Sabtu, 09 Februari 2008

Resensi Buku

Mencari Jejak Indah "Cultural Studies"
Oleh: Moh. Yasin*)

Judul Buku : Cultural Studies Teori dan Praktik
Judul Asli : Cultural Studies: Theory and Practice
Penulis : Chris Barker
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2005
Tebal : xii + 568 halaman

Sebagai disiplin ilmu "Cultural Studies" atau kajian budaya punya beraneka ragam perspektif dan teori. Ide-ide kunci dalam kajian budaya seperti budaya, praktik pemaknaan, representasi, wacana, kekuasaan, artikulasi, teks dan sebagainya adalah bagian dari pembahasannya. Dengan mengadopsi berbagai teori baik yang layak disebut sebagai kajian budaya maupun yang berpengaruh besar terhadap kajian budaya seperti marxisme, strukturalisme, pasca strukturalisme, kulturalisme, feminisme, psikoanalisis dan sebagainya.
Sudah menjadi wacana umum bahwa memaparkan kajian budaya secara komprehensif adalah sebuah pekerjaan rumit dan membutuhkan keseriusan, apalagi menentukan wilayah pokok penyelidikan intelektual dan argumen-argumen utamanya. Pekerjaan rumit dan butuh keseriusan inilah yang coba dipaparkan dan dijawab oleh Chris Barker, lewat bukunya yang semula berjudul "Cultural Studies: Theory and Practice" dimana ia mampu menguraikan kajian budaya secara komprehensif, termasuk ringkasan dan pembahasan mengenai argumen-argumen utama dan wilayah-wilayah pokok penyelidikan intelektualnya.
Bagi Barker menguraikan kajian budaya secara komprehensif berarti melakukan konstruksi terhadap kajian budaya. mengkonstruksi dalam hal ini dimaknai mereproduksi dan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan kajian budaya, baik berupa teks-teks tentang kajian budaya maupun teori-teori yang layak disebut sebagai kajian budaya atau yang mempengaruhi kajian budaya.
Secara eksplisit dapat dikatakan bahwa dengan bukunya ini Barker berusaha memaparkan konsep-konsep kunci dan teori-teori dalam kajian budaya secara tuntas menuju kajian budaya yang lebih komprehensif. maka membaca buku ini kita akan diperkenalkan berbagai pengetahuan, teori, bahkan filsafat sekalipun yang semuanya berkaitan dengan kajian budaya.
Kajian budaya yang ditawarkan Barker merupakan sebuah kajian yang benar-benar menggunakan versi atau corak yang berbeda dibanding dengan kajian budaya sebelumnya atau yang berkembang saat ini. Dimana ia mengkaji kaji "cultural studies" dengan mengadopsi teori-teori pascastrukturalisme terutama tentang bahasa, representasi, makna, dan subyektivitas. Tidak seperti kajian budaya versi lainnya yang lebih banyak berkutat pada wilayah etnografi, peristiwa-peristiwa hidup atau kebijakan budaya. Dengan menggunkan tiga pemetaan yaitu menentukan dan mengkaji dasar-dasar kajian budaya, perubahan konteks kajian budaya dan situs-situs kajian budaya, yang semuanya dikaji secara tuntas dalam buku ini.
Menurut Barker hal pokok yang harus dipahami sebelum meranah lebih dalam dalam kajian budaya adalah pengetahuan mengenai budaya (sebagai bagian konsep kunci), karena budaya sangatlah erat kaitannya dengan makna-makna sosial yang dimunculkan lewat tanda yang disebut "bahasa". Kemudian bahasa berperan memberi makna pada objek-objek material dan praktik sosial yang menjadi tampak bisa dipahami karena adanya bahasa, dan proses produksi makna ini kemudian disebut dengan "praktik-praktik pemaknaan" (hal. 10).
Kajian Budaya menurut Barker adalah mengkaji kebudayaan sebagai "praktik-praktik pemaknaan" dalam konteks kekuasaan sosial (hal.45). Dengan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pemaknaan yaitu bagaimana peta-peta makna diciptakan dalam kebudayaan? yang kemudian menjadi sekumpulan praktik pemkanaan, melacak makna-makna apa saja yang disirkulasikan?, oleh siapa?, untuk siapa?, dengan tujuan apa?, dan atas kepentingan apa?.
Sementara dalam ranah praktiknya kajian budaya menggunakan beberapa metodologi (dengan pendekatan etnografi, tekstual, dan resepsi yang eklektis) dengan berkutat pada ide-ide kunci seperti budaya, praktik pemaknaan, representasi, wacana, kekuasaan, artikulasi, teks dan sebagainya.
Dalam ranah representasi misalnya, kajian budaya meraih pertanyaan mengenai bagaimana dunia dikonstruksi dan disajikan secara sosial. Sementara untuk mengetahui secara teoritis bagaimana hubungan antar komponen dalam sebuah formasi sosial, kajian budaya menggunakan konsep artikulasi. Dan kekuasaan menjadi alat yang menentukan level sebuah hubungan sosial. Teks dan pembaca dalam kajian budaya tidak hanya dimaknai sebatas teks-teks tertulis, walaupun ini juga bagian kajian budaya namun pada seluruh praktik pemaknaan yang disebut dengan teks-teks kultural seperti citra, bunyi, benda, aktivitas dan sebgainya karena hal itu dianggap juga mengandung sistem-sistem yang sama dengan mekanisme bahasa.
Dengan identitas kajian budaya berusaha mengeksplorasi diri, bagaimana diproduksi sebagai subjek, bagaimana subyek tersebut diidentifikasi dengan melakukan panilaian baik bersifat fisik maupun lainnya seperti melalui kelamin, ras, usia mapun warna kulit. Serta masih banyak konsep-konsep teoritis lainnya seperti permainan bahasa, politik, posisionalitas, formasi sosial dan sebagainya yang semua itu digunakan dalam kajian budaya untuk menjelajahi dan mengintervensi dunia sosial.
Sementara dalam ranah Marxisme kajian budaya telah tertarik dan belajar banyak dari isu-isu tentang struktur, praksis, determinisme, ekonomi dan ideologinya. Dimana kajian budaya memiliki kesamaan dengan marxisme dalam hal semangat melakukan perubahan dengan kendaraan manusia lewat teori dak aksi.
Dan dari kapitalisme kajian budaya belajar pada keberhasilan kapitalisme, transformasi, dan ekspansinya yang diraih atas kemenangannya dalam pertarungan kesadaran dalam ranah kebudayaan. Sementara strukturalisme dan kulturalisme dipakai dalam kajian budaya untuk meneropong pertanyaan-pertanyaan mengenai budaya, ideologi, dan hegemoni.
Pada Pasca strukturalisme kajian budaya menganut idenya mengenai makna yang bersifat labil selalu berproses, bersifat intertekstualitas, tidak terbatas pada makna atau teks tertentu. Dan menentang adanya struktur dalam membentuk sebuah makna sebagaimana diyakini kaum strukturalisme. Selain ide-ide filosofis itu Barker juga memaparkan adanya perubahan dan perkembangan konteks dalam kajian budaya, terutama perkembangan pandangan manusia, masyarakat dan dunia sosial dari dunia modern menuju postmodern.
Meskipun kajian budaya tidak menerima legitimasi secara institusional atau bahkan menolak adanya pendisiplinan. Kajian budaya merupakan kajian yang menarik dan menantang terutama dalam memahami dunia yang senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan akal budi manusia. Buku ini paling tidak bisa menjadi acuan atau pengantar yang komprehensif, argumentatif dan oetentik untuk memahami kajian budaya.

*) Moh Yasin, Pemerhati Buku, aktif di lingkar studi "PANTEON" Yogjakarta

Alamat : Wisma Tiga Kelapa, Sapen Gk I / 486 Jogyakarta 55221
Email : yasin_md2002@plasa.com
No Hp : 081578054879
No Rek. Bank Lippo (Jogyakarta-K.Kas. Kusumanegara) 974-10-04611-0 (a.n) Moh. Yasin

0 comments:

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream