Oleh: Moh. Yasin*)
Judul Buku : Melacak Jejak Tuhan dalam Sains; Tafsir Islami Atas SainsJudul Asli : Issues in Islam and Science
Penulis : Mehdi Golshani
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2004
Tebal : xxiii + 149 halaman
Sejak dua Abad silam perkembangan dunia sains berikut turunannya tekhnologi cenderung berwatak ateistik-materialistik, hasilnyapun kerapkali mengancam agama. Teori-teori ilmiah yang dimunculkan sains dilandaskan pada metafisika yang bertentangan dan menyudutkan keyakinan kaum beragama, seperti teori penciptaan alam semesta, manusia, hubungan alam dengan Tuhan dan sebagainya.
Puncaknya ketika Darwin mempopulerkan teori evolusinya lewat karyanya "The Origin of Species" pada 1859.M dengan teori evolusi Darwin telah melawan apa yang menjadi doktrin dan keyakinan kuat kaum beragama terutama mengenai misteri kemunculan manusia. para Darwinisme meyakini bahwa nenek moyang kita bukanlah Adam (nabi) sebagaimana yang diceritakan oleh agama, melainkan kera. Begitu juga dengan alam keberadaannya hanya faktor kebetulan belaka, tidak ada agen yang menciptakannya, termasuk Tuhan.
Keradikalan sains modern dengan memunculkan teori-teori atau temuan-temuan baru yang cenderung bersifat ateistik-materialistik ini terlihat semakin membahayakan kaum agamawan. Kaum agamawan dalam menanggapi atau merespon paradigma sains modern yang bersifat ateistik-materialistik tersebut paling tidak melahirkan tiga corak. (1) berusaha memepertahankan doktrin tradisionalnya, (2) meninggalkan tradisi, dan (3) berusaha merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah.
Di Barat perdebatan atau perjumpaan anatara sains dan agama menghasilkan gagasan "sains teistik", yaitu: sains yang sensitive terhadap keyakinan dan ajaran agama. Sementara dalam Islam hubungan antara sains dan agama telah menjadi topik menarik selama lima puluh tahun terakhir ini. Gagasan mengenai "sains Islami" atau "Islamisasi sains" merupakan reaksi atas sains modern yang ateistik-materialistik tersebut. "Sains Islami" ini pada mulanya dipopulerkan oleh para pemikir muslim seperti Sayyed Hossein Nasr, Ziauddun Sardar lewat karya-karya ilmiahnya.
Buku yang ditulis oleh Golshani guru besar di bidang fisika Universitas Tekhnologi Sayrif Iran ini mencoba menawarkan wacana tentang agama dan sains secara konstruktif, terbuka dan tetap menjunjung tinggi sikap kritis.
Sebagai bukti konkrit Golshani dalam mengusung wacana tentang sains dan agama secara konstruktif dapat dilihat bagaimana ia meletakkan peran Al-Qur'an dalam kaitannya dengan sains. Meskipun Golshani menganggap Al-Qur'an merupakan salah satu sumber ilmu, ia tidak menganggap ayat-ayat Al-Qur'an sebagai sumber langsung teori-teori ilmiah dalam sains, yang dapat digunakan untuk mendukung atau mengkritik teori-teori ilmiah secara langsung (hal. Xiv).
Akan tetapi Golshani meletakkan Al-Qur'an sebagai sember ilmu berada pada dataran filosofis/metafisi. Al-Qur'an memberikan prinsip-prinsip umum dalam kajian ilmiah dan motivasi yang kuat bagi umat Islam untuk memahami semesta dan isinya demi mendekatkan diri pada Tuhan.
Gagasan yang diusung oleh Golshani ini merupakan jawaban atas kecenderungan popular dikalangan umat Islam dalam menanggapi sains modern, yang sering terjebak pada upaya-upaya tidak produktif. Yaitu pandangan yang hanya sekedar mencocok-cocokkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan teori-teori ilmiah muthakhir saja, bahkan pandangan ini melahirkan "sains Islami" yang tidak berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam. Seakan-akan "sains Islami" menghendaki adanya laboratorium yang Islami, hukum gerak versi Islam, teori relativitas versi Islam, atau dengan hanya memahami ayat-ayat Al-Qur'an saja orang kemudian secara serta merta bisa memahami sifat-sifat dan kandungan alam semesta.
Dengan kritis Golshani melebur pandangan tersebut dengan mengusung wacana mengenai agama dan sains secara konstruktif dan tak superficial. Dengan memberikan kerangka metafisis yang Islami terhadap sains dan menjelaskan bagaimana seharusnya sikap kita sebagai umat Islam terhadap perkembangan sains modern?, kalim-klaim kebenaran yang diajuakan oleh sains modern?, serta bagaimana seharusnya kita meletakkan Al-Qur'an (kitab suci) dalam menghadapi sains modern yang berwatak ateistik-materealistik tersebut?.
Dengan demikian Golshani bermaksud menawarkan sains Islami sebagai sains yang berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam, dan gagasannya jauh berbeda dengan para pemikir muslim sebelumnya yang menggunakan label serupa. Lewat buku ini Golshani ingin menjelaskan kerangka metafisis yang Islami terhadap perkembangan sains dewasa ini.
Gagasan Golshani ini lebih tepat disebut sebagai "penafsiran Islami atas sains" bukan "sains Islami" karena kecenderungannya yang hanya berusaha memberi tafsir secara Islami terhadap sains bukan memunculkan teori yang khas Islam. "Sains Islami" sendiri bagi Golshani adalah upaya para ilmuawan muslim untuk bergerak lebih jauh dari kolega-kolega ilmuwan mereka, dengan melakukan upaya penafsiran demi memposisikannya dalam kerangka metafisis Islami (hal. Xix).
Dengan demikian sains Islami tidak lagi hanya sekedar berapologi untuk membela keimanan/keyakinan kaum beragama saja dengan merubah prosedur yang baku dalam sebuah teori atau menghendaki riset-riset ilmiah yang harus merujuk pada kitab suci, sebagaimana yang digagas oleh para pemikir muslim sebelumnya. Namun lebih pada memberikan tafsiran terhadap sains secara Islami, yaitu dengan menggunakan kerangka metafisis yang tepat agar sains dapat mengantarkan manusia pada pemahaman akan semesta dan mengenal Tuhan secara lebih dekat.
Bagi Golshani pandangan dunia religius sangat relevan terhadap sains, terutama dalam tataran penafsiran teori-teori ilmiah. Di samping juga memberikan motivasi yang kuat untuk membaca dan memahami alam semesta beserta isinya dan Tuhan sang pencipta semesta.
Beberapa tema yang dikaji oleh Golshani dalam buku ini masih tidak jauh berbeda dengan buku sebelumnya yang berjudul "The Holy Qur'an and the Science of Nature" yang penuh dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis serta disertai dengan kesimpulan-kesimpulan yang sangat straight forward, tanpa ada perdebatan yang seharusnya itu terjadi. Namun, dalam buku ini sudah ada pengembangan daripada buku sebelumnya karena Golshani juga membahas mengenai nilai-nilai etika dalam penerapan sains.
*) Moh. Yasin, Pimpinan Redaksi The famous Institute, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta.
0 comments:
Poskan Komentar