mengisahkan 24 kepribadian Billy, &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt; masa galau, yaitu mengkisahkan tentang proses ditangkapnya Billy oleh pihak kepolisian dan munculnya sepuluh kepribadian pada masa proses penahanan di kepolisian. &lt;i style=""&gt;Kedua, &lt;/i&gt;menjadi Sang Guru, mengkisahkan kepribadian-kepribadian baru yang muncul setelah Billy &lt;i style=""&gt;terfusi. Ketiga&lt;/i&gt;, usai kemelut, yang menceritakan tentang kondisi Billy yang mulai terkendali dan mulai mengetahui tentang kebenaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kelihaian Keyes dalam merangkai kata-kata untuk mengisahkan 24 kepribadian Billy benar-benar mampu melukiskan secara tepat dan memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan publik tentang kontroversi kebebasan Billy dari pengadilan Amerika. Ketika pertama kali terbit, novel Keyes ini telah mampu memikat ribu-an pembaca, mendapatkan respon dan komentar dari berbagai kalangan. Flora Rheta Schreiber, penulis buku &lt;i style=""&gt;Sybil&lt;/i&gt; mengagumi buku ini dan mengomentari dengan ungkapan “benar-benar membuat &lt;i style=""&gt;shock&lt;/i&gt;”. Novel ini juga sempat menjadi nominasi &lt;i style=""&gt;best true crime category &lt;/i&gt;‘Edgar Award’ dari The Mystery Writers of America.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain menulis buku yang berjudul 24 &lt;i style=""&gt;Wajah Billy&lt;/i&gt; ini, empat karya Keyes lainnya telah mengantarkan namanya kepenjuru dunia. Di antaranya &lt;i style=""&gt;Flowers for AlGernon &lt;/i&gt;(1966), &lt;i style=""&gt;The Touch &lt;/i&gt;(1968), &lt;i style=""&gt;The Fifth Sally &lt;/i&gt;(1980), dan &lt;i style=""&gt;Until Death &lt;/i&gt;(1994). Khusus novel pertamanya &lt;i style=""&gt;The Flowers for Algernon &lt;/i&gt;telah difilmkan dengan judul &lt;i style=""&gt;Charly, &lt;/i&gt;memenangi berbagai penghargaan dan menjadi bahan kajian di seluruh sekolah dan akademi di Amerika. Cliff Robertson yang menjadi aktor dalam film &lt;i style=""&gt;Charly&lt;/i&gt;, telah meraih Oskar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keyes mengerjakan novel ini bersama Milligan selama dua tahun, dalam proses penulisan rasa putusasa pernah terlintas dibenaknya, karena kondisi Billy yang begitu buruk dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak mungkin bisa menceritakan tentang dirinya. Namun, Keyes kembali semangat ketika kepribadian Billy mulai melebur atau &lt;i style=""&gt;terfusi&lt;/i&gt;. Dalam keadaan &lt;i style=""&gt;terfusi&lt;/i&gt; Milligan memiliki ingatan yang kuat tentang sosok-sosok kepribadian dalam dirinya. Di mana Billy &lt;i style=""&gt;Terfusi &lt;/i&gt;saat muncul sosok kepribadian yang menamakan diri sebagai Sang Guru, dari tubuh Billy.&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;Dari sosok pribadi Sang Guru itulah Keyes memperoleh berbagai kepribadian lainnya, pribadi-pribadi baru-pun mulai dia temukan dari Billy. Tidak tanggung-tanggunga 24 kepribadian dia dapatkan dari dalam tubuh Billy, saat Billy &lt;i style=""&gt;terfusi.&lt;/i&gt; Yang muncul dari sosok hasil peleburan seluruh kepribadian Billy. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kepribadian Billy melebur atau &lt;i style=""&gt;terfusi &lt;/i&gt;ketika dirawat oleh Dr. David Caul di Athens Mental Health Center. 14 dari 24 kepribadian yang berbeda-beda muncul saat Billy dirawat oleh Dr. David Caul. Di antaranya &lt;i style=""&gt;April&lt;/i&gt; 19 tahun, perempuan berlogat Boston yang selalu meracik rencana untuk balas dendam terhadap ayah tirinya. &lt;i style=""&gt;Jason&lt;/i&gt; 13 tahun, si katup penyalur tekanan, ia pembawa pergi berbagai kenangan buruk melalui reaksi histeris dan amukan, sehingga mengakibatkan tokoh lainnya mengalami &lt;i style=""&gt;amnesia&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Samuel&lt;/i&gt; 18, penganut agama Yahudi ortodoks. &lt;i style=""&gt;Mark &lt;/i&gt;16 tahun, seorang pekerja yang tidak akan bekerja jika tidak diperintah. Serta &lt;i style=""&gt;Wlliam Stanley Milligan&lt;/i&gt; (Billy) 26, sosok Billy asli yang disebut dengan &lt;i style=""&gt;unfused&lt;/i&gt; Billy (Billy yang belum &lt;i style=""&gt;terfusi&lt;/i&gt;) atau “Billy-U” dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari dua puluh empat kepribadian dalam diri Billy, &lt;i style=""&gt;Sang Guru&lt;/i&gt;, 26 adalah pribadi yang mengakui bahwa dirinya adalah Billy yang seutuhnya, dan menyebut pribadi yang lainnya sebagai “&lt;i style=""&gt;android&lt;/i&gt; (manusia robot) buatanku”. Dan Sang Guru adalah pribadi Billy yang mengajari keahlian dan keterampilan tertentu 23 kepribadian Billy lainnya. Dari pribadi Sang Guru inilah novel ini tertulis, karena pribadi Sang Guru memiliki ingatan yang kuat dan kecerdasan yang lebih dibanding kepribadian-kepribadian lainnya saat Billy &lt;i style=""&gt;terfusi&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebelum mendapatkan perawatan dari Dr. David Caul di Athens Mental Health Center. Billy sempat mendapatkan perawatan dari Dr. Cornelia Wilbur seorang psikiater tersohor, yang berhasil menyembuhkan &lt;i style=""&gt;Sybil&lt;/i&gt; (perempuan dengan 16 kepribadian). Billy juga sempat dirawat di Lima State Hospital For the Criminally Insane (sebuah rumah sakit negeri khusus untuk perilaku tindak kriminal yang tidak waras). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah mendekam selama satu dekade di berbagai rumah sakit jiwa, Pada tahun 1998 Billy dibebaskan. Saat ini Billy tinggal di Califoenia, sedang membuat film yang mengkisahkan ten
