Naskah Ini dimuat di koran Media Indonesia, 24 Mei 2008
Oleh: Moh. Yasin
Judul Buku : Tangan Besi-100 Tiran Penguasa DuniaPenulis : Monsanto Loka
Terbitan : Galang Press, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 291 halaman
Sejarah mencatat, perilaku manusia senantiasa didominasi oleh sense hewani. Yaitu, tingginya nafsu menjadi penguasa, menjadi yang terhebat, memburu kenikmatan dan kepuasan yang bersifat fisik. Bahkan, Manusia menjadi buta akan religiusitas dan moralitas akibat dominasi nafsu hewaninya. Demi kekuasaan, dan memenuhi ambisi individunya, manusia rela melakukan apa saja. Tak jarang, kecenderungan untuk berkuasa, membuat perilaku manusia tak terkendali, seakan-akan tindakan pembantaian, pembunuhan, kekerasan, pemerasan, dianggap sebagai suatu keharusan demi menuruti kepuasan sense hewani manusia.
Nampaknya kecenderungan perilaku manusia ini sudah mengakar sejak zaman sebelum masehi hingga era modern sekarang. Hanya bentuk dan cara kekerasan yang digunakan oleh sosok tiran yang berbeda. Sosok tiran klasik cenderung menggunakan cara imperialisme dan kolonialisme dengan jalan berperang memperebutkan wilayah kekuasaan dan perampasan harta kekayaan penduduk yang berlanjut pada penarikan pajak. Sementara kaum tiran modern cenderung menggunakan kekuatan diplomasi, penyerangan lewat budaya, doktrin pemikiran, dan penekanan dalam menentukan berbagai kebijakan-kebijakan penting sebuah negara.
Hampir setiap negara melahirkan para pemimpin tiran, baik negara yang berbasis Muslim, Kristen, Yahudi, Kunghucu, Hindu, dan lain-lain. Bahkan sistem pemerintahan sebuah negara pun tidak bisa menjamin lepas dari kemunculan tokoh-tokoh tiran, baik negara yang menganut sistem demokrasi, komunis, teknokrasi, dan kerajaan. Yang pasti, pemimpin-pemimpin tiran hanya akan patuh pada ambisi-ambisinya, dan senantiasa menghalalkan segala cara demi memenuhi kepuasan sense hewaninya.
Buku karya Monsanto Luka ini, bermaksud mencatat sejarah singkat biografi tokoh tiran dunia, dengan penyajian yang sangat sederhana, singkat, padat, sangat informatif. Setiap tokoh dikupas berdasarkan latar belakang kelahiran dan sejarah yang membentuk dan mempengaruhi kehidupannya sehingga menjadikan sosok tiran dalam dirinya.
Kemunculan sosok pemimpin tiran tidak pernah dibatasi ruang dan waktu, oleh suku, ras, agama dan wilayah. Tak perduli ia laki-laki atau perempuan, gagah perkasa ataupun kerdil, beragama maupun tidak beragama, kulit hitam maupun kulit putih, entah orang miskin desa ataupun orang kaya kota, dari negeri daratan Asia, Afrika, Amerika, Australia ataupun Eropa.
Mulai dari Alexander Agung dari Yunani yang ekspansi kekuasaannya membunuh hampir 10 % penduduk dunia, Adolf Hitler dengan kekuatan Nazi membantai ribuan kaum Yahudi, Genghis Khan ekspansinya ke daratan Cina melayangkan jutaan nyawa, Attila, disetiap perjalanannya meninggalakan tragedi pemerkosaan, pembunuhan dan pembantaian. Saddam Hussein membantai ribuan kaum oposisi, Imam Khomeini, menghukum bagi mereka yang menentang sistem negara revolusi Islam Iran. Hingga Soekarno, yang mempekerjakan pribumi dan merencanakan budak seks ke Jepang. Dan Soeharto, melalui kekuatan politik dan militernya memberhanguskan lawan politik dan membantai jutaan manusia dengan tuduhan komunis.
Namun, sejarah juga mencatat, meski para tokoh tiran telah berhasil memenuhi hasrat dan nafsu hewaninya, hampir semuanya berakhir dengan ketidak bahagian. Hitler harus rela mati bunuh diri, para raja di Yunani dan Roma banyak yang meninggal karena dibunuh oleh keluarganya sendiri, tokoh-tokoh komunis banyak yang meninggal dipertempuran, Bungkarno harus meninggal tengah-tengah hukuman dipengasingannya dan Soeharto meninggal dengan dihantui berbagai kasus korupsi, kudeta, dan meninggalkan berbagai kasus besar lainnya.
Kehadiran buku ini dengan penyajian yang lebih bersifat ensiklopedis, tentunya sangat menarik untuk dibaca, terkait dengan sejarah perilaku kekejaman para tokoh besar dunia. Namun, sangat disayangkan dalam buku ini penulis tidak memberikan analisis mengenai pemikiran tokoh, dan tidak disajikan dalam bentuk kronologi waktu, sehingga terkesan hanya resume dari beberapa data tentang tokoh. Ditambah lagi dengan tidak adanya kata pengantar dan penutup layaknya sebuah buku, yang membuat buku ini terasa kering.
Moh. Yasin, Pimpinan Redaksi The Indonesian Famous Institute, Mahasiswa Pasca Sarjana ICAS-Indonesia. A Branch of ICAS-London. Pengelola blog http://muhammad-yasin.blogspot.com/.
0 comments:
Poskan Komentar