Oleh: Moh. Yasin
...................................................................................................................
Judul Buku : Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Judul Asli : The Ringmaster’s Daughter
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Rahartati Bambang
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, Februari 2006
Judul Buku : Putri Sirkus dan Lelaki Penjual DongengJudul Asli : The Ringmaster’s Daughter
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Rahartati Bambang
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, Februari 2006
......................................................................................................................
Masih ingat Hans Christian Andersen (1805-1875), sang raja dongeng dari Denmark Abad 19-an, lebih dari 150 dongeng mengalir dari mulutnya dan tertulis dari pena-nya, bahkan telah diterjemahkan ke dalam 80 bahasa. Kisah-kisah Andersen seperti The Ugly Duckling (1843), The Emperor's New Clothes (1837), The Snow Queen (1844), The Red Shoes (1845), dan The Little Mermaid (1837), membawanya menjadi salah satu figur besar dalam kesusastraan dunia dan menjadi sumber inspirasi para penulis, sastrawan, pelukis dan pekerja film.
Sepeninggal Andersen Denmark tidak lagi melahirkan pendongeng. Namun, akhir Abad ke-20 hingga awal millennium ke-3 tepat di sebelah utara Denmark yaitu di negara Norwegia kembali berlimpah dongeng-dongeng fantasi yang menakjubkan, tepatnya di Skandinavia. Adalah lewat tangan Jostein Gaarder, novelis sekaligus pendongeng handal, tersajikan cerita-cerita menggiurkan bernuansa perpaduan antara fantasi dan realitas dengan dibumbui berbagai pemikiran filsafat.
Tidak bermaksud membandingkan atau bahkan menyamakan Andersen dengan Garrder. Yang Pasti, keduanya sama-sama seorang pendongeng handal di era-nya masing-masing dengan karakternya yang berbeda. Hampir seluruh cerita Andersen ditujukan untuk anak-anak, sementara Gaarder mendongeng untuk kalangan remaja, sebagian juga untuk orang dewasa.
Ciri khas karya-karya Jostein Gaarder adalah ‘selalu menyajikan cerita dalam sebuah cerita’ dengan memunculkan tokoh yang misterius atas liku-liku perjalanan kehidupannya. Singkatnya, Gaarder selalu membuat autobiografi kehidupan tokoh yang diciptakannya. Beberapa karya Garrder seperti The Solitaire Mystery, dengan tokoh Hans Thomas yang mengungkap filsafat lewat permainan kartu, kemudian Sophie's World yang berkisah tentang Sophie Amundsend, gadis umur 14 tahun yang dipaksa berfilsafat oleh Alberto Knox lewat kiriman surat-surat misteriusnya, serta Vita Brevis, Through a Glass, Darkly dan The Orange Girl adalah deretan novel Gaarder yang diciptakan dengan kaca mata yang sama, yakni menyajikan autobiografi dan misteri kehidupan tokoh ciptaannya.
Tidak terkecuali novel yang semula berjudul The Ringmaster’s Daughter ini, lewat buku ini Gaarder ingin bercerita tentang autobiografi Petter, lelaki yang tinggal di Oslo pada tahun 1950-1990 dengan segudang dongeng dan imajinasi yang berlimpah.
Petter adalah lelaki yang memilih hidup tidak berkawan dan menyendiri asyik bersama dunia yang diciptakan oleh keliaran imajinasinya. Setelah ibunya meninggal Petter merasa kesepian dan berpikir banyak hal tentang gadis, Petter sangat senang mencari berbagai perempuan sekedar untuk berkencan dan ditiduri tanpa ada rasa sedikit pun untuk menikah.
Di mata teman-temannya Petter adalah sosok lelaki yang cerdas tapi membenci popularitas, saat masa sekolah Petter selalu menjual pemikirannya dengan mengerjakan PR teman-teman sekelasnya cukup dengan imbalan coklat atau es krim. Kebiasaan menjual ide-ide brilian ini membuat Petter dijuluki oleh teman-temannya sebagai ‘si laba-laba’.
Kebisaan Petter berlanjut hingga dewasa, demi mencukupi kehidupannya Petter membuka bisnis pribadinya yang dinamai Writer’s Aid, sebuah usaha yang didesain untuk menjual imajinasi, naskah-naskah penting dan ide-ide luar biasa untuk menolong para penulis yang sedang mengalami kebuntuan.
Petter menawarkan dagangannya dalam bentuk kerangka lengkap dari sebuah novel, synopsis film, puisi yang belum tuntas, serta cerpen yang belum selesai. Usaha Writer’s Aid Petter menjadikan banyak penulis menggantungkan hidup padanya.
Usaha Petter berjalan lancar dan membuatnya menjadi kaya raya, Petter kemudian melebarkan usahanya lewat bekerja di sebuah penerbitan, di dunia penerbitan Petter banyak berhubungan dengan para penulis besar internasional. Tak pelak, ‘si laba-laba’ pun semakin melebarkan usaha Writer’s Aid-nya ditingkat internasional dan Petter semakin kaya raya.
Usaha Writer’s Aid Petter memiliki tiga pelanggan, pertama, para penulis yang telah menerbitkan karya-karyanya tetapi setelah itu tak pernah menghasilkan sesuatu apa pun lagi, mereka mengalami kebuntuan dan frustasi. Kedua, penulis yang mampu menulis dengan baik dan memolesnya dengan gaya penulisan yang indah, tetapi sedang frustasi karena tidak tahu harus menulis apa. Ketiga, mereka yang belum pernah menerbitkan apa pun tetapi meyakini bahwa dirinya di takdirkan menjadi penulis, mereka tidak frustasi karena selalu melihat prospek ketenaran dan selalu gelisah karena harapan.
Selang beberapa tahun usaha Petter terbongkar, dan Petter tidak bisa lagi hidup tenang karena ancaman dari berbagai penulis besar dunia, nyawa Petter menjadi taruhan atas bisnis Writer’s Aid-nya. ‘Si laba-laba’ telah terjerat dengan tenunan jejaring yang dibuatnya.
Terungkapnya bisnis Petter disebabkan karena kebiasaan masa lalunya yang selalu memberi dongeng-dongeng mempesona pada setiap perempuan yang dikencaninya. Bahkan Petter pernah tak henti-hentinya mendongeng kepada Maria, satu-satunya perempuan yang mampu memikat hati Petter.
Tanpa disadari oleh ‘si laba-laba’, Maria menyimpan seluruh cerita-cerita Petter dalam otaknya dan dalam beberapa tahun kemudian muncul karya-karya yang bersumber dari cerita-cerita yang diberikan oleh Petter kepada Maria. Bahkan cerita-cerita Maria memiliki kesamaan dengan cerita-cerita yang diberikan Petter kepada pelanggannya.
Keseluruhan isi buku ini adalah biografi Petter serta dongeng-dongeng Petter yang begitu fantastis, mulai dari dongeng tentang Panina Manina (cerita tentang putri sirkus), hingga dongeng permainan caturnya.
Meskipun buku ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, tampaknya masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan karya Gaarder, Sophi’s World yang pada tahun 1995 menjadi novel filsafat best-seller internasional. Yang samapai kini telah diterjemahkan ke dalam 53 bahasa dan terjual lebih dari 26 juta eksemplar.
Sepeninggal Andersen Denmark tidak lagi melahirkan pendongeng. Namun, akhir Abad ke-20 hingga awal millennium ke-3 tepat di sebelah utara Denmark yaitu di negara Norwegia kembali berlimpah dongeng-dongeng fantasi yang menakjubkan, tepatnya di Skandinavia. Adalah lewat tangan Jostein Gaarder, novelis sekaligus pendongeng handal, tersajikan cerita-cerita menggiurkan bernuansa perpaduan antara fantasi dan realitas dengan dibumbui berbagai pemikiran filsafat.
Tidak bermaksud membandingkan atau bahkan menyamakan Andersen dengan Garrder. Yang Pasti, keduanya sama-sama seorang pendongeng handal di era-nya masing-masing dengan karakternya yang berbeda. Hampir seluruh cerita Andersen ditujukan untuk anak-anak, sementara Gaarder mendongeng untuk kalangan remaja, sebagian juga untuk orang dewasa.
Ciri khas karya-karya Jostein Gaarder adalah ‘selalu menyajikan cerita dalam sebuah cerita’ dengan memunculkan tokoh yang misterius atas liku-liku perjalanan kehidupannya. Singkatnya, Gaarder selalu membuat autobiografi kehidupan tokoh yang diciptakannya. Beberapa karya Garrder seperti The Solitaire Mystery, dengan tokoh Hans Thomas yang mengungkap filsafat lewat permainan kartu, kemudian Sophie's World yang berkisah tentang Sophie Amundsend, gadis umur 14 tahun yang dipaksa berfilsafat oleh Alberto Knox lewat kiriman surat-surat misteriusnya, serta Vita Brevis, Through a Glass, Darkly dan The Orange Girl adalah deretan novel Gaarder yang diciptakan dengan kaca mata yang sama, yakni menyajikan autobiografi dan misteri kehidupan tokoh ciptaannya.
Tidak terkecuali novel yang semula berjudul The Ringmaster’s Daughter ini, lewat buku ini Gaarder ingin bercerita tentang autobiografi Petter, lelaki yang tinggal di Oslo pada tahun 1950-1990 dengan segudang dongeng dan imajinasi yang berlimpah.
Petter adalah lelaki yang memilih hidup tidak berkawan dan menyendiri asyik bersama dunia yang diciptakan oleh keliaran imajinasinya. Setelah ibunya meninggal Petter merasa kesepian dan berpikir banyak hal tentang gadis, Petter sangat senang mencari berbagai perempuan sekedar untuk berkencan dan ditiduri tanpa ada rasa sedikit pun untuk menikah.
Di mata teman-temannya Petter adalah sosok lelaki yang cerdas tapi membenci popularitas, saat masa sekolah Petter selalu menjual pemikirannya dengan mengerjakan PR teman-teman sekelasnya cukup dengan imbalan coklat atau es krim. Kebiasaan menjual ide-ide brilian ini membuat Petter dijuluki oleh teman-temannya sebagai ‘si laba-laba’.
Kebisaan Petter berlanjut hingga dewasa, demi mencukupi kehidupannya Petter membuka bisnis pribadinya yang dinamai Writer’s Aid, sebuah usaha yang didesain untuk menjual imajinasi, naskah-naskah penting dan ide-ide luar biasa untuk menolong para penulis yang sedang mengalami kebuntuan.
Petter menawarkan dagangannya dalam bentuk kerangka lengkap dari sebuah novel, synopsis film, puisi yang belum tuntas, serta cerpen yang belum selesai. Usaha Writer’s Aid Petter menjadikan banyak penulis menggantungkan hidup padanya.
Usaha Petter berjalan lancar dan membuatnya menjadi kaya raya, Petter kemudian melebarkan usahanya lewat bekerja di sebuah penerbitan, di dunia penerbitan Petter banyak berhubungan dengan para penulis besar internasional. Tak pelak, ‘si laba-laba’ pun semakin melebarkan usaha Writer’s Aid-nya ditingkat internasional dan Petter semakin kaya raya.
Usaha Writer’s Aid Petter memiliki tiga pelanggan, pertama, para penulis yang telah menerbitkan karya-karyanya tetapi setelah itu tak pernah menghasilkan sesuatu apa pun lagi, mereka mengalami kebuntuan dan frustasi. Kedua, penulis yang mampu menulis dengan baik dan memolesnya dengan gaya penulisan yang indah, tetapi sedang frustasi karena tidak tahu harus menulis apa. Ketiga, mereka yang belum pernah menerbitkan apa pun tetapi meyakini bahwa dirinya di takdirkan menjadi penulis, mereka tidak frustasi karena selalu melihat prospek ketenaran dan selalu gelisah karena harapan.
Selang beberapa tahun usaha Petter terbongkar, dan Petter tidak bisa lagi hidup tenang karena ancaman dari berbagai penulis besar dunia, nyawa Petter menjadi taruhan atas bisnis Writer’s Aid-nya. ‘Si laba-laba’ telah terjerat dengan tenunan jejaring yang dibuatnya.
Terungkapnya bisnis Petter disebabkan karena kebiasaan masa lalunya yang selalu memberi dongeng-dongeng mempesona pada setiap perempuan yang dikencaninya. Bahkan Petter pernah tak henti-hentinya mendongeng kepada Maria, satu-satunya perempuan yang mampu memikat hati Petter.
Tanpa disadari oleh ‘si laba-laba’, Maria menyimpan seluruh cerita-cerita Petter dalam otaknya dan dalam beberapa tahun kemudian muncul karya-karya yang bersumber dari cerita-cerita yang diberikan oleh Petter kepada Maria. Bahkan cerita-cerita Maria memiliki kesamaan dengan cerita-cerita yang diberikan Petter kepada pelanggannya.
Keseluruhan isi buku ini adalah biografi Petter serta dongeng-dongeng Petter yang begitu fantastis, mulai dari dongeng tentang Panina Manina (cerita tentang putri sirkus), hingga dongeng permainan caturnya.
Meskipun buku ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, tampaknya masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan karya Gaarder, Sophi’s World yang pada tahun 1995 menjadi novel filsafat best-seller internasional. Yang samapai kini telah diterjemahkan ke dalam 53 bahasa dan terjual lebih dari 26 juta eksemplar.
0 comments:
Poskan Komentar