Selasa, 08 Mei 2012

Aku Ada Karena Aku Bergaya

          
Persoalan lifestyle atau gaya hidup memang benar-benar menjadi salah satu pusat perhatian penting manusia modern. Dalam kehidupan real, lifestyle yang diusung oleh globalisasi lewat kapitalisme dan budaya konsumerisme, sudah menjajah pada persoalan eksistensi manusia. Tak jarang, dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang yang tidak mengikuti tren atau gaya hidup baru, cenderung diremehkan, diabaikan, dikucilkan dilecehkan, dan bahkan secara terang-terangan dianggap “tidak ada”.  
 Persoalan gaya-bergaya (budaya pop) dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia modern ini, menurut Idi Subandi Ibrahim, pakar cultural studies, sebenarnya dampak dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme konsumsi. Yaitu, ditandai dengan menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan semacam Shopping Mall, industri mode atau fashion, industri kecantikan, industri kuliner, industri gosip, apartemen, kawasan huni mewah, real estate, serta gencarnya iklan barang-barang super mewah.
Melalui pusat-pusar perbelanjaan, kapitalisme berusaha untuk menggiring dan mencekoi manusia agar menjadi manusia yang konsumtif. Dan membentuk paradigma seolah-olah persoalan merias diri dan mode bukan lagi milik kalangan selebriti, artis, model, bangsawan, kaum ningrat, atau hanya milik kalangan berduit. Melainkan, sudah menjadi sebuah keharusan untuk ditampilkan dalam diri setiap individu secara kreatif dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Lifestyle yang erat kaitannya dengan persoalan penampilan faceism, dalam prakteknya tidak berhenti pada persoalan mode, fashion, keindahan tubuh, dan kecantikan wajah. Budaya pop, dengan jargonnya lifestyle, juga menjajah dunia para penikmat buku dan kesenian. Tak jarang, buku bagi kalangan tertentu juga dijadikan sebagai mode atau gaya hidup, layaknya dunia anak band. Bahkan, sering muncul judgment, bahwa seseorang dianggap nggak gaul kerena belum membaca sebuah novel atau film yang lagi best seller atau menjadi tren di masanya.              
            Beberapa kasus pergaulan anak muda terdidik--pelajar--di Jakarta dan Yogyakarta misalnya. Dalam sebuah obrolan ringan, sesama teman sepergaulannya mereka saling menjudgment dan mengklaim lho nggak gaul lho…! Hanya karena belum baca novel-novel best seller sekelas Harry Potter, The Da Vinci Code,  Ayat-Ayat Cinta, atau Laskar Pelangi akhir-akhir ini. Atau sesuatu yang bersifat audiovisual seperti film Harry Potter, Titanic, The Lord of The Ring, sampai boomingnya film Ayat-Ayat Cinta.   
            Lifestyle tipe ini sangat jarang dijumpai di kalangan masyarakat umum, sebab gaya hidup ini hanya berada pada dunia kaum terdidik. Dimana akibat virus budaya pop yang telah menyebar dalam pola pikirnya, sehingga demi mendapatkan eksistensi diri, penghormatan, pujian, dan agar dianggap ngintelek di mata teman dan lingkungannya, mereka mau tidak mau harus mengikuti arus tren yang berkembang.
            Berbeda dengan kalangan pelajar, yang menjadikan buku-buku dan film-film best seller sebagai tren, kalangan akademisi—dosen dan mahasiswa— menjadikan buku-buku berat, tebal, butuh penalaran dan analisis yang mendalam, ditulis seorang pemikir besar, dijadikan tak ubahnya sebuah mode. Di mata kaum akademisi buku tak beda dari sebuah baju yang melekat pada diri seorang artis, atau tubuh indah yang menyatu pada diri sang model. Ya, keberadaan buku di mata kaum akademisi bukan lagi hanya sebagai bahan pengayaan intelektualitas, sumber penelitian, dan sumber inspirasi, akan tetapi juga menjadi alat untuk merias diri.
Dunia akademisi atau intelektual memang sangat dekat dengan dunia buku dan aktivitas membaca. Penguasaan terhadap buku-buku berat yang membutuhkan penalaran mendalam, seringkali mendongkrak popularitas, gengsi, kehormatan, dan eksistensinya. Oleh karenanya nampaknya sudah menjadi pemandangan umum, beberapa kalangan akademisi di setiap langkah dan aktivitasnya senantiasa membawa buku-buku yang menurutnya akan membawa dirinya dijuluki sebagai orang intelek, cerdas, dan berpengetahuan luas di lingkungan pergaulannya. Meskipun, terkadang ia tidak pernah membacanya, atau hanya membaca kata pengantarnya saja.
Akibat virus budaya pop, globalisasi, lewat kapitalisme dan budaya konsumerisme, dengan perlahan namun pasti kaum intelektual mulai terjajah oleh  Ilifestyle, bahkan eksistensi mereka diukur dengan hal-hal yang hanya bersifat fisik dan tidak esensial.
Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari kaum intelektual ini, muncul sebuah jargon baru, yaitu gaya hidup glamour ala kaum akademisi, dengan ungkapan “saya membawa buku, maka saya ada”, Bukan yang seharusnya, “aku berpikir, maka aku ada” sebagaimana yang diusung oleh filosof Modern Rene Descartes. Tentu hal ini tidak berbeda dengan kehidupan anak band dengan jargonnya “aku bergaya, maka aku ada” 
            Sungguh ironis memang, mode telah menjajah kehidupan manusia modern dari berbagai lini. Jika hal ini terus berkembang tentu akan membahayakan dunia intelektualitas, apalagi jika sudah meranah pada persoalan eksistensi manusia, dimana eksistensi manusia hanya semat-mata diukur dari hal-hal yang bersifat fisik, dan keindahan sebuah penampilan. Bahkan sudah menjadi hal biasa di kalangan kaum intelektual bahwa bagi siapa saja yang tidak mengikuti mode atau tidak bergaya, maka bersiap-siaplah untuk dianggap “tidak ada”: diremehkan, diabaikan, atau mungkin dilecehkan.
Oleh : Moh. Yasin*)
            

Selasa, 14 Desember 2010

Menyingkap Fakta Sejarah Yang Terpendam

Minggu, 12 Dec 2010 12:02 WIB http://rimanews.com/read/20101212/8873/menyingkap-fakta-sejarah-yang-terpendam

Judul Buku : Mereka Menodong Bung Karno; Kesaksian Seorang Pengawal Presiden

Penulis : Soekardjo Wilardjito

Penerbit : Galang Press, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Agustus 2008

Tebal : 354 halamanSuharto bersama rezim Orde Baru mewariskan banyak masalah dan seribu misteri untuk negeri, bahkan hingga akhir hayatnya pun kebenaran-kebenaran misteri itu masih tetap terpendam. Orde Baru mewariskan tradisi kejahatan semacam korupsi, kolusi, nepotisme yang membudaya hingga sekarang, ia juga membawa negeri ini yang dulu mandiri menjadi negeri penghutang dan tunduk pada pihak asing. Pembantaian ribuan rakyat dan penahanan tanpa proses pengadilan atas tuduhan PKI, pemutarbalikkan fakta sejarah peristiwa G/30 S PKI dan serangan 1 Maret 1949 di Yogyakarta, serta misteri penggusuran kekuasaan dari Presiden Sukarno melalui penandatanganan Supersemar seakan mentasbihkan dirinya bahwa Suharto duduk sebagai presiden Indonesia bukan mengambil posisi sebagai pejabat yang berkewajiban menyejahterakan rakyatnya, melainkan memposisikan diri sebagai penguasa Indonesia yang menghalalkan segala cara demi ambisi-ambisinya.

Soekardjo Wliardjito, sang pejuang kemerdekaan dan mantan pengawal pribadi Presiden Sukarno yang kemudian menjadi eks tapol Orde Baru, adalah satu dari jutaan pejuang kemerdekaan yang bernasib malang dan menjadi saksi kekejaman Orde Baru. Dipenjarakan selama 14 tahun atas tuduhan PKI tanpa proses pengadilan, mengalami penyiksaan yang luar biasa berat bersama eks tapol di LP Wirogunan (Yogyakarta), LP Kalisosok (surabaya), dan LP Ambon hingga akhirnya bebas tahun 1978. Pada tahun 1998 Wilardjito kembali disingkirkan dari lingkaran keadilan karena keberaniannya mengungkap fakta penodongan terhadap Sukarno dalam kasus Supersemar, Wilardjito 29 kali dipersidangkan dengan tuduhan menyebarkan berita bohong dan dengan sengaja membuat keonaran di kalangan rakyat. Meski akhirnya pada 8 April 2008 MA membebaskan dirinya dari berbagai tuduhan.

Di tenga-tengah penantian panjangnya atas keputusan pengadilan selama sepuluh tahun sejak 1998-2008, hari-hari Wilardjito diisi dengan menuliskan memoar kehidupan yang kemudian diterbitkan menjadi buku ini. Wilardjito berusaha merekam seluruh perjalanan hidupnya hingga menjadi penuturan sejarah penting Indonesia versi lain yang bersifat personal dan jauh dari rekayasa Orde Baru, ia bermaksud menyuarakan kembali kebenaran yang terpendam tentang fakta sejarah Indonesia, dengan merekam kisah hidupnya dan menuliskannya hingga menjadi jejak sejarah yang tak pernah kering.

Melalui memoarnya ini wilardjito seakan ingin mengajak rakyat Indonesia untuk kembali berpikir kritis bersama saksi pelaku sejarah Indonesia agar mendapatkan kebenaran yang seutuhnya tentang sejarah Indonesia di masa silam untuk bersama merajut masa kini dan masa depan yang lebih baik.

Wilardjito lahir pada 22 Februari 1927 di Yogyakarta, bergabung menjadi tentara di Heiho tam tama pada masa penjajahan Jepang dengan menjabat sebagai Danton (intel), resmi mendaftar sebagai tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat), ia ikut berjasa mengusir Belanda pada serangan 1 Maret 1949 dan menyusup ke wilayah pertahanan Belanda hingga semarang demi mempertahankan kemerdekaan RI atas ancaman dari pihak asing. Ia kemudian mengabdikan dirinya untuk negeri dengan menjadi bagian dari Angkatan Darat hingga kemudian ia bertugas di istana kepresidenan di Dinas Security atau pengawal pribadi presiden, yang bertugas menjaga keamanan presiden Sukarno.

Melalui Memoarnya ini Wilardjito banyak sekali menyingkap kebenaran sejarah yang selama ini terpendam, mulai dari kontroversi pemaparan sejarah peristiwa serangan 1 Maret 1949 bersama kebohongan film Janur Kuning rekayasa Orde Baru, tragedi G/30 S PKI dan Gerwani Suharto (narapidana kriminal) yang bertindak amoral dengan menari telanjang dan skriptis di depan tawanan (para Jenderal) memotong kelamin, mencongkel mata, menyilet Ahmad Yani. Dan yang menjadi sangat kontroversial adalah penuturan Wilardjito tentang seputar lahirnya surat perintah 11 maret 1966 yang dikenal dengan ‘Supersemar’, peristiwa penting yang menyimpan seribu misteri baik latar belakang kemunculannya hingga keberadaan naskah asli Supersemar hingga saat ini, jika naskah itu memang benar-benar ada.

Peristiwa penandatangan Supersemar yang kemudian mengantarkan Soeharto pada kekuasaan absolutnya hingga berkuasa selama 32 tahun menurut Wilardjito tak lebih dari penodongan terhadap Sukarno dan penggusuran pemerintahan Orde Lama, hasil konspirasi Suharto bersma Angkatan Darat dan CIA-Amerika yang sejak lama ingin menggulingkan pemerintahan Sukarno karena politik Trisakti Sukarno dan sikap ekstrimnya yang dekat dengan pemerintahan demokrasi-komunis-sosialis. Pada tanggal 11 Maret 1966 ia menyaksikan para jenderal Angkatan Darat M Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, M Panggabean dua kali mendatangi istana Bogor dini hari dan petang hari membawa Supersemar agar ditandatangani presiden Sukarno, wilardjito menyaksikan dengan matanya sendiri saat Sukarno kaget karena Supersemar menggunakan diktum militer bukan yang seharusnya diktum kepresidenan, namun saat itu Sukarno tidak dapat mengelak karena salah satu jenderal mencabut pistol FN 46 dan memaksa Sukarno. Wilardjito sempat melawan para jenderal namun dicegah Sukarno, pasca tragedi itu ia tidak lagi bertemu dengan Sukarno dan menjadi tapol orde baru selama 14 tahun.

Terlepas dari keabsahan penuturan Wilrdjito, peristiwa ini sampai sekarang masih misterius dan membutuhkan banyak jawaban. Sebab kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan, sedangkan kebenaran di bidang sejarah lebih merupakan hasil usaha bersama. Sejarah bukanlah persoalan benar dan salah keterkaitan antara narasi dengan peristiwa di masa lalu melainkan pemahaman atas apa yang terjadi di masa silam untuk menentukan apa yang seharusnya dipikirkan dan dilakukan untuk masa sekarang dan masa mendatang.

Peresensi : Moh Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.

Senin, 10 Mei 2010

Potret Carut-Marut Perusahaan Negara

Resensi Buku Dimuat Di Majalah Gatra 12 Mei 2010

Oleh: Moh Yasin*)


Judul Buku : BUMN Expose

Penulis : Ishak Rafick dan Baso Amir

Penerbit : Ufuk Press, Jakarta

Cetakan : Pertama, Maret, 2010

Tebal : xxviii + 306 halaman

Kemerdekaan Indonesia rupanya tidak membawa serta kesejahteraan, kekayaan, dan kemakmuran rakyatnya. Bangsa Indonesia kaget saat harus menjadi tuan di negerinya sendiri. Perekonomian Indonesia mungkin sudah melebihi kejayaan Cina, Singapura dan Malaysia andai saja para petinggi bangsa ini bisa mengelola dengan baik kekayaan yang ada. Sejak masa awal kemerdekaan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan lamban dan berbiaya tinggi, bukan karena kekuarangan sumber daya alam atau keterbatasan aset negera, dari sejak era Bung Karno problemnya selalu sama yaitu faktor buruknya managerial dan faktor kepentingan politik yang selalu merong-rong upaya pembenahan pengelolaan aset negara.

Fenomena ini sebagaimana tergambar dalam pengelolaan BUMN sepanjang sejarah yang tidak profesional dan selalu terjadi politisasi. Kepentingan politik dan perilaku oknum dalam institusi negara, pemerintah, parlemen, dan birokrat menghambat upaya pembenahan dan perbaikan managemen pengelolaan BUMN.

Carut marut dan salah urus pengelolaan BUMN ini sebagaimana dikupas habis oleh Ishak Rafick dan Baso Amir dalam karyanya yang berjudul BUMN Expose; Menguak Pengelolaan Aset Negara Senilau 2000 triliun. Dengan menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti tanpa dimensi emosional, penulis menyajikan dengan rigit tentang gambaran menyeluruh perjalanan BUMN sepanjang sejarah.

Pembahasan tentang buruknya pengelolaan BUMN disajikan dalam tiga pembahasan, diawal bab disajikan pada penelusuran zaman kegelapan BUMN yaitu pengelolaan perusahaan ber-plat merah pada masa awal kemerdekaan hingga masa akhir Orde Baru, dimana BUMN hanya menjadi sapi perah dan menyedot uang negara tanpa melahirkan keuntungan karena keterlibatan para politisi dan penguasa. Pada masa ini BUMN berada antara bisnis dan politik. Bagian dua menyajikan tentang upaya perbaikan di BUMN dengan misi profesionalisme, restrukturisasi, profitisasi, dan privatisasi, dibawah kendali Tanri Abeng, hingga melahirkan era pencerahan di masa Kabinet Reformasi Pembangunan Habibie. Sebelum kemudian macet di era kepemimpinan Gus Dur-Megawati karena BUMN kembali dirong-rong oleh kepentingan politik. Juga pembahasan kritis pengelolaan BUMN masa SBY dan rekomendasi pengelolaan BUMN mendatang.

Secara historis, Indonesia mewarisi sekitar 600 perusahaan asing hasil dari sitaan atau nasionalisasi kepemilikan dari penjajah (belanda) mencakup perusahaan di bidang pertambangan, bisnis perdagangan, perbankan, asuransi, komunikasi dan konstruksi, belum termasuk BUMN milik negeri sendiri seperti Bank BRI, PT Krakatau Steel. Bung Karno kemudian mengambil kebijakan dengan melibatkan para militer demi kepentingan loyalitas militer pada pemerintah Orla dalam mengelola BUMN, sehingga restrukturisasi pertama pada BUMN dilakukan dan menghasilkan 233 perusahaan BUMN dari sejumlah 600 perusahaan. Sayangnya kebijakan restrukturisasi bukan karena alasan ekonomi melainkan alasan politik, agar para pperwira tetap loyal dengan pemerintah.

Akibat pengelolaan yang tidak profesional pemerintah Orla terbebani biaya tinggi untuk membiayai 233 BUMN, dan berdampak pada krisis ekonomi pada tahun 1961. Orde Baru di bawah kendali Soeharto mengusung anti tesis Orla, dengan meletakkan kebijakan ekonomi sebagai sentra bukan kebijakan politik. Ekonomi bernuansa Neo Liberal kemudian menjadi corak kebijakan Orde Baru dengan membuka peluang sebesar-besarnya masuk modal asing, Pragmatism ekonomi merupakan gambaran yang tepat. Namun, BUMN tidak mengalami perkembangan dan berjalan di tempat, kalah dengan perusahaan swasta dan asing di negeri sendiri karena menegerial yang tidak professional, bahkan BUMN hanya menjadi lahan perampokan dan sumber dana non-budgeter karena tidak ada transparansi.

Kebangkrutan pada perusahaan PDAM, PLN, Dirgantara, Perbankan, percetakan, pabrik kertas, sempat menjadi ancaman serius di masa Orba, sebelum kemudian diselamatkan oleh Tanri Abeng di masa akhir Orde Baru dan diteruskan pada masa Kabinet Reformasi Pembangunan Habibie.

Di masa Tanri Abeng dari ratusan jumlah BUMN ada sedikit BUMN yang profitable karena adanya reformasi internal managerial dan pengeloalaan yang profesional dan modern, sebut saja PT Telkom, Bank Mandiri, BNI, BRI yang mampu memberi pemasukan besar pada Negara. Tanri Abeng pun sempat disidang oleh IMF dan Bank dunia karena kebijaknnya menolak privatisasi, bahkan Malaysia, Singapura dan Cina belajar pada Tanri untuk mengelola BUMN mereka sebelum sukses seperti saat sekarang.

Namun, politisasi BUMN kembali bergulir di bawah kepemimpinan Gus Dur-Megawati, di bawah kendali Laksamana Sukardi agenda profitisasi tidak berjalan restrukturisasi dan privatisasi juga hanya mimpi belaka. Pun di tangan Rozy munir, BUMN macet tanpa ada perkembangan. dan berlanjut hingga era Medco Sugiharta, dan Sofyan Djalil di era SBY yang mencoba menghidupkan kembali reformasi yang dicanangkan Tanri Abeng, meski hasilnya masih nihil.

Untuk menyelematkan ekonomi bangsa, buku ini mengusulkan agar BUMN bebas dari politisasi dan dijalankan dengan profesionalisme, profitisasi, dan privatisasi. Didukung dengan penerapan sistem profesionalisme, depolitisasi dan debirokratisasi, sehingga ketidakefisenan di BUMN bisa berubah menjadi mesin lokomotif pembangunan nasional.

.

*) Moh Yasin, Manager Direktur Lembaga Rumah Demokrasi, Mahasiswa tingkat akhir Pasca Sarjana IC-Paramadina Jakarta.

Rabu, 02 September 2009

Politik Kompromi Ala Indonesia

Resensi dimuat di Majalah Gatra edisi 2 september 2009
Oleh : Moh Yasin

Judul Buku : Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal
Penulis : Maswadi Rauf dkk
Penyunting : Moh Nur Hisyam & Ikrar Nusa Bakti
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2009
Tebal : 342 halaman

Sebelas tahun lalu, saat demokrasi di Indonesia baru menginjakkan kaki menuju demokrasi konstitusional, dengan runtuhnya sistem otoriter Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi, dalam sebuah seminar nasional bertema “Crafting Indonesian Democracy” yang diselenggaran oleh PPW-LIPI Agustus 1998 muncul sebuah pertanyaan mendasar atas demokrasi di Indonesia. Ada yang mengemukakan bahwa dalam situasi yang ada sekarang di Indonesia presidensialisme tampaknya merupakan satu-satunya pilihan yang tepat, pertanyaannya adalah, bagaimana menghindari ekses paling buruk yang mungkin timbul dari pemerintahan presidensial.

Demikian pula R William Liddle mengatakan hal yang sama bahwa dalam bentuk Indonesia yang baru tidaklah mudah memperkirakan batas-batas peluang dan memperjelas pilihan-pilihan yang paling mungkin diambil dalam batas-batas tersebut. Artinya memilih sistem pemerintahan yang ideal berikut sosok pemimpin ideal memang harus diakui bukanlah persoalan yang mudah untuk Indonesia saat ini. Buku kumpulan tulisan Maswadi Rauf dkk yang kemudian disunting oleh Moch Nur Hasyim dan Ikrar Nusa Bakti ini coba memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar di atas.

Sistem pemerintahan Indonesia sejak Indonesia merdeka memang selalu melahirkan perdebatan di tingkat elit penguasa, mulai sejak Orla hingga sekarang. Soekarno-Natsir saling berseteru dalam menentukan sistem pemerintahan. Soekarno mengkampanyekan pemerintahan berbasis liberal dan sekuler ala Ataturisme dan kemalisme, memisahkan agama dengan negara. sementara Natsir mengusung sistem pemerintahan berbasis konstitusional dengan corak keislaman yang kental sejenis The-demokrasi yang dipopulerkan oleh Abdul A’la al Maududi. Perseteruan terus berlanjut hingga berbentuk pemerintahan otoriter ala Orde baru, dan terakhir sistem pemerintahan yang masih prematur yang diusung oleh kaum reformis.

Tidak dapat disangkal bahwa negara Republik Indonesia termasuk negara yang manganut sistem presidensial sebagaimana ketentuan dalam UUD 1945 dan juga uud 1945 pasca amandemen. Ketentuan ini tidak lepas dari keputusan para founding fathers yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang memutuskan memilih sistem presidensial untuk Indonesia bukan Parlementer setelah melakukan kajian dan diskusi yang mendalam.

Namun, hingga detik ini bangsa Indonesia masih belum menemukan formula yang tepat dalam bentuk pemerintahannya. Sistem multi Partai dalam Pemilu 2004 dengan disertai pemilihan presiden secara langsung terbukti melahirkan banyak masalah dan malah menghambat kinerja Presiden dan efektifitas pemerintahan. Kebijakan Presiden sering tidak berjalan dengan mulus karena hambatan di legeslatif. Hubungan Presiden dengan legeslatif (DPR) terhambat karena rivalitas, ego, dan kepentingan Parpol atau golongan, bahkan memungkinkan terjadinya kebuntuan dan instabilitas politik.

Anehnya Pemilu 2009 tetap menerapkan sistem yang sama dan memungkinkan hal yang sama terjadi pada pemerintahan di Indonesia periode 2009-2014. Buku ini mengusulkan jawaban yang menjanjikan, dimana dalam kondisi yang demikian, demi efektifitas pemerintahan maka solusi paling memungkinkan adalah “politik kompromi”, bahkan bisa menjadi salah satu kunci keberhasilan perpolitikan bangsa dan sistem presidensial di Indonesia. Oleh karenannya siapa pun presiden RI periode 2009-2014, dalam menjalankan sistem Pemerintahan presidensial mendatang harus ada upaya kompromi politik agar pemerintahan berjalan dengan efektif. Dengan jalan memanfaatkan dukungan politik dan menjaga keseimbangan politik sambil mencari jalan menuju tercapainya tujuan-tujuan pembangunan nasional.

Dengan sistem pemerintahan yang demikian, Lantas, siapakah Presiden yang pantas menjalankannya. KPU secara resmi mengumumkan bahwa hasil Pilpres 2009 dimenangkan SBY-Boediono.

Tapi secara teoritis sosok Presiden ideal RI adalah Presiden yang tetap memiliki pijakan pada realitas kehidupan rakyat Indonesia pada standar moral yang dianut bangsa Indonesia dan mengacu pada misi bernegara dalam konstitusi. Presiden yang hanya mementingkan kemenangan politik dan menggalang dukungan tanpa adanya upaya menuju perubahan yang lebih baik jelas bukanlah presiden ideal, atau pemimpin sejati, ia hanya politisi sejati. Pun, Presiden yang memiliki cita-cita yang tidak membumi hanya akan menjadi Presiden mimpi belaka.

Baik politisi sejati dan pemimpi sejati bukanlah presiden ideal untuk RI. Presiden ideal Indonesia adalah presiden yang siap menjadi pemimpin sejati dan siap mentransformasikan dirinya untuk menjadi seorang negarawan.

*) Moh Yasin, Peneliti pada CSDS (Center for Strategic and Defence Studies) Pusat Kajian Stratejik dan Pertahanan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Jumat, 20 Maret 2009

Iran Melawan Arogansi AS-Israel

Resensi dimuat di Majalah Forum Keadilan edisi 15 Maret 2009.
Oleh: Moh Yasin

Judul Buku : Ahmadinejad Menggugat; Republik Islam Iran Mematikan Arogansi Amerika-Israel
Judul Asli : Hoviyar-e Iran dar New York & Goftar dar Ravesh Iranian
Penulis : Dr. Mahmud Ahmadinejad
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : 346 halaman
Harga : Rp. 49 900

Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengemabalikan Iran kepada masa keemassan. Lalu?

Mahmud Ahmadinejad, bukan sekedar Presiden Republik Islam Iran. Ia adalah orator yang tak segan-segan menyerang lawan-lawan politik di dalam negeri maupun musuh-musuh ideologis di luar negeri. Pria kurus berjenggot lebat itu juga menajdi corong yang popular bagi masyarakat Timur Tengah yang selama ini tertekan oleh dominasi politik dan militer Amewrika Serikat (AS) dan Israel terhadap pemerintah mereka. Padahal secara etnis Iran yang berasal dari Puak Aria Parsia sama seklai berbeda dnegan puak Arab di Negara-negara tentangganya.

Sebagai target hujatan utama, Israel jelas sudah gatal membalas gertakan Ahmadinejad. Bahklan kalau tidak itahan Amerika Serikat, Tel Aviv sudah ingin menggempur Iran untuk menghentikan “gangguan stabilitas di Timur Tengah”. Namun, melawan kaum Hizbullah di Lebanon Selatan dan Hamas di Palestina yang sering dibantu oleh Iran saja, militer Israel ternyata tidak pernah benar-benar unggul.

Dunia tak bisa memandang sebelah mata terhadap posisi Iran di Timur Tengah. Sejak menjadi Presiden Iran, Dr. Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengembalikan Iran seperti di masa-masa keemasan awal revolusi Islam di bawah Ayatulloh Imam Khomeini.ia memadukan paham kerakyatan dan nasionalisme religius, sambil membangun kepercayaan diri di hati setiap warga Iran. Meskipun menjadi kelompok minoritas di Timur Tengah, kaum muslim Syi’ah Iran yakin akan mampu memimpin bangsa Arab yang berlairan muslim sunni dunia.

Guna meredam pengaruh Iran ini, AS dan sekutu Eropa, plus Israel, terus melancarkan propaganda negative kepada Negara penerus bangsa Persia itu. Tuduhan diobral tentang Iran yang memotori teorisme di Timur Tengah, berambisi menjadi Negara bersenjata nuklir hingga tuduhan miring terhadap pribadi Presiden Ahmadinejad. Bahkan Presiden Israel, Shimon Peres, perlu menghiba kepada meneteri luar negeri Haillary Clinton agar AS tidak membiarkan Iran membuat bom nuklir.

Alah-alih merasa takut atas propaganda-propaganda Barat dan Israel, Ahmadinejad justru meluaskan pengaruh Iran. Kunjungan ke Afghanistan, Arab Saudi, dan bahkan Indonesia, memoles peran Iran sebagai motor pemersatu Negara-negara berpenduduk muslim di dunia.
Selain menghantam melalui jalur keras, AS dan sekutunya berusaha merendahkan intelektualitas Ahmadinejad dengan senagja “membantainya” dalam seminar di Universitas Columbia, AS, tahun 2007. Diawali dengan sambutan negatif dari Rektor Universitas Columbia, Bollinger, Ahmadinejad diserng berbagai pertanyaan sinis oleh akademisi dan wartawan. Mereka menuduh Iran mendukung teroris, memasung kebebasan pers, merendahkan hak pribadi perempuan di Iran serta menerapkan sistem pemerintahan yang otoriter.

Namun, dengan cerdas, Ahmadinejad mampu membungkam semua kritik itu. Buku karya Presiden kesembilan Iran ini adalah rekaman debat dan naskah pidatonya dalam pernag wacana di Universitas Columbia, AS. Demikian pula kumpulan naskah-naskah pidatonya di PBB maupun ketika menghadapi para rahib Yahudi dan para pendeta Nasrani.

Ahmadinejad dengan fasih menegaskan, Iran yang dikekang sanksi ekonomi dan politik justru adalah korban terorisme Negara oleh AS dan sekutunya. kebebasan di Iran adalah kebebasan yang patuh pada hukum dengan berlandaskan hukum Islam yang khas.

Hingga kini Barat tidak pernah mampu membuktikan pengembangan energi nuklir di Iran ditujukan lebih dari kepentingan industri dan perdamaian. Kalaupun Iran mengembangkan peluru kendali dan persenjataan lain, tujuannya untuk mempertahankan memeprtahankan kedaulatan negaranya—bukan untuk menjajah Negara lain.

*) Moh Yasin, Bergiat di lembaga ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies)-LIPI. Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.

Minggu, 08 Maret 2009

Iman yang Kuat dalam Nalar yang Sehat

Humaniora Teroka dimuat di KOMPAS edisi Sabtu, 7 Maret 2009
Oleh: Mohammad Yasin*

Perjalanan sejarah keberketuhanan manusia pada galibnya melangkah menuju titik yang sama: pembebasan masalah ketuhanan dari mitologi. Sejak pertama kelahirannya di Yunani, filsafat mengawali jalan kebertuhanannya lewat upaya pembebasan manusia dari mitologi dengan berusaha mencari phusis (asas segala sesuatu). Walau untuk itu ia harus menentang keyakinan tradisional para leluhurnya.

Di belahan dunia Timur, India misalnya, agama pun menjelaskan dirinya dalam filsafat yang mempertanyakan dasar segala sesuatu. Di dunia Islam para Nabi mengawali penghancuran berhala. Maka perbincangan masalah ketuhanan mengarah ke persoalan metafisika. Manusia mulai mengembangkan pemikiran kritisnya dengan memasukkan masalah ketuhanan ke dalam masalah metafisika, atas dasar suatu telaah ontologis tertentu, Tuhan selanjutnya menjadi obyek kajian keilmuan.

Bahkan, filsafat ketuhanan pun kemudian menjadi bagian yang penting dalam diskursus keilmuan. Di mana di dalamnya manusia punya dua kegelisahan: pertama, mereka tidak mau lagi meyakini kebertuhanannya hanya atas dasar warisan keyakinan atau tradisi leluhurnya; dan kedua, manusia harus bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhannya secara rasional.

Bergeser ke Ateisme

Namun, seiring perkembangan peradaban, pemikiran manusia dan filsafat, terutama sejak terjadinya pergeseran pemikiran dari teosentrime ke antroposentrisme, manusia tak lagi menjadikan Tuhan sebagai obyek pemikiran. Manusia lebih suka memikirkan manusia dan pengetahuannya, bahasa manusia, masyarakat dan budayanya daripada memikirkan Tuhannya.

Tren pemikiran semacam ini berkembang hingga ke arah ateisme-rasional, setidak-tidaknya pasca-Hegel, filsafat ketuhanan mulai mengalami keterputusan. Para filosof, seperti Marx, Nietzsche, Feurbach, Freud, dan Sartre, mengikuti garis ateisme. Para filosof ateis abad ke-19-20 ini mengikuti keyakinan Wittgenstein bahwa kejujuran intelektual menuntut bahwa ”tentang apa yang tidak dapat diperkatakan, orang harus diam”.

Filsafat kaum ateis bertolak dari paradigma ilmu alam bahwa rasionalitas bukan lagi spekulasi filosofis tanpa pendekatan empiris. Oleh karena itu, bagi para filosof ateis pembahasan tentang Tuhan dianggap sebagai bukan obyek ilmu alam dan masalah ketuhanan berada di luar batas-batas wacana rasional.

Nalar percaya Tuhan

Pada dasarnya, menalar Tuhan atau menggapai pengetahuan tentang Tuhan lewat nalar adalah hasrat tertinggi setiap manusia (terutama para filosof dan teolog). Mereka memiliki satu obsesi: nalar diharuskan dapat mengikuti keimanan dan keyakinan hati, apa yang diyakini harus didasarkan pada tidak adanya pertentangan dengan nalar. Dengan demikian, keimanan manusia dapat melibatkan keseluruhan dan menjadikan akal budi juga beriman.

Hal ini sebagaimana perkembangan pemikiran di dunia Islam. Bagi para ilmuwan dan filosof Muslim, Tuhan dan diskursus pengkajian tentang-Nya adalah segala-galanya.

Fenomena perkembangan pemikiran di dunia Islam ini tentu saja berangkat dari prinsip tertinggi agama: iman kepada Tuhan. Perbedaan mendasar pandangan dunia ilahiah dengan dunia material terletak pada eksistensi keimanan ini.

Mengimankan nalar

Untuk mengimankan akal budi setidak-tidaknya sejarah filsafat ketuhanan mewariskan tiga jalan: ontologis, kosmologis dan teleologis. Sementara dari kalangan filosof Muslim menawarkan berbagai jalan—yang hingga kini terus berevolusi— mulai dari Tuhan sebagai sebab pertama (al-Kindi), Tuhan sebagai wujud niscaya (Ibn Sina), Tuhan sebagai cahaya (Sughrawardi), Tuhan sebagai wujud murni (Mulla Shadra).

Hingga dua metode mengenal Tuhan yang berkembang di kalangan sarjana Muslim Syiah, yaitu melalui khudhuri (presentasi): mengenal Tuhan dengan jalur hati dan batin tanpa perantara pemahaman konseptual dan tidak membutuhkan argumen rasional. Lalu khusuli (representasi): mengenal Tuhan melalui perantara konsep ketuhanan yang universal yang kemudian dikaitkan dengan pengetahuan khudhuri.

Sementara itu, Thomas Aquinas melalui teologi Kristen-nya menuturkan bahwa nalar atau rasio manusia dapat mengerti Tuhannya dengan jalan pembuktian via negasi, seperti Tuhan bukan manusia, Tuhan bukan alam, Tuhan bukan matahari, dan seterusnya.

A N Whitehead juga menawarkan metode yang menarik. Menurut Whitehead, meneliti konsep kefilsafatan tentang Tuhan adalah meneliti masalahnya secara organis dan integralis, yaitu melihat segala sesuatu secara tersusun, berproses dan tak terpisahkan dari keseluruhannya. Menurut Whitehead, studi tentang ketuhanan atau pemikiran metafisis justru dapat membantu mencapai pengetahuan tentang Tuhan sambil memperbaiki doktrin religiusitas (Leclerc, 1961).

Hal ini membuktikan bahwa keimanan terhadap Tuhan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bahkan, pengkajian tentang ketuhanan justru sangat relevan dalam kondisi masyarakat seperti sekarang yang penuh dengan krisis moral, kepercayaan, dan semakin sesak dengan kekerasan.

Setidak-tidaknya ada dua jalan yang keberadaannya begitu penting dalam upaya mengimankan nalar atau akal budi: secara teologis dan filosofis. Secara teologis berarti memupuk keimanan terhadap Tuhan dengan dibuktikan lewat wahyu. Karena wahyu adalah sumber kebenaran suatu agama. Sementara secara filosofis dengan menunjukkan kebenaran keimanan pada Tuhan lewat penalaran. Dalam nalar yang sehat terdapat iman yang kuat.

* Mohammad Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina, Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta

Selasa, 17 Februari 2009

Benang Merah Perlawanan Iran

Resensi Buku dimuat di Majalah Gatra, edisi 12-18 Februari 2009 hlm. 58
Oleh: Moh Yasin

Ahmadinejad menjawab seluruh masalah dan tudingan Amerika Serikat terhadap Iran. Buku ini mencerminkan secara kronologis gugatan Iran terhadap dominasi Barat.

Judul Buku : Ahmadinejad Menggugat; Republik Islam Iran Mematikan Arogansi Amerika-Israel
Judul Asli : Hoviyar-e Iran dar Newe York & Goftar dar Ravesh Iranian
Penulis : Dr. Mahmud Ahmadinejad
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : 346 halaman
Harga : Rp. 49 900

Mahmud Ahmadinejad, Presiden Iran, tak henti-hentinya membuat pernyataan anti Israel dan Amerika. Akhir tahun lalu, ia menyampaikan pean Natal yang cukup menggigit. ”Seandainya Kristus hidup pada masa kini, Dia akan menentang kekuatan-kekuatan ekspansionis yang suka menggertak mereka yang lebih lemah, menentang para pembohong, menyerukan keadilan, mendorong kasih sesama manusia, dan menentang para pemicu perang dan terorisme’. Katanya, antara lain.
Dunia memang tak bisa memandang sebelah mata posisi Iran di Timur Tengah. Sejak menjadi Presiden Iran, Dr. Mahmud Ahmadinejad bercita-cita mengembalikan Iran seperti di masa-masa keemasan awal revolusi Islam yang dikawal Ayatulloh Imam Khomeini. Ia menerapkan perpaduan populisme dan nasionalisme religius, dengan membangun kepercayaan dan keyakinan masyarakat Iran. Ia menanamkan optimisme bahwa dengan religiusitas, persatuan, dan keteguhan bangsa, Iran akan berhasil merengkuh kemenangan.
Barat dan Amerika pun meluncurkan berbagai propaganda untuk melawan Iran, termasuk embargo ekonomi. Tapi, alah-alih menyurutkan langkah, Iran malah terus mengembangkan sayapnya. Di tengah embargo, misalnya, negeri itu justru sanggup mengembangkan tekhnologi roketnya, yang baru-baru ini berhasil meluncurkan satelit pertama berjuluk Omid atau Harapan.
Masih sebagai jawaban terhadap tekanan Barat, Ahmadinejad muhibah ke beberapa negara muslim seperti seperti Iraq, Afghanistan, Arab Saudi, termasuk Indonesia yang bertujuan mewujudkan persatuan negara-negara Islam. Tak mengherankan jika Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleeza Rice, mengatakan bahwa Iran adalah satu-satunya negara yang menjadi tantangan strategis terhadap kepentingan AS di Timur Tengah.
Buku ini boleh dibilang memuat benag merah ”perlawanan” Ahmadinejad selama ini. Isinya memang kumpulan naskah pidato lengkap Presiden kesembilan Iran itu di berbagai forum termasuk dalam sidang PBB dan di depan para Rahib Yahudi. Yang cukup menarik adalah perdebatannya ketika hadir di Columbia University, Amerika Serikat, akhir september 2007.
Perang wacana di Columbia University berlangsung tegang. Diawali dengan sambutan tidak hangat dari Rektor Universitas Columbia, Bollinger, hingga pertanyaan sinis berbagai kalangan. Ahmadinejad dihujani berbagai pertanyaan yang selama ini. Misalnya tudingan atas kebijakan Iran yang mendukung teroris, kebijakan nuklir, kebebasan yang terpasung, rendahnya kebebasan pers dan terhalanginya hak privasi perempuan hingga kepemimpinan yang dictator dan kasus lesbian di masyarakat Iran.
Buku ini menuturkan menuturkan secara lengkap seluruh wacana yang berkembang ketika itu. Ia menegaskan, Iran justru menjadi korban terorisme Barat. Nuklir Iran bertujuan damai. Lagi pula, Iran adalah anggota IAEA yang punya hak mengembangkan tekhnologi nuklir untuk tujuan damai. Iran bukan negeri imperialis sehingga mustahil Iran membuat nuklir. Iran selama ini berjuang untuk kebebasan, keagungan, dan kemerdekaan berlandaskan pada nilai-nilai Ilahiah dan keadilan.
Di samping menjawab berbagai pertanyaan atas tuduhan miring itu, di sela-sela acara, dia mengusulkan sekaligus menggugat berbagai kebohongan-kebohongan Amerika Serikat dan sekutunya. Seperti ditutupnya peluang melakukan research atas holocaust oleh Amerika dan Barat. Padahal, menurut dia, peristiwa sebenarnya harus diungkap karena nasib Palestina ditentukan oleh kebenaran itu.
Selain yakin bahwa holocaust membawa akibat penderitaan bangsa Palestina selama 60 tahun, dia juga menuntut penelitian lebih mendalam atas tragedi World Trade Center pada 11 september 2001. Ia menganggap tragedy yang sebab-musababnya masih kabur itu berdampak munculnya perang dan penderitaan rakyat Afghanistan dan Irak serta beberapa Negara lainnya.
*) Moh Yasin, Bergiat di Indonesian Society for Middle East Studies-LIPI. Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina. Mahasiswa Program Pascasarjana ICAS-Paramadina, Jakarta. A Branch of ICAS-London.

Social Networker

Recent Comments

Community Answers

Share It

Twitter Updates

Follow by Email

Flickr Photostream