Oleh: Moh. Yasin *)
Judul Buku : Filsafat Wacana (Membelah Makna Dalam Anatomi Bahasa) Judul Asli : The Interpretation Theory (Discourse And The Surplus Of Meaning)
Penulis : Paul Ricoeur
Penerjemah : Masnur Hery
Penerbit : IRCiSod, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, September 2002
Tebal : 251 halaman (termasuk indeks)
BAHASA, di samping sebagai alat komunikasi juga sebagai proses berfikir manusia atau bahkan dapat melahirkan problem yang krusial, karena di dalam bahasa terdapat dua unsur yang tidak dapat dilepaskan yaitu: unsur kebenaran dan kesalahan.
Sebagaimana Haidegger mengutip, bahasa adalah tempat tinggal manusia (the house of being), karena dengan bahasa kita dapat mengungkap apa yang kita inginkan, dengan bahasa makna hadir dengan bebas ke dalam atmosfer kesadaran kita, bahasa juga satu-satunya pilihan kita untuk menampakkan realitas yang kita tidak mampu memendamnya.
Ucapan, simiotik, smantik, teks dan sebagainya adalah beberapa bentuk dari bahasa yang semuanya memiliki sebuah makna atau bahkan memunculkan interpretasi-interpretasi yang kadang kala kontradiktif. Karena interpretasi yang membabibuta tidak menutup kemungkinan terhadap timbulnya kesalahan dan permasalahan. Maka teori interpretasi adalah salah satu dari imbalance terhadap kebebasan interpretasi tersebut.
Pesan adalah yang menjadi fokus dalam sebuah komunikasi, karena kegiatan komunikasi dalam bentuk apapun pesan adalah sebagai tujuannya. Namun tidak menjadi persoalan ketika pesan berbentuk dialektika, karena adanya pembelaan dari subyek itu sendiri. Yang jadi persoalan adalah ketika pesan dalam bentuk tulisan, Karen dalam sebuah tulisan penafsiran atau interpretasi menjadi wajib keberadaannya. Paul Ricoeur mengutip bahwa "menulis menjadi sebuah problem hermeneutik", dan tentunya ketika tulisan di arahkan pada komplemennya, yakni bacaan.
Dimana yang kemudian melahirkan dialektika apropriasi (yang membebaskan teks dari pengarangnya ) dan distansiasi (hal. 96). Ia juga memberikan jawaban yang sangat radikal terhadap kritik-kritik para Filsuf terdahulu tentang sebuah tulisan, seperti Plato dan Sokrates. Dimana Plato menganggap bahwa "apa yang dihasilkan dalam tulisan bukan sebuah realitas namun penyerupaan saja ", dan Sokrates yang mengatakan bahwa "tulisan bagaikan sebuah lukisan, keberadaannya tidak hidup dan berdiam diri ketika ditanya untuk dijawab ". Sehingga kemudian Sokrates tidak meninggalkan tulisan sedikitpun. Poul Ricoeur memberikan jawaban yang radikal terhadap kritik pedas sokrates dan Plato, bahwa tulisan berbeda dengan lukisan, yang terkesan lemah, kurang riil dibanding dengan keberadaan hidup.
Hal ini dapat dibuktikan ketika kita melontarkan pertanyaan dalam teori eikon. Dapat diperlihatkan bahwa lukisan adalah reduplikasi dari bayangan realitas itu sesndiri, dapat dikembalikan dalam problem penulisan sebagai sebuah topek dari sebuah teori umum ikonotas(hal. 89). Ricoeur mengatakan bahwa tulisan adalah"any discourse fixed by writing" dan sebuah teks memiliki kemandirian totalitas yang yang bercirikan tidak terikat dengan audensial, tidak terikat dengan sistim dialog, makna teks tidak terikat pada pembicara dan terlepas dari pengungkapan (what is said) (hal.219).
dari kupasan Ricoeur tentang teks diatas melahirkan definisi interpretasi dan explanasi, dimana explanasi adalah cara kerja yang menghubungkan metafor ke teks dan interpretasi adalah cara kerja dari teks ke metafor. Antara interpretasi dan eksplanasi tidak dapat dipisahkan karena eksplanasi adalah sebagai tahap awal untuk mengkaji statis teks, sementara interpretasi digunakan untuk menangkap makna kontekstual dari teks tersebut.
Proyeksi yang ditawarkan Ricoeur dalam buku ini dimana ia merangkum antara sains dan filsafat, menjadi sebuah konsep yang menjanjikan di dunia keilmuan, Sehingga Hasan hanafi dalam studi keislamannyapun merujuk terhadap Ricoeur dan ia telah memberikan gebrakan dalam pemikiran kontemporer. Maka buku ini mungkin menjadi salah satu buku yang harus dibaca bagi siapapun juga terutama oleh saintis yang intens di dunia hermeneutik.***
*)Moh. Yasin. Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta
0 comments:
Poskan Komentar