Sabtu, 10 Mei 2008

Berjumpa Tuhan Lewat Puasa

Oleh: Moh. Yasin*)

‘Hidup yang tidak direfleksikan bukanlah hidup manusiawi’ kata Plato. Akan tetapi, realitas kehidupan sangatlah berbeda dengan impian Plato. Kehidupan manusia tidak lebih dari sekedar aktivitas yang bergerak atas naluri-naluri tak sadar dari kebutuhan sehari-hari, semisal tidur, makan, kerja, basa-basi sosial bahkan praktek ibadah dan doa. Mempersoalkan tentang makna dibalik aktivitas dan merenungi perjalanan diri pribadi sama sekali tidak terlintas dalam kesadaran diri manusia zaman sekarang.

Begitu halnya dengan aktivitas yang bersifat religius, dalam menjalankan ibadah puasa misalnya, tidak jarang umat manusia yang melaksanakannya dengan tanpa kesadaran dan perenungan. Pola ibadahnya tidak lebih dari sekedar rutinitas yang bersifat tahunan. Tidak heran jika Nabi Muhammad pernah berpesan pada umatnya bahwa ‘banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga’.

Pesan itu terasa benar-benar representatif dengan pola pelaksanaan ibadah umat manusia sejak dulu hingga saat ini. Maka sudah seharusnya ibadah puasa dijadikan momen untuk melakukan pendakian spiritual dan refleksi diri pribadi. Maka dengan menjadikan iman dan taqwa sebagai sebuah epistemologi, bukan kepercayaan an-sich, bisa menjadi kendaraan yang tepat untuk melakukan pendakian spiritual agar mendapatkan kematangan diri secara intelektual, spiritual dan sosial.

Lewat puasa sebenarnya manusia diharapkan untuk merenungkan akan dirinya dengan mempertanyakan siapa, apa dan bagaimana seharusnya?. Karena dengan merefleksikan kehidupan dan diri akan membantu memberikan kesadaran diri dan sosial seseorang.

Sehingga pendakian spiritual yang diupayakan lewat kegiatan-kegiatan yang bersifat religius di bulan ramadhan benar-benar memberikan kematangan individu secara moral, spiritual dan sosial.Sehingga dalam kehidupan sehari-hari manusia benar-benar mampu menerapkan internalisasi dan eksternalisasi dari ibadah puasa. Dan mampu menjadi manusia yang memiliki kesadaran tinggi atas diri how to be human (bagaimana menjadi manusia) dengan makna arafa nafsahu (kenal dan tahu diri) untuk sampai pada tingkat arafa rabbahu (kenal Tuhan).

Pola Ibadah

Terlepas dari itu, Pola ibadah masyarakat zaman sekarang bagi penulis menarik untuk disoroti. Bagi penulis ada dua gambaran terhadap pola ibadah puasa masyarakat modern. Pertama, dalam menjalankan praktik ibadah mahdhah manusia masih cenderung menggunakan teologi untung-untungan, terutama puasa. Keutamaan dan pahala yang melimpah selalu saja menjadi landasan utama dalam menjalankan ibadah. Tidak heran jika nilai internalisasi dan eksternalisasi ibadah sama sekali tidak terwujud, dan religiusitas itu tidak lebih dari sekedar aktivitas yang bersifat musiman belaka.

Secara teologis pola pikir itu terbentuk dari pemahaman manusia akan kemuliaan dan keberkahan bulan suci ramadhan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam al Qur’an syahru ramadhaana alladii unzila fiihi alqur-aanu hudaan linnaasi wa bayyinati min alhuda wa alfurqaani ... (Bulan Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas petunjuk itu dan pembeda (antara haq dan batil), Al-Baqarah: 185).

Juga didasarkan pada hadis nabi yang berbunyi…syahrun awwaluhu rahmah wa washotuhu maghfiroh wa akhiruhu itqun minan nar yang bisa diuraikan bahwa sepuluh hari pertama ramadhan penuh dengan rahmat Allah terhadap manusia dan sepuluh hari kedua adalah maghfiroh yaitu hari dimaafkannya atau diampuninya dosa-dosa manusia kemudian setelah melalui dua tahap tersebut manusia akan dibebaskan dari api neraka.

Maka mencoba untuk merefleksikan dan memahami secara lebih mendalam atas keutamaan dan kesucian bulan ramadhan dan ibadah puasa menjadi suatu keharusan. Artinya keimanan dan ketaqwaan benar-benar menjadi dasar utama dalam beribadah bukan atas tendensi impian surga dan pahala yang melimpah.

Kedua, egosentrisme manusia terasa masih sangat kental dalam menjalankan ibadah puasa, seakan ibadah puasanya hanya menjaga dari makan dan minum saja, keimanan dan ketaqwaan yang menjadi pondasinya tidak tersentuh sama sekali. Sehingga nilai internalisasi dan eksternalisasi dalam menjalankan puasa bukanlah menjadi perhatiannya.

Padahal sudah seharusnya ibadah puasa dijadikan wahana untuk melakukan pendakian spiritual dan sebuah proses memupuk religiusitas, kesadaran diri dan sosial. Sehingga bulan puasa benar-benar menjadi wahana untuk berefleksi secara transendental yang diharapkan mampu merubah diri sesorang untuk selalu bersikap damai, ramah, pengampun, dan lain-lain yaitu dengan menghadirkan Tuhan dalam realitas sosial lewat tindakan-tindakan yang sesuai dengan sifat Tuhan.

Berjumpa Tuhan

Dengan kedalaman iman dan ketaqwaan serta menjadikan iman sebagai sebuah epistemologi (bukan kepercayaan an-sich) maka akan membentuk kematangan daya nalar manusia untuk sampai pada pemahaman pada sang Khalik, sehingga mampu menghadirkan Tuhan dalam diri dan berjumpa lewat tindakan-tindakan yang sesuai dengan sifat Tuhan. Orang semacam ini, menurut bapak filsafat modern, Rene Descartes, tidak hanya akan mampu melihat jiwa di dalam dirinya, tetapi juga hakikat Tuhannya.

Maka lewat ibadah puasa manusia diharapkan mampu mentransformasikan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Agar menjadi manusia yang berkesadaran tinggi yaitu how to be human (bagaimana menjadi manusia) dengan makna arafa nafsahu (kenal dan tahu diri) untuk sampai pada tingkat arafa rabbahu (kenal Tuhan). Sebagaimana gagasan seorang filosof Yunani Socrates "angry with him self gentle to the others" berarti mengenali ego diri adalah akar pengorbanan ego sosial.

Moh. Yasin. Pimpinan Redaksi The Famous Institute, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta

0 comments:

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream