Oleh: Moh. Yasin
.............................................................................................
Judul Buku : The Judges; Sang Hakim
Judul Asli : The Judges: A NovelPenulis : Elie Wiesel
Penerjemah : Sofia Mansoor
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal : xiv + 365 halaman
Setelah hampir dua tahun menjadi saksi mata sekaligus saksi hidup kekejaman Nazi. Elie Wiesel tidak malah bungkam atau mengubur dalam-dalam kenangan buruk yang menimpanya. Wiesel tidak mau membohongi dirinya sebagaimana orang lain yang berpura-pura hidup normal seakan tidak pernah menghadapi peristiwa paling buruk dalam hidupnya itu.
Bakat dan keahliannya dalam menulis dia gunakan untuk membongkar dan mengkomunikasikan kekejaman Nazi kepada dunia. Wiesel berprinsip bahwa “...the struggle against man’s inhumanity toward man” dan menurutnya tidak mengkomunikasikan pengalaman buruknya pada dunia berarti mengkhianati kemanusiaan (hal. Viii).
Puluhan buku-pun lahir dari tangan Wiesel, yang diilhami dari memoar dan kepedihan yang ditimpa kaum Yahudi di tangan Nazi. Trilogi La Nuit, Dawn dan Accident menjadi karyanya yang monumental, menjadi hikmah luar biasa bagi setiap orang. Bukunya yang berjudul Night dan A Beggar in Jerusalem telah menjadi international best-sellers dan mengantarkannya meraih berbagai penghargaan, diantaranya memenangi Prix Medicis, the Presidential Medal of Freedom dan sebagainya. Pada tahun 1986 Wiesel meraih peghargaan nobel perdamaian, ketika dia berusia lima puluh delapan tahun.
The Judges adalah salah satu novelnya yang mengangkat tema-tema spiritualitas dan kemanusiaan. Pertanyaan-pertanyaan bernuansa filosofis, religius dan moral menjadi bagian penting dalam novel The Judges.
Wiesel mengalirkan cerita fiksi The Judges ini dimulai dengan pendaratan darurat sebuah pesawat terbang di desa yang terletak antara pegunungan New York dan Boston, akibat cuaca buruk dan badai salju. Pesawat bertujuan ke Israel itu mendarat dengan selamat di lapangan terbang kecil di Connecticut. Para penumpangnya diungsikan di desa terdekat bandara.
Kisah lima penumpang yang mengungsi disebuah rumah mirip sel dan kelihatan sangat angker, diangkat oleh Wiesel dalam novel The Judges. Kelima penumpang itu adalah Razziel, Claudia, Yoav, George dan Bruce.
Razziel adalah seorang guru agama yang pernah menjadi tahanan politik, Caludia seorang wanita yang baru saja meninggalkan suaminya dan telah menemukan cinta baru; Yoav, seorang tentara yang tengah sekarat; George, seorang ahli kearsipan dengan sebuah rahasia yang bisa menjatuhkan seorang politisi di tangannya;Bruce, seorang calon pendeta yang berubah menjadi perayu handal.
Kelima orang musafir yang kemudian berubah menjadi pengungsi itu merasa sangat puas dan gembira ketika telah sampai rumah pengungsian. Tuan rumah telah menyambut Razziel dan teman-temannya dengan penuh hangat dan hormat, dia memperkenalkan diri dengan nama ‘sang hakim’.
Rasa lega, nyaman dan bahagia karena telah selamat dari pendaratan dan sampai dipengungsiaan ternyata tidak lama dirasakan oleh Razziel. Tuan rumah yang memperkenalkan dirinya Sang hakim dengan arogansinya mengintrogasi mereka, lewat permainannya sang hakim memaksa mereka mengungkap hal-hal yang bersifat privasi tentang dirinya. Tak pelak, Razziel dan teman-temannya merasa gundah dan berfikir bahwa sang hakim telah memanfaatkan situasi untuk mengungkap kehidupan pribadi mereka. Bahkan mereka menganggap bahwa sumber malapetaka yang sebenarnya adalah tuan rumah yang memperkenalkan diri sang hakim itu.
Permainan-permainan yang diberikan sang hakim telah melahirkan suasana panas dan gaduh serta prasangka buruk dalam diri mereka. Perasaan terancam, panik, rasa benci, perang urat saraf dan konflik kecil mulai menghiasi dalam diri mereka, baik sesama teman, dengan sang hakim ataupun penyesalan atas sikap dan keputusan diri mereka.
Claudia dan George memandang sinis sang hakim, bahkan ia sangat tidak senang dengan sikap dan prilaku sang hakim, begitu juga dengan Razziel, Yoav dan Bruce. Di tengah obrolan Claudia memberanikan diri berbicara dan berkata kepada tuan rumah, pak hakim tercinta, “segala sesuatu adalah sandiwara, sejak zaman Sophocles dan Bill Shakespeare orang selalu mengulang-ngulang kata itu! Lalu permainan apa yang sedang kau mainkan ini pak hakim?”. Dengan penuh kehangatan dan antusias Sang hakim menjawabnya “ini hanyalah permainan, kehidupan dan kematian menjadi taruhannya, dan dalam permainan ini salah satu diantara kalian yang tidak berguna akan mati di saat fajar menyingsing”.
Mendengar ungkapan itu Razziel dan keempat temannya mulai menanggapi permainan itu dengan serius, membawa situasi dan keadaan dengan penuh ketegangan. Rasa gundah, marah, saling mencibir terjadi di antara mereka, akibat permainan sang hakim. Kemarahannya dengan sang hakim telah menyatukan mereka, berbagai cara mulai mereka pikirkan untuk keluar dari tempat itu. Tuduhan buruk terhadap sang hakim menjadi perbincangan mereka, Bruce menilai sang hakim dengan orang gila, George menganggapnya seorang penjahat yang sedang menyandera mereka, bahkan menyebutnya teroris.
Dalam permainan yang mempertaruhkan kehidupan dan kematian itu sang hakim memaksa mereka untuk menceritakan suatu kejadian yang mengandung titik balik dalam eksistensi dirinya. Situasi ini membuat mereka tidak lagi menganggap permainan sang pengadil yang misterius itu benar-benar sebuah permainan, dan mereka mulai serius memikirkan hal ini. Perenungan tentang makna hidup, arti sebuah kematian, bagaimana mempertahankan hidup, bagaimana cara keluar dari cengkraman penjara, dan bahkan memikirkan akan masa depan keluarga dan pacar serta pekerjaannya menjadi perhiasan pemikiran dan hati mereka di ruangan yang mereka sebut penjara.
Wiesel menulis Novel ini diilhami dari pengakuan jujur teman-temannya dalam perjalanan penerbangan menuju Israel. Tokoh Razziel adalah Elie Wiesel sendiri, ia memadukan kisah ini dengan kesaksian teman-temannya yang semuanya selamat dan mendarat di Lod Israel
Novel ini tidak hanya menggambarkan lima kepribadian dan sejarah kehidupannya. Lebih dari itu, pertanyaan-pertanyaan tentang makna kehidupan, arti kemanusiaan, religiusitas, menggambarkan sosok Wiesel. Yang secara langsung pernah merasakan tekanan hidup-mati di kamp konsentrasi di bawah kekejaman Nazi.
0 comments:
Poskan Komentar