Senin, 21 April 2008

Petualangan Filosofis Menuju Pemahaman Tuhan

Resensi Buku
Oleh: Moh. Yasin*)

Judul Buku : Tuhan di Mata Para Filosof
Judul Asli : God and Philosophy
Penulis : Etienne Gilson
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2004
Tebal : 237 halaman

Dalam perjalanan panjang iman dan manusia, Tuhan senantiasa dipuja, disembah dan diperdebatkan, dengan posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda. Karena manusia dalam memahami Tuhannya menggunakan premis, dasar pijakan dan cara pandang yang berbeda-beda, sehingga pemahaman manusia mengenai Tuhan-pun digambarkan secara beraneka ragam.

Kaum teolog misalnya lebih memandang Tuhannya sebagai sang Khaliq (pencipta) dan realitas selainNya sebagai Makhluq (ciptaannya), sementara kaum fuqoha' menghayati Tuhannya sebagai sang Hakim dan relasi yang ada bersifat keadilan dalam bentuk printah, larangan dan hukuman. Di dunia tasawuf Tuhan lebih dihayati sebagai sang kekasih yang hanya kepadaNyalah puncak dari rindu, cinta dan perbutan manusia diarahkan. Sementara kaum filosof menganggap Tuhan sebagai kebenaran tertinggi Being qua Being atau realitas wujud tertinggi, dan untuk sampai pada pemahaman itu dibutuhkan penalaran yang sistematis dan serius.


Berbagai konsep dan pandangan manusia tentang Tuhan yang beraneka ragam tersebut menggambarkan bahwa tema ketuhanan selalu menjadi objek pembahasan yang serius dan menjadi kajian yang fundamental. Namun yang jadi persoalan adalah apakah AdaNya Tuhan benar-benar sebagai realitas yang absolut dan independent? Ataukah hanya sekedar proyeksi dan spekulasi mental manusia saja? Karena ketidakmampuan manusia dalam mengatasi persoalan dunia dan kehidupannya!. Sehingga keyakinan adanya Tuhan tidak lebih dari sekedar pelarian ketidakmampuan manusia saja, sebagaimana yang diungkapkan oleh para filosof sekelas Karl Marx, Emile Durkhaim, Nietzsche, Sigmund Freud, Charles Darwin dan sebagainya.


Etienne Gilson (1884-1978) seorang filosof dan sejarahwan dari Prancis, lewat buku ini seakan ingin memandu kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut dengan berpetualangan dan menjelajahi gagasan para filosof sepanjang Abad tentang pemahaman ketuhanannya. Diawali dengan pandangan para filosof Yunani kuno, filsafat Kristen, filsafat modern hingga pemikiran para filosof kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan historis dan sejarah filsafat sebagai alat bantunya.


Gilson yang lebih dikenal sebagai sang pelopor gerakan neo thomisme ini ingin berdialog dengan para filosof sepanjang Abad dengan menulusuri jejak-jejak mereka dalam memecahkan teka-teki yang bersifat metafisis yaitu Tuhan.

Berawal dari filsafat Yunani, yaitu tempat awal mula berdirinya filsafat dan asal mula gagasan filosofis tentang Tuhan itu muncul. Dalam pandangan Gilson Mitologi Yunani dengan kepercayaan pada banyak dewa menjadi paham para filosof Yunani, dimana Filsafat yang diusung mereka seperti Thales, Anaximandros, anaximenes, Herakleitos, dan sebagainya bersifat "kosmosentris" yaitu dengan meletakkan alam semesta sebagai pusat kajiannya.
Thales misalnya sang filosof asal meletus yang meyakini bahwa "segala sesuatu pada hakekatnya penuh dengan unsur-unsur dewa". Maka ketika ia meyakini bahwa awal dan sekaligus akhir dari segala sesuatu adalah air, kemudian bagi Thales air adalah dewa tertinggi di antara para dewa-dewa lainnya. Begitu juga dengan para filosof Yunani lainnya yang menganggap api, udara, dan sebagainya sebagai dewa tertinggi.


Berbeda dengan para filosof Yunani, para filosof Abad pertengahan memandang apa yang diyakini oleh para filosof Yunani itu tidak lebih dari khayalan dongengan saja. Konstruksi filsafat Abad ini tidak lagi "kosmosentris" tapi "teosentris", dan pandangan ketuhanannya bersifat "monoteis" dengan meyakini adanya Tuhan yang Esa. Yaitu Tuhan yang mewahyukan dirinya dan memperkenalkan diri lewat wahyuNya. Dimana filsafat Kristen yang mewarnai bangunan filsafat di Abad ini.

Para filosof Abad pertengahan ini hamper semuanya dari kalangan religius para rahib, pendeta, imam, atau setidaknya anggota biasa dari golongan klerus (rohaniawan) di biara-biara. Yang diwakili oleh St Agustinus dan Thomas Aquinas yang punya jasa besar atas pemikiran filsafat Kristen Abad pertengahan.

Pada era modern pemikiran filsafat tidak lagi didominasi oleh para kaum gereja, tapi dari kaum awam. Dimana perubahan kondisi para filosof itu mempunyai pengaruh besar dalam pandangan ketuhanannya. Rene Descartes misalnya lewat karyanya Discourse Upon Method mengatakan bahwa pengetahuan pada hakekatnya dapat ditemukan dalam diri, dengan ungkapan terkenalnya co gito ergo sum. Ungkapan Descartes ini tidak bermaksud untuk menyingkirkan Tuhan, agama, atau teologi, namun menurut Descartes persoalan-persolan semacam itu bukan merupakan objek-objek yang tepat bagi spekulasi filosofis. Hal ini muncul karena filsafat yang diusung Descartes tidak lagi diusung dari teologi sebagaimana para filosof abad pertengahan sehingga pemikiran Descartes murni sebagai suatu ikhtiar intelektual

Pemikiran Descartes ini dalam perkembangannya memunculkan teologi "natural Cartesian" yang berupaya memisahkan sosok Tuhan sebagai sebuah objek pemujaan religius dari sosok Tuhan sebagai sebuah prinsip pertama intelegibelitas filosofis (hal. 147).
Di masa kontemporer pesoalan ketuhanan banyak didominasi oleh pemikiran Immanuel Kant dan Agus Comte, dengan kritisisme dan positivismenya. walaupun keduanya sebagai ajaran filsafat yang berbeda namun pada dasarnya memiliki kesamaan dalam hal tertentu, terutama tentang bagaimana memeproleh pengetahuan ilmiah dan syarat-syaratnya.


Kant dan Comte meyakini Karena Tuhan bukan objek kajian pengetahuan empiris maka konsep tentang Tuhan tidaklah ada dan apa yang disebut dengan teologi natural adalah omong kosong. Kant sendiri meyakini bahwa gagasan mengenai Tuhan hanyalah ide murni akal sehat saja, tanpa ada bukti-bukti empirisnya.

Dari ke-empat pokok bahasan yang disajikan Gilson ini tidak lain merupkan tema yang membicarakan aspek yang paling hakiki dari permasalahan metafisika. Yaitu masalah metafisis tentang Tuhan. Maka dengan membaca buku ini kita diajak untuk berpetualangan dengan para filosof untuk melukiskan ide-ide tentang Tuhannya.

*) Moh Yasin, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta.


1 comments:

HAKEKAT MANUSIA mengatakan...

As..

Banyak maaf ini bang,
aku mau tanya apakah buku itu tidak bisa di download??
kalaupun bisa gimana caranya??

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream