Naskah Resensi ini di muat di Surabaya Post 17 Agustus 2003
Judul Buku : Di Balik Invasi AS ke IrakPenulis : Elba Dumhari
Penerbit : Senayan Abadi Publishing, Jakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2003
Tebal : xiii + 119 halaman
HORALD NICOLSON seorang politisi Inggris, mengutip bahwa Eropa khawatir akan nasib dunia jika harus jatuh ke tangan raksasa yang tak berkaki dan berotak anak ayam! dalam hal ini adalah negara Amerika Serikat. Kutipan ini diungkapkan pada 1950-an mengenai pandangan Negara-negara Eropa terhadap dominasi kekuasaan dan kekuatan Amerika Serikat dalam rangka menguasai dunia.
Doktrin nasional AS Defence Planning Guidance (DPG) yang muncul setelah runtuhnya Uni Soviet dalam perang dingin 10-12 tahun yang lalu, merupkan wacana yang berkembang di AS, Bahwa negara adidaya itu harus mengatur tatanan dunia berdasarkan kepentingannya tanpa memperdulikan demokrasi dan ketetapan-ketetapan yang telah disepakati bersama. wacana yang berkembang seperti ini semakin memperkuat kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap ambisi AS menguasai dunia. Sehingga negara-negara besar Eropa seperti Prancis, Jerman dan Rusia melakukan reaksi yang serupa terhadap negara adidaya tersebut. Terbukti ketika AS ingin menyerang Irak mereka menentang habis-habisan.
Doktrin tersebut mengharuskan AS untuk mengatur tatanan dan tertib dunia atas syarat-syarat yang ditentukan oleh AS sendiri. Baik di dalam persoalan politik, ekonomi, militer dan kebijakan-kebijakan luar negerinya. Doktrin DPG tersebut di sempurnakan pada 22 September 2002 dengan sebutan Nasional Scurity Strategic (NSS) atau strategi keamanan nasioal, seiring dengan peristiwa 11 September yaitu runtuhnya WTC dan Pentagon oleh pembajak pesawat. yang dalam hal ini AS menuduh Osama dan jaringan Al-Qaida sebagai pelakunya.
Invasi Amerika terhadap Irak pada 20 Maret 2003 tepatnya pukul 05.35 waktu Irak, yaitu negeri yang porak poranda akibat perang teluk serta perang berkepanjangan ditambah dengan sanksi ekonomi yang dipaksakan PBB. Dengan dalih keamanan dunia dengan menuduh Irak mengembangkan senjata pemusnah masal, serta mengusung HAM dan demokrasi dengan menjatuhkan Rezim Sadam. Menjadikan geram negara-negara eropa, bahkan seluruh dunia. Dan sekaligus hal ini semakin memperjelas ambisi Amerika untuk menguasai dunia setelah sebelumnya menguasai Afghanistan.
Apa sebenarnya yang mendasari agresi AS terhadap Irak dan kenapa harus negeri Irak serta alasan-alasan apa di balik Invasi AS? adalah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang coba dijawab dalam buku ini. Mulai dari alasan-alasan ekonomi, politik, senjata pemusnah massal, minyak, agama, perseteruan antara mata uang Euro dan sebagainya. Dengan melakukan analisis terhadap fakta-fakta yang ada.
Di dunia ekonomi global Amerika memiliki kekuasaan yang sangat besar dan mengendalikan perekonomian dunia mulai dari perusahaan-perusahaannya hingga mata uang dolarnya yang mampu memegang pasar modal dunia (sebelum kemunculan mata uang Euro). Lebih lanjut di dunia minyak jauh sebelum OPEC lahir, Amerika denga tujuh perusahaan minyaknya yang dikenal dengan "seven sister" mampu mengontrol produksi dan harga minyak mentah dunia.
Dan munculnya OPEC sekaligus meruntuhkan peran Amerika Serikat yang sangat luar biasa di dunia minyak, dan lambat laun dominasi Amerika semakin hilang. Irak sebagai salah satu negara anggota OPEC dengan sumber minyaknya terbesar kedua setelah Arab Saudi barangkali yang menjadi sasaran Amerika untuk mengembalikan peran dahsyatnya di dunia minyak. Lewat agresi militer bersama sekutunya Inggris dan Australia, walaupun harus mengorbankan banyak manusia yang tak berdosa.
Dan mata uang Euro yang akhir-akhir ini berkembang secara pesat, serta mampu menggeser dominasi dolar di pasar modal. yang tentunya hal ini tidak lepas dari sikap anti Amerika negara-negara Timur maupun Barat. Pada saat Euro muncul negara-negara Timur yang anti amerika seperti Irak, Saudi Arabia langsung menukarkan mata uang dolar ke Euro dalam perekonomiannya, begitu juga dengan negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Rusia dan sebagainya. Yang mana kemudian nilai tukar dolar semakin melemah.
Dominasi Euro di pasar modal membuat presiden Amerika George W Bush harus berpikir keras. Seiring dengan peristiwa 11 september dan doktrin NSSnya yang baru saja di sempurnakan di jadikan oleh Bush sebagai skenario untuk menguasai dunia. Dengan jalan melakukan invasi terhadap negara-negara yang berpotensi maupun yang melawan, dengan dalih membasmi terorisme. Dan salah satunya adalah negeri 1001 malam yang anti Amerika dan sekaligus memiliki sumber minyak terbesar kedua di dunia setelah Saudi Arabia.
Maka tidak salah jika penulis buku ini mengatakan bahwa invasi yang dilakukan Amerika ujung-ujungnya adalah minyak, karena energi minyak AS selama ini masih bergantung dari luar, kebutuhan AS akan minyak tiap harinya sekitar 20 juta barel sementara persediaan minyak di Amerika hanya memenuhi sekitar 40 persennya. Dan cadangan minyak AS kali ini sekitar 30,4 miliar barel yang merupakan tiga persen dari cadangan minyak dunia. Sedangkan Irak memiliki cadangan sekitar 112 miliar barel. Hal ini tentunya sangat menggiurkan sekali bagi Bush untuk kemudian menguasai minyak dan sekaligus memegang perekonomian dunia yang kali ini mulai terancam dominasinya.
Invasi yang di lakukan Amerika terhadap Irak tidak menutup kemungkinan akan di lakukan terhadap negara-negara sebelahnya yang kaya akan minyak untuk memenuhi ambisinya menguasai dunia, seperti Saudi Arabia, Mesir, Syiria dan sebagainya.
Barangkali Invasi Amerika ke Irak adalah sebagai kelinci percobaan dari doktrin NSS AS yang di jalankan oleh George W Bush. Dalam konteks perang tekhnologi dan sekaligus menjadi uji coba senjata militernya. Yang mana selanjutnya akan di gunakan untuk mengembangkan invasinya ke negara-negara Timur tengah dan para sekutunya (NATO) yang mulai berani melawannya. Dengan menggunakan tekhnologi militernya yang sudah teruji di negeri Paman Sam. Dan akhir-
akhir ini mulai terlihat campur tangan dan ambisi Amerika untuk menguasai Syiria.***
Lalu dimanakah eksistensi PBB sebagai lembaga internasional pemersatu dan penentu terhadap perdamaian dunia? Pada tanggal 14 Maret 2003 ketika Amerika bersuara lantang untuk meninggalkan DK PBB dan akan berperang melawan Irak sendirian, adalah awal dari kamatian PBB.
Bahkan ketika detik-detik penyerangan terhadap Irak oleh Amerika mau dimulai PBB tidak bisa berbuat banyak, dan ketika DK PBB berusaha keras untuk menyelesaikan krisis Irak dengan mengundang menteri luar negeri AS Colin Powel Dan Inggris Jack Straw melaluai perundingan PBB mereka-pun tidak hadir. Sehingga DK PBB di hadapan AS dan sekutunya hanyalah organisasi yang bisa di buat dan kemudian di runtuhkan lagi jika sudah tidak di perlukan. Bagaikan game belaka.
Bahkan seakan-akan Amerika dan sekutunya tidak lagi menghargai pendapat sebagian besar anggota DK PBB yang menolak dengan jalan kekerasan untuk menyelesaikan krisis Irak, karena sebenarnya krisis Irak bisa di selesaikan secara damai.
Dan ironisnya ketika Amerika memulai invasinya ke Irak pada 20 Maret lalu. PBB tidak bisa berbuat apa-apa bahkan sekretris jendral Kofi Anan hanya bisa mengatakan penyesalannya terhadap serangan yang dilakukan Amerika dan sekutunya terhadap Irak. Bagi Bush dan sekutunya penyesalan yang di ucapkan oleh Sek-Jen PBB tidak akan pernah bisa menghentikan langkahnya untuk melekukan invasi di negeri seribu satu malam tersebut. Dan akhirnya perangpun terjadi banyak manusia tak bersalah harus jadi korban dan jutaan manusia harus mati demi memenuhi ambisi sang negara adidaya yaitu Amerika Serikat.
Apa yang di lakukan Amerika dengan perang melwan Irak tanpa persetujuan PBB adalah tidak lain karena ke-kesalan Amerika terhadap lembaga internasional tersebut yang selama ini selalu menetang terhadap kebijakan-kebijakan luar negeri AS. di samping juga AS merasa mampu untuk melakukan invasi sendirian ke Irak dengan tekhnologi militernya.
0 comments:
Poskan Komentar