Kamis, 15 Mei 2008

Menggapai Spiritualitas Lewat 40 Hadis

Resensi Buku

Oleh: Moh. Yasin*)

Judul Buku : 40 Hadis, Telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak
Judul Asli : Syarh al-Arbain Haditsan
Penulis : Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomeini
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2004
Tebal : xxii + 860 halaman

"Barang siapa menjaga umatku dengan empat puluh hadis sehingga umatku beroleh manfaat darinya, kelak pada hari kiamat ia akan dibangkitkan oleh Allah dalam keadaan sebagai seorang faqih lagi alim"(Al-Hadis).
Hadis itulah yang dijadikan landasan oleh Imam Khomeini untuk menulis buku ini, dimana dengan penguasaan ilmu yang tinggi dan penghayatan irfan yang mendalam, Khomeini merenung untuk memilih empat puluh hadis diantara hadis-hadis Ahl Al-Bait Saw dan kitab-kitab autentik para sahabat dan alim. Serta berupaya untuk mengupas tiap-tiap hadis dengan membentangkan makna dzohir dan batin kandungan hadis, dengan bobot yang sesuai untuk semua kalangan, baik awam maupun tingkat yang lebih tinggi.

Karya Iamam Khomeini yang edisi Indonesianya berjudul "40 Hadis, Telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak" ini semula berasal dari bahasa Persia yang berjudul "Syarh-i Chihil Hadis" yang ditulis pada tahun 1939 disaat ia berusia 37 tahun. Dimana karya ini merupakan rangkaian karya-karya lainnya yang semuanya konsen pada masalah hikmah, akhlak dan irfan seperti "Kasyf Al-Asra, dan "Mi'raj Al-Salikin Wa Shalah Al-Arifin" dan sebagainya, dengan merujuk kepada para ahli hikmah dan irfan sekelas Ibn Shina, Suhrawardi, Mulla Shadra dan lain-lain.

Imam Khomeini yang lebih dikenal oleh khalayak sebagai pemimpin Revolusi Islam Iran ini dikenal juga sebagai orang yang memiliki penghayatan irfan yang mendalam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa karyanya yang memang benar-benar konsen dalam masalah irfan dan hikmah.
Hal ini tidak lepas dari latar belakang keluarganya dimana ia lahir dari keturunan keluarga yang sangat religius, yaitu Sayyed Mustafa (seorang ulama' terpandang di lingkungannya) dengan silsilah bersambung kepada Imam Musa Al-Kazhim. Pada umur tujuh tahun Khomeini sudah hafal Al-Qur'an dan sudah menguasai berbagai disiplin keilmuan di bawah bimbingan kakaknya Sayyed Murtadha dan kakak iparnya Mirza Riza Najafi.

Tepatnya di kota Qum Iran yang pada saat itu menjadi kota pusat kajian keagamaan di Iran, Ruhullah Khomeini menerima pendidikan lebih lanjut di bidang intelektual dan spiritual di bawah bimbingan Ayatullah Hairi. Dan dikota inilah kemudian Khomeini benar-benar tercetak menjadi seorang faqih bahkan marja' al-taqlid. Saat itulah Khomeini kemudian mengembangkan minatnya terhadap irfan, akhlak dan filsafat (baca, Biografi Penulis).

Di bidang irfan Khomeini berguru pada Mirza ali Akbar yazdi (penulis "Syarh Al-Manzhumah" dan Sayyid Abu Al-Hasan Rafi'i Qazwaini sebelum kemudian ia menemukan guru utamanya di bidang ini yaitu Ayatullah Muhammad Al-Syahabadi. Dimana ia sangat menghormati Syahabadi bahkan ia menganggap sebagai guru terbaiknya di bidang "hikmah" karena lewat syahabadi ia dikenalkan dengan beberapa karya monumental dan pemikiran para filosuf/pemikir muslimter kemuka seperti "Fushus Al-Hikam" karya Ibn 'Arabi, Manazil Al-Sa'irin Karya Khawajah 'Abdullah Anshari, Nashr Al-Din Al-Thusi dan seterusnya (baca, tentang pengarang).

Tidak heran jika kemudian ia menjadi sosok pemikir muslim yang memiliki penguasaan ilmu yang mumpuni dan penghayatan irfan yang mendalam, bahkan pada usia 27 tahun ia sudah menjadi guru di bidang hikmah dan irfan dan sejak itulah ia dikenal sebagai pemikir muslim yang memiliki kefasihan di bidang hikmah, irfan, akhlak dan filsafat.

Dan lewat karya pertamanya dalam bahasa Persia ini (40 Hadis) Khomeini membahas masalah irfan secara mendalam dan panjang lebar. Sebagaimana yang dituangkannya lewat penjelasan hadis tentang "mema'rifati Allah dengan Allah dan memakrifati rosul dengan risalah", ia mengungkapkan bahwa yang dimaksudkan dengan "makrifattilah Allah dengan Allah" adalah ketahuilah Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan kehebatan ilmu-Nya yang merupakan bukti ketuhanan-Nya, sebagaimana mengetahui Nabi dengan risalah dan bukti-bukti yang memperkuat ajarannya(Hal. 772). Pertemuan dengan Allah bukanlah bagian dari pengetahuan rasional tentang esensi Ilahi, melainkan suatu penyaksian (syuhud) irfani yang menyeluruh yang dicapai lewat penglihatan batin (bashiroh). Bukan mengetahui Allah lewat Alam atau ciptaannya karena hal ini akan menjebak pada pemehaman yang panteistik.

Dalam buku ini di samping menjelaskan hadis-hadis tentang irfan dan hikmah ia juga menguraikan beberapa hadis yang berkaitan tentang akhlak yang bersifat parkatis dan bagaimana menanamkan akhlak-akhlak yang terpuji dalam diri serta bagaimana cara mengobati sifat-sifat tercela dalam diri kita agar sampai pada pemahaman akan diri atau ma'rifat al-nafs.

Karena ma'rifat al-nafs merupakan langkah awal untuk mencapai pada makrifat Allah sebagaimana yang terkonsep dalam Islam "man Arafa nafsahu faqod arafa Robbahu" (barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya). Seperti uaraian hadis tentang sifat Riya', Ujub, Kibr, (takabbur), Hasad, ghadhab, 'asyabiyyah, nifaq (kemunafikan) dan sebagainya. Yang mana sifat-sifat tersebut dijelaskan dengan rijid mulai dari definisi, sebab-sebab, akibat, dan bagaimana cara mencegah dan mengobati sifat-sifat buruk (akhlak al madmumah) tersebut.

Serta hadis yang menganjurkan untuk menanamkan akhlak terpuji seperti, hadis tentang sabar, ikhlas, syukur, tobat, konsentrasi dan perhatian hati dan sebagainya. Yang semuanya menunjukkan pelajaran hikmah dan tasawuf positif bagi kita.

Secara umum dapat digambarkan ada tiga pokok pembahasan dalam buku 40 hadis ini yang semuanya berkisar pada inti spiritualitas Islam. (1) ma'rifat Allah (mengenal Allah), (2) ma'rifat al rasul (mengenal rasul), (3) ma'rifat al-nafs (mengenal diri sendiri). Yang semuanya tidak hanya diuraikan secara reflektif belaka tetapi juga dijlaskan dengan praksis dan kontekstual.

Maka buku ini menjadi buku yang penting dalam pembahasan inti spiritualitas Islam, karena dalam buku ini dijelaskan secara gamblang makna dzohir dan batin mengenai kandungan hadis-hadis irfan, hikmah dan akhlak. Dan akan memberi kuliah ruhani bagi siapa saja yang ingin menyalakan kalbu dan pikirannya dalam mendekatkan diri dengan Tuhan.

Dengan menelaah 40 hadis yang membahas inti spiritualitas ini Khomeini seakan memberikan petunjuk bagi kita untuk menggapai spiritualitas di tengah krisis moral yang menghantam kita. Dan menjadi buku yang memberikan panduan ruhani bagi siapa saja yang hendak mengenal kedalaman dan keluasan pandangan spiritual ajaran Islam.

*) Moh. Yasin, Pimpinan Redaksi The Famous Institute, Mahasiswa S-2 Icas Paramadina Jakarta

0 comments:

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream