Sabtu, 09 Februari 2008

Teologi Postmodern, Sebuah Visi Religius Baru

Naskah Resensi ini di muat di Suara Merdeka 17 April 2005

Oleh: Moh. Yasin

Judul Buku : Tuhan dan Agama dalam Dunia Postmodern

Judul Asli : God and Religion in the Postmodern World

Penulis : David Ray Griffin

Penerbit : Kanisius, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, 2005

Tebal : 210 halaman

DALAM pandangan dunia modern, teologi tidak lagi mendapatkan tempat yang layak-- dan dianggap tidak relevan. Kedudukan teologi dalam dunia modern diabaikan begitu saja, keberadaanya yang sempat tumbuh subur di Abad pertengahan keropos/layu dalam dunia modern. Agama dan worldview spiritualitas tidak lagi menjadi suatu pusat perbincangan masyarakat modern, kemajuan materi dianggap telah menggantikan kehausan terhadap teologi. Dan disiplin teologi dipandang sudah tidak berharga lagi diantara disiplin-disiplin ilmu lain.


Dalam kritik para filosof kontemporer sekelas Hegel, Freud, Feurbach dan Marx misalnya keberadaan teologi, agama dan worldview spiritualitas dianggap hanya semacam tahapan kekanak-kanakan belaka. Hal ini karena kerangka berpikir dunia modern lebih mengunggulkan ilmu-ilmu yang bersifat empiris dan pragmatis sehingga realitas yang diakui hanyalah yang material, fisik dan natural saja.


Dalam konteks ini David Ray Griffin menilai bahwa penyebab dari tersisihnya teologi dalam dunia modern adalah karena pandangan dunia modern yang tidak memberikan kemungkinan suatu visi teologis yang rasional dan bermakna. Selain itu, kehausan religius masyarakat modern untuk mendapatkan keselamatan lewat sesuatu yang bersifat material dan fisik telah menjadi teologi baru mereka (hal. 17). Oleh karena itu bagi masyarakat modern teologi dianggap sudah tidak relevan lagi dan keberadaanya bisa diabaikan begitu saja.


Postmodernisme, dengan corak filsafatnya yang dekonstruktif dan konstruktif atau revisionis telah menghadirkan sebuah tawaran baru dalam teologi. Kehadiran teologi postmodern di masyarakat dengan mengusung kembali agama dan worldview spiritualitas dalam perbincangan masyarakat telah melahirkan pandangan spiritualitas baru. Teologi postmodern ini mencoba mengungkapkan visi yang benar-benar religius terhadap dunia, yang coraknya sangat jauh berbeda dengan teologi liberal-modern dan konservatif-fundamentalis.


Buku kumpulan esai Griffin ini membahas beberapa tema pokok dalam kaitanya dengan teologi postmodern. Ia memberikan sebuah tawaran worldview baru yang tidak lagi bersifat dekonstruktif atau rekonstruktif yang menjadi ciri pemikiran dunia postmodern. Namun ia melangkah lebih jauh dari kaum posmo yang dekonstruktif dan rekonstruktif itu, Griffin menggunakan istilah integralisme dalam membangun teorinya yaitu dengan merakit kembali dualisme (yang menjadi ciri kerangka berpikir modern) menjadi sebuah worldview yang koheren dan integral. Dengan bersandar pada metafisika dan dielaborasikannya dengan fisika dan ilmu-ilmu lain.


Beberapa upaya integrasi Griffin dicontohkan dalam buku ini dengan membahas beberapa tema yang bersifat teologis seperti pembahasan mengenai Tuhan, agama, penciptaan, spiritualitas, jiwa, adanya hidup setelah mati dan sebagainya. Ia mengarahkan wacana tersebut secara ilmiah dan filosofis menuju wacana yang argumentatif, dengan menelusuri permasalahan sampai keakarnya dan kemudian menawarkan sebuah tawaran atau jawaban baru terhadap permaslahan dasar tersebut.

Dalam mengkaji tentang Tuhan misalnya Griffin dengan teologi postmodernnya menawarkan sebuah pandangan baru yang disebut dengan "naturalisme yang teistik" dan "teisme yang naturalistik". Pandangan itu merupakan reaksi atas asumsi dunia modern yang bersifat "teisme supernaturalistik" dan "teisme nonteistik". epistemologi postmodern dalam pandangan ini bersandarkan pada keyakinannya bahwa adanya pencerapan atau persepsi noninderwi, yang persepsi itu sangat bertentangan dengan pandangan dunia modern yang sensasionis. Teisme naturalistik ini menjadi salah satu ciri teologi postmodern dan melahirkan landasan baru dalam dunia ilmu-ilmu dan teologi.


Selain "teisme naturalistik" teologi posmoderni punya ciri lain yaitu usahanya dalam menggabungkan antara doktrin luhur manusia dengan pendekatan ekologis alam, dimana nilai-nilai intrinsik dianggap berada dalam entitas (20). Inti dari pengkajian manusia menurut teologi postmodern adalah pembahasan mengenai jiwa atau budi manusia dengan cara dan pendekatan yang benar-benar baru yaitu dengan menganggap bahwa gagasan-gagasan pokoknya adalah alam sebagai hierarki pengalaman kreatif dengan mengunggulkan persepsi non inderawi.


Ciri lain dari teologi postmodern adalah usahanya dalam mengatasi pertentangan antara pandangan religius liberal dengan religius konservatif yang dalam perkembangannya melahirkan sebuah penawaran baru dalam ranah spiritualitas. Dan usaha teologi postmodern mengatasi pemisahan antara teori dan praktek dengan kata kuncinya bahwa kebenaran teologi adalah kebenaran yang membebaskan, yang juga memberikan landasan baru bagi disiplin spiritualitas terutama pengkajian mengenai Tuhan dan jiwa yang dimasa modern telah diruntuhkan oleh materialisme ateistik dan supernaturalisme.


Secera garis besar ada dua kata kunci dalam teologi postmodern yaitu pengalaman dan kreativitas, teologi postmodern meletakkan pengalaman sebagai sesuatu yang bersifat natural sementara kreativitas dianggap sebagai "ultimate reality" (realitas tertinggi) yang berada dalam seluruh diri individu dari Tuhan sampai elektron. Dimana dua hal ini selalu memiliki keterkaitan dan harus dipakai secara bersama-sama: semua pengalaman adalah pengalaman kreatif.


Teologi postmodern mengawali visi religius barunya dengan sikap kritisnya terhadap pendekatan yang digunakan dunia modern yang cenderung menolak terhadap kebenaran religius baik secara apriori maupun keseluruhan. Dasar pijakan yang diangkat oleh postmodern adalah bahwa intuisi religius memiliki bobot yang sama dengan intuisi-intuisi indrawi, yang logis, matematis dan rasional.


Dikalangan intelektual teologi dibagi menjadi dua yaitu teologi konservatif-fundamentalis dan teologi liberal modern. Dimana keberadaan kedua teologi tersebut dianggap tidak ilmiah dan hampa oleh masyarakat posmo. Sementara teologi postmodern jauh melangkah dari kedua teologi tersebut, teologi postmodern mengungkapkan visi religius yang baru dengan tetap terbuka dan menerima ilmu lain dan bersifat rasional. Singkatnya teologi postmodern adalah sebuah integralisme diantara kedua teologi tersebut dengan mengusung kembali dimensi spiritualitas dan bersikap tidak anti ilmu dan tidak anti rasional.

Meskipun Worldview yang ditawarkan Posmodern ini masih bersifat hipotesis, paling tidak untuk kontek sekarang mampu menawarkan sesuatu yang menarik untuk dicermati dan dipelajari ditengah suasana yang skeptis dan nihilistik ini. Maka kehadiran buku ini yang mencoba memberikan sebuah visi religius atau worldview yang benar-benar baru dalam dunia spiritual, terasa sangat menarik dan menantang untuk dicermati.

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Share It

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email

Ada kesalahan di dalam gadget ini