Senin, 21 April 2008

Bertamasya di Belantara Filsafat Kontemporer

Resensi Buku
Oleh: Moh. Yasin *)

Judul Buku : Pilar-pilar Filsafat Kontemporer
Penulis : Donny Gahral Adian
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2002
Tebal : 177 halaman (termasuk indeks)

SERINGKALI orang mempersepsikan filsafat sebagai disiplin ilmu yang cukup ruwet dan membingungkan atau bahkan tidak menjanjikan. Banyak orang dibuat stress bahkan lebih parah lagi sampai menjadi gila, salah satu contohnya adalah Nietzsche (filosof eksistensialis). Bahkan, mungkin juga karena saking ruwetnya filsafat, Heidegger pun baru merasa paham filsafat justru saat mau meninggal. Namun filsafat yang kira-kira berusia 27 Abad lebih, telah memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan peradaban dunia.

Lantas pertanyaannya, ada apa sebenarnya dengan filsafat? Meski cukup jelimet, ternyata telah melahirkan apresiasi dan respon yang besar dalam sejarah pemikiran. Tidak saja bagi filsuf atau pemikir dunia yang sejak mula memang telah menekuni, taruh saja bagi artis semacam Dian Sastro pun rela meluangkan waktu demi menggeluti buku-buku "berat filsafat". Filsafat yang bisa didefinisakan cinta kebijaksanaan dengan menelusuri "segala sesuatu" sampai ke akar-akarnya memang tidak lepas dari obyek material, yang mana itu membentang dari persoalan etika sampai pengetahuan, dan memiliki ranah yang begitu luas. Bahkan saking luasnya, sampai menyebar ke isu konkrit, seperti; politik, ekonomi dan budaya.

Persoalan di atas itulah yang mungkin menjadi gairah penulis untuk kemudian menyusun buku Pilar-pilar Filsafat Kontemporer ini dan menggrayangi beberapa tema yang dikaji selama bertahun-tahun, dan kemudian tema-tema itu disebutnya sebagai "pilar-pilar filsafat". Pilar yang pertama adalah etika, di mana merupakan hasil dari refleksi moralitas yang kemudian melahirkan aliran-aliran filsafat yang dikembangkan oleh para filosof (hal. 15).

Dalam memahami etika sebagai suatu ajaran tentang seni hidup, atau menempatkan sebagai kebahagiaan ke pusat etika (Aristoteles), dan kemudian pemikiran ini direligiuskan oleh Thomas Aquinas. Dan Imanuel Kant menjadikan etika yang semula seni kehidupan menjadi etika kewajiban, dan ini melahirkan konsep sentral etika modern, yaitu konsep otonomi moral. Pemikiran ini lebih lanjut, kemudian dikembangkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel dan dipadukan dengan teori dialektikanya. Pilar yang kedua adalah fenomenologi, dengan tokoh sentralnya Edmund Hussel (1859-1938) fenomenologi merupakan salah satu dari arus pemikiran yang paling berpengaruh pada Abad ke-20.

Di antara para filosof yang terpengaruh oleh fenomenologi adalah Derrida, Kierkegard, Cascirer dan lain sebagainya. Secara umum fenomenologi lahir dari persoalan fenomena yang dibawa ke ruang publik --pertama kali-- oleh Hegel dengan ruh absolutnya. Husserl lalu mendefinisikan fenomenologi sebagai ilmu tentang penampakan (fenomena), dan bagi Husserl berbicara tentang esensi di luar eksistensi adalah kerja sia-sia, dan hal inilah yang membedakan fenomenologi Husserl dengan fenomenologinya Hegel dan Kant. Pilar yang ketiga adalah eksisitensialisme.

Eksistensialisme tidak lagi membahas pertanyaan-pertanyaan esensi dan kodrat, akan tetapi lebih menekankan masalah seputar eksistensi. Seorang filosof eksistensialis, semisal Sartre, bekerja keras dalam permasalahan esensi dan eksistensi, yang kemudian memunculkan sebuah tesis bahwa "eksistensi mendahului esensi". Dan ini membalik tradisi pemikiran filsafat Barat sejak Plato, yang selalu mengatakan bahwa esensi mendahului eksistensi (hal. 76). Pilar yang ke empat adalah filsafat budaya. Jika dilihat dari sudut pandang filosofis akan melahirkan dimensi subyektif dan obyektif.

Di mana dimensi subyektif adalah daya yang menjadikan produk (alam) menjadi produk yang lebih baik, sedangkan dimensi obyektif adalah hasil dari kegiatan daya tadi. Adapun pilar yang terakhir adalah Hermeneutika dan kemudian menjadi kajian kontemporer terutama dalam studi penafsiran terhadap teks dan dalam studi keislaman, hermeneutika mendapatkan perhatian yang sangat besar. Kelima pilar inilah yang mungkin akan mengantarkan pada studi filsafat kontemporer.

Akhirnya, buku Pilar-pilar Filsafat Kontemporer ini bisalah disebut sebagai proyek kelanjutan dari buku Arus Pemikiran Kontemporer, yang ditulis oleh penulis buku ini pula dan telah diterbitkan setahun sebelumnya. Dalam fenomena publik yang menganggap bahwa filsafat dirangkai dengan bahasanya yang sangat abstrak dan sulit dimengerti, dalam buku ini telah diurai oleh penulisnya dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, sehingga kesan angker akan hilang setelah membaca buku ini. Lebih jauh lagi, dalam buku ini penulis mengajak pembaca untuk bertamasya intelektual mengunjungi kuil-kuil gagasan para filosof yang pada akhirnya pembaca tentunya akan membaca semacam oleh-oleh intelektual yang mencerahkan.***
*) Moh. Yasin, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta.

0 comments:

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream