Sabtu, 14 Juni 2008

Beragama Dengan Kearifan

Naskah opini ini dimuat di Media Indonesia edisi, Jum'at 13 juni 2008
Oleh: Moh. Yasin*)

Sebagai sistem kepercayaan dan peribadatan, agama memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan tatanan kehidupan yang menjadi dambaan manusia, yaitu: kehidupan yang harmonis, sejahtera,berkeadilan dan diridhoi Tuhan.
Agama, sejauh menjadi pahamkepercayaan dan peribadatan senantiasa menjadi sumber motifasi dan inspirasi yang tidak pernah kering dan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban.
Namun, ketika paham kepercayaan sudah diinstitusikan atau dilembagakanmenjadi sebuah nama formal (Islam, Kristen, Hindu, Budha dll). Agama mulai melahirkan perdebatan, perselisihan, konflik dan pertikaian, yang muncul akibat adanya paham yang berbeda-beda dalam proses hidup beragama.
Oleh karenanya, salah satu persoalan penting dalam proses perilakukehidupan keberagaman manusia adalah adanya pluralisme penafsiran terhadap agama dan apa yang menjadi lawan pluralisme, yaitu klaim-klaim kebenaran tunggal terhadap agama formal tertentu.
Dimana perilaku keberagaman manusia yang tidak pluralis dan menggunakan klaim-klaim tunggal cenderung melahirkan sifat-sifat keangkuhan dan kesombongan oleh sebagian agamawan. Bahwa agama formal yang dipeluknyaadalah agama yang paling selamat, yang paling orisinil, paling benar, dan orang lain harus diagamakan dengan agama formalnya.
Jika agama sudah ditafsirkan demikian, yang terjadi adalah beragama dengan eksklusif, komunal dan kental dengan kebenaran yang subyektif. Sehingga esensi makna sebuah agama tereduksi sebegitu rupa. Dimana cara beragama ini selalu membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, bukan membenarkan diri sendiri dan menghargai kebenaran diluar dirinya.
Hal ini bisa dilihat pada fenomena sejarah panjang keberagamaan manusia, seperti klaim kebenaran agama semit oleh sebagian pemeluknya. Dimana mereka mengklaim bahwa agama semit adalah agama yang orisinil,paling benar, paling selamat dan menganggap agama bumi hanya kreasi manusia belaka.Fenomena ini tidak berhenti pada klaim kebenaran antar agama, konflik-konflik yang muncul saat ini malah permusuhan antar kelompokaliran yang masih berada dalam satu institusi agama.
Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, banyak organisasi keagamaan yang mengklaim bahwa aliran yang dianutnya adalah yang paling orisinil dan paling benar, bahkan tak jarang mereka menganggap orang di luar garis kepercayaannya sebagai kafir dan dihalalkan darahnya, dan satu-satunyajalan kebenaran adalah dengan membubarkan atau memerangi mereka.
Cara kehidupan keberagamaan manusia yang demikian, sepertinya sudah menjadi pemandangan umum di kehidupan ini, terutama di negeri ini.Kasus perlawanan dengan kekerasan terhadap beberapa aliran "sesat"seperti al-Qiyadah, Ahmadiyah, Lia Eiden, hingga mereka yang membela kebebasan beragama oleh aliran tertentu akhir-akhir ini, barang kali menjadi salah satu bukti bahwa ada yang salah dalam proses keberagamaan manusia dan pemahaman akan makna sebuah agama.
Oleh karenanya harus ditemukan sebuah horizon-horizon baru dalam memaknai sebuah agama. Sehingga akan tercipta perilaku keberagaman yang tidak komunal dan eksklusif serta mengakui kebebasan dalam beragama tentunya, demi terciptanya sebuah keberlangsungan hidup yangdamai dan sejahtera, sebagaimana yang diajarkan oleh setiap agama dan apa yang telah menjadi cita-cita agama yaitu menciptakan tatanan kehidupan yang penuh dengan kemaslahatan dan kedamaian.
Dalam konteks ini penulis melalui pendekatan historis kemunculan agama, ingin mendedahkan mengenai esensi sebuah agama, sehingga terlihat apa yang menjadi visi dan cita-cita setiap agama, baik agama semit maupun agama bumi. Dengan harapan akan tersingkap makna esensi sebuah agama, yang selama ini tereduksi dan memunculkan berbagai konflik antar agama dan pertikaian antar aliran.
Sehingga akan tercipta sebuah tatanan kehidupan kerberagamaan yang penuh dengan kearifan yaitu kehidupan beragama yang lebih toleran, mengutamakan kebajikan, keadilan, kemaslahatan dan kesejahteraan.
Jika dilihat dari sudut pandang teologi, dan sejarah kemunculan setiap agama --agama semit maupun agama bumi—sebenarnya memiliki visi besar yang sama, yaitu memperjuangkan kebajikan dan keadilan.
Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut. Secara historis, sejak masih menjadi paham kepercayaan atau Abrahamic Religion, hingga menjadi sebuah institusi-institusi agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi. Agama, sebenarnya memiliki visi dan cita-cita yang sama yaitu pendambaan akan keadilan, kebajikan dan kehidupan yang penuh dengan kedamaian.
Hal ini dapat dilihat sejarah kemunculan agam-agama formal, dimana melalui tokoh-tokoh pembawa agamanya, setiap agama melakukan revolusi di massanya dengan tujuan untuk melawan ketidak adilan, penindasan,membela yang lemah dan melawan kaum tiran.
Sebagaimana ketika Ibrahim harus berjuang melawan penindasan, dan memperjuangkan keadilan untukumatnya, kemudian Islam dengan revolusi yang dibawa oleh Muhammad demimelawan ketidakadilan masa jahiliyah, serta Kristen lewat Isa, danBudha dengan Sidarta Gautama dan sebagainya.

Dimana para pembawa agama ini memiliki kegelisahan yang sama, yaitu: memperjuangkan keadilan dan pembebasan di era-nya masing-masing. Selain itu, secara teologis agama melalui kitab suci, hasil-hasil ijtihad para ulama, tidak ada yang mengajarkan terhadap tindak kejahatan dan keburukan, entah itu agama semit atau pun agama bumi. Oleh karenanya tatkala muncul konflik antar agama pasti tidak akanlepas dari adanya pereduksian esensi agama, yaitu cara beragama yang mengabaikan visi dan cita-cita agama itu sendiri, yaitu sikap dengan tidak memperjuangkan kebajikan dan tidak anti ketidakadilan.

Individu-individu atau kelompok yang melakukan tindakan kekerasan,ketidakadilan lewat jalan agama dengan mentasbihkan dirinya sebagaiserdadu Tuhan tidak pernah dibenarkan dalam tata cara, perilaku, danpola hidup keagamaan setiap agama.

Dan mereka, para pelaku tindakan kekerasan, beragama secara eksklusif dan komunal ini lebih layak dikenal sebagai pendusta agama. Sebab tindakan, perilaku, dan cara keberagamaannya sebenarnya menyimpang dari apa yang menjadi visi besar dan cita-cita agama. Yang mana perilaku menyimpang ini muncul akibat minimnya pemahaman akan esensi sebuah agama, dan akibat taklid buta,sehingga keberimanannya tidak murni atas kesadaran dan pemahaman keagamaan yang mendalam.

*) Moh Yasin, Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS- Paramadina,Jakarta. A Branch of ICAS-London. Aktif di The Indonesian FamousInstitute.

0 comments: