Senin, 11 Februari 2008

Upaya Mensejajarkan Ilmu dan Agama di PTAI

Resensi Buku
Oleh: Moh. Yasin *)

Judul Buku : Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi
Editor : Zainal Abidin Bagir dkk.
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal : 270 halaman


KIRANYA sudah sejak dua Abad silam perkembangan dunia sains berikut turunannya tekhnologi cenderung berwatak ateistik-materialistik, hasilnya pun kerap kali mengancam eksistensi agama. Dengan berlandaskan pada metafisika yang bertentangan dengan agama, teori-teori ilmiah sains cenderung menyudutkan agama, seperti teori penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, hubungan alam dengan Tuhan dan sebagainya.

Fenomena ini mencapai titik puncaknya tatkala Charles Darwin mempopulerkan teori evolusi, lewat karyanya "The Origin of Species". Sebuah penemuan baru yang banyak mendapatkan cekaman dan penuh kontroversial, namun mampu meruntuhkan doktrin dan keyakinan kuat kaum beragama mengenai misteri kemunculan manusia. Gagasan ini kemudian diikuti oleh pandangan para Darwinisme mengenai fenomena alam, yang keberadaannya dianggap hanya faktor kebetulan belaka, dan tidak ada agen atau kreator yang menciptakannya (termasuk Tuhan).

Keradikalan sains modern dengan coraknya yang ateistik-materialistik itu dianggap oleh kaum agamawan sebagai sesuatu yang membahayakan. Dari kaum agamawan, paling tidak ada tiga corak dalam merespon atau menanggapi keradikalan paradigma sains modern yang ateistik-materialistik ini. Pertama, kelompok agamawan yang berusaha mempertahankan doktrin dan kepercayaannya dengan tidak memperdulikan penemuan sains modern (mereka mengisolasi diri dari dunia sains modern), kedua, meninggalkan tradisi dan mencoba mencari titik temunya dengan sains modern, dan ketiga berusaha merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah dan kontemporer.

Selanjutnya isu tentang perdebatan atau perjumpaan antara sains dan agama adalah turunan dari permasalahan ini, dan menjadi genre tersendiri di dunia keilmuan. Di tangan para teolog/agamawan dari Barat, perdebatan antara sains dan agama menghasilkan gagasan "sains teistik", yaitu: sains yang sensitive terhadap keyakinan dan ajaran agama. Sementara dalam konteks Kristen kontemporer, Ian Barbour mendasarkan pendekatan “integrasi” (integrasi teologis) dalam upayanya mempertemukan sains dan agama dengan empat tipologinya yaitu; konflik, independensi, dialog dan integrasi. Juga John F. Haught yang menggunakan pendekatan konflik, kontras, kontak, dan konfirmasi.

Sementara dalam Islam hubungan antara sains dan agama telah menjadi topik menarik selama lima puluh tahun terakhir ini. Gagasan mengenai "sains Islami" atau "Islamisasi sains" merupakan reaksi atas sains modern yang ateistik-materialistik tersebut. "Sains Islami" ini pada mulanya dipopulerkan oleh para pemikir muslim seperti Sayyed Hossein Nasr, Ziauddun Sardar, Ismail al-Faruqi, al-Attas dan akhir-akhir ini Mehdi Golshani. Di mana pemikiran mereka kerap kali dilabeli dengan “islamisasi ilmu”. Meskipun gagasan mereka berebeda, semuanya bergerak pada lapangan dan tingkat yang sama yaitu tingkat epistemologi dan sedikit menyentuh aspek metafisika.

Di tengah terjadinya tarik ulur antara kelompok yang mengusung “islamisasi lmu” dengan kelompok yang membiarkan ilmu pengetahuan untuk memenuhi kodratnya sendiri. Di Indonesia perbincangan mengenai pertemuan antara sains dan agama kembali mencuat, seiring dengan terjadinya metamorfosis atau konversi PTAI menjadi UIN, yang diikuti dengan berbagai perombakan struktural menyangkut penambahan ranah keilmuan baru yang semula dianggap tidak Islami dan sekular, yaitu membuka prodi-prodi baru yang selama ini tidak menjadi bagian struktur-struktur baku ilmu-ilmu keislaman seperti ekonomi, sosiologi, politik, psikologi, sains tekh, MIPA dan sebagainya.

Ringkasnya, dalam konteks Indonesia, upaya memberikan suatu warna keagamaan dalam pendidikan perguruan tinggi, saat ini telah menjadi perhatian perguruan-perguruan tinggi yang berbasiskan keagamaan. Dan buku ini bermaksud mengulas masalah ini dengan menspesifikasikan pada permasalahan mengenai konversi atau transformasi PTAI menjadi UIN sebagai konteks terdekatnya.

Pada bab pertama, buku ini mengulas tentang latar belakang isu “integrasi ilmu dan agama di perguruan tinggi”, yaitu menjawab mengenai persoalan mengapa ilmu dan agama perlu dipertemukan, terkhusus dalam konteks perguruan tinggi. Dua bab berikutnya mengungkap tentang bagaimana cara pandang terhadap ilmu dan agama dalam perspektif kontemporer, yaitu melihat cara pandang ilmu dan agama melalui gagasan pergeseran paradigmanya Thomas Kuhn dan gagasan perubahan paradigma dalam teologinya Hans Kung serta melihat ilmu dan agama lewat kaca mata perspektif kritis Jurgen Habermas.

Dan pada bab terakhir membahas tentang landasan teoritis dan dasar konseptual mengenai transformasi PTAI/IAIN menjadi UIN serta model pengembangan UIN di masa mendatang. Tema ini ditulis oleh ketiga Rektor UIN di Indonesia yaitu: Amin Abdullah (UIN Yogyakarta), Azyumardi Azra (UIN Jakarta) dan Imam Suprayogo (UIN Malang).

Meski lebih menitik beratkan pada permasalahan tentang konversi PTAI menuju UIN dengan melihat dari tingkat ontologis, epistemologis dan aksiloginya, perbincangan mengenai integrasi ilmu dan agama dari berbagai sudut pandang baik yang bercorak filosofis maupun wacana yang diusung dari sudut pandang berbagai agama dan multi disiplin keilmuan menjadikan perbincangan mengenai sans dan agama dalam kontek konversi PTAI menuju UIN dalam buku ini menjadi semakin kaya.

Penggunaan istilah “integrasi ilmu dan agama” yang secara aksinya (di dunia pendidikan) dimanifestasikan dalam konversi PTAI menuju UIN, dengan meletakkan al-Qur'an dan hadis sebagai sember utama. Bagi penulis, bukanlah istilah yang tepat, dalam bentuk ini, dan upaya mempertemukan ilmu dan agama dalam bentuk ini hanya sebatas upaya mensejajarkan ilmu dan agama saja. Karena landasan teoritis dari wacana konversi PTAI menuju UIN hanya mencoba memberikan porsi yang sama antara sains atau ilmu dengan agama dengan berlandaskan nilai-nilai universalitas Islam, yaitu bersumber pada al-Qur’an dan hadis.

Hal ini juga mirip dengan wacana yang diusung oleh Mehdi Golshani dalam upayanya mensejajarkan sains Islam dengan sains teistik yang didasarkan pada al-Qur’an dan hadis. Dan hal ini jelas berbeda dengan integrasi, karena mengintegrasikan ilmu dan agama berarti membangun kemitraan yang lebih sistematis dan ekstensif antara ilmu dan agama dan mencoba mencari titik temu diantara keduanya.

0 comments:

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream