Sabtu, 09 Februari 2008

Pembongkaran Perilaku Seks Kaum Terpelajar

Naskah Resensi ini dimuat di Suara Merdeka, Minggu, 24 Agustus 2003

Oleh: Moh. Yasin

...................................................................................................................................

Judul Buku : Sex in the Kost, Realitas dan Moralitas Seks “Kaum Terpelajar”

Penulis : Iip Wijayanto

Penerbit : Tinta, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Mei 2003

Tebal : xx + 152 halaman


..................................................................................................................................

KEHIDUPAN kost-kostan dengan mayoritas penghuni kaum mahasiswa, identik dengan kehidupan yang agak bebas, karena lepas dari pengawasan orang tua serta tradisi ewuh-pakewuh sesama temen. Itulah justru yang menjadi penopang terjadinya “asmara liar” atau premarrietal inter course (hubungan seks pra nikah) ditengah-tengah pergaulan bebas dan konstruksi masyarakat indonesia modern ini.

Usia muda adalah masa transisi, paling rawan dan identik dengan seks. Dan mahasiswa sebagai anak muda cenderung mengedepankan nafsu dan kehendak dari pada rasio. Tak pelak “asmara liar” menjadi sesuatu yang sudah sangat lazim terjadi di tengah-tengah pergaulan bebas dan kampanye seks bebas besar-besaran pada era digital ini.


Sisik Pelik fenomena inilah yang menggugah Iip Wijayanto seorang penulis dan peneliti muda kontroversial yang dilahirkan di Bengkulu, untuk memahami, mengkaji, meneliti dan kemudian menganalisis terhadap fenomena tersebut. Dengan berpijak pada pembangunan etika dan moralitas manusia berdasarkan realitas kehidupan yang telah ia jalani dan pengetahuan agamanya yang tidak diragukan lagi. Terutama masalah pergaulan bebas atau yang sering kita kenal dengan istilah premarrietal inter course (atau seks bebas) di dunia kaum intelektual.


Akhir-akhir ini ia sempat membuat geger di negeri ini dengan penilitian kontroversialnya tentang virginitas. Dan hasilnya fantastis: “97,05% mahasiswi disebuah kota tertentu telah kehilangan keperawanannya”.


Lewat karyanya yang berjudul Sex in the Kost” inilah Iip wijayanto memaparkan kegelisahan dan pengalaman pribadinya dalam realitas kehidupan yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun di sebuah negeri yang ia sebut sebagai “negeri antah berantah” yaitu negeri yang telah melahirkan para tokoh intelektual terkemuka. Mulai dari mereka yang bercorak fikir liberalis sampai pada mereka yang bercorak fikir fundamentalis.


Dalam mengawali karyanya penulis memaparkan keadaan kost-kostan dan wilayah disekitarnya yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun lebih. Ia selalu berpindah-pindah kost karena ketidak cocokannya dengan suasana yang penuh dengan kemaksiatan, membuatnya geram, kesal dan tidak betah. Karena latar belakangnya berangkat dari keluarga yang memiliki ideologi yang sangat keras dan konservatif ia juga sebagai seseorang yang menyibukkan diri di dunia dakwah bersama komunitasnya.


Berpindah-pindah kos enam kali menjadi pengalamaman tersendiri bagi Iip dalam membaca realitas kehidupan di dunia kost-kostan. Dalam kehidupan itulah di mata Iip ada bermacam variasi kegiatan yang dijalani oleh penghuni kost yang 99% penghuninya adalah mahasiswa dan mahasiswi. Ada yang hidup penuh dengan kedisiplinan, kelihatan alim, rajin ibadah, jamaah di masjid dan ada yang menjalani kehidupan secara biasa-biasa saja. Dan yang tak pernah luput adalah penghuni kos yang menjalani kehidupan “premarrietal inter course” atau seks bebas, suka minum dan menggunakan obat-obat terlarang yang merugikan diri dan masyarakat.


Ketika mengupas tradisi seks bebas di kalangan mahasiswa Iip tidak sekedar memaparkan secara gamblang hasil observasi dan pengalaman pergaulannya. Ia juga berupaya memahami, mempelajari, mengevaluasi dan kemudian menganalisis fenomena seks bebas di dunia mahasiswa itu melalui aspek budaya dan moralitas seks.


Istilah pergaulan bebas atau bebas seks didunia mahasiswa sebenarnya sangat menarik jika kita telusuri lebih jauh. Karena kebebasan seks ini justru menjadi suatu pergaulan yang tidak bebas dimana para pelakunya selalu dibayang-bayangi dan dihantui oleh rasa dosa, rasa bersalah, rasa takut dengan orang tua, serta rasa takut terhadap masa depan dirinya dan sebagainya. Bisa dikatakan pergaulan bebas ini adalah pergaulan bebas yang justru menjadi pergaulan yang angker dan penuh dengan bayang-bayang ketakutan.


Tak ayal, kehidupan mereka penuh dengan trik dan strategi khusus yang jitu untuk kemudian bagaimana mengatasi dan menghindari rasa takut dan bersalah tersebut serta bagaimana menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar, dengan penuh hati-hati dan kewaspadaan yang tinggi tentunya.


Mereka memiliki berbagai strategi untuk melakukan seks bebas, yang secara umum bisa digambarkan sebagai seks “kucing-kucingan”. Ada yang dengan trik pura-pura ngobrol biasa di ruang tamu yang kemudian diteruskan ngobrolnya dikamar jika keadaan sudah sepi, pintu ditutup dengan pelan-pelan dan sandal sicewek dimasukkan kekamar, tembang kenangan diputar untuk menutupi erangan-erangan yang penuh dengan kenikmatan kemudian bobo bareng pun telah dimulai.


Ada yang melakukan di malam hari dengan jalan menyogok para penjaga kampung, untuk menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar. Dan mereka kaum elitis sering dengan jalan pergi nginap di sebuah penginapan atau hotel, dan seterusnya.


Itulah gambaran sepenggal realitas kehidupan asmara liar yang dilakukan oleh para kaum intelektual muda kita di tengah-tengah kontruksi masyarakat indonesia modern dalam buku Sex in the Kost ini.


Iip juga memaparkan fenomena nikah sirri yang barangkali sudah menjadi budaya akhir-akhir ini di kalangan terpelajar. Dengan berdasarkan kitab suci dan pengetahuan keagamaan, ia sangat menentang tradisi itu jika hanya demi memenuhi “nafsu birahi”. Karena itu berkesan nilai sebuah pernikahan hanya untuk menuruti nafsu, bukan sebagai sunah rosul atau menciptakan sebuah kehidupan keluarga yang diridhoi Tukan.


Persoalan tentang keobyektifan dan keorisinalan deskripsi Iip brangkali bukan masalah besar. Yang menjadi masalah, jika saja deskripsi itu sudah menjadi sebuah realitas dan tradisi di kalangan intelektual kita dan terus berlanjut. Mak tugas kita bersama untuk melawan tradisi itu. Yakni, dengan berpegang teguh pada pegangan hidup kita untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.


Barangkali tak salah jika para pembaca menilai judul buku ini hanya plesetan dari film Sex in the City yang ditayangkan oleh Lativi atau Jakarta under Cover. Namun bagi Iip istilah Sex in the Kost ini tidak lebih hanya istilah untuk mendikripsikan fenomena global di tengah-tengah masyarakat kita. Karena jauh sebelum Sex in the City dan Jakarta Under Cover muncul, sebenarnya sudah ada istilah “ML (Making Love) atau akronim lainnya.


Barangkali inilah sebagian dari karya penulis yang kemudian akan disusul oleh karya-karya berikutnya yang lebih bombastis. Biar tidak menjadikan kaget masyarakat, seperti penelitian virginitas beberapa saat yang lalu.



0 comments:

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream