Oleh: Moh. Yasin*)
Judul Buku : Detik-Detik Pembongkaran Agama," Mempopulerkan Agama Kebajikan, Menggagas Pluralisme Pembebasan" Penulis : Nur Khalik Ridwan
Penerbit : Ar-Ruzz, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2003
Tebal : 310 halaman
SEBAGAI sistem kepercayaan dan peribadatan, agama memiliki peran yang sangat besar dalam menciptakan tatanan kehidupan yang menjadi dambaan manusia yaitu: tatanan kahidupan yang harmonis, sejahtera, berkeadilan dan diridhoi Tuhan. Dalam perjalanan umat manusia agama menjadi sumber motifasi dan inspirasi yang tidak pernah kering dan akan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban.
Namun, disatu sisi agama menjadi basis munculnya beberapa konflik yang tidak kalah krusial, Seperti: Terorisme, konflik antar agama dan sebagainya. yang disebabkan oleh beberapa hal, disamping karena adanya pemahaman yang berbeda-beda dalam agama, juga karena adanya pendusta-pendusta agama.
Klaim-klaim kebenaran tunggal terhadap agama formal tertentu yang kemudian melahirkan keangkuhan dan kesombongan oleh sebagian agamawan, bahwa agama formal yang dipeluknya adalah agama yang paling selamat, paling orisinil, paling benar, dan orang lain harus diagamakan dengan agama formalnya adalah salah satu faktor terkecil yang mempengaruhi munculnya konflik dalam beragama. dan sekaligus menghilangkan kebebasan dalam beragama.
Hal ini bisa dilihat pada fenomena menonjol sekarang yaitu klaim-klaim kebenaran agama semit oleh sebagian pemeluknya, yang mana agama semit adalah agama yang orisinil, paling benar, paling selamat dan menganggap agama bumi hanya kreasi manusia belaka. Jika agama ditafsirkan seperti ini yang terjadi adalah beragama dengan eksklusif, komunal dan kental dengan subyektifitas, yang mana beragama seperti ini selalu membenarkan diri dan menyalahkan orang lain, bukan membenarkan diri sekaligus mengakui kebenaran di luarnya.
Fenomena seperti ini menggugah Nur Khalik Ridwan untuk mencari horizon-horizon baru dalam memaknai agama sebagai hal yang bukan komunal dan tidak eksklusif serta kebebasan dalam beragama tentunya, lewat konsep yang ditawarkannya yaitu "agama kebajikan" dengan bukunya yang berjudul "detik-detik pembongkaran agama, mempopulerkan agama kebajikan menggagas pluralisme pembebasan". Agama kebajikan yang dimaksudkan oleh penulis disini bukanlah organisasi agama seperti hal-nya agama-agama langit ataupun agama-agama bumi, akan tetapi agama kebajikan adalah sebagai titik tolak beragama, menggagas pluralisme pembebasan dalam beragama, dan dengan sendirinya agama kebajikan disini adalah teologi menggagagas pluralisme dan pembebasan. Dimana pluralisme menegaskan perlunya memberikan toleransi terhadap pemeluk agama apapun atau komunitas lain.
Sementara pembebasan menegaskan perlunya menggagas solidaritas umat beragama dengan tanpa batasan komunitas apapun. Yang didasarkan pada kebajikan, dengan ketiga konteks bertioliginya. Pada dasarnya agama kebajikan bukanlah agama yang dimiliki oleh komunitas agama tertentu tapi agama kebajikan yang memperjuangkan pluralisme pembebasan adalah esensi dari seluruh agama, baik agama semit maupun agama bumi. Karena setiap agama jika dilihat dari konteks berteologinya agama kebajikan, memiliki visi besar yang sama yaitu kebajikan.
Hal ini bisa dilihat dalam sejarah munculnya agama, dimana agama saat kemunculannya adalah untuk melawan ketidak adilan, penindasan, membela yang lemah dan melawan kaum tiran. Sebagaimana yamng terjadi pada Ibrahim, Muhammad, Isa, Sidarta Gautama dan sebagainya. Dimana mereka memiliki-sebuah kegelisahan yang sama yaitu memperjuangkan ketidak adilan dan pembebasan. Dari sini dapat dikatakan bahwa inti dari agama adalah melakukan pembebasan dan melawan ketidakadilan.
Dalam menggagas agama kebajikan penulis menggunakan tiga konteks teologi, yang pertama, berkaitan dengan pemeluk agama, dimana dalam setiap agama baik agama semit maupun agama bumi tidak sedikit pula yang berdusta dan begitu juga yang berbuat baik. Konteks seperti ini memunculkan pandangan bahwa orang berbuat baik maupun orang yang berbuat jahat, bukan karena seseorang telah masuk dalam satu komunitas agama tertentu. Akan tetapi tumbuh dari kesadaran manusia itu sendiri. Kedua, asal-usul lahirnya agama, dimana agama secara historis muncul karena memperjuangkan ketidakadilan, melawan penindasan dan sebagainya.
Sebagaimana agama-agama formal besar seperti Islam dengan revolusionernya Muhammad, Kristen dengan Isanya dan Budha dengan Sidharta Gautamanya. Dan yang ketiga adalah lebih di spesifikkan lagi pada sejarah munculnya abrahamic relegion dimana agama-agama formal atau agama semit Kristen, Islam, Yahudi mengklaim bahwa agamanya adalah agama keturunan ibrahim begitu juga dengan agama-agama bumi. Dari ketiga konteks teologi di atas tampak bahwa penulis mencoba mengawinkan antara pluralisme dan pembebasan, dimana dalam konteks teologi pertama menunjukkan bahwa kebajikan tidaklah semata-mata didasarkan pada suatu komunitas atau pada sebuah agama formal tertentu. Akan tetapi orang berbuat kebajikan hanya karena kesadaran individu mereka.
Sedangkan dalam konteks teologi kedua lebih menjelaskan pada cita cita agama itu sendiri dimana dalam hal ini meneguhkan bahwa kaum agama tidak boleh melupakan cita-cita terdalam dari agamanya yaitu: memperjuangkan kebajikan, melawan penindasan dan membebaskan yang miskin. Sebagaimana yang diperjuangkan oleh agama Ibrahim, yang kemudian diteruskan oleh para tokoh sentral agama seperti Muhammad, Isa, Sidharta Gautama dan lain sebagainya. Barangkali cia-cita agama inilah yang sering dilupakan oleh kaum agamawan, sehingga para pemeluk agama ketika haknya dirampas dan selalu ditindas oleh para penguasa dan kaum penindas dengan dalih agama, merekapun tidak mampu melawannya.
Dari sinilah barangkali penulis merasa penting untuk mengangkat wacana ini dengan basis agama kebajikannya. Lewat konsep agama kebajikan ia mencoba untuk memberikan suatu pencerahan atau sebuah pemahaman terhadap agama yang sebenarnya, yang mana selama ini agama ditafsirkan secara sakral, komunal dan eksklusif.
Sedangkan dalam teologi yang ketiga menunjukkan bahwa komunitas apapun atau agama apapun adalah agama keturunan Ibrahim, dengan catatan agama Ibrahim sebagai sebuah paradigma. Karena agama apapun atau komunitas apapun pada dasarnya memiliki visi besar yang sama dengan agama Ibrahim yaitu memperjuangkan kebajikan. Lebih lanjut buku ini barangkali sangat tepat jika dalam konteks keIndonesia-an, sebab kita memiliki sebuah keprihatinan yang sama yaitu: masih di diskriminasikannya agama-agama lokal serta masih digandrunginya pluralisme dan pembebasan yang netral nilai serta keprihatinan terhadap kaum moderat yang terjebak dalam korupsi yang makin membabibuta.
Dan berbagai persoalan tersebut pada dasarnya hanya bisa dijawab dengan kesadaran individu itu sendiri terhadap sebuah kebajikan. Dan disinilah agama kebajikan mencoba memberikan suatu trobosan penafsiran terhadap agama, yang selama ini dijadikan oleh kaum birokrat sebagai dalihnya dalam melakukan penindasan.
*) Moh. Yasin, mahasiswa S2-ICAS Paramadina Jakarta.
0 comments:
Poskan Komentar