Sabtu, 09 Februari 2008

Resensi Buku

Terbongkarnya Perilaku Seks Kaum Terpelajar

Oleh: Moh. Yasin *)

Judul Buku : Sex in the Kost, Realitas dan Moralitas Seks “Kaum Terpelajar”

Penulis : Iip Wijayanto

Penerbit : Tinta, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Mei 2003

Tebal : xx + 152 halaman

FENOMENA kehidupan kost-kostan yang mayoritas penghuninya adalah kaum mahasiswa dan identik dengan kehidupan yang agak bebas, karena lepas dari pengawasan orang tua serta tradisi “pakewuh” sesama temen. Justru menjadi penopang terjadinya “asmara liar” atau “premarrietal inter course (hubungan seks pra nikah)” ditengah-tengah pergaulan bebas dan konstruksi masyarakat indonesia modern ini.

Disamping karena usia dimasa mahasiswa adalah usia muda yaitu masa transisi, paling rawan dan identik dengan seks, anak muda juga cenderung mengedepankan nafsu dan kehendaknya dari pada rasionya. Sehingga “asmara liar” menjadi sesuatu yang sudah sangat lazim terjadi di tengah-tengah pergaulan bebas dan kampanye seks bebas besar-besaran di era digital ini.

Sisik Pelik fenomena inilah yang menggugah Iip Wijayanto seorang penulis dan peneliti muda kontroversial yang dilahirkan di Bengkulu ini untuk memahami, mengkaji, meneliti dan kemudian menganalisis terhadap fenomena tersebut. Dengan berpijak pada pembangunan etika dan moralitas manusia berdasarkan realitas kehidupan yang telah ia jalani dan pengetahuan agamanya yang tidak diragukan lagi. Terutama masalah pergaulan bebas atau yang sering kita kenal dengan istilah premarrietal inter course (atau seks bebas) di dunia kaum intelektual.

Dimana akhir-akhir ini ia sempat membuat geger di negeri ini dengan penilitian kontroversialnya tentang virginitas. Dan hasilnya fantastis: “97,05% mahasiswi disebuah kota tertentu telah kehilangan keperawanannya”.

Lewat karyanya yang berjudul Sex in the Kost” inilah Iip wijayanto mencoba untuk memaparkan kegelisahan dan pengalaman pribadinya dalam realitas kehidupan yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun di sebuah negeri yang ia sebut sebagai “negeri antah berantah” yaitu negeri yang telah melahirkan para tokoh intelektual terkemuka. Mulai dari mereka yang bercorak fikir liberalis sampai pada mereka yang bercorak fikir fundamentalis.

Dalam mengawali karyanya penulis mencoba memaparkan keadaan kost-kostan dan wilayah disekitarnya yang ia alami selama kurang lebih sekitar enam tahun lebih. Dimana ia selalu berpindah-pindah kost karena ketidak cocokannya dengan suasana yang penuh dengan kemaksiatan, yang selalu membuatnya geram, kesal dan tidak betah. Karena latar belakangnya berangkat dari keluarga yang memiliki ideologi yang sangat keras dan konservatif ia juga sebagai seseorang yang menyibukkan diri di dunia dakwah bersama komunitasnya.

Kehidupan kost-kostan Iip yang selalu berpindah-pindah kurang lebih sebanyak enam kali menjadi pengalamaman tersendiri bagi Iip dalam membaca realitas kehidupan di dunia kost-kostan. Dalam kehidupan kost-kostannya, mulai dari kost-kostan pertama hingga ke-enam di mata Iip ada bermacam-macam variasi kegiatan yang dijalani oleh penghuni kost yang 99% penghuninya adalah mahasiswa dan mahasiswi. Ada yang hidup penuh dengan kedisiplinan, kelihatan alim, rajin ibadah, jamaah di masjid dan ada yang menjalani kehidupan secara biasa-biasa saja. Dan yang nggak pernah luput adalah mereka yang menjalani kehidupan “premarrietal inter course” atau kehidupan seks bebas, suka minum dan menggunakan obat-obat terlarang yang merugikan diri dan masyarakat.

Lebih jauh dalam mengupas tentang tradisi seks bebas di kalangan mahasiswa Iip tidak hanya sekedar memaparkan secara gamblang hasil observasi dan pengalaman gaulnya. Namun, ia juga mencoba memahami, mempelajari, mengevaluasi dan kemudian menganalisis fenomena seks bebas didunia mahasiswa tersebut, melalui aspek budaya dan moralitas seks.

Istilah pergaulan bebas atau bebas seks didunia mahasiswa sebenarnya sangat menarik jika kita telusuri lebih jauh. Karena kebebasan seks ini justru menjadi suatu pergaulan yang tidak bebas dimana para pelakunya selalu dibayang-bayangi dan dihantui oleh rasa dosa, rasa bersalah, rasa takut dengan orang tua, serta rasa takut terhadap masa depan dirinya dan sebagainya. Sehingga bisa dikatakan pergaulan bebas ini adalah pergaulan bebas yang justru menjadi pergaulan yang angker dan penuh dengan bayang-bayang ketakutan.

Sehingga dalam perjalanannya penuh dengan trik-trik dan strategi khusus yang jitu untuk kemudian bagaimana mengatasi dan menghindari rasa takut dan bersalah tersebut serta bagaimana menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar, dengan penuh hati-hati dan kewaspadaan yang tinggi tentunya.

Dalam pengalaman observasinya sebenarnya para pelaku seks bebas memiliki berbagai strategi dalam melakukan hubungan seks bebasnya, yang secara umum bisa digambarkan sebagai seks “kucing-kucingan”. Ada yang dengan trik pura-pura ngobrol biasa di ruang tamu yang kemudian diteruskan ngobrolnya dikamar jika keadaan sudah sepi, pintu ditutup dengan pelan-pelan dan sandal sicewek dimasukkan kekamar, tembang kenangan diputar untuk menutupi erangan-erangan yang penuh dengan kenikmatan kemudian bobo bareng pun telah dimulai. Ada yang melakukan di malam hari dengan jalan menyogok para penjaga kampung, untuk menghindari “bogem” dan amukan masyarakat sekitar. Dan mereka kaum elitis sering dengan jalan pergi nginap di sebuah penginapan atau hotel, dan seterusnya.

Itulah gambaran sepenggal realitas kehidupan asmara liar yang dilakukan oleh para kaum intelektual muda kita di tengah-tengah kontruksi masyarakat indonesia modern, yang tertera dalam buku Sex in the Kost ini.

Lebih lanjut dalam buku ini Iip juga memaparkan fenomena nikah sirri yang barangkali sudah menjadi budaya akhir-akhir ini di kalangan kaum terpelajar. Dengan berdasarkan kitab suci dan pengetahuan keagamaannya ia sangat menentang tradisi ini jika pelaksanaannya hanya demi memenuhi “nafsu birahi” saja. Sehingga terkesan bahwa nilai sebuah pernikahan hanyalah menuruti nafsu saja, bukan sebagai sunah rosul atau menciptakan sebuah kehidupan keluarga yang diridhoi Tukan.

Persoalan tentang keobyektifan dan keorisinalitasan apa yang di deskripsikan oleh Iip, brangkali tidaklah suatu masalah besar. Yang menjadi masalah adalah jika saja apa yang dideskripsikan oleh Iip itu sudah menjadi sebuah realitas dan tradisi di kalangan intelektual kita, dan tentunya ini sangat naif sekali jika terus berlanjut. Maka sudah menjadi tugas kita bersama untuk kemudian melakukan ittikad melawan terhadap tradisi tersebut. Dengan tetap berpegang teguh terhadap apa yang menjadi pegangan hidup kita untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera.

Tentang judul buku “Sex in the Kost” ini barangkali tidak salah jika para pembaca mengatakan ini hanyalah plesetan dari film Sex in the City yang ditayangkan oleh Lativi atau Jakarta under Cover.

Namun bagi Iip istilah Sex in the Kost ini tidak lebih hanyalah istilah yang digunakan untuk mendikripsikan fenomena global di tengah-tengah masyarakat kita. Karena jauh sebelum Sex in the City dan Jakarta Under Cover muncul sebenarnya sudah ada istilah “ML (Making Love) ataupun akronim-akronim lainnya.

Barangkali inilah sebagian dari karya penulis yang kemudian akan disusul oleh karya-karya berikutnya yang lebih bombastis. Biar tidak menjadikan kaget masyarakat, seperti disaat penelitian virginitasannya di ungkapkan beberapa saat yang lalu.

*) Moh. Yasin, mahasiswa Aqidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Alamat: Jl. Bima Sakti GK I/70 Sapen, Demangan, Yogyakarta 55221

No. Rek. Bank LIPPO (Yogyakarta-K.Kas Kusumanegara): 974-10-04611-0 (a.n) Moh. Yasin

0 comments:

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream