Rabu, 02 September 2009

Politik Kompromi Ala Indonesia

Resensi dimuat di Majalah Gatra edisi 2 september 2009
Oleh : Moh Yasin

Judul Buku : Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal
Penulis : Maswadi Rauf dkk
Penyunting : Moh Nur Hisyam & Ikrar Nusa Bakti
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2009
Tebal : 342 halaman

Sebelas tahun lalu, saat demokrasi di Indonesia baru menginjakkan kaki menuju demokrasi konstitusional, dengan runtuhnya sistem otoriter Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi, dalam sebuah seminar nasional bertema “Crafting Indonesian Democracy” yang diselenggaran oleh PPW-LIPI Agustus 1998 muncul sebuah pertanyaan mendasar atas demokrasi di Indonesia. Ada yang mengemukakan bahwa dalam situasi yang ada sekarang di Indonesia presidensialisme tampaknya merupakan satu-satunya pilihan yang tepat, pertanyaannya adalah, bagaimana menghindari ekses paling buruk yang mungkin timbul dari pemerintahan presidensial.

Demikian pula R William Liddle mengatakan hal yang sama bahwa dalam bentuk Indonesia yang baru tidaklah mudah memperkirakan batas-batas peluang dan memperjelas pilihan-pilihan yang paling mungkin diambil dalam batas-batas tersebut. Artinya memilih sistem pemerintahan yang ideal berikut sosok pemimpin ideal memang harus diakui bukanlah persoalan yang mudah untuk Indonesia saat ini. Buku kumpulan tulisan Maswadi Rauf dkk yang kemudian disunting oleh Moch Nur Hasyim dan Ikrar Nusa Bakti ini coba memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar di atas.

Sistem pemerintahan Indonesia sejak Indonesia merdeka memang selalu melahirkan perdebatan di tingkat elit penguasa, mulai sejak Orla hingga sekarang. Soekarno-Natsir saling berseteru dalam menentukan sistem pemerintahan. Soekarno mengkampanyekan pemerintahan berbasis liberal dan sekuler ala Ataturisme dan kemalisme, memisahkan agama dengan negara. sementara Natsir mengusung sistem pemerintahan berbasis konstitusional dengan corak keislaman yang kental sejenis The-demokrasi yang dipopulerkan oleh Abdul A’la al Maududi. Perseteruan terus berlanjut hingga berbentuk pemerintahan otoriter ala Orde baru, dan terakhir sistem pemerintahan yang masih prematur yang diusung oleh kaum reformis.

Tidak dapat disangkal bahwa negara Republik Indonesia termasuk negara yang manganut sistem presidensial sebagaimana ketentuan dalam UUD 1945 dan juga uud 1945 pasca amandemen. Ketentuan ini tidak lepas dari keputusan para founding fathers yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang memutuskan memilih sistem presidensial untuk Indonesia bukan Parlementer setelah melakukan kajian dan diskusi yang mendalam.

Namun, hingga detik ini bangsa Indonesia masih belum menemukan formula yang tepat dalam bentuk pemerintahannya. Sistem multi Partai dalam Pemilu 2004 dengan disertai pemilihan presiden secara langsung terbukti melahirkan banyak masalah dan malah menghambat kinerja Presiden dan efektifitas pemerintahan. Kebijakan Presiden sering tidak berjalan dengan mulus karena hambatan di legeslatif. Hubungan Presiden dengan legeslatif (DPR) terhambat karena rivalitas, ego, dan kepentingan Parpol atau golongan, bahkan memungkinkan terjadinya kebuntuan dan instabilitas politik.

Anehnya Pemilu 2009 tetap menerapkan sistem yang sama dan memungkinkan hal yang sama terjadi pada pemerintahan di Indonesia periode 2009-2014. Buku ini mengusulkan jawaban yang menjanjikan, dimana dalam kondisi yang demikian, demi efektifitas pemerintahan maka solusi paling memungkinkan adalah “politik kompromi”, bahkan bisa menjadi salah satu kunci keberhasilan perpolitikan bangsa dan sistem presidensial di Indonesia. Oleh karenannya siapa pun presiden RI periode 2009-2014, dalam menjalankan sistem Pemerintahan presidensial mendatang harus ada upaya kompromi politik agar pemerintahan berjalan dengan efektif. Dengan jalan memanfaatkan dukungan politik dan menjaga keseimbangan politik sambil mencari jalan menuju tercapainya tujuan-tujuan pembangunan nasional.

Dengan sistem pemerintahan yang demikian, Lantas, siapakah Presiden yang pantas menjalankannya. KPU secara resmi mengumumkan bahwa hasil Pilpres 2009 dimenangkan SBY-Boediono.

Tapi secara teoritis sosok Presiden ideal RI adalah Presiden yang tetap memiliki pijakan pada realitas kehidupan rakyat Indonesia pada standar moral yang dianut bangsa Indonesia dan mengacu pada misi bernegara dalam konstitusi. Presiden yang hanya mementingkan kemenangan politik dan menggalang dukungan tanpa adanya upaya menuju perubahan yang lebih baik jelas bukanlah presiden ideal, atau pemimpin sejati, ia hanya politisi sejati. Pun, Presiden yang memiliki cita-cita yang tidak membumi hanya akan menjadi Presiden mimpi belaka.

Baik politisi sejati dan pemimpi sejati bukanlah presiden ideal untuk RI. Presiden ideal Indonesia adalah presiden yang siap menjadi pemimpin sejati dan siap mentransformasikan dirinya untuk menjadi seorang negarawan.

*) Moh Yasin, Peneliti pada CSDS (Center for Strategic and Defence Studies) Pusat Kajian Stratejik dan Pertahanan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Read More..

Jumat, 20 Maret 2009

Iran Melawan Arogansi AS-Israel

Resensi dimuat di Majalah Forum Keadilan edisi 15 Maret 2009.
Oleh: Moh Yasin

Judul Buku : Ahmadinejad Menggugat; Republik Islam Iran Mematikan Arogansi Amerika-Israel
Judul Asli : Hoviyar-e Iran dar New York & Goftar dar Ravesh Iranian
Penulis : Dr. Mahmud Ahmadinejad
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : 346 halaman
Harga : Rp. 49 900

Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengemabalikan Iran kepada masa keemassan. Lalu?

Mahmud Ahmadinejad, bukan sekedar Presiden Republik Islam Iran. Ia adalah orator yang tak segan-segan menyerang lawan-lawan politik di dalam negeri maupun musuh-musuh ideologis di luar negeri. Pria kurus berjenggot lebat itu juga menajdi corong yang popular bagi masyarakat Timur Tengah yang selama ini tertekan oleh dominasi politik dan militer Amewrika Serikat (AS) dan Israel terhadap pemerintah mereka. Padahal secara etnis Iran yang berasal dari Puak Aria Parsia sama seklai berbeda dnegan puak Arab di Negara-negara tentangganya.

Sebagai target hujatan utama, Israel jelas sudah gatal membalas gertakan Ahmadinejad. Bahklan kalau tidak itahan Amerika Serikat, Tel Aviv sudah ingin menggempur Iran untuk menghentikan “gangguan stabilitas di Timur Tengah”. Namun, melawan kaum Hizbullah di Lebanon Selatan dan Hamas di Palestina yang sering dibantu oleh Iran saja, militer Israel ternyata tidak pernah benar-benar unggul.

Dunia tak bisa memandang sebelah mata terhadap posisi Iran di Timur Tengah. Sejak menjadi Presiden Iran, Dr. Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengembalikan Iran seperti di masa-masa keemasan awal revolusi Islam di bawah Ayatulloh Imam Khomeini.ia memadukan paham kerakyatan dan nasionalisme religius, sambil membangun kepercayaan diri di hati setiap warga Iran. Meskipun menjadi kelompok minoritas di Timur Tengah, kaum muslim Syi’ah Iran yakin akan mampu memimpin bangsa Arab yang berlairan muslim sunni dunia.

Guna meredam pengaruh Iran ini, AS dan sekutu Eropa, plus Israel, terus melancarkan propaganda negative kepada Negara penerus bangsa Persia itu. Tuduhan diobral tentang Iran yang memotori teorisme di Timur Tengah, berambisi menjadi Negara bersenjata nuklir hingga tuduhan miring terhadap pribadi Presiden Ahmadinejad. Bahkan Presiden Israel, Shimon Peres, perlu menghiba kepada meneteri luar negeri Haillary Clinton agar AS tidak membiarkan Iran membuat bom nuklir.

Alah-alih merasa takut atas propaganda-propaganda Barat dan Israel, Ahmadinejad justru meluaskan pengaruh Iran. Kunjungan ke Afghanistan, Arab Saudi, dan bahkan Indonesia, memoles peran Iran sebagai motor pemersatu Negara-negara berpenduduk muslim di dunia.
Selain menghantam melalui jalur keras, AS dan sekutunya berusaha merendahkan intelektualitas Ahmadinejad dengan senagja “membantainya” dalam seminar di Universitas Columbia, AS, tahun 2007. Diawali dengan sambutan negatif dari Rektor Universitas Columbia, Bollinger, Ahmadinejad diserng berbagai pertanyaan sinis oleh akademisi dan wartawan. Mereka menuduh Iran mendukung teroris, memasung kebebasan pers, merendahkan hak pribadi perempuan di Iran serta menerapkan sistem pemerintahan yang otoriter.

Namun, dengan cerdas, Ahmadinejad mampu membungkam semua kritik itu. Buku karya Presiden kesembilan Iran ini adalah rekaman debat dan naskah pidatonya dalam pernag wacana di Universitas Columbia, AS. Demikian pula kumpulan naskah-naskah pidatonya di PBB maupun ketika menghadapi para rahib Yahudi dan para pendeta Nasrani.

Ahmadinejad dengan fasih menegaskan, Iran yang dikekang sanksi ekonomi dan politik justru adalah korban terorisme Negara oleh AS dan sekutunya. kebebasan di Iran adalah kebebasan yang patuh pada hukum dengan berlandaskan hukum Islam yang khas.

Hingga kini Barat tidak pernah mampu membuktikan pengembangan energi nuklir di Iran ditujukan lebih dari kepentingan industri dan perdamaian. Kalaupun Iran mengembangkan peluru kendali dan persenjataan lain, tujuannya untuk mempertahankan memeprtahankan kedaulatan negaranya—bukan untuk menjajah Negara lain.

*) Moh Yasin, Bergiat di lembaga ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies)-LIPI. Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.

Read More..

Minggu, 08 Maret 2009

Iman yang Kuat dalam Nalar yang Sehat

Humaniora Teroka dimuat di KOMPAS edisi Sabtu, 7 Maret 2009
Oleh: Mohammad Yasin*

Perjalanan sejarah keberketuhanan manusia pada galibnya melangkah menuju titik yang sama: pembebasan masalah ketuhanan dari mitologi. Sejak pertama kelahirannya di Yunani, filsafat mengawali jalan kebertuhanannya lewat upaya pembebasan manusia dari mitologi dengan berusaha mencari phusis (asas segala sesuatu). Walau untuk itu ia harus menentang keyakinan tradisional para leluhurnya.

Di belahan dunia Timur, India misalnya, agama pun menjelaskan dirinya dalam filsafat yang mempertanyakan dasar segala sesuatu. Di dunia Islam para Nabi mengawali penghancuran berhala. Maka perbincangan masalah ketuhanan mengarah ke persoalan metafisika. Manusia mulai mengembangkan pemikiran kritisnya dengan memasukkan masalah ketuhanan ke dalam masalah metafisika, atas dasar suatu telaah ontologis tertentu, Tuhan selanjutnya menjadi obyek kajian keilmuan.

Bahkan, filsafat ketuhanan pun kemudian menjadi bagian yang penting dalam diskursus keilmuan. Di mana di dalamnya manusia punya dua kegelisahan: pertama, mereka tidak mau lagi meyakini kebertuhanannya hanya atas dasar warisan keyakinan atau tradisi leluhurnya; dan kedua, manusia harus bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhannya secara rasional.

Bergeser ke Ateisme

Namun, seiring perkembangan peradaban, pemikiran manusia dan filsafat, terutama sejak terjadinya pergeseran pemikiran dari teosentrime ke antroposentrisme, manusia tak lagi menjadikan Tuhan sebagai obyek pemikiran. Manusia lebih suka memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, masyarakat dan budayanya daripada memikirkan Tuhannya.

Tren pemikiran semacam ini berkembang hingga ke arah ateisme-rasional, setidak-tidaknya pasca-Hegel, filsafat ketuhanan mulai mengalami keterputusan. Para filosof, seperti Marx, Nietzsche, Feurbach, Freud, dan Sartre, mengikuti garis ateisme. Para filosof ateis abad ke-19-20 ini mengikuti keyakinan Wittgenstein bahwa kejujuran intelektual menuntut bahwa ”tentang apa yang tidak dapat diperkatakan, orang harus diam”.

Filsafat kaum ateis bertolak dari paradigma ilmu alam bahwa rasionalitas bukan lagi spekulasi filosofis tanpa pendekatan empiris. Oleh karena itu, bagi para filosof ateis pembahasan tentang Tuhan dianggap sebagai bukan obyek ilmu alam dan masalah ketuhanan berada di luar batas-batas wacana rasional.

Nalar percaya Tuhan

Pada dasarnya, menalar Tuhan atau menggapai pengetahuan tentang Tuhan lewat nalar adalah hasrat tertinggi setiap manusia (terutama para filosof dan teolog). Mereka memiliki satu obsesi: nalar diharuskan dapat mengikuti keimanan dan keyakinan hati, apa yang diyakini harus didasarkan pada tidak adanya pertentangan dengan nalar. Dengan demikian, keimanan manusia dapat melibatkan keseluruhan dan menjadikan akal budi juga beriman.

Hal ini sebagaimana perkembangan pemikiran di dunia Islam. Bagi para ilmuwan dan filosof Muslim, Tuhan dan diskursus pengkajian tentang-Nya adalah segala-galanya.

Fenomena perkembangan pemikiran di dunia Islam ini tentu saja berangkat dari prinsip tertinggi agama: iman kepada Tuhan. Perbedaan mendasar pandangan dunia ilahiah dengan dunia material terletak pada eksistensi keimanan ini.

Mengimankan nalar

Untuk mengimankan akal budi setidak-tidaknya sejarah filsafat ketuhanan mewariskan tiga jalan: ontologis, kosmologis dan teleologis. Sementara dari kalangan filosof Muslim menawarkan berbagai jalan—yang hingga kini terus berevolusi— mulai dari Tuhan sebagai sebab pertama (al-Kindi), Tuhan sebagai wujud niscaya (Ibn Sina), Tuhan sebagai cahaya (Sughrawardi), Tuhan sebagai wujud murni (Mulla Shadra).

Hingga dua metode mengenal Tuhan yang berkembang di kalangan sarjana Muslim Syiah, yaitu melalui khudhuri (presentasi): mengenal Tuhan dengan jalur hati dan batin tanpa perantara pemahaman konseptual dan tidak membutuhkan argumen rasional. Lalu khusuli (representasi): mengenal Tuhan melalui perantara konsep ketuhanan yang universal yang kemudian dikaitkan dengan pengetahuan khudhuri.

Sementara itu, Thomas Aquinas melalui teologi Kristen-nya menuturkan bahwa nalar atau rasio manusia dapat mengerti Tuhannya dengan jalan pembuktian via negasi, seperti Tuhan bukan manusia, Tuhan bukan alam, Tuhan bukan matahari, dan seterusnya.

A N Whitehead juga menawarkan metode yang menarik. Menurut Whitehead, meneliti konsep kefilsafatan tentang Tuhan adalah meneliti masalahnya secara organis dan integralis, yaitu melihat segala sesuatu secara tersusun, berproses dan tak terpisahkan dari keseluruhannya. Menurut Whitehead, studi tentang ketuhanan atau pemikiran metafisis justru dapat membantu mencapai pengetahuan tentang Tuhan sambil memperbaiki doktrin religiusitas (Leclerc, 1961).

Hal ini membuktikan bahwa keimanan terhadap Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bahkan, pengkajian tentang ketuhanan justru sangat relevan dalam kondisi masyarakat seperti sekarang yang penuh dengan krisis moral, kepercayaan, dan semakin sesak dengan kekerasan.

Setidak-tidaknya ada dua jalan yang keberadaannya begitu penting dalam upaya mengimankan nalar atau akal budi: secara teologis dan filosofis. Secara teologis berarti memupuk keimanan terhadap Tuhan dengan dibuktikan lewat wahyu. Karena wahyu adalah sumber kebenaran suatu agama. Sementara secara filosofis dengan menunjukkan kebenaran keimanan pada Tuhan lewat penalaran. Dalam nalar yang sehat terdapat iman yang kuat.

* Mohammad Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina, Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta

Read More..

Selasa, 17 Februari 2009

Benang Merah Perlawanan Iran

Resensi Buku dimuat di Majalah Gatra, edisi 12-18 Februari 2009 hlm. 58

Oleh: Moh Yasin

Ahmadinejad menjawab seluruh masalah dan tudingan Amerika Serikat terhadap Iran. Buku ini mencerminkan secara kronologis gugatan Iran terhadap dominasi Barat.

Judul Buku : Ahmadinejad Menggugat; Republik Islam Iran Mematikan Arogansi Amerika-Israel
Judul Asli : Hoviyar-e Iran dar Newe York & Goftar dar Ravesh Iranian
Penulis : Dr. Mahmud Ahmadinejad
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : 346 halaman
Harga : Rp. 49 900

Mahmud Ahmadinejad, Presiden Iran, tak henti-hentinya membuat pernyataan anti Israel dan Amerika. Akhir tahun lalu, ia menyampaikan pean Natal yang cukup menggigit. ”Seandainya Kristus hidup pada masa kini, Dia akan menentang kekuatan-kekuatan ekspansionis yang suka menggertak mereka yang lebih lemah, menentang para pembohong, menyerukan keadilan, mendorong kasih sesama manusia, dan menentang para pemicu perang dan terorisme’. Katanya, antara lain.
Dunia memang tak bisa memandang sebelah mata posisi Iran di Timur Tengah. Sejak menjadi Presiden Iran, Dr. Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengembalikan Iran seperti di masa-masa keemasan awal revolusi Islam yang dikawal Ayatulloh Imam Khomeini. Ia menerapkan perpaduan populisme dan nasionalisme religius, dengan membangun kepercayaan dan keyakinan masyarakat Iran. Ia menanamkan optimisme bahwa dengan religiusitas, persatuan, dan keteguhan bangsa, Iran akan berhasil merengkuh kemenangan.
Barat dan Amerika pun meluncurkan berbagai propaganda untuk melawan Iran, termasuk embargo ekonomi. Tapi, alah-alih menyurutkan langkah, Iran malah terus mengembangkan sayapnya. Di tengah embargo, misalnya, negeri itu justru sanggup mengembangkan tekhnologi roketnya, yang baru-baru ini berhasil meluncurkan satelit pertama berjuluk Omid atau Harapan.
Masih sebagai jawaban terhadap tekanan Barat, Ahmadinejad muhibah ke beberapa negara muslim seperti seperti Iraq, Afghanistan, Arab Saudi, termasuk Indonesia yang bertujuan mewujudkan persatuan negara-negara Islam. Tak mengherankan jika Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleeza Rice, mengatakan bahwa Iran adalah satu-satunya negara yang menjadi tantangan strategis terhadap kepentingan AS di Timur Tengah.
Buku ini boleh dibilang memuat benag merah ”perlawanan” Ahmadinejad selama ini. Isinya memang kumpulan naskah pidato lengkap Presiden kesembilan Iran itu di berbagai forum termasuk dalam sidang PBB dan di depan para Rahib Yahudi. Yang cukup menarik adalah perdebatannya ketika hadir di Columbia University, Amerika Serikat, akhir september 2007.
Perang wacana di Columbia University berlangsung tegang. Diawali dengan sambutan tidak hangat dari Rektor Universitas Columbia, Bollinger, hingga pertanyaan sinis berbagai kalangan. Ahmadinejad dihujani berbagai pertanyaan yang selama ini. Misalnya tudingan atas kebijakan Iran yang mendukung teroris, kebijakan nuklir, kebebasan yang terpasung, rendahnya kebebasan pers dan terhalanginya hak privasi perempuan hingga kepemimpinan yang dictator dan kasus lesbian di masyarakat Iran.
Buku ini menuturkan menuturkan secara lengkap seluruh wacana yang berkembang ketika itu. Ia menegaskan, Iran justru menjadi korban terorisme Barat. Nuklir Iran bertujuan damai. Lagi pula, Iran adalah anggota IAEA yang punya hak mengembangkan tekhnologi nuklir untuk tujuan damai. Iran bukan negeri imperialis sehingga mustahil Iran membuat nuklir. Iran selama ini berjuang untuk kebebasan, keagungan, dan kemerdekaan berlandaskan pada nilai-nilai Ilahiah dan keadilan.
Di samping menjawab berbagai pertanyaan atas tuduhan miring itu, di sela-sela acara, dia mengusulkan sekaligus menggugat berbagai kebohongan-kebohongan Amerika Serikat dan sekutunya. Seperti ditutupnya peluang melakukan research atas holocaust oleh Amerika dan Barat. Padahal, menurut dia, peristiwa sebenarnya harus diungkap karena nasib Palestina ditentukan oleh kebenaran itu.
Selain yakin bahwa holocaust membawa akibat penderitaan bangsa Palestina selama 60 tahun, dia juga menuntut penelitian lebih mendalam atas tragedi World Trade Center pada 11 september 2001. Ia menganggap tragedy yang sebab-musababnya masih kabur itu berdampak munculnya perang dan penderitaan rakyat Afghanistan dan Irak serta beberapa Negara lainnya.
*) Moh Yasin, Bergiat di Indonesian Society for Middle East Studies-LIPI. Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.

Read More..

Kamis, 01 Januari 2009

Merajut Perdamaian Lewat Sufisme

Opini dimuat di koran Solopos, Edisi : Jum'at, 02 Januari 2009 , Hal.4
Oleh: Moh Yasin

` Perilaku keberagamaan sebagian masyarakat muslim modern cenderung terjebak pada perilaku yang bersifat sesaat dan instan.

Ada yang berkecenderungan memaksakan keyakinan atau paham tertentu untuk meletakkan bahwa doktrin dan ajaran yang diyakininya adalah satu-satunya yang bisa dijadikan landasan untuk menyelesaikan segala persoalan kehidupan.
Dan hasilnya, alih-alih menyuarakan ajaran-ajaran Islam, yang ada malah pemaksaan keyakinan. Tak jarang upaya pemaksaan paham itu dilakukan dengan emosi dan kekerasan dengan membawa semangat jihad, sehingga memunculkan penyakit-penyakit fobia (ketakutan obsesif) di masyarakat.

Disorientasi dalam menjalankan kehidupan beragama mungkin menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan perilaku keberagamaan masyarakat modern yang demikian. Sebab, perilaku yang cenderung memaksakan keyakinan dan pahamnya terhadap orang lain, bahkan dengan kekerasan, adalah pemasungan terhadap esensi ajaran agama.


Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan pesan-pesan agama. Sejak kelahirannya sebagai agama Ibrahimi, baik Kristen, Yahudi dan Islam, mengusung hal yang sama yaitu pembebasan dan perdamaian untuk umatnya. Dalam Islam misalnya, tak sejengkal hadis dan sepenggal ayat Alquran pun yang mengajarkan pada kejahatan dan keburukan.


Di zaman kehidupan di mana pertikaian sering terjadi, kebencian dan kemurkaan dipelihara, kekerasan dan penindasan ditanamkan, serta kejujuran dan kebenaran selalu diabaikan, kata perdamaian menjadi sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Apalagi berkembang dunia disesaki dengan tindak kekerasan, intoleransi, hingga lunturnya rasa kesadaran hidup bersama karena sikap egoisme dan individualisme.


Oleh karenanya, keberhasilan perdamaian dan ketenteraman kehidupan dunia sangat ditentukan oleh para pelaku agama, sejauh mana perilaku keberagamaan mereka mewakili pesan-pesan agama yang hakiki, bukan atas dasar tafsir-tafsir agama yang bersifat parsial. Selain juga penyelesaian berbagai persoalan tanpa kekerasan harus dilakukan secara konsisten oleh para penggiat perdamaian.


Ajaran sufisme mungkin bisa menjadi daya tawar yang menarik di tengah kehidupan masyarakat modern saat ini. Sufisme Islam mengusung satu kata kunci yaitu cinta, cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama manusia. Melalui ruh cinta dan keindahan, sufisme senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai universal dan sangat menghargai pruralitas. Oleh karenanya, melalui kampanye cinta, nilai-nilai sufisme Islam sangat tepat dijadikan sebagai pendorong tercipta dan terbentuknya perdamaian dunia.


Sufisme sebenarnya bukanlah doktrin baru setelah Alquran dan hadis. Sufisme adalah ajaran yang berupaya mencari hakikat kebenaran yang sejati lewat jalan sendiri. Ajaran sufisme senantiasa menempatkan setiap peristiwa dalam kerangka takdir Allah dan menempatkan setiap usaha yang dilakukan dalam kerangka untuk mencari rida Allah.


Dialog dengan Tuhan
Puncak dari ajaran sufi adalah upaya mendekatkan diri pada Allah, intisarinya adalah munculnya kesadaran akan adanya hubungan atau komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhannya. Untuk sampai ke tahap puncak kesatuan dengan yang haq (benar), sufisme mengajarkan tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan jalan menuju ke kebenaran hakiki.


Tingkatan tersebut yaitu takhalli, upaya untuk menjauhkan diri dari berbuat buruk dan kejahatan atau berbuat dosa, kemudian tahalli, upaya menghiasi kehidupan dengan perbuatan baik, terakhir tajalli, puncak dari kesucian hati dan jiwa sehingga menyatu dengan sifat-sifat Tuhan dalam bertindak dan berbuat dalam kehidupan sesama.


Upaya membersihkan hati adalah kata kunci untuk menanamkan cinta dan perdamaian bagi sufisme Islam. Toleransi, rasa saling menghargai, saling menghormati, tolong menolong dan bersikap inklusif atas sesama paham dan ajaran hanya bisa direngkuh dengan semangat cinta, yaitu cinta kepada Tuhan yang kemudian termanifestasi pada perilaku yang mengarah pada cinta akan kedamaian antarsesama dalam kehidupan dunia. Bagi sufi, ideologi kekerasan lahir dan muncul dari hati yang kotor, yang jauh dari kata cinta, sehingga membentuk psikologi dan pemikiran yang mengarah pada tindakan-tindakan buruk, keras dan jahat.


Dalam konteks sufi, upaya mencegah perbuatan jahat hanya boleh dilakukan dengan mulut dan tangan tanpa melibatkan hati. Sebab hati adalah faktor utama pengambil sikap perilaku dan tindakan manusia. Jika hati manusia bersih maka dengan sendirinya tindakan dalam bentuk kejahatan ucapan maupun tindakan akan terhindarkan. Oleh karenanya, sufisme mengajarkan bahwa hati seharusnya hanya melihat persoalan yang terjadi sebagai takdir Tuhan.


Pelibatan hati dalam berbagai penyelesaian persoalan hanya akan membawa pada kemarahan dan kekerasan. Hal ini karena hati manusia masyarakat modern masih dipenuhi dengan kotoran, sehingga sangat jauh dari kesucian dan kelembutan sentuhan cinta dan kasih sayang. Sebab, hanya dengan cinta dan kasih sayanglah kedamaian untuk diri pribadi seseorang bisa didapatkan sekaligus kedamaian untuk alam semesta.


Manusia sebaiknya belajar pada bagaimana sikap dan kodrat laut. Laut adalah tempat berkumpulnya limbah dan sampah, namun ia tidak berubah, tetap tenang dan asin sebagaimana kodratnya. Hati yang suci adalah hati yang bersifat layaknya laut, tenang, toleran, terbuka dan menerima apa saja dengan hati yang lapang dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Moh. Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina, mahasiswa S2 ICAS-Universitas Paramadina, Jakarta

Read More..

Rabu, 12 November 2008

Warisan Natsir Untuk Indonesia

Opini dimuat di Koran Tempo, 11 November 2008
Oleh. Moh Yasin*)

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar kepahlawanan kepada Bung Tomo dan Mohammad Natsir atas jasa dan perjuangannya membangun Indonesia. Bung Tomo berjuang bersama arek-arek Surabaya melawan penjajahan Belanda, sementara Natsir diberi gelar pahlawan nasional tidak hanya karena ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi juga karena gagasan mosi integralnya yang membawa pada terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, saat kemerdekaan Indonesia baru seumur jagung, bersama ancaman politik dan militer pihak asing, Natsir menjadi orang yang berjasa besar dalam menjaga eksistensi negara Indonesia. Di tengah gempuran militer dan upaya diplomasi Belanda membangun negara boneka yang diprakarsai oleh Van Mook, Natsir muncul dan hadir mengarsiteki mosi integral dan menggagalkan negara bentukan Van Mook. Melalui mosi integral, Natsir berhasil mempersatukan kembali Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menobatkan Soekarno-Hatta sebagai pemimpin.

Berkat jasanya tersebut, Natsir, yang memulai pendidikan formalnya di HIS (Holland Inlandse School) hingga AMS (Algemene Middlebare School), disegani dan dihormati oleh para politikus dan negarawan Indonesia, dan hal itu juga membawa dirinya begitu dekat dengan Bung Karno, meski secara ideologis pemikirannya berseberangan. Natsir pun sempat menjabat Menteri Penerangan dan Perdana Menteri di masa Orde Lama.

Tak berlebihan jika Daniel Lev (Indonesianis), Anwar Ibrahim, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, dan para sejarawan Indonesia mengatakan bahwa Natsir adalah negarawan yang berwawasan luas, bermoral jernih, intelektual, pemikir, berpenampilan sederhana, santun, kritis, dan berjiwa besar. Ia teladan yang langka warisan negeri ini di tengah kondisi Indonesia saat ini yang ibarat dalam lingkaran kesesatan dalam proses mencari identitasnya.

Kepribadian Natsir terbentuk berkat perkenalannya dengan Ahmad Hassan--pria keturunan India asal Singapura yang kemudian menjadi ahli agama di Organisasi Persatuan Islam (Persis)--melalui diskusi dan percakapan seputar persoalan Islam, politik, dan kemerdekaan. Bersama Hassan, Natsir menyelami dan memahami Islam secara mendalam yang bercorak reformis dan moderat, jauh dari kecenderungan sikap eksklusif, seperti yang dikembangkan ulama tradisional. Selain itu, Natsir berguru pada Haji Agus Salim, dan Ahmad Sjoorkati, ulama asal Sudan, pendiri Al-Irsyad.

Sebagai seorang negarawan yang berpengetahuan keagamaan luas, Natsir sebenarnya mengimpikan negeri ini menjadi sebuah negara yang masyarakatnya hidup dengan rukun, taat beragama, bertoleransi (tasamuh), dan hidup dengan sejahtera. Demi mewujudkan impiannya tersebut, Natsir mengusung konsep sebuah negara yang berdasarkan sistem demokrasi konstitusional, yaitu sistem pemerintahan yang tunduk pada konstitusi, kekuasaan negara berada pada tangan rakyat, dan pemerintah selaku pemegang kekuasaan dibatasi oleh konstitusi dan tidak bisa bertindak sewenang-wenang sehingga tidak melanggar hak-hak asasi rakyat. Gagasan demokrasi konstitusionalnya Natsir ini merupakan gradasi dari pemikiran pokoknya, yaitu teo-demokrasi.

Natsir berupaya menawarkan teo-demokrasi untuk Indonesia karena kekhawatirannya terhadap perkembangan pengaruh sekularisme di Indonesia yang dikembangkan oleh Soekarno dkk. Di masa awal kemerdekaan, Soekarno ingin membangun Indonesia dengan menganut paham Ataturkisme dan Kemalisme dengan mengusung pemikiran yang liberal dan sekuler. Soekarno yakin bahwa harus ada pemisahan antara agama dan negara.

Hal ini ditolak Natsir. Sebab, secara teologis dan sosiologis, menurut Natsir, agama telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan hal ini berbeda dengan Barat, yang kemerdekaannya terbangun tanpa keterlibatan peran agama, sehingga tidak peduli akan peran agama dalam sebuah negara. Bagi Natsir, kemerdekaan Indonesia dibangun dan didapatkan dengan peran agama yang kental. Pembentukan negara Indonesia berada pada keterikatan terhadap agama. Agama merupakan realitas hidup yang menjadi bagian dari kehidupan sosial, dan budaya bahkan agama berperan penting serta menjadi inspirasi dan alat mobilisasi yang luar biasa dalam melawan penjajahan, dengan mengobarkan semangat jihad. Sehingga, bagi Natsir, mau tidak mau politik Indonesia harus memberi peran yang sesuai bagi agama dalam sebuah negara, dan konsep teo-demokrasi bisa menjadi gagasan yang tepat untuk membangun negeri.

Atas dasar ini, Natsir menganjurkan bahwa nasionalisme Indonesia mestinya bersifat kebangsaan muslimin, dan ajaran Islam menjadi sesuatu yang tepat untuk membentuk sebuah sistem negara untuk Indonesia. Sebab, Islam sebagai ideologi menurut Natsir adalah lengkap, merujuk pendapat Montgomery Watt bahwa Islam is more than a religion, it is a complete civilization.

Natsir, bersama Oemar Said, H.O.S. Cokroaminoto, Agus Salim, dan Wahid Hasyim, mencoba menyikapi sekularisme yang diusung Soekarno secara arif dan inklusif dengan membangun sebuah negosiasi. Atas dasar pemikirannya tersebut, melalui mesin politik Masyumi, Natsir berupaya menawarkan konsep teo-demokrasi untuk Indonesia dan menghidupkan kembali tradisi Islam di Indonesia, sebagaimana yang dipopulerkan oleh Abdul A'la Al Maududi--pemimpin Jamaat al-Islamiyah Pakistan--melalui karyanya Al-Khilafah wa al-Mulk (Khilafah dan Kerajaan).

Teo-demokrasi yang diusung Maududi merupakan perpaduan antara teori demokrasi dan teokrasi dan kemudian disintesiskan dengan prinsip-prinsip Islam. Secara esensial konsep teo-demokrasi adalah Islam memberikan kekuasaan kepada rakyat, tetapi kekuasaan itu dibatasi oleh norma-norma yang datangnya dari Tuhan. Dengan kata lain, teo-demokrasi adalah sebuah kedaulatan rakyat yang terbatas di bawah pengawasan Tuhan. Atau, seperti diistilahkan Al-Maududi, a limited popular sovereignty under suzerainty of God (Amien Rais, 1988:23-24). Dalam bukunya yang lain, Islamic Law and Constitution (1962:138-139), Al-Maududi menggunakan istilah divine democracy (demokrasi suci) atau popular vicegerency (kekuasaan suci yang bersifat kerakyatan) untuk menyebut konsep negara dalam Islam (Asshidiqie, 1995:17).

Teo-demokrasi yang diusung Natsir tidaklah sedogmatis dan senormatif Maududi. Natsir mengusung pemahaman yang lebih longgar, yaitu dengan meletakkan Al-Quran bukan sebagai kitab hukum, melainkan sebagai sumber hukum abadi. Karena sebagai sumber hukum, Al-Quran bersifat abadi, selalu cocok untuk setiap zaman, di mana pun dan kapan pun manusia hidup. Prinsip hukum Islam menurut dia adalah segala sesuatu boleh dilakukan kecuali yang dilarang. Ijtihad suatu keharusan bagi umat Islam, yakni berijtihad sejauh-jauhnya tetapi harus selalu memperhatikan yang haq dan yang batil serta yang haram dan halal.

Dengan prinsip ini, Natsir ingin mempertegas bahwa kebebasan harus ada batasnya, sementara demokrasi sekuler menurut Natsir dapat berujung pada berbagai musibah kemanusiaan. Tanpa intervensi wahyu, manusia bisa terperangkap pada dorongan nafsu hewani dan anarkistis. Tesis Natsir ini bukanlah pemahaman buta melainkan pemahamannya yang mendalam atas teori dan praktek demokrasi sekaligus melihat dengan jernih keterbatasannya. Teo-demokrasi adalah demokrasi yang dibimbing oleh wahyu (Amien Rais, 1988).

Pemikiran Natsir inilah yang kemudian membawa Natsir pada posisi bertentangan dengan Soekarno. Paham Natsir ini dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, Soekarno melawannya dengan mempopulerkan demokrasi terpimpin, kemudian Soeharto melawannya dengan demokrasi Pancasila. Dua rezim demokrasi tersebut mengerucut pada munculnya pemerintahan yang otoriter. Tak pelak, teo-demokrasi yang diusung Natsir tidak lagi berkembang. Keberadaannya dipasung oleh dua rezim Orde Lama dan Orde Baru.

Karena itu, Theo-demokrasi warisan Natsir mungkin bisa menjadi alternatif baru di tengah kegagalan Indonesia menemukan identitasnya dalam membangun dan menemukan identitas dirinya. Sebab, situasi dan kondisi negara Indonesia berpijak pada proses pembentukan dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan memang tidak bisa lepas dari agama. Dengan asumsi ini, sangat tepat jika konsep teo-demokrasi gagasan Natsir ini dijadikan rujukan untuk membangun demokrasi di Indonesia. *

*)Moh Yasin, mahasiswa Pascasarjana Islamic College for Advanced Studies-Paramadina, Jakarta

Read More..

Sabtu, 06 September 2008

Terobosan Baru Mengirit BBM

Resensi Buku, dimuat di Koran Jakarta edisi 06 September 2008

Oleh: Moh Yasin*)


Judul Buku : Rahasia Bahan Bakar Air

Penulis : Poempida Hidayatullah & F. Mustari

Penerbit : Ufuk Press, Jakarta

Cetakan : Pertama, Juni 2008

Tebal : 137 halaman


Tidak dapat disangkal, kenaikan harga BBM, akibat pengurangan subsidi oleh pemerintah, memberikan dampak negatif yang begitu besar dalam keberlangsungan perekonomian dan kehidupan masyarakat. Mulai dari naiknya harga berbagai kebutuhan bahan pokok, transportasi, hingga seretnya pertumbuhan industri perdagangan, dan maraknya berbagai PHK di beberapa perusahaan.

Secara umum, setidak-tidaknya kenaikan harga BBM—yang secara esensial akibat dari keterbatasan kesediaan minyak mentah, dan melambungkan harga minyak mentah dunia—, memunculkan dua reaksi di masyarakat. Pertama, muncul berbagai sikap penolakan atas kebijakan kenaikkan harga BBM, yang dalam konteks ini diwakili oleh para mahasiswa, akademisi, pemerhati sosial, melalui berbagai aksi demonstrasi di berbagai tempat dan daerah, hingga saat ini.

Kedua, kenaikan harga BBM justru memupuk daya kreatifitas dan memberi dampak positif bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat, demi menyiasati dampak kenaikan harga BBM. Terobosan-terobosan baru mengirit BBM pun marak diterapkan, mulai dari menyiasati mesin di karburasi, memberi campuran pada bahan bakar, hingga yang terbaru upaya pengiritan bahan bakar bensin dan solar dengan memanfaatkan energi air.

Dimana fenomena pengiritan bahan bakar dengan memanfaatkan air ini telah diterapkan oleh berbagai kalangan di beberapa daerah seperti di Jakarta, Semarang, dan Jawa Timur. Selain karena bahan yang mudah di cari, pembuatan yang sangat sederhana dan efisien, alat pengirit bahan bakar ini bisa mengurangi pengeluaran yang cukup efisien, dengan tidak memberi dampak negatif terhadap kendaraan. Tidak heran jika alat ini mulai dijual di beberapa bengkel di daerah-daerah di Indonesia. Alat pengirit bahan bakar bensin dan solar dengan memanfaatkan air ini di kenal dengan ‘elektrolisa air’, yaitu alat “bebas energi” yang terlihat praktis, evolusioner, sederhana dan efektif.

Buku karya dua anak bangsa, Poempida Hidayatullah, alumnus University of London, dan F. Mustari, lulusan Melbourne University ini, ingin berbagi dengan masyarakat tentang teori dan pembuatan tekhnologi ‘elektrolisa air’. Mereka mengawali karya ini dengan upaya memberikan teori, berbagai informasi penting, dan kontroversi sejarah penemuan pemanfaatan tekhnologi air. Kemudian penjelasan secara praktis mengenai bagaimana cara membuat alat penghemat BBM tekhnologi air, bahan-bahan dasar dan alat-alat yang dibutuhkan, cara pemasangan di kendaraan, perawatan, serta contoh praktek pembuatan, dan dilengkapi dengan audio visual praktik pembuatannya dalam bentuk CD, yang dipaketkan bersama buku ini.

Secara teoritis ide pengiritan bensin dan solar dengan memanfaatan air ini bukanlah ide baru, sejak abad ke-19 tepatnya pada tahun 1884 ide ini telah diterapkan oleh beberapa ilmuwan di Eropa, diantaranya adalah seorang ilmuwan dari Swiss, Isac De Rivas dimana ia merancang dan membuat mesin dengan pembakaran internal, dan ia menggunakan air sebagai bahan bakarnya.

Kemudian dikembangkan oleh Jules Gabriel Verne, penulis masa depan The Mysterious Island, ia mengungkapkan bahwa air terdiri dari dua unsur sederhana, dan dapat diuraikan dengan menggunakan energi listrik, sehingga air bisa menghasilkan daya yang sangat besar dan mudah diatur (hal. 8). Teori pembuatan tekhnologi penghematan bahan bakar yang dikenal dengan ‘elektrolisa air’, sebagaimana diuraikan penulis, merupakan aplikasi dari teori yang dikemukakan oleh Jules Gabriel Verne tersebut.

Tekhnologi ‘elektrolisa air’ yang diperkenalkan dalam buku ini merupakan pengembangan atas teori air Jules Gabriel Verne. Poempida Hidayatullah dan F. Mustari berpijak pada teori bahwa air memiliki dua unsur, yaitu hidrogen dan oksigen. Dan untuk menghasilkan energi dari air dibutuhkan penguraian atas keduanya, dengan memanfaatkan daya listrik., yang kecil, air bisa mengeluarkan daya yang sangat besar. Proses teori electrolyser HHO ini adalah memisahkan partikel atau molekul air dalam aturan tertentu menjadi 2H untuk hidrogen dan 1 O untuk oksigen sehingga melahirkan kombinasi gas yang dikenal dengan HHO atau brown gas (hal. 29).

Penulis tidak berhenti pada penjelasan secara teoritis belaka, melalui research yang lama, mereka juga memberikan pelajaran berharga mengenai bagaimana secara praktis penerapan tekhnologi ini. Penulis bersama timnya telah mempraktekkan dan menguji secara langsung, bahkan mereka juga menjelaskan secara detail mengenai alat-alat yang dibutuhkan untuk perakitan, mulai dari nama alat, ukuran, jenis, dan alternatif yang dimungkinkan dengan berbagai penjelasan yang sangat baik. Selain itu penulis juga menjelaskan bagaimana cara perawatan, dan bagaimana cara pemasangannya di kendaraan.

Tekhnologi ‘elektrolisa’, selain tentunya memberikan manfaat secara finansial karena pengiritan bahan bakar, juga memberi manfaat besar untuk perawatan kendaraan. Di antaranya penghematan dan efisiensi bahan bakar hingga 90 persen—bergantung pada jenis kendaraan dan berat muatan—, dapat menyempurnakan pembakaran, sehingga memperlambat keausan komponen serta kerusakan mesin, suhu mesin menjadi dingin, serta menghilangkan karbon deposit, meningkatkan power kendaraan hingga 20 persen, dan mesin menjadi semakin awet karena terjadinya pembersihan karbon deposit yang ada dalam pembakaran, piston dan klep menjadi lebih awet.

Sementara manfaat bagi dunia dan masyarakat umum, kendaraan yang dilengkapi dengan penghemat ‘elektrolisa air’ mengurangi kebisingan dan zat emisi karbon, sehingga bisa mengurangi polusi yang besar dan membantu menekan pemanasan global.

Buku ini tentunya sangat menarik untuk dipelajari bagi siapa pun, baik kalangan akademisi maupun masyarakat secara umum. Bahkan buku ini bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi anda yang memiliki insting bisnis yang bagus. Sebab alat pengirit BBM ini mungkin akan menjadi kebutuhan pokok kedua setelah bensin dan solar.

Namun, pemberian judul Rahasia Bahan Bakar Air yang melekat dalam buku ini sedikit memberi pandangan yang tidak sedap dan cenderung melebih-lebihkan isi buku. Padahal yang dimaksudkan penulis buku ini bukanlah membuat bahan bakar dari air, sebagaimana kontroversi blue energy yang dikembangkan oleh tim Joko Suprapto bersama Presiden SBY dan beberapa lembaga research di kampus, melainkan mengirit bahan bakar bensin dan solar dengan menggunakan tekhnologi ‘elektrolisa air’, yaitu sebuah usaha pengiritan BBM dengan memanfaatkan energi air.


*) Moh Yasin, Pustakawan, tinggal di Ciputat dan Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina, Jakarta. a Branch of ICAS-London.

Read More..

"Magical Template" designed by Blogger Buster